Trump Yakin Capai “Great Deal” dengan Iran, Namun Enggan Perpanjang Gencatan Senjata
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan optimisme tinggi bahwa negaranya akan mencapai kesepakatan besar (great deal) dengan Iran untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama beberapa pekan. Namun di saat yang sama, Trump menegaskan tidak berniat memperpanjang gencatan senjata yang dijadwalkan berakhir pada Rabu (22/04/2026) waktu Amerika Serikat.
Dalam wawancara dengan CNBC program Squawk Box yang dipublikasikan pada Selasa (21/04/2026) pukul 08.40 EDT, Trump menyebut Iran berada dalam posisi tertekan, sehingga tidak memiliki banyak pilihan selain menerima kesepakatan damai.
“Saya pikir kita akan berakhir dengan kesepakatan besar. Mereka tidak punya pilihan,” ujar Trump. Ia bahkan mengklaim bahwa kekuatan militer Iran telah dilemahkan secara signifikan. “Kami telah menghancurkan angkatan laut mereka, angkatan udara mereka, dan para pemimpin mereka,” tambahnya.
Pernyataan tersebut mempertegas narasi Trump sebelumnya terkait perubahan rezim di Iran, meskipun ia mengakui hal itu bukan tujuan awal perang. “Ini adalah perubahan rezim, apa pun sebutannya… mungkin secara tidak langsung, tapi saya telah melakukannya,” kata Trump.
Meski demikian, sikap Trump yang enggan memperpanjang gencatan senjata justru menimbulkan kekhawatiran baru di tengah upaya diplomasi. Ketika ditanya apakah ia akan memberi waktu tambahan bagi negosiasi damai, Trump menjawab tegas, “Saya tidak ingin melakukan itu.”
Baca Juga
Dua Juta Pekerja Kehilangan Pekerjaan, Ekonomi Iran Terpukul Perang & Blokade
Laporan Reuters dan Al Jazeera pada 21 April 2026 menunjukkan bahwa proses diplomasi antara Washington dan Teheran masih penuh ketidakpastian. Iran bahkan dilaporkan sempat menolak rencana putaran baru perundingan, sementara retorika kedua pihak terus meningkat menjelang tenggat gencatan senjata.
Sementara itu, BBC melaporkan bahwa meskipun jalur diplomasi tetap terbuka dengan mediasi Pakistan di Islamabad, perbedaan mendasar antara kedua negara—terutama terkait tuntutan AS yang dianggap berlebihan oleh Iran—masih menjadi penghambat utama tercapainya kesepakatan.
Di lapangan, eskalasi konflik juga belum sepenuhnya mereda. Gangguan terhadap lalu lintas kapal di Selat Hormuz sempat meningkat sebelum kembali melambat akibat serangan terhadap kapal niaga, memperlihatkan rapuhnya situasi keamanan di jalur energi global tersebut.
Optimisme Trump terhadap tercapainya kesepakatan besar dengan Iran pun kini dihadapkan pada realitas yang kompleks: diplomasi yang belum solid, ketegangan militer yang masih tinggi, serta tekanan geopolitik yang terus berkembang. Jika gencatan senjata benar-benar berakhir tanpa kesepakatan, risiko eskalasi konflik diperkirakan akan kembali meningkat secara signifikan.

