‘A Spirit of Dialogue’, Greenland, dan Kepentingan Indonesia
Poin Penting
|
Oleh: Primus Dorimulu
INVESTORTRUST — World Economic Forum (WEF) ke-56 di Davos (19–23 Januari 2026) mengusung tema “A Spirit of Dialogue” pada saat dunia justru berada dalam fase paling terfragmentasi dalam satu dekade terakhir. Tema ini terasa bukan sekadar slogan, melainkan peringatan keras: dialog global tidak lagi sekadar sesuatu yang diasumsikan, tetapi sesuatu yang harus diperjuangkan. Peristiwa di Davos pekan lalu —mulai dari isu Greenland hingga kecerdasan buatan (AI)— menunjukkan betapa rapuhnya fokus dunia, sekaligus betapa pentingnya posisi negara-negara penyeimbang seperti Indonesia.
Davos kembali membuktikan dirinya sebagai platform dialog global yang hampir tak tergantikan. Hampir 3.000 pemimpin dunia dari 130 negara, termasuk sekitar 65 kepala negara dan pemerintahan, berkumpul dalam satu ruang percakapan. Namun Davos 2026 juga memperlihatkan batas dialog itu sendiri. Ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyinggung Greenland sebagai kepentingan strategis Washington, fokus forum bergeser drastis. Diskusi AI, iklim, dan investasi infrastruktur mendadak tenggelam oleh kecemasan geopolitik dan risiko kebijakan sepihak.
Di tengah dinamika itulah Presiden Prabowo Subianto, Kamis (22/01/2026), menyampaikan posisi Indonesia dengan jelas dan konsisten. Dalam berbagai pertemuan di Davos, Presiden menegaskan bahwa Indonesia adalah negara yang cinta damai, menjalin hubungan baik dengan semua negara, dan tidak berpihak pada blok kekuatan mana pun. Kehadiran Indonesia di Davos bukan untuk memperuncing perbedaan, melainkan untuk ikut memperjuangkan dunia yang lebih damai dan stabil.
Baca Juga
Berpidato di WEF Davos, Prabowo: Perdamaian Adalah Kunci Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Presiden Prabowo juga menegaskan dukungan Indonesia terhadap multilateralisme, peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), serta keberadaan organisasi-organisasi internasional penting sebagai pilar stabilitas global. Di tengah kecenderungan unilateralisme dan fragmentasi ekonomi, sikap ini menjadi pesan politik yang relevan: tanpa tata kelola global yang disepakati bersama —pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, inovasi teknologi, termasuk AI, langkah konkret menurunkan emisi karbon— akan berjalan di atas fondasi yang rapuh.
Pesan tersebut menjadi semakin kontekstual ketika Davos kembali mengalihkan perhatian pada AI melalui pidato Elon Musk di hari yang sama dengan Presiden Prabowo. Fokus kembali ke masa depan teknologi, pusat data, daya komputasi, robot humanoid, dan lonjakan kebutuhan energi. Namun bagi Indonesia, pelajaran terpenting bukan hanya tentang teknologi, melainkan tentang ekosistem yang menopangnya: stabilitas geopolitik, kepastian kebijakan, dan keterbukaan kerja sama internasional.
WEF 2026 menegaskan bahwa AI bukan lagi isu teknologi semata, melainkan isu energi, industri, dan rantai pasok global. Inilah ruang strategis Indonesia. Dengan cadangan energi yang besar, potensi energi baru dan terbarukan, serta posisi penting dalam rantai pasok mineral dan industri manufaktur, Indonesia berpeluang menjadi bagian integral dari ekonomi AI global. Karena itu, Presiden Prabowo secara konsisten memanfaatkan Davos untuk menarik investasi global ke Indonesia dan menegaskan kesiapan Indonesia menjadi bagian dari rantai pasok dunia. Presiden Prabowo hadir di Davos, antara lain, bersama CEO Danantara Rosan Roeslani, Menko Perekonoman Airlangga Hartarto, dan Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie.
Namun investasi global tidak hanya mencari potensi ekonomi, tetapi juga kepastian dan stabilitas. Di sinilah semangat A Spirit of Dialogue bersinggungan langsung dengan kepentingan nasional Indonesia. Ketika dunia mengalami krisis kepercayaan —tecermin dari menurunnya kepercayaan publik terhadap institusi global— negara yang mampu tampil konsisten, moderat, dan dapat dipercaya akan menjadi jangkar stabilitas baru.
Baca Juga
Trump Ngotot Ambil Alih Greenland, Sebut ‘Tak Ada Jalan Kembali’
Tradisi politik luar negeri bebas aktif memberi Indonesia modal diplomatik yang kuat. Peran di ASEAN, G20, dan berbagai forum multilateral menempatkan Indonesia sebagai jembatan antara negara maju dan berkembang. Di Davos, kehadiran Presiden Prabowo menegaskan bahwa Indonesia tidak hanya menawarkan proyek dan angka pertumbuhan, tetapi juga sebuah narasi: bahwa pertumbuhan ekonomi, transisi energi, dan pengembangan AI membutuhkan perdamaian, dialog, dan tatanan global yang inklusif.
WEF 2026 juga mengingatkan bahwa fragmentasi global bukan ancaman abstrak. Isu Greenland menunjukkan betapa cepatnya geopolitik dapat menggeser fokus dunia dan mengguncang sentimen pasar. Bagi Indonesia, ini menjadi alarm untuk memperkuat ketahanan ekonomi domestik sekaligus memperluas kemitraan strategis dengan berbagai pihak tanpa terjebak dalam logika blok.
Pada akhirnya, Davos 2026 menyampaikan pesan yang relevan bagi Indonesia: dunia tidak kekurangan teknologi, modal, atau ide besar. Yang semakin langka adalah kepercayaan dan koherensi kebijakan global. A Spirit of Dialogue bukan jaminan tercapainya konsensus, tetapi tetap menjadi prasyarat agar perbedaan tidak berubah menjadi konflik terbuka.
Bagi Indonesia, dialog bukan sekadar sikap moral, melainkan kepentingan nasional. Dalam dunia yang mudah teralihkan oleh geopolitik —seperti isu Greenland— dan tergoda oleh janji teknologi, seperti AI, Indonesia perlu terus menempatkan diri sebagai penyeimbang: negara yang cinta damai, mendukung multilateralisme, aktif menarik investasi, dan siap menjadi bagian penting dari rantai pasok global yang lebih stabil dan berkeadilan. ***

