Dr Dato Sri Tahir MBA: Hidup dengan Tanggung Jawab
Oleh: Primus Dorimulu
INVESTORTRUST -- Kualitas seseorang diukur oleh kesediaan dan kemampuannya dalam menjalankan tanggung jawabnya sebagai manusia. Kita bekerja bukan karena hobi, tapi ungkapan tanggung jawab. Jika bekerja sekadar untuk menyalurkan hobi, sangat boleh jadi tanggung jawab yang ada di pundak kita tidak bisa diemban dengan baik. Bahkan mungkin, tanggung jawab kita berantakan.
“Lihat itu tukang ojek! Apakah dia bekerja karena hobi? Jelas, tidak! Dia bekerja karena tanggung jawab kepada keluarga. Jika ia tidak ngojek satu hari saja, anaknya tidak cukup makan,” ungkap Dr Dato Sri Tahir MBA pada sebuah kesempatan. Pernyataan senada bisa disimak di sejumlah media. Tidak banyak taipan yang rajin memberikan tips meraih sukses kepada publik lewat media arus utama maupun platform media sosial seperti Tahir.
Hari ini, 26 Maret 2026, di usia 74 tahun, Tahir masih tampil sehat dan energik. Meski sudah menjadi pengusaha sukses dan mendirikan imperium bisnis, ia selalu memosisikan dirinya sebagai orang kebanyakan. Dengan sikap seperti itu, ia memiliki jaringan pergaulan yang luas, menembus semua level, dan bisa memelihara empati terhadap sesama yang kurang beruntung.
Kepedulian terhadap sesama membawa Tahir menjadi salah satu filantropis paling menonjol di Indonesia. Lewat Tahir Foundation, ia tidak saja membantu orang susah di Indonesia, melainkan juga para pengungsi di sejumlah negara seperti di Irak dan Yordania.
Dedikasinya terhadap sesama yang kurang beruntung sampai juga di telinga Bill Gates, co-founderMicrosoft yang juga dikenal sebagai filantropis dunia. Bill & Melinda Gates Foundation adalah yayasan yang membantu upaya penanggulangan penyakit polio, TBC, hingga HIV di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.
Pada pertemuan pertama di forum Abu Dhabi Global Vaccine Summit 2013, Tahir langsung menyatakan kesediaan untuk ikut memberikan dana bantuan kesehatan masyarakat dunia lewatBill & Melinda Gates Foundation, secara bertahap hingga mencapai US$ 100 juta. “Spontan saja saya menyatakan kesediaan itu. Di jalan pulang, saya hitung-hitung, eh, besar juga. Itu setara Rp 1,1 triliun pada kurs Rp 11.000 tahun 2013,” kenang Tahir.
Di Jakarta, ia menggalang dana dari delapan taipan, masing-masing, US$ 5 juta, untuk berpartisipasi membantu upaya penanggulangan penyebaran penyakit paling mematikan di dunia. Atas inisiatifnya, Bill Gates berkunjung ke Indonesia untuk bertemu langsung delapan taipan yang ikut bergabung memberikan dana filantropis, di antaranya, TP Rachmat.
Melalui Tahir Foundation, ia telah menyalurkan donasi dalam skala besar. Komitmen kemanusiaannya juga melampaui batas negara. Tahir pernah kontribusi sekitar Rp 83 miliar untuk rumah sakit di Palestina, serta menyalurkan bantuan bagi pengungsi di wilayah konflik seperti Palestina dan Suriah. Atas dedikasi tersebut, Tahir menerima sejumlah penghargaan internasional, antara lain “Best Philanthropy Awards 2023” serta “Lifetime Achievement Award” dalam ajang People of The Year 2025 yang diselenggarakan sebuah stasiun TV nasional. Itu semua merupakan pengakuan atas kontribusinya di bidang kemanusiaan.
Dalam berbagai kesempatan, Tahir acap menekankan prinsip hidup “built by the society, for the society”, yakni keyakinan bahwa kekayaan yang dibangun bersama masyarakat harus diikembalikan kepada masyarakat. Giving back to society! Filosofi ini menjadi fondasi utama dalam setiap langkah filantropinya.
Empat Pilar
Tentang siapa sesungguhnya Tahir, pembaca bisa mendapatkan informasi yang cukup lengkap dalam buku biografi “Dato’ Sri Tahir: Living Sacrifice” karya Alberthiene Endah yang diluncurkan tahun 2015.Dalam buku itu, ia menjelaskan,fondasi hidupnya sejak kecil, yakni keluarga, ibadah, karya, dan sosial. Empat pilar ini merupakan pegangan hidup yang ia jalankan dengan penuh tanggung jawab sajak sejak muda.
Pilar pertama adalah keluarga. Kualitas buah tergantung pada pohonnya dan pohon itu adalah keluarga. Ia bisa bertumbuh menjadi yang sehat jiwa-raga, kuat dalam mengemban tanggung jawab, dan bisa bergaul dengan semua strata dengan menjaga dignity adalah karena pendidikan dalam keluarga.
Tahir mengaku lahir dari keluarga miskin, anak juragan becak dengan pendapatan tidak menentu. Tapi, kedua orang-tuanya mendidiknya untuk menjaga mertabat dengan belajar dan bekerja keras, menjalin hubungan baik dengan semua pihak. Dalam keterbatasan, ia disekolahkan di Nanyang University, salah satu universitas terbaik di Singapura.
Masih dalam pendidikan, ia dipertemukan dengan Rosy Riady, putri sulung dari seorang taipan papan atas di Indonesia. Meski sempat minder, Tahir berani melamar putri Mochtar Riady yang saat itu sudah dikenal luas sebagai bankir bertangan dingin. Jiwanya sebagai petarung kian kokoh saat menjalani hidup berkeluarga dengan putri kesayangan pendiri Lippo Group.
Pilar kedua adalah iman. Ia mengaku selalu menjaga hubungan pribadinya dengan Tuhan. Sejak kecil ia dididik secara Kristen. Bukan hanya ibadah,melainkan juga nilai Kristiani. Ajaran Kristen sangat menekankan pentingnya keluarga dan tanggung jawab setiap manusia. Meski pergaulannya menembus batas agama, suku, ras, dan golongan, Tahir selalu menjaga imannya. “Saya tidak mungkin bisa meninggalkan Yesus,” kata Tahir.
Pilar ketiga ialah karya. Dari keluarganya, ia melihat orangtuanya yang merintis karya sebagai pemilik becak. Karena penyewaan becak tidak bisa meningkatkan kesejahteraan keluarga, orangtuanya beralih menjadi pedagang. Sebagai pedagang kehidupan mereka membaik. Tahir bisa belajar di sekolah terbaik.
Karyanya berkembang setelah menikah. Selain belajar bisnis dari mertuanya, Mochtar Riady, ia piawai memanfaatkan jaringannya. Mulai dari berdagang, Tahir masuk bisnis properti, perbankan, dan rumah sakit. Dasar ini, Mayapada Group yang didirikan Tahir mencuat sebagai salah satu kelompok usaha besar di Indonesia dengan strategi diversifikasi lintas sektor yang terintegrasi, mulai dari jasa keuangan hingga layanan kesehatan dan properti.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan, Mayapada Group saat ini beroperasi di sedikitnya lima sektor utama, yakni perbankan dan jasa keuangan, kesehatan, properti dan perhotelan, ritel dan pariwisata, serta media. Struktur ini mencerminkan strategi grup dalam membangun ekosistem bisnis yang tidak hanya saling menopang, tetapi juga relatif tahan terhadap siklus ekonomi.
Di sektor keuangan, PT Bank Mayapada Internasional Tbk (MAYA) menjadi tulang punggung bisnis. Bank ini berperan sebagai core engine dalam penghimpunan dana dan penyaluran kredit, sekaligus mendukung ekspansi grup ke sektor lain.
Sementara itu, di sektor kesehatan, Mayapada mengembangkan jaringan rumah sakit melalui PT Sejahteraraya Anugerahjaya Tbk (SRAJ) yang mengelola Mayapada Hospital. Lini ini menjadi salah satu motor pertumbuhan baru, seiring meningkatnya permintaan layanan kesehatan berkualitas di Indonesia.
Di sektor properti, grup ini memiliki PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO) yang fokus pada pengembangan real estat dan proyek komersial. Mayapada memiliki sejumlah gedung di Jl Sudirman dan Jl Thamrin, dua jalan utama yang menjadi ikon Jakarta.Sementara di sektor ritel dan pariwisata, Mayapada mengendalikan PT Sona Topas Tourism Industry Tbk (SONA), yang bergerak di bisnis duty free dan agen perjalanan.
Mayapada juga memperluas jangkauan bisnis ke sektor media melalui platform seperti MyTV, serta memperkuat lini jasa keuangan melalui kemitraan strategis, termasuk joint venture asuransi dengan Zurich. Secara struktur, Mayapada Group diperkirakan memiliki puluhan entitas usaha, baik anak usaha maupun perusahaan terafiliasi. Namun, sebagian besar entitas tersebut masih berstatus tertutup sebagai bagian dari strategi ekspansi internal.
Di pasar modal, terdapat empat perusahaan utama Mayapada yang telah melantai di BEI, yakni Bank Mayapada (MAYA), Sejahteraraya Anugerahjaya (SRAJ), Maha Properti Indonesia (MPRO), dan Sona Topas Tourism Industry (SONA). Keempat emiten ini menjadi representasi utama eksposur publik grup sekaligus mencerminkan diversifikasi bisnis yang dimiliki.
Dengan kombinasi antara entitas publik dan perusahaan tertutup, serta ekspansi multisektor yang berkelanjutan, Mayapada Group terus memosisikan diri sebagai konglomerasi modern yang tidak bertumpu pada satu lini bisnis, melainkan membangun fondasi ekonomi yang luas untuk menopang pertumbuhan jangka panjang.
Inilah hasil kerja keras Tahir yang terlahir dari keluarga miskin tapi memiliki semangat, tanggung jawab, dan ketegasan sikap dalam menjaga martabat. “Saat ini, saya sudah mulai menepi. Urusan bisnis Mayapada, perlahan, ditangani putra saya, Jonathan Tahir,” jelas Tahir.
Pilar keempat adalah sosial. Ia banyak menolong sesama dan dikenal sebagai salah satu filantropis Indonesia yang paling menonjol. “Habitat saya adalah orang miskin. Jika sekarang saya sudah punya bisnis yang berkembang, dan orang anggap saya orang kaya, hati saya tetap bersama orang miskin. Selain nilai Kristiani, pengalaman sebagai orang miskin begitu menancap di bawah sadar saya,” jelas Tahir.
Pengusaha, kata Tahir, jangan egois. Jangan hanya melihat kepentingan diri sendiri, melainkan kepentingan umum. Masih sangat banyak sesama saudara sebangsa dan setanah air yang hidup susah. “Hati saya selalu bergetar setiap kali menyanyikan lagu Indonesia Raya. Setelah mendapatkan keberuntungan dari bumi dan rakyat Indonesia, kita wajib kembalikan kepada tanah air dan bangsa Indonesia,” ungkap Tahir.
Living Sacrifice
Buku biografinya diberikan judul Living Sacrifice. Secara harfiah, living sacrifice artinya persembahan yang hidup atau pengorbanan hidup. Bagi Tahir, hidup ini bukan sekadar untuk dijalani, tetapi untuk dipersembahkan. Dalam makna living sacrifice, manusia tidak diminta untuk menyerahkan nyawanya, melainkan menyerahkan cara hidupnya. Setiap keputusan, setiap langkah, setiap sikap menjadi bagian dari persembahan itu.
Tips hidup yang disampaikan Tahir lewat berbagai platform media sosial perlu dilihat dari semangat living sacrifice. Ia meliterasi generasi muda. Ia ingin anak-cucunya dan seluruh generasi baru Indonesia di masa akan datang hidup damai dan sejahtera.
Living sacrifice adalah panggilan untuk hidup dengan kesadaran bahwa hidup ini bukan milik sendiri sepenuhnya. Ada tujuan yang lebih besar, ada nilai yang lebih tinggi. Dan ketika hidup dijalani dengan cara itu, setiap hari menjadi ibadah, setiap tindakan menjadi arti.
Dalam diri Tahir kita melihat sebuah totalitas. Ia tidak hanya seorang ayah dan opa, pendiri Mayapada, dan pengusaha yang membesarkan grup bisnis ini. Tahir hendak menunjukkan kepada dunia bahwa pengusaha akan penuh empati jika intelektual dan akademisi. Ia melanjutkan pendidikan S2 di AS dan S3 di Universitas Gajah Mada (UGM).
Pada 22 Januari 2016, UGM menganugerahkan gelar Doktor Honoris Causa kepadanya untuk pengabdiannya di bidang kesehatan masyarakat. Penghargaan itu merupakan bentuk apresiasi atas kontribusi besarnya dalam bidang kemanusiaan serta peningkatan kualitas kesehatan masyarakat melalui berbagai aktivitas filantropi.
Tidak puas menerima gelar kehormatan, Tahir ikut pendidikan S3 di UGM. Pada 30 Agustus 2019, ia lulus dengan predikat cum laude setelah mempertahankan disertasinya pada ujian terbuka program doktoral Ilmu Kepemimpinan dan Inovasi Kebijakan, di Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Jumat (30/8/2019).Dalam disertasi berjudul “Studi Ekonomi Kelembagaan dan kepemimpinan: Studi Kasus Kebijakan Penyelamatan Perbankan pada Saat Krisis Moneter 1997/1998”, Tahir menyatakan, nasihat International Monetary Fund (IMF) dan peran Badan Penyerapan Perbankan Nasional (BPPN) memperparah krisis finansial 1997/1998.
Dalam situasi krisis mestinya dunia usaha diberikan stimulus ekonomi, bukan pengetatan seperti saran IMF. Sedang kehadiran BPPN dalam menangani aset bank memperpanjang krisis ekonomi karena lembaga ini tidak berpengalaman dalam merestrukturusasi kredit bank. Tahir menekankan pentingnya regulasi dan tata kelola yang baik. Jika dua hal itu dilaksanakan, ekonomi Indonesia akan melaju lebih cepat dan perbankan nasional akan kuat menghadapi guncangan.
Tanggung Jawab
Pada akhirnya, perjalanan hidup Tahir menunjukkan bahwa kesuksesan bukan sekadar soal akumulasi kekayaan, melainkan tentang bagaimana kekayaan itu dimaknai dan digunakan. Dari titik awal sebagai anak juraganbecak hingga menjadi salah satu pengusaha dan filantropis terkemuka di Indonesia, ia konsisten menjadikan tanggung jawab sebagai fondasi utama dalam setiap langkah hidupnya.
Filosofi “built by the society, for the society” yang ia pegang bukan sekadar slogan, melainkan prinsip hidup yang dijalankan secara nyata melalui karya, kepemimpinan, dan pengabdian sosial. Dalam diri Tahir, bisnis dan kemanusiaan tidak berjalan terpisah, tetapi saling menguatkan sebagai satu kesatuan nilai.
Di tengah dinamika ekonomi dan perubahan zaman, sosok Tahir menghadirkan satu pesan sederhana namun kuat: bahwa hidup yang bermakna adalah hidup yang memberi. Dan dalam semangat living sacrifice, setiap orang dipanggil untuk menjadikan hidupnya bukan hanya sukses, tetapi juga bermanfaat bagi sesama.
Tanggung jawab, dalam hidup Tahir, bukan konsep abstrak, melainkan daya yang menggerakkan seluruh jalan hidupnya. Tanggung jawab itulah yang membuat seorang anak dari keluarga miskin tidak menyerah pada keadaan, melainkan memilih belajar, bekerja keras, menjaga martabat, dan terus bertumbuh. Tanggung jawab pula yang membuatnya tidak berhenti pada keberhasilan pribadi, tetapi meluaskan makna hidupnya bagi keluarga, perusahaan, masyarakat, dan bangsa.
Dalam pengertian yang lebih luas, tanggung jawab bagi Tahir adalah kesediaan untuk menjawab panggilan hidup di setiap tahap kehidupan. Saat muda, ia bertanggung jawab atas masa depannya dengan belajar dan berjuang. Saat menjadi pengusaha, ia bertanggung jawab membangun karya dan lapangan kehidupan bagi banyak orang. Saat diberi kelimpahan, ia merasa bertanggung jawab untuk memberi kembali kepada mereka yang lemah, sakit, miskin, dan terpinggirkan. Karena itu, tanggung jawab dalam diri Tahir bukan hanya bersifat ekonomi, tetapi juga moral, sosial, bahkan spiritual.
Itulah sebabnya judul “Hidup dengan Tanggung Jawab” menemukan maknanya yang utuh dalam sosok Tahir. Ia memperlihatkan bahwa manusia besar bukan pertama-tama diukur dari seberapa banyak yang dimiliki, melainkan dari seberapa sungguh ia memikul tanggung jawabnya. Tanggung jawab kepada keluarga membentuk karakternya, tanggung jawab kepada karya membangun Mayapada, tanggung jawab kepada sesama melahirkan filantropinya, dan tanggung jawab kepada Tuhan memberi arah bagi seluruh hidupnya. Pada titik itu, hidup Tahir menjadi pesan yang kuat: keberhasilan sejati adalah ketika tanggung jawab dijalankan dengan setia, sampai hidup itu sendiri menjadi berkat bagi orang lain.
Pada sebuah ulang tahun Mayapada Group pada dekade lalu di Hotel Mulia, Senayan, Mochtar Riady, mertua Tahir didaulat untuk menyampaikan pidato.Pada satu bagian pidatonya, guru bangsa ini mengatakan, “Saya sangat bangga dengan Tahir. Karena ia sudah menunjukkan tanggung jawab. Tanggung jawab terhadap istri dan anak-anaknya, tanggung jawab terhadap perusahaan dan karyawan, tanggung jawab terhadap bangsa dan negara, serta tanggung jawab terhadap kemanusiaan.” ***

