Sekjen PBB Desak Dunia Tak Gentar Hadapi Ancaman Israel Soal Pengakuan Negara Palestina
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, António Guterres, mendesak negara-negara di dunia untuk tidak merasa takut atau terintimidasi oleh ancaman Israel yang berencana menganeksasi wilayah Tepi Barat yang diduduki. Pernyataan ini disampaikan Guterres dalam wawancara dengan AFP di markas besar PBB di New York, Jumat (19/9/2025), menjelang Sidang Umum PBB yang akan digelar pekan depan.
Menurut Guterres, meningkatnya dukungan global terhadap pengakuan negara Palestina telah memicu ancaman dari Israel, namun komunitas internasional tidak boleh menyerah pada tekanan tersebut. “Kita tidak boleh merasa terintimidasi oleh risiko pembalasan,” tegasnya.
Perang yang menghancurkan di Gaza, ekspansi permukiman ilegal, serta meningkatnya serangan terhadap warga Palestina di Tepi Barat telah membangkitkan kemarahan dunia dan memperkuat seruan terhadap solusi dua negara sebagai jalan keluar dari konflik panjang Israel-Palestina. Dalam beberapa hari mendatang, sepuluh negara termasuk Inggris, Prancis, Kanada, Australia, Portugal, dan Belgia diperkirakan akan secara resmi mengakui negara Palestina, seiring dengan berkumpulnya lebih dari 140 kepala negara dan pemerintahan dalam Sidang Umum Tahunan PBB.
Menanggapi keraguan atas implementasi solusi dua negara, Guterres menyatakan bahwa meskipun dianggap sulit, alternatifnya jauh lebih tidak dapat diterima.
“Orang-orang mengatakan solusi dua negara itu sulit,” ucapnya. “Tapi apa alternatifnya? Solusi satu negara di mana jutaan warga Palestina akan diusir atau hidup di bawah sistem penindasan dan diskriminasi tanpa hak? Apakah itu bisa diterima di abad ke-21? Saya rasa tidak,” ujarnya dalam wawancara dengan AFP yang dikutip TheNational.com.
Ia menambahkan bahwa apa pun yang dilakukan atau tidak dilakukan komunitas internasional, tindakan Israel akan tetap berlanjut, namun setidaknya ada kesempatan untuk mengerahkan tekanan global agar tindakan tersebut tidak terus terjadi.
Lebih lanjut, Guterres menyampaikan keterkejutannya terhadap kondisi kemanusiaan di Gaza setelah hampir dua tahun dilanda perang. “Apa yang kita saksikan di Gaza benar-benar mengerikan,” katanya. Ia menyebut tingkat kematian dan kehancuran di wilayah tersebut sebagai yang terburuk selama masa jabatannya sebagai Sekjen PBB, bahkan mungkin sepanjang hidupnya. Ia menggambarkan penderitaan rakyat Palestina sebagai kondisi yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, dengan kelaparan yang merajalela, sistem kesehatan yang lumpuh total, dan jutaan orang hidup tanpa tempat berlindung yang layak di daerah padat penduduk.
Serangan militer Israel ke Gaza, yang dimulai setelah serangan oleh kelompok Hamas ke wilayah selatan Israel pada 7 Oktober 2023, kini dinilai oleh panel ahli independen PBB sebagai tindakan genosida. Saat ini, operasi militer Israel difokuskan untuk merebut kendali atas Kota Gaza. Militer Israel memperingatkan akan menggunakan “kekuatan yang belum pernah terjadi sebelumnya” setelah melancarkan serangan besar-besaran di wilayah utara kota tersebut.
Baca Juga
Presiden Prabowo Apresiasi Dukungan Peru terhadap Solusi 2 Negara Isu Palestina
Sekitar satu juta penduduk kota — setengah dari total populasi Gaza — diperintahkan untuk mengungsi ke selatan. Menurut data militer Israel, sekitar 480.000 orang telah melarikan diri sejak serangan dimulai bulan lalu, meskipun masih terdapat kekhawatiran terkait kurangnya infrastruktur dan ruang untuk menampung gelombang pengungsi yang begitu besar, sementara serangan udara dan darat terus berlanjut.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bersumpah bahwa perang tidak akan berhenti sampai Hamas dikalahkan sepenuhnya. Ia juga menyatakan bahwa operasi di Kota Gaza bertujuan untuk membebaskan sekitar 50 sandera yang diyakini masih ditahan, meskipun hanya sekitar 20 orang yang diperkirakan masih hidup.
Menurut otoritas kesehatan Gaza, lebih dari 65.000 warga Palestina telah tewas selama konflik, mayoritas di antaranya adalah perempuan dan anak-anak. Selain itu, lebih dari 156.000 orang mengalami luka-luka.
Media Palestina melaporkan bahwa serangan terhadap Kota Gaza terus berlangsung hingga Sabtu, termasuk serangan udara yang menghantam sebuah sekolah di dekat Stadion Yarmouk dan menewaskan dua anak. Kantor berita resmi Palestina, Wafa, melaporkan bahwa militer Israel terus membombardir bangunan-bangunan tempat tinggal di kota tersebut. Serangan juga terjadi di kawasan Al Sabra di barat laut kota menggunakan drone, tembakan artileri, serta kendaraan kendali jarak jauh yang dipasangi bahan peledak.
Pesawat tempur Israel juga meluncurkan serangkaian serangan ke wilayah Tel Al Hawa di barat daya kota, sementara artileri menyerang area utara Kamp Pengungsi Al Bureij di Jalur Gaza bagian tengah. Guterres menekankan bahwa semua tindakan ini hanya memperparah penderitaan rakyat sipil dan semakin mendesak dunia untuk bertindak.

