Ramuan Strategi Baru yang Akan Membawa Saham BBRI Lepas Landas
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Kinerja saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) memiliki prospek sangat positif seiring dengan akselerasi pertumbuhan kredit di segmen korporasi, di samping transformasi baru bank terbesar ini dan penguatan ekosistem UMKM yang bakal membawa performanya kian solid ke depan. Sinergi berbagai strategi ini bakal membawa saham BBRI lepas landas (take off).
Investment Specialist PT Korea Investment And Sekuritas Indonesia (KISI) Azharys Hardian menilai, kontribusi segmen korporasi semakin signifikan terhadap struktur pertumbuhan kredit perseroan.
“Pertumbuhan kredit korporasi sebesar 16% pada kuartal III-2026 menunjukkan diversifikasi yang sehat,” ujar Azharys saat dihubungi investortrust.id Kamis, (8/1/2026).
Ia memproyeksikan peran segmen korporasi akan semakin besar sebagai motor pertumbuhan BBRI ke depan, seiring dengan membaiknya kondisi makro dan kebijakan moneter yang lebih akomodatif.
“Segmen ini diproyeksikan akan mengambil peran lebih besar sebagai pendorong pertumbuhan di 2026 seiring dengan dampak penurunan suku bunga yang terjadi di 2025,” jelas dia
Dari sisi valuasi, Azharys melihat peluang penguatan saham BBRI masih terbuka. Dengan target harga Rp 4.600, potensi kenaikan dinilai ditopang oleh pergeseran minat investor ke saham-saham perbankan berkapitalisasi besar.
“Dengan target harga Rp 4.600, potensi upside yang didorong oleh rotasi sektoral ke saham-saham perbankan (big caps) sejalan dengan membaiknya likuiditas di pasar modal,” katanya.
Meski segmen korporasi mencatatkan pertumbuhan yang kuat, Azharys mengingatkan investor untuk tetap perlu mencermati kinerja segmen lainnya. Menurutnya, kinerja awal tahun menjadi indikator penting untuk menilai kesehatan fundamental BRI secara keseluruhan.
“Meskipun segmen korporasi tumbuh pesat, perlu perhatian khusus kinerja kuartal I-2026, terutama pada daya tahan dan pertumbuhan penyaluran kredit di segmen mikro sebagai indikator kesehatan fundamental BBRI secara menyeluruh,” tuturnya.
Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk yang juga CEO BRI Group Hery Gunardi menegaskan bahwa BRI tidak akan keluar dari fokusnya pada kredit mikro, tetapi akan mengarah jadi universal bank yang menyatukan ekonomi desa dan ekonomi kota dalam satu ekosistem.
Disampaikan pada acara launching “BRI Corporate Rebranding”, Selasa (16/12/2025), Hery Gunardi menyebut bahwa transformasi lanjutan BRI ditempuh bukan hanya dari sisi bisnis, tetapi juga dari sisi budaya perusahaan. Untuk itu, BRI merumuskan budaya kerja baru ‘Brilian Way', dengan lima nilai utama, yakni integritas (integrity), kolaboratif (collaborative), akuntabilitas (accountability), berpola pikir pertumbuhan (growth mindset), dan fokus pada pelanggan (customer focus).
Hery Gunardi optimistis dampak transformasi akan semakin terasa ke depannya dan membuat kinerja BRI di tahun 2026-2027 akan tumbuh lebih cepat dibandingkan periode sebelumnya. “Harapannya BRI bisa take off dan larinya lebih kencang dibandingkan periode sebelumnya,” tegas Hery.
Baca Juga
BRI 130 Tahun: Dari Bank Rakyat Menjadi Bank Universal Indonesia
Segudang Potensi
Sejumlah analis juga meyakini saham BBRI menyimpan segudang potensi cerah ke depan, seiring dengan ekspektasi membaiknya perekonomian nasional dan kebangkitan UMKM. Terlebih lagi, pemerintah lewat berbagai kebijakan dan insentif berupaya maksimal menggenjot perekonomian dan penguatan UMKM, sehingga BBRI diharapkan menjadi bank yang paling diuntungkan dalam jangka panjang. Prospek cerah emiten bank pelat merah ini juga didukung tawaran imbal hasil dividen yang tinggi.
Tim Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) menyebutkan bahwa tekanan harga saham BBRI sepanjang tahun ini dipicu dua isu besar yang tengah membayangi sektor perbankan nasional.
Menurut KISI, setelah perbankan mencatat net interest margin (NIM) tinggi pada 2023, industri kini memasuki fase perlambatan loan growth di tengah suku bunga tinggi. Situasi ini menahan ekspansi bisnis. Selain itu, penurunan imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun membuat likuiditas pasar bergerak ke instrumen obligasi. Pergeseran tersebut menekan ruang likuiditas perbankan yang memicu kenaikan cost of fund dan menekan margin bank.
Meski begitu, KISI menilai BRI memiliki katalis positif dari sisi fundamental, terutama perbaikan kualitas aset. Perbaikan kualitas aset sejauh ini berjalan on track. Pemulihan kualitas kredit juga menunjukkan tren positif.
Untuk penyaluran kredit UMKM, KISI melihat peluang pertumbuhan masih luas, sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi nasional 5,4% pada 2025. UMKM yang menjadi tulang punggung perekonomian dinilai tetap menjadi motor ekspansi BRI.
Kredit UMKM BBRI tumbuh 7,5% dalam sembilan bulan 2025 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dengan LDR 86% per September 2025, BRI dinilai masih memiliki ruang ekspansi tanpa menekan likuiditas secara agresif.
Strategi BRI terhadap UMKM tidak lagi bertumpu semata pada penyaluran kredit, melainkan pada pembangunan ekosistem UMKM yang berkelanjutan dari hulu ke hilir. Menurut Hery Gunardi, UMKM tidak lagi diposisikan hanya sebagai debitur, tetapi sebagai bagian integral dari rantai pasok nasional yang terhubung dengan sektor korporasi, consumer banking, hingga ekonomi perkotaan. Pendekatan ini menjadi pembeda utama BRI dibandingkan perbankan lain.
“Bisnis mikro dan small segment kita bangun ekosistemnya. Kita menyambungkan antara perusahaan besar yang punya supply chain dengan pelaku mikro dan UMKM di dalamnya,” ujar Hery.
Baca Juga
Yield Dividen Interim BBRI Capai 3,7%, Sahamnya Direkomendasi Beli dengan Target Harga Ini
Daya Tarik Dividen
Pengamat pasar modal Wahyu Tri menyarankan manajemen BRI untuk fokus meningkatkan profitabilitas melalui efisiensi beban bunga dan operasional (CIR), serta memperbaiki NIM.
Selain itu, BRI perlu menjaga kualitas aset melalui pengelolaan rasio NPL dan Loan at Risk (LaR). Di sisi likuiditas, Wahyu menilai posisi BRI masih kuat dengan arus kas operasi (CFO) mencapai Rp 134,62 triliun dan free cash flow (FCF) Rp 124,28 triliun. Kebijakan dividen yang konsisten dengan payout ratio tinggi juga menjadi daya tarik investor jangka panjang.
Wahyu Tri menilai BBRI tercatat sebagai emiten dengan rasio dividen paling atraktif dan konsisten membagikan dividen setiap tahun. Berdasarkan data pembagian dividen tahun buku 2024, dividen yield BBRI nilainya mencapai 8,81%.
Dia menyebut BRI semakin intensif memanfaatkan digitalisasi, termasuk fintech lending internal dan channelling digital untuk menekan risiko dan meningkatkan efisiensi. “Tantangannya, pertumbuhan kredit harus tetap hati-hati agar tidak mengorbankan kualitas aset,” tegasnya.
Dukungan Pemerintah
Sementara itu, tim riset Mandiri Sekuritas menyebutkan penyaluran kredit BBRI diperkirakan tetap solid, seiring langkah pemerintah mempercepat belanja fiskal untuk menopang konsumsi rumah tangga dan pemberdayaan UMKM.
Mandiri Sekuritas dalam riset hariannya mempertahankan rekomendasi buy BBRI dengan target harga Rp 4.400. Mandiri Sekuritas mencatat tekanan pada profitabilitas BRI sepanjang Januari–Oktober 2025, namun terlihat pola perbaikan dalam beberapa bulan terakhir. Cost of fund berhasil ditekan dari 3,5% menjadi 3,3%.
Dukungan fiskal pemerintah dan fokus BRI pada segmen UMKM diyakini dapat menjaga momentum kredit dan membantu kualitas aset, meski risiko NPL tetap ada terutama dari debitur yang terdampak cuaca ekstrem.
Baca Juga
Capai Rp 1.306,5 Triliun, BRI (BBRI) Jaga Tren Pertumbuhan Kredit di Tengah Tantangan Provisi
Kenaikan 90 Kali dari IPO
BRI (BBRI) merupakan emiten perbankan pelat merah terbesar di Tanah Air berdasarkan kapitalisasi pasar saham (market cap). Secara kinerja, BBRI berhasil mencatatkan kenaikan harga fantastis terhitung sejak menggelar penawaran perdana (IPO) saham pada 10 November 2003 hingga 5 Desember 2025. Total kenaikan harga telah mencapai lebih dari 90 kali lipat.
BRI secara konsolidasi membukukan laba bersih hingga kuartal III-2025 sebesar Rp 41,23 triliun. Perolehan tersebut menunjukkan penurunan 9,10% secara tahunan atau year on year (YoY), dibanding periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp 45,36 triliun.
Realisasi tersebut sejalan dengan konsensus analis Bloomberg yang memperkirakan laba bersih BRI pada kuartal III-2025 sebesar Rp 14,79 triliun, dengan total laba Januari–September 2025 mencapai Rp 41,02 triliun.
Bank pelat merah itu hingga sembilan bulan pertama mencatatkan outstanding kredit sebesar Rp 1.438,11 triliun, tumbuh 6,26% YoY. Dari jumlah tersebut, kredit UMKM tercatat sebesar Rp 1.150,73 triliun, atau setara 80,02% terhadap total portofolio kredit. Rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) gross naik jadi 3,29% dan NPL net sebesar 1,04%. BRI menyisihkan pencadangan (NPL coverage) sebesar 183,09%.
Dari berbagai indikator dan perkembangan terbaru yang ditelisik para analis, saham BBRI sangat menjanjikan dengan fundamental yang kian solid. Berbagai strategi internal BRI untuk memperkokoh bisnis UMKM sebagai core dan dukungan all out pemerintah untuk menggerakkan UMKM secara masif, menjadi pijakan kuat untuk memacu performa berkelanjutan perseroan dalam jangka menengah-panjang.
IHSG Berpotensi 9.450
Sementara itu, analis pasar modal sekaligus Founder Stocknow dan Republik Investor Hendra Wardana mengatakan, IHSG berpotensi melanjutkan tren naik dengan target kisaran 9.150–9.250 hingga kuartal I-2026. “Optimisme ini ditopang ekspektasi kebijakan moneter global yang lebih akomodatif, stabilitas makroekonomi domestik, serta fundamental emiten besar yang solid,” ujar Hendra kepada investortrust.id, Rabu (7/1/2025).
Bahkan, IHSG berpeluang menguat lebih tinggi menuju area 9.300–9.450 sampai akhir semester I-2026. Penguatan ditopang rilis kinerja keuangan semesteran dan meningkatnya kepercayaan investor terhadap prospek pertumbuhan ekonomi nasional.
Adapun saham penopang penguatan indeks diproyeksikan datang dari saham perbankan berkat bobot kapitalisasi yang besar dan karakter bisnis yang defensif. “Saham-saham bank besar seperti BBRI, BBCA, dan BMRI akan menjadi penopang utama indeks tahun ini,” ujarnya.***

