Pasar Eropa Rontok, Investor Khawatir Inflasi Kembali Mengganas
Poin Penting
|
LONDON, investortrust.id - Bursa saham Eropa turun tajam pada perdagangan Jumat (15/5/2026). Kekhawatiran inflasi kembali menghantui pasar menyusul serangkaian data indeks harga di Amerika Serikat yang lebih tinggi dari perkiraan dan lonjakan harga minyak dunia.
Baca Juga
Harga Melonjak Usai Xi Jinping Sepakat Membeli Minyak dari AS
Dikutip dari CNBC, indeks pan-Eropa Stoxx 600 anjlok 1,6%, dengan bursa utama di London, Paris, Frankfurt, dan Milan seluruhnya berada di zona merah. Sebagian besar sektor juga mengalami tekanan jual besar-besaran.
Namun, saham perusahaan es krim terbesar dunia, The Magnum Ice Cream Company, yang tercatat di Amsterdam, justru melonjak lebih dari 8% setelah muncul laporan bahwa perusahaan investasi Blackstone dan Clayton Dubilier & Rice (CD&R) tengah mempertimbangkan akuisisi terhadap grup tersebut. Perusahaan itu baru dipisahkan dari Unilever pada akhir tahun lalu.
Saham pertambangan menjadi korban terbesar aksi jual pasar. Antofagasta dan Fresnillo masing-masing anjlok sekitar 10% setelah harga emas melemah dan harga minyak naik akibat memudarnya harapan tercapainya kesepakatan damai di Timur Tengah.
Tekanan pasar juga diperparah oleh gejolak politik di Inggris. Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menghadapi tantangan baru terhadap kepemimpinannya setelah rival internal Partai Buruh, Andy Burnham, mendapat peluang untuk masuk parlemen.
Andy Burnham, yang saat ini menjabat Wali Kota Manchester dan dikenal lebih berhaluan kiri, berpotensi maju dalam pemilihan sela setelah anggota parlemen Josh Simons mengundurkan diri dari kursinya di Makerfield.
Pasar obligasi Inggris merespons negatif perkembangan tersebut. Investor khawatir pemerintahan yang lebih kiri akan mendorong peningkatan belanja publik dan utang negara. Imbal hasil obligasi pemerintah Inggris tenor 10 tahun melonjak lebih dari 19 basis poin menjadi 5,185%.
Sementara itu, pound sterling melemah untuk hari kelima berturut-turut terhadap dolar AS, turun 0,6% ke level US$1,3317.
Sentimen global juga tertekan oleh pelemahan pasar Asia. Indeks Kospi Korea Selatan merosot lebih dari 6% setelah sebelumnya sempat mencetak rekor baru di atas level 8.000. Indeks Nikkei Jepang turun sekitar 2%, sementara Hang Seng Hong Kong melemah 1,6%.
Investor terus mencermati hasil pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping yang berakhir tanpa terobosan kebijakan besar. Ketiadaan kesepakatan konkret membuat pasar kecewa dan meningkatkan kekhawatiran terhadap prospek ekonomi global.
Di Wall Street, indeks juga terpukul. Kekhawatiran inflasi semakin meningkat setelah indeks harga produsen (PPI) AS April naik 1,4% secara bulanan, tertinggi sejak Maret 2022 dan jauh di atas ekspektasi ekonom sebesar 0,5%.
Baca Juga
Inflasi AS Memanas, Pasar Mulai Prediksi Kenaikan Bunga The Fed
Sehari sebelumnya, data indeks harga konsumen (CPI) AS menunjukkan inflasi tahunan mencapai 3,8%, dipicu lonjakan harga energi dan kenaikan biaya perumahan. Inflasi inti memang lebih rendah di level 2,8%, tetapi masih jauh di atas target Federal Reserve sebesar 2%.
Kondisi tersebut memperkuat pandangan bahwa bank sentral AS kemungkinan akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, terutama di tengah dampak perang Iran dan kebijakan tarif Presiden Trump.
Baca Juga

