Inflasi AS di Atas 3,0% Bikin Harga Emas Rontok
CHICAGO, investortrust.id– Harga emas berjangka di divisi Comex New York Exchange akhirnya rontok pada perdagangan Kami (Jumat pagi WIB). Penurunan ini mengakhiri penguatan selama tiga hari perdagangan sebelumnya.
Arah balik harga emas terjadi setelah inflasi pilihan yang dilansir Federal Reserve tetap bertengger di atas 3,0 %. Hal ini berkontribusi terhadap kerugian bulanan sekitar 2,20%.
Berdasarkan data divisi Comex New York Exchange, kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Desember terperosok 7,10 dolar AS atau 0,36% dan ditutup pada posisi 1.965,90 dolar AS per ounce. Harga tertinggi selama sesi perdagangan mencapai 1.974,90 dolar AS, sedangkan harga terendah di 1.965,50 dolar AS per ounce.
Baca Juga
Seluruh Segmen Bertumbuh, Laba Antam (ANTM) Melesat Jadi Rp 1,89 T
Kementerian Perdagangan AS melaporkan, Kamis (31/8), Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) AS pada Juli naik 0,2 % disbanding bulan Juni, atau naik 3,3% disbanding Juli tahun lalu. Jika dihitung kenaikan dari level terendah dalam dua tahun terakhir, maka kenaikan mencapai 3,0%.
Data inflasi AS yang fluktuatif memicu kenaikan indeks dolar AS. Hal ini memantik ekspektasi bari di kalangan pelaku pasar bahwa Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunga. The Fed bahkan bisa tetap mempertahankan suku bunga tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama dari perkiraan.
Melihat kondisi ini, kurs dolar AS pun menguat. Sementara indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya terkerek 0,4% menjadi 103,594 berdasarkan transaksi Kamis (31/8/2023). Pergerakan ini menekan harga emas dalam mata uang dolar.
Baca Juga
Prajogo Pangestu Lagi-lagi Borong Saham Barito (BRPT) dari Pasar, Volumenya Jumbo
Sementara itu, data perekonomi AS yang dirilis Kamis (31/8/2023) memperlihatkan fakta beragam. Kementerian Tenaga Kerja AS melaporkan, klaim awal tunjangan pengangguran turun 4.000 menjadi 228.000 yang disesuaikan secara musiman untuk pekan yang berakhir 26 Agustus. Porsi klaim ini mencapai tingkat terendah dalam empat minggu.
Data Chicago Business Barometer yang dirilis oleh Institute of Supply Management-Chicago menunjukan kenaikan 5,9 poin menjadi 48,7 pada Agustus. Ini merupakan kenaikan bulanan ketiga berturut-turut dan level tertinggi sejak Agustus 2022.
“Emas telah didukung dalam beberapa hari terakhir oleh data AS yang telah kita lihat, khususnya angka (pekerjaan) yang, jika dikombinasikan dengan laporan yang lemah besok, bisa menunjukkan adanya keretakan yang muncul di pasar tenaga kerja,” kata Craig Erlam, analis dari platform perdagangan daring OANDA.
Baca Juga
Sementara itu harga logam mulai lainnya, seperti perak untuk pengiriman Desember dilaporkan terkoreksi 29,20 sen atau 1,16% dan ditutup pada posisi 24,812 dolar AS per ounce. Platinum untuk pengiriman Oktober terpangkas 8,90 dolar AS atau 0,91 persen, menjadi menetap pada 974,40 dolar AS per ounce.

