Wall Street Kembali Cetak Rekor Baru Meski Ketegangan AS-Iran Masih Membayangi
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Wall Street kembali mencetak rekor tertinggi pada perdagangan Senin waktu AS atau Selasa (28/4/2026), meskipun ketegangan geopolitik di Timur Tengah belum mereda.
Indeks S&P 500 naik tipis 0,12% ke level penutupan tertinggi sepanjang masa di 7.173,91. Nasdaq Composite menguat 0,20% ke 24.887,10, juga mencetak rekor baru. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average justru turun 0,13% ke 49.167,79.
Baca Juga
Wall Street Cetak Rekor Baru Didorong Harapan Damai AS-Iran, Saham Intel Melejit Hampir 24%
Kenaikan ini terjadi di tengah kebuntuan negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran, setelah Presiden Donald Trump membatalkan rencana pengiriman utusan khusus dan menyatakan pembicaraan dapat dilakukan melalui telepon.
Di sisi lain, Iran menegaskan belum ada rencana pertemuan resmi. Namun demikian, Teheran dilaporkan telah mengajukan proposal baru untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri konflik, sebuah langkah yang dikonfirmasi oleh Gedung Putih.
Ketegangan ini mendorong lonjakan harga energi. Minyak WTI melonjak 2,09% ke US$96,37 per barel, sementara Brent naik 2,75% menjadi US$108,23 per barel.
Baca Juga
Negosiasi Damai Iran-AS Kembali Mandek, Harga Minyak Global Melonjak
Menurut analis Vital Knowledge, Adam Crisafulli, konflik saat ini masih mengarah pada deeskalasi meskipun dampaknya terhadap pasar tetap terasa.
“Meskipun ini merupakan hal negatif yang kecil, kami terus berpikir bahwa konflik tetap berada di jalur deeskalasi,” beber Adam Crisafulli dalam sebuah catatan.
Pandangan serupa disampaikan CEO Falcon Wealth, Gabriel Shahin, yang menilai pasar mulai mengabaikan konflik, namun risiko tetap tinggi terutama terkait stabilitas Selat Hormuz.
“Harga minyak akan tetap menjadi faktor kunci. Stabilitas baru tercapai jika Selat Hormuz benar-benar terkendali,” ujarnya, seperti dikutip CNBC.
Di tengah ketidakpastian tersebut, musim laporan keuangan menjadi penopang sentimen. Pekan ini menjadi periode tersibuk, dengan sejumlah raksasa teknologi—yang dikenal sebagai “Magnificent Seven”—dijadwalkan merilis kinerja keuangan.

