Prestasi Tak Butuh Pengakuan
Poin Penting
|
INVESTORTRUST.ID - Banyak orang tanpa sadar menjadikan pengakuan sebagai tujuan utama dalam berkarier. Pujian, penghargaan, atau citra positif kerap menjadi tolok ukur keberhasilan. Padahal, ada value lain yang justru lebih menenangkan dan membebaskan, yaitu bekerja maksimal tanpa dibebani keinginan untuk diakui.
Pengakuan bukanlah sesuatu yang harus dikejar. Ia cenderung hadir sebagai konsekuensi alami dari kualitas kerja, konsistensi, dan kontribusi nyata. Prestasi sejati terkadang lahir dari proses panjang yang sunyi, tidak ingar-bingar, dari kerja keras yang tidak selalu terlihat. Reputasi tidak dibangun dari pencitraan, melainkan dari rekam jejak, karya, dan dampak.
Ketika seseorang bekerja dengan fokus pada hasil terbaik --bukan pada penilaian orang lain-- energi yang tercurah menjadi lebih murni. Hatinya lebih lapang. Tidak ada distraksi emosional. Tidak haus pujian. Tidak takut terhadap kritik. Yang ada hanyalah dorongan internal untuk terus memperbaiki diri.
Seseorang yang bekerja tanpa terobsesi oleh pengakuan biasanya memiliki mental yang lebih tangguh. Ia tidak mudah jatuh oleh kritik. Tidak gampang terlena oleh pujian. Kinerjanya tetap stabil karena motivasi utamanya berasal dari komitmen, bukan dari tepuk tangan.
Nilai-nilai itulah yang berupaya diterapkan Litta Indriya Ariesca dalam menjalani kariernya. Litta percaya, pengakuan akan hadir dengan sendirinya kepada setiap orang yang bekerja keras. Karena itu, janganlah menjadikan pengakuan sebagai tujuan dalam berkarier. “Pokoknya, kerja keras aja, nanti yang lain mengikuti,” kata Direktur Utama PT Elnusa Tbk (ELSA) itu.
Perempuan kelahiran Cirebon, 8 April 1971 ini sangat teguh memegang komitmen. Ia pantang mundur jika sudah memilih atau melakukan sesuatu. ”Orang tua saya mengajarkan saya untuk disiplin dan berkomitmen. Jadi, kalau sudah melaksanakan sesuatu, memilih sesuatu, berkomitmenlah, terus konsisten. Komitmen dan disiplin akan mempermudah semuanya,” tutur Sarjana Teknik Arsitektur lulusan Universitas Trisakti ini.
Bagi Litta Indriya, menghasilkan prestasi bisa dilakukan di mana saja, bahkan di tempat yang dianggap tidak prospektif, diremehkan, dan diabaikan orang-orang. “Di tempat yang orang lain nggak mau,kalau kita bisa bekerja lebih baik, orang-orang akan melihat hasilnya, kok. Jadi, jangan pusing dengan pendapat orang lain, bekerja saja lebih baik dan buktikan hasilnya,” tegas dia.
Filosofi Litta tentang “prestasi” dan “pengakuan” ternyata diilhami oleh arsitek legendaris asal Irak yang berkarier di Inggris, Zaha Hadid. Karya-karya Zaha Hadid awalnya ditolak di mana-mana karena dianggap nyeleneh. Tapi desain yang diciptakan arsitek berjuluk Ratu Kurva itu kemudian menjadi fenomena karena pendekatannya yang radikal, futuristik, dan sangat ekspresif.
“Pada awal kariernya, karya Zaha Hadid tidak diterima di mana-mana. Dulu, orang nggak bisa melihat bangunan dengan curve. Dulu dibilang aneh, berbeda dengan yang lain, tapi sekarang dianggap unik,” ucap Litta yang menamatkan Master bidang Investment & Management di University of Manchester, Institute of Science and Technology.
Apa lagi kiat sukses Litta? Mengapa ia banting setir dari arsitektur ke energi? Bagaimana gayanya memimpin Elnusa? Apa pula targetnya untuk cucu perusahaan PT Pertamina (Persero) itu? Berikut penjelasan lengkap Litta Indriya Ariesca kepada jurnalis investortrust.id, Whisnu Bagus Prasetyo, Hendry Kurniawan, dan Dicki Antariksa di studio investortrust.id, di Jakarta, baru-baru ini:
Bidang energi adalah karier impian Anda?
Sebenarnya saya waktu kecil memang agak galau. Maunya macam-macam. Waktu itu saya sempat diterima di salah satu perguruan tinggi negeri, di Fakultas Ekonomi, Jurusan Akuntansi.
Terus saya pikir, aduh saya mau jadi apa ya? Saya harus belajar ini, belajar itu, aduh ekonomi, akuntansi. Saya takut juga nih, pelajarannya kayaknya sulit.
Saya kan senang matematika, saya juga senang seni. Jadi, saya pikir, disiplin ilmu yang menggabungkan itu mungkin arsitektur. Maka masuklah saya ke Jurusan Arsitektur Universitas Trisakti.
Tapi setelah lulus, saya juga galau lagi gitu kan? Ternyata berat juga jadi arsitek ya? Mungkin saya tidak sekreatif teman-teman. Ternyata kreativitas itu tidak hanya harus di seni ya. Kreativitas bisa diterapkan di mana saja.
Kemudian saya mengambil S2 di University of Manchester, Institute of Science and Technology, Inggris. Begitu lulus pada 1997, saya langsung bekerja di firma konsultasi Addison Griffiths Consultant di London selama hampir lima tahun.
Selanjutnya?
Selanjutnya saya pulang ke Indonesia, dan bekerja di bidang properti. Di businessdevelopment, di beberapa perusahaan, kemudian masuk ke chemical. Dari chemical, saya mulai berkenalan dengan bidang energi. Ternyata Pertamina itu memerlukan banyak chemical dan lain-lain gitu kan. Setelah itu, pindahlah saya ke Pertamina.
Trigger yang mendorong Anda pindah ke Pertamina?
Memang saat itu ingin memberikan kontribusi yang lebih kepada negara. Saya pikir, mungkin saya harus masuk BUMN, biar lebih kena kontribusinya. Jadi, di situlah saya mulai berkenalan dengan Pertamina. Saya pindah ke Pertamina pada awal 2012, sampai sekarang.
Apa value paling kuat yang membentuk karakter Anda sebagai eksekutif?
Mungkin disiplin. Saya cukup disiplin. Ini sebenarnya yang diajarkan oleh orang tua saya. Orang tua saya termasuk yang sangat bebas, tidak mengekang atau meminta saya harus ke mana, atau harus menjadi apa. Tidak pernah.
Tapi orang tua saya mengajarkan disiplin dan komitmen. Kalau sudah melaksanakan sesuatu, memilih sesuatu, berkomitmenlah. Konsisten gitu kan? Komitmen dan disiplin itu mempermudah semuanya.
Berarti sosok yang paling berpengaruh adalah orang tua?
Tentunya karena yang paling dekat.
Siapa role model Anda dalam berkarier?
Sebenarnya saya kagum sama seorang arsitek perempuan. Beliau sudah meninggal. Ia berasal dari Irak, tapi kemudian pindah ke Inggris. Namanya Zaha Hadid (arsitek legendaris berjuluk Ratu Kurva, Zaha Hadid, red).
Di Inggris, Zaha Hadid membuat firma, salah satu terbesar di dunia. Bangunan-bangunan karyanya ada di mana-mana. Nah, pada awal kariernya, karya Zaha Hadid tidak diterima di mana-mana. Dulu, orang nggak bisa melihat bangunan dengan curve. Dulu dibilang aneh, berbeda dari yang lain, tapi sekarang dianggap unik dan futuristik.
Menurut saya, beliau luar biasa karena menciptakan desain dan bentuk yang berbeda dari arsitek-arsitek yang lainnya. Karyanya semula sangat sulit diterima orang-orang. Tetapi dengan keteguhan yang dimilikinya, ia bisa meyakinkan orang-orang bahwa karyanya itu baik, berguna, dan bagus.
Sampai akhirnya semua bangunan karyanya menjadi monumental dan fenomenal di mana-mana. Salah satu karyanya adadi Azerbaijan (Heydar Aliyev Center di Baku, Azerbaijan, diresmikan pada 2012, didedikasikan untuk Heydar Aliyev, Presiden Republik Azerbaijan yang pertama, red). Di UK (United Kingdom) juga dia bikin. Pokoknya, di mana pun dia bikin bangunan, pasti menjadi monumental.
Nilai yang bisa Anda petik dari Zaha Hadid?
Sebenarnya kita bisa determine apa saja yang kita inginkan. Yang penting kita disiplin. Kita harus meyakinkan orang lain tentang apa yang kita yakini. Itu suatu hal yang luar biasa untuk dipelajari.
Anda pernah gagal dan terpuruk?
Pastinya pernah. Saya rasa itu dialami semua orang. Jadi, ada ups and downs. Pada suatu waktu saya pernah dalam posisi yang menurut saya kurang dalam beberapa hal. Ditempatkan di tempat yang even orang lain juga nggak mau.
Cara Anda bangkit?
Saya mendapat nasihat dari orang-orang terdekat dan atasan saya. Saya sadar bahwa saya harus membuktikan bahwa walaupun di tempat yang orang lain nggak ‘melihat’, saya bisa bekerja lebih baik. Di tempat yang orang lain nggak mau, kalau kita bisa bekerja lebih baik, orang-orang akan melihat hasilnya juga kok.
Saya harus membuktikan bahwa ternyata di tempat ini juga ada yang bisa dihasilkan. Sampai akhirnya orang lain berebut untuk pindah ke posisi itu. Jadi, jangan pusing dengan pendapat orang lain, bekerja saja lebih baik dan buktikan hasilnya. Pokoknya kerja keras aja, nanti orang lain juga akan melihat hasilnya. Jadi, jangan khawatir.
Saya belajar dari beberapa atasan saya yang saat itu berada dalam posisi terpuruk. Salah satu atasan saya pernah di-non-job-kan karena suatu hal. Tetapi beliau saat itu justru memberikan kontribusi yang luar biasa, tanpa harus ada acknowledgement (pengakuan) dari orang lain.
Yang membuat Anda tetap semangat?
Bekerja saja membuat saya bangga. Bisa bekerja dengan memberikan kontribusi, walaupun kecil, membuat saya merasa bangga. Saya berusaha untuk merasa bangga. Bangga itu membuat saya tetap semangat. Intinya saya gampang bangga untuk membuat saya bersemangat saja. Saya bangga dengan pencapaian, bahkan pencapaian kecil, untuk memberi semangat.
Strategi Anda untuk Elnusa?
Bisa meneruskan apa yang dilakukan pendahulu saya, dengan menyelesaikan tahun 2025 dengan baik, itu suatu kebanggaan tersendiri. Jadi, alhamdulillah, saya terusmeyakinkan teman-teman di Elnusa bahwa kami punya masa depan yang luar biasa.
Kami terus memperkuat peran Elnusa sebagai bagian dari subholding upstream Pertamina dengan menempatkan teknologi dan inovasi sebagai pengungkit utama kinerja 2026. Tahun lalu, kami mencatatkan pencapaian operasional yang solid di lini geosains, pengeboran, dan well services dalam rangka mendukung target produksi minyak nasional sebanyak 1 juta barel per hari (bph).
Sebagai perusahaan jasa hulu migas yang menjadi anak perusahaan PT Pertamina Hulu Energi (PHE), Elnusa menyelaraskan strategi sesuai tema korporasi, yaitu Rediscover Technology and Innovation Edge”. Strategi ini menekankan penguatan kapabilitas teknologi untuk menjaga keandalan operasi dan keberlanjutan produksi.
Pencapaian saat ini dan target ke depan?
Tahun lalu, Elnusa menyelesaikan survei seismik darat seluas 596,6 km² pada segmen geosains sebagai dukungan terhadap eksplorasi dan pengembangan lapangan. Pada lini drilling services, modular rig Elnusa menuntaskan pengeboran 9 sumur di wilayah Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS) dengan tingkat efisiensi yang terjaga.
Di segmen well services, kami melaksanakan pengujian produksi pada 16.130 sumur serta mengoperasikan hydraulic workover unit pada 160 sumur. Skala operasi ini mencerminkan peran Elnusa dalam menjaga keberlanjutan produksi di berbagai wilayah kerja Pertamina Group.
Kinerja layanan intervensi dan logging juga menunjukkan konsistensi. Tahun lalu, Elnusa merealisasikan cementing services pada 453 sumur, coiled tubing services pada 875 sumur, serta 1.298 pekerjaan wireline logging di sejumlah wilayah kerja. Selain itu, kami melakukan inline inspection pada delapan jalur pipa di wilayah Pertamina Hulu Mahakam (PHM) untuk memastikan integritas aset dan keselamatan operasi.
Elnusa juga mencatatkan penyelesaian proyek lebih cepat dari jadwal. Proyek Engineering Blanket di PHE Jambi Merang rampung lima bulan lebih awal, sedangkan proyek EPC booster pump selesai empat bulan lebih cepat dari target. Ini menunjukkan efektivitas pengelolaan proyek serta disiplin eksekusi di lapangan.
Kami fokus pada teknologi untuk memperkuat kapabilitas. Elnusa mengimplementasikan casing while drilling untuk meningkatkan efisiensi pengeboran, memanfaatkan chronoflux technology sebagai solusi stimulasi kimia guna mendongkrak produktivitas sumur, serta menerapkan dual velocity string untuk optimalisasi produksi minyak dan gas.
Melalui layanan terintegrasi mulai survei seismik, pengeboran, intervensi sumur, rekayasa teknik, inspeksi pipa, hingga peningkatan produksi, Elnusa berkontribusi terhadap target pemerintah mencapai produksi 1 juta bph. Target tersebut menjadi bagian dari agenda penguatan ketahanan energi nasional di tengah volatilitas harga dan dinamika pasokan global.
Gaya leadership Anda?
Saya memberikan kepercayaan kepada karyawan bahwa mereka bisa maju dan membuat perusahaan ini survive. Kepercayaan ini bisa tumbuh jika kami bekerja sama dan memiliki tim yang hebat. Jadi, bagaimana menyatukan ribuan karyawan Elnusa untuk mencapai visi dan misi perusahaan.
Tentunya tidak gampang. Kami punya pegawai tetap sekitar 1.500. Jika ditotal (dengan non-pegawai tetap atau karyawan kontrak), jumlahnya kurang lebih 15 ribuan. Kami berikan percayaan kepada mereka bahwa kami bisa menjalankannya bersama-sama. Harus saling support.Jadi, lebih kepada memberikan trust.
Pandangan Anda tentang work-life balance?
Sebenarnya sih tidak ada yang istimewa juga. Semua berjalan lancar-lancar saja. Kebetulan rumah saya dekat dengan kantor, ini jadi anugerah juga. Jadi, lebih mudah untuk berkoordinasi dengan yang di rumah.***
BIODATA
Nama: Litta Indriya Ariesca.
Tempat, tanggal lahir: Cirebon, 8 April 1971.
Jabatan: Direktur Utama PT Elnusa Tbk (25 Agustus 2025 – sekarang).
Pendidikan:
* S1 Teknik Arsitektur Universitas Trisakti.
* Magister Manajemen & Investasi University of Manchester, Institute of Science and Technology (Inggris).
Karier:
* Direktur Pemasaran & Operasi PT Patra Jasa.
* Vice President Pengembangan Bisnis Pasar Internasional dan Portofolio Group PT Pertamina (Persero).
* Project Director 1 PT Pertamina (Persero).
* Manajer Pengembangan Bisnis & Inovasi ASEAN - DuPont.
* Senior Manager Investment Strategist - Sinar Mas Group.
* Manajemen Proyek - PT Summarecon Agung Tbk.
* Analis Bisnis - Addisson Griffitts Consultant (Inggris).
