Sekuritas Ramai-ramai Revisi Naik Harga Saham Medikaloka (HEAL)
JAKARTA, Investortrust.id – Tiga sekuritas lokal ( Mandiri Sekuritas, BRI Danareksa Sekuritas, dan Samuel Sekuritas Indonesia) kompak merevisi naik target harga saham PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL). Revisi kenaikan tersebut merefleksikan keberhasilan perseroan mencetak pertumbuhan laba pesat hingga September 2023 dan estimasi berlanjutnya peningkatan margin keuntungan perseroan.
Hingga September 2023, Medikaloka atau yang dikenal dengan Hermina Hospitals mencatatkan kenaikan laba bersih periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemiliken entitas induk sebanyak 42,08% dari Rp 245,52 miliar menjadi Rp 348,84 miliar. Kenaikan tersebut sejalan dengan pertumbuhan pendapatan bersih perseroan dari Rp 3,64 triliun menjadi Rp 4,22 triliun.
Realisasi tersebut ditambah tren pertumbuhan yang bakal berlanjut mendorong Mandiri Sekuritas, BRI Danareksa Sekuritas, dan Samuel Sekuritas Indonesia merevisi naik target laba bersih perseroan tahun ini.
Mandiri Sekuritas merevisi naik target laba bersih HEAL tahun 2023 dari perkiraan semula Rp 418 miliar menjadi Rp 500 miliar, dibandingkan tahun lalu Rp 299 miliar. Sedangkan perkiraan pendapatan dipertahankan senilai Rp 5,76 triliun.
Sedangkan BRI Danareksa Sekuritas merevisi naik target laba bersih perseroan tahun 2023 dari semula Rp 478 miliar menjadi Rp 484 miliar. Target pendapatan tidak diubah tetap senilai Rp 5,62 triliun.
Langkah serupa dilakukan Samuel Sekuritas dengan menaikkan target laba bersih HEAL tahun ini dari Rp 462 miliar menjadi Rp 498 miliar. Begitu juga dengan proyeksi pendapatan tetap dipertahankan dengan target Rp 5,72 triliun.
Analis Mandiri Sekuritas Inggrid Gondoprastowo dan Jennifer Audrey Harjono mengatakan, revisi naik target laba bersih perseroan menggambarkan pesatnya pertumbuhan margin keuntungan perseroan hingga kuartal III-2023. Peningkatan margin tersebut didukung oleh penambahan jumlah tempat tidur dan peningkatan eksposur pasien BPJS Kesehatan.
Mandiri Sekuritas memperkirakan margin keuntungan bersih perseroan tahun ini bisa mencapai 8,7% atau lebih tinggi dari perkiraan semula 7,3% dan realisasi tahun 2022 sekitar 6,1%.
“Peningkatan margin keuntungan tersebut diprediksi terus berlanjut sejalan dengan langkah perseroan dalam perbaikan pengadaan obat-obatan, general supplies, hingga biaya makanan. Perseroan juga mengimplementasikan sistem IT dalam pengelolaan rumah sakit agar lebih efisien,” kata Ingrid dan Jenifer dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, Selasa (24/10/2023).
Perseroan juga diuntungkan atas besarnya eksposur terhadap pasien BPJS Kesehatan. Menurut kedua analis itu, pasien BPJS berkontribusi sebanyak 60% terhadap total pendapatan perseroan hingga September 2023. Eksposur yang besar tersebut menjadikan tingkat pendapatan perseroan cenderung lebih stabil, dibandingkan pasien umum yang menurun.
Berbagai faktor tersebut mendorong Mandiri Sekuritas merevisi naik target harga saham HEAL dari Rp 1.650 menjadi Rp 1.880 dengan rekomendasi dipertahankan beli. Target tersebut juga mempertimbangkan estimasi rata-rata pertumbuhan tahunan (CAGR) pendapatan perseroan tahun 2023-2025 mencapai 14% atau lebih tinggi dari emiten rumah sakit lainnya.
Efisiensi Berjalan
Pandangan hampir senada diungkapkan analis BRI Danareksa Sekuritas Ismail Fakhri Suweleh. Menurut dia, realisasi pertumbuhan kinerja HEAL yang pesat sampai September 2023 tersebut membuka peluang lonjakan pertumbuhan laba bersih perseroan ke depan.
Hal ini didukung berlanjutnya inisiasi pemangkasan biaya dan pemanfaatkan sistem tekonologi informasi (TI) secara penuh yang diharapkan meningkatan yield BOR (tingkat keterisian kamar).
Perbaikan biaya, kata Ismail, terlihat pada keberhasilan Hermina Hospitals mencatatkan kenaikan margin kotor dan EBITDA masing-masing 1,2% dan 4,4%. Peningkatan tersebut juga didukung inisiasi pengadaan obat-obatan yang lebih baik sampai kuartal III-2023.
“Kami memprediksi pertumbuhan kinerja akan berlanjut dalam beberapa kuartal mendatang, seiring dengan belanja operasional yang terkendali hingga cenderung turun. Sedangkan trafik pasien inap dan rawat jalan juga menunjukkan peningkatan,” tulisnya dalam riset tersebut.
Hal ini mendorong BRI Danareksa Sekuritas merevisi naik target harga saham HEAL dari semula Rp 1.600 menjadi Rp 1.800. Targret harga tersebut mengimplikasikan EV/EBITDA tahun ini sektiar 20,3 kali atau hampir sama dengan saham regional.
Begitu juga dengan analis Samuel Sekuritas Jonathan Guyadi dan Brandon Boedhiman ikut merevisi naik target laba bersih dan saham HEAL. “Kami meyakini bahwa ketika situasi makro tak menentu masih membayangi Indonesia, emiten rumah sakit dengan eksposur besar terhadap pasien BPJS Kesehatan akan memiliki kinerja yang lebih baik, karena penurunan pasien umum kemungkinan berlanjut untuk sementara waktu,” terangnya dalam riset yang diterbitkan pekan lalu.
Selain itu, kedua analis tersebut menyatakan, Hermina (HEAL) akan diuntungkan oleh UU Kesehatan yang baru. Hal ini mengingat tujuan utama regulasi baru tersebut adalah untuk mempercepat penambahan dokter spesialis di daerah perdesaan. Kenyataan tersebut akan membantu perseroan guna meningkatkan tingkat penetrasi di daerah perdesaan ke depan.
Hal ini mendorong Samuel Sekuritas merevisi naik target harga saham HEAL dari semula Rp 1.650 menjadi Rp 1.800 dengan rekomendasi dipertahankan beli.
Prospek saham HEAL
Mandiri Sekuritas
Rekomendasi : buy
Target harga: Rp 1.880
BRI Danareksa Sekuritas
Rekomendasi : buy
Target harga: Rp 1.800
Samuel Sekuritas Indonesia
Rekomendasi : buy
Target harga: Rp 1.800
Rumah Sakit Hermina mengawali kegiatannya dengan mendirikan “Rumah Sakit Bersalin (RSB) Hermina” yang terletak di Jl Raya Jatinegara Barat No 126, Jakarta Timur, pada tahun 1985. Semula, RS ini bernama “Rumah Bersalin Djatinegara” dengan kapasitas 7 tempat tidur, yang didirikan atas prakarsa Ny Hermina Sulaiman pada tahun 1967.
Pada tahun 1970, Ny Hermina Sulaiman bekerja sama dengan Budiono Wibowo, seorang dokter spesialis kebidanan dan kandungan untuk mengembangkan fasilitas pelayanan menjadi 13 tempat tidur. Nama “Rumah Bersalin Djatinegara” pun berubah menjadi “Rumah Bersalin Hermina”.
Untuk pengembangan Rumah Bersalin ini, pada tahun 1983 dibentuklah “Yayasan Hermina”. Yayasan ini kemudian mengajukan izin untuk mendirikan rumah sakit, sehingga pada tanggal 25 April 1985 berdirilah “Rumah Sakit Bersalin Hermina” secara resmi. Perluasan lahan dan bangunan Rumah Sakit ini terus dilakukan sejak tahun 1991 hingga akhirnya berkembang menjadi “Rumah Sakit Ibu dan Anak Hermina Djatinegara”.
Hingga kini, Rumah Sakit Hermina telah memiliki 45 rumah sakit dengan kategori Rumah Sakit Umum (RSU) di 31 kota di Indonesia. Delapan RSU telah berstatus Tipe B dan 37 RSU lainnya termasuk dalam Tipe C, seluruhnya dengan total 6.200 tempat tidur. Saat ini, saturumah sakit Hermina telah memiliki satu akreditasi KARS dengan kategori International. RS Hermina juga telah memiliki akreditasi KARS dengan kategori Paripurna.(Hari Gunarto)

