Rekor IHSG 2025, Peran Investor Domestik, dan Kontribusi 'Conglo Stock'
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id— Ketika bel penutupan perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) berdering, Selasa (30/12/2025), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bertengger di 8.646,938, naik 2,682% dari sehari sebelumnya dan melesat 22,13% dibanding akhir perdagangan tahun 2024. Didukung investor ritel domestik yang menembus 20 juta, selama 2025 indeks mengukir 24 kali all time high (ATH) sekaligus menegaskan kuatnya momentum kebangkitan pasar saham di tengah dinamika global yang tidak ramah, sebagaimana terlihat pada tingginya net sell investor asing. Lonjakan impresif IHSG juga terjadi berkat peran conglo stock atau saham milik konglomerat.
Pada perdagangan hari terakhir di BEI, peran conglo stock sebagai pendorong indeks sangat jelas. Saham BREN naik 1,84% ke level Rp9.700 dan memperkuat saham perusahaan milik Prajogo Pangestu di puncak top ten emiten di BEI berdasarkan market cap. Kapitalisasi pasar BREN mencapai Rp1.298 triliun atau 8,19% dari total market cap hari itu sebesar Rp15.849 triliun atau US$944 miliar. Jika BREN tidak mencatat kenaikan, IHSG pada hari terakhir perdagangan saham di BEI ditutup melemah. Inilah kontribusi conglo stock terhadap kinerja pasar modal Indonesia.
Peran investor domestik di pasar saham cukup menggembirakan. Pada hari terakhir perdagangan saham di BEI, Selasa (30/12/2025), aksi jual investor asing cukup besar sehingga penjualan bersih mencapai Rp937,13 miliar atau US$55,9 juta. Investor ritel lokal berani mengambil posisi berbeda dengan pemodal asing. Komposisi investor di BEI menunjukkan pergeseran signifikan. Pada hari terakhir perdagangan, peran pemodal domestik mencapai 74%, jauh di atas rata-rata transaksi setahun, 64%.
Pada saat yang sama, Selasa (30/12/2025), posisi net sell asing year to date (YTD) sebesar Rp17,342 triliun atau US$1,03 miliar. Sejak awal Januari 2025, akumulasi penjualan bersih investor asing sempat mencapai puncak terdalam sekitar Rp55,48 triliun pada awal Oktober 2025. Namun arus net buy pada Oktober hingga akhir tahun mengurangi tekanan tersebut, sehingga outstanding net sell akhir 2025 menyusut ke posisi Rp17,342 triliun.
Basis investor pasar modal Indonesia, demikian data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), terus menguat signifikan sepanjang 2025. Jumlah investor ritel menembus angka 20,2 juta berdasarkan Single Investor Identification (SID) per 23 Desember 2025. Perkembangan ini menandai salah satu lonjakan tertinggi dalam sejarah pasar modal nasional. Sepanjang 2025, tercatat penambahan 5,34 juta SID baru.
Baca Juga
IHSG Menguat 22,13% Selama 2025, Alami 24 Kali 'All Time High'
Dibandingkan dengan posisi akhir 2024 yang sebanyak 14,87 juta SID, jumlah investor pasar modal pada 2025 tumbuh 35,88% year on year (YoY). Lonjakan ini paling tidak menunjukkan bahwa pasar modal semakin diterima sebagai instrumen investasi yang penting untuk masa depan di tengah pesatnya perkembangan kripto.
Dari sisi demografi, investor berusia muda mendominasi. Kelompok usia di bawah 30 tahun menyumbang 54,23% dari total investor, diikuti kelompok usia 31–40 tahun sebesar 24,88%. Sementara investor berusia 41–50 tahun mencapai 12,31%, usia 51–60 tahun 5,69%, dan investor di atas 60 tahun hanya 2,89% dari total SID.
Namun, dominasi jumlah investor muda tersebut belum sejalan dengan penguasaan aset. Data KSEI memperlihatkan adanya ketimpangan antara jumlah investor dan nilai aset yang dikelola. Investor berusia di atas 60 tahun justru menguasai aset terbesar, dengan nilai mencapai Rp1.201 triliun. Sebaliknya, kelompok investor di bawah 30 tahun, meskipun jumlahnya paling besar, hanya menguasai aset sekitar Rp80,57 triliun, menjadi yang terkecil di antara seluruh kelompok usia. Hal itu wajar karena investor senior telah melalui proses akumulasi aset yang panjang.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pertumbuhan pasar modal Indonesia saat ini lebih ditopang oleh perluasan basis investor, terutama dari generasi muda. Mereka baru berada pada tahap awal perjalanan investasi, dengan nilai penempatan yang relatif kecil namun jumlah yang masif. Ke depan, tantangan pasar modal tidak hanya menjaga laju pertumbuhan jumlah investor, tetapi juga meningkatkan kualitas dan kedalaman investasi. Dengan edukasi dan literasi yang berkelanjutan, investor muda diharapkan mampu meningkatkan nilai asetnya secara bertahap, sehingga memperkuat struktur pasar modal Indonesia dalam jangka panjang.
Potensi investor saham Indonesia saat ini diperkirakan 40 juta orang dengan asumsi spending bulanan di atas Rp3,6 juta. Angka 40 juta berasal dari penyaringan populasi usia produktif yang memiliki pendapatan relatif stabil, pengeluaran menengah, serta akses ke sistem keuangan formal, bukan dari asumsi bahwa seluruh penduduk layak menjadi investor. Penyebutan angka 40 juta harus dipahami sebagai estimasi konservatif berbasis perilaku konsumsi dan kapasitas surplus, bukan klaim normatif.
Literatur akademik dan survei keuangan umumnya menggunakan pendekatan kemampuan finansial relatif, yakni adanya surplus dana setelah kebutuhan dasar terpenuhi, stabilitas pendapatan, serta toleransi terhadap risiko. Dengan kerangka ini, kelayakan berinvestasi tidak ditentukan oleh nominal absolut, melainkan oleh struktur arus kas rumah tangga dan disiplin pengelolaan keuangan.
Berbagai studi menunjukkan bahwa individu dengan tingkat pengeluaran menengah tetap dapat berpartisipasi di pasar saham apabila memiliki surplus yang konsisten dan tidak menggunakan dana untuk kebutuhan pokok. Prinsip ini sejalan dengan kaidah kehati-hatian, yang menegaskan bahwa investasi saham harus menggunakan uang dingin.
Pendekatan investasi bertahap melalui dollar-cost averaging, menyetor dana kecil secara berkala, menjadi praktik yang luas direkomendasikan dalam literatur investasi modern, khususnya bagi investor ritel pemula. Strategi ini menurunkan risiko timing pasar dan memungkinkan partisipasi luas tanpa modal awal besar. Dalam konteks ini, seseorang dengan pengeluaran di atas Rp3,5 juta per bulan secara teoritis dapat menjadi investor saham selama memiliki ruang surplus dan dana darurat. Kelayakan investasi lebih ditentukan oleh rasio alokasi dan konsistensi, bukan besarnya pengeluaran semata.
'Conglo Stock'
Terdongkraknya IHSG hingga 8.646,938 didorong reli saham konglomerasi, terutama saham-saham Grup Prajogo Pangestu seperti CUAN, BRPT, BREN, serta saham afiliasi Grup Bakrie seperti BRMS dan DEWA. Analis teknikal BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, menilai penguatan indeks kala itu terutama ditopang kelompok usaha ini. Kontribusi “poin indeks” secara gamblang menunjukkan CUAN menjadi salah satu penopang terbesar dengan kontribusi belasan poin, diikuti BRPT, dan bahkan saham teknologi seperti MLPT yang ikut memberi dorongan berarti.
Saham-saham “konglomerasi” yang sering muncul dalam daftar penggerak—baik sebagai pendorong maupun kadang penahan—sepanjang 2025 antara lain CUAN, BRPT, BREN, TPIA, MLPT, DSSA, serta beberapa saham sektor tambang/energi dan teknologi lain yang ramai diperdagangkan. Media ini pernah menyoroti deretan saham konglomerasi yang meroket sepanjang tahun, menandai rotasi minat investor ke saham-saham tertentu di luar perbankan besar.
Baca Juga
IHSG Melonjak 22,1% Sepanjang 2025, OJK Tegaskan Resiliensi Pasar Modal Indonesia
Bicara conglo stock, Grup Barito mengukuhkan posisinya di peringkat pertama dengan total kapitalisasi pasar mencapai Rp2.792 triliun, yang dihasilkan dari kontribusi 7 emiten di bawah naungannya. Dari kelompok saham-saham konglo ini, Barito Renewables Energy (BREN) tercatat menjadi pemuncak nilai kapitalisasi pasar di BUrsa efek Indonesia dengan nilai Rp1.297,73 triliun, yang secara tidak langsung sekaligus menjadikannya sebagai emiten paling berharga di bursa saat ini. Masih dari grup yang sama, Chandra Asri Pacific (TPIA) berada di posisi keempat emiten berkapitalisasi pasar terbesar dengan nilai Rp605,58 triliun.
Mengikuti sangat ketat di posisi kedua adalah Grup Salim dengan nilai kapitalisasi pasar sebesar Rp2.726 triliun dari total 24 emiten yang dimiliki. Salah satu emiten dari kelompok konglomerasi ini ada DCI Indonesia (DCII) senilai Rp476,75 triliun, dan berada di urutan ketujuh emiten berkapitalisasi terbesar.
Pada urutan ketiga, terdapat grup Danantara yang mengelola 26 emiten yang nota bene perusahaa-perusahaan pelat merah, dengan total nilai pasar sebesar Rp1.652 triliun. Di dalamnya tentu termasuk Bank Rakyat Indonesia (BBRI) yang menduduki peringkat kelima dari sisi emiten berkapitalisasi pasar terbesar dengan nilai Rp549,16 triliun, juga Bank Mandiri (BMRI) dengan nilai pasar Rp471,24 triliun sehingga menempatkannya di posisi kedelapan, serta Telkom Indonesia (TLKM) di urutan kesepuluh dengan nilai Rp344,74 triliun.
Hartono Brothers menempati peringkat keempat secara grup dengan kapitalisasi pasar senilai Rp1.175 triliun dari 10 emiten, disusul oleh grup Sinarmas di posisi kelima yang mencatatkan nilai Rp1.145 triliun melalui 14 emiten. Salah satu emiten dari grup Sinarmas yang punya kapitalisasi pasar jumbo adalah Dian Swastatika Sentosa (DSSA) dengan kapitalisasi pasar Rp778,26 triliun, dan menempati posisi tiga dari sisi emiten berkapitalisasi terbesar di bursa.
Grup Adaro berada di peringkat keenam dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp586 triliun, sementara grup Bayan Resources menempati urutan ketujuh dengan nilai Rp528 triliun.
Selanjutnya, grup Medco berada di posisi kedelapan dengan total kapitalisasi pasar Rp500 triliun, diikuti oleh grup Saratoga di peringkat kesembilan dengan nilai Rp486 triliun. Grup Bakrie berhasil menembus posisi sepuluh besar dengan raihan Rp448 triliun, unggul tipis di atas grup Astra yang berada di peringkat kesebelas dengan nilai Rp438 triliun. Di urutan kedua belas, grup Agung Sedayu mencatatkan kapitalisasi pasar Rp240 triliun, disusul grup Mayapada di posisi ketiga belas dengan nilai Rp216 triliun.
Grup Arsari menempati peringkat keempat belas dengan nilai Rp153 triliun, kemudian grup Lippo di posisi kelima belas dengan kapitalisasi pasar Rp123 triliun. Grup Emtek berada di urutan keenam belas dengan raihan Rp120 triliun, diikuti grup Summarecon di posisi ketujuh belas dengan nilai Rp111 triliun. Tiga posisi terakhir dalam daftar dua puluh besar ini ditempati oleh grup Triputra dengan nilai Rp104 triliun, grup Gajah Tunggal sebesar Rp51 triliun, dan terakhir grup Mayora dengan kapitalisasi pasar senilai Rp48 triliun.
Di titik ini, apresiasi patut diberikan kepada conglo stock karena mereka berkontribusi riil terhadap kenaikan indeks. Pasar membutuhkan “lokomotif”, dan pada sejumlah fase 2025, lokomotif itu datang dari kelompok saham konglomerat, terutama ketika sentimen investor sedang mencari katalisator—energi, komoditas, teknologi, hingga ekosistem grup usaha—yang dianggap memiliki cerita pertumbuhan.
Dominasi conglo stock mengundang kritik karena free float saham milik konglomerat umumnya kecil, di bawah 10%. Namun kecilnya free float tidak otomatis berarti ada pelanggaran. Menurut regulasi yang berlaku, jumlah saham free float minimal 50 juta lembar dan minimal 7,5% dari saham tercatat (ketentuan pencatatan). Parameter kepatuhan sudah jelas dan terukur. Tidak ada aturan yang dilanggar oleh conglo stock.
BEI mengambil posisi tegas: bursa memperlakukan emiten secara setara dan memastikan transaksi mengikuti prinsip keterbukaan serta kepatuhan. BEI menekankan bahwa selama pergerakan saham terjadi secara wajar, itu merupakan bagian dari dinamika pasar yang sah. Pergerakan harga conglo stock dinilai wajar.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) baru saja mengusulkan kepada DPR RI untuk menyesuaikan batas free float dalam kewajiban continuous listing. Batas free float yang sebelumnya 7,5% akan dinaikkan menjadi minimal 10%–15%, didasarkan pada nilai kapitalisasi pasar masing-masing emiten. OJK dan BEI memperkuat regulasi free float yang dinilai penting untuk meningkatkan porsi saham big cap, memperdalam likuiditas pasar, mengurangi potensi manipulasi harga, serta memperkuat transparansi dan kepercayaan investor. Kebijakan ini dianggap sejalan dengan agenda pendalaman pasar modal nasional.
Pasar layak mengapresiasi “pencetak poin indeks” sambil tetap mengawasi kualitas perdagangan—dua hal yang bisa berjalan bersamaan. Apresiasi tidak identik dengan pembiaran; pengawasan tidak identik dengan kecurigaan permanen. Selama aturan yang berlaku dipenuhi, keberhasilan saham-saham konglomerat ikut “mengerek” IHSG sepatutnya dibaca sebagai bukti mekanisme pasar bekerja: investor memilih, likuiditas bergerak, harga terbentuk, indeks merespons.
Pasar saham sepanjang 2025 menunjukkan paradoks yang menarik. Di tengah perdebatan soal faktor penyebab lonjakan indeks, BEI tetap melaporkan deret ATH dan kapitalisasi pasar yang menebal. Ketika dominasi bank-bank besar menurun, saham-saham konglomerat memberi warna lain yang membuat indeks tetap bertenaga. Hal ini juga menandakan kedalaman cerita sektor—energi, tambang, petrokimia, telekomunikasi, hingga teknologi—yang semakin menentukan arah pasar.
Jika tahun 2025 dikenang sebagai tahun rekor—IHSG ditutup ATH 8.710,70 (8 Desember 2025) dan sempat menyentuh intraday 8.776,97 (11 Desember 2025)—sebagian memori itu juga mencatat peran conglo stock sebagai “mesin poin” yang ikut mengantar indeks menorehkan sejarah.
Dan selama semua bergerak di rel regulasi, apresiasi terhadap emiten-emiten konglomerat yang memberi kontribusi riil tidak hanya sah, tetapi juga sehat: pasar yang matang adalah pasar yang mampu menghargai kinerja tanpa kehilangan kewaspadaan.
Peran Investor Institusi
Pengalaman di berbagai negara maju menunjukkan bahwa pasar modal yang sehat dan stabil hampir selalu ditopang oleh investor institusi. Dana pensiun, perusahaan asuransi, dan pengelola dana jangka panjang lainnya berperan sebagai jangkar likuiditas, penyeimbang sentimen, sekaligus pembeli rasional saat pasar bergejolak. Tanpa kehadiran mereka, pasar cenderung mudah terombang-ambing oleh emosi dan spekulasi jangka pendek.
Di Indonesia, struktur pasar saham masih didominasi oleh investor ritel. Kondisi ini membuat pergerakan indeks kerap sangat sensitif terhadap sentimen jangka pendek, rumor, maupun arus dana asing. Volatilitas tinggi bukan hanya menyulitkan investor jangka panjang, tetapi juga menghambat pasar modal menjalankan fungsi utamanya sebagai sumber pembiayaan pembangunan.
Karena itu, peran investor institusi domestik menjadi krusial. Dana pensiun, perusahaan asuransi, serta pengelola dana sosial seperti BPJS Ketenagakerjaan memiliki karakter dana jangka panjang yang ideal untuk investasi saham. Dengan horizon investasi yang panjang, institusi-institusi ini mampu meredam gejolak dan mendorong pembentukan harga yang lebih mencerminkan fundamental emiten.
Sayangnya, porsi investasi saham oleh investor institusi domestik masih relatif terbatas. Berbagai pembatasan regulasi, kehati-hatian berlebihan, serta insentif yang belum optimal membuat dana-dana besar ini lebih banyak mengendap di instrumen berisiko rendah. Akibatnya, pasar saham kehilangan potensi likuiditas dan stabilitas yang seharusnya bisa diperoleh dari dana jangka panjang dalam negeri.
Ke depan, pemerintah bersama OJK perlu mengambil langkah lebih progresif. Penyempurnaan regulasi yang memberi ruang lebih luas bagi dana pensiun dan asuransi untuk meningkatkan porsi saham—tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian—menjadi agenda mendesak. Di banyak negara, batasan investasi saham institusi jauh lebih longgar, disertai kerangka manajemen risiko yang kuat.
Bukti keberhasilan pendekatan ini terlihat jelas di negara-negara maju. Pasar saham Amerika Serikat, Jepang, hingga Eropa Barat tumbuh pesat karena didukung oleh dana pensiun dan asuransi yang secara aktif berinvestasi di saham domestik. Aliran dana jangka panjang tersebut membuat pasar lebih dalam, lebih likuid, dan relatif tahan terhadap guncangan jangka pendek.
Dalam konteks Indonesia, kehadiran BPI Danantara juga patut diarahkan untuk memperkuat pasar modal. Investasi Danantara yang masuk ke pasar saham tidak hanya berfungsi mencari imbal hasil, tetapi juga menjadi katalis pembentukan pasar yang lebih stabil dan kredibel. Sovereign investment yang aktif di bursa merupakan praktik lazim di banyak negara.
Tanpa dukungan investor institusi yang kuat, pasar modal akan terus menghadapi risiko volatilitas berlebihan. Dominasi investor ritel—meski mencerminkan inklusi keuangan yang positif—belum cukup untuk menciptakan kedalaman pasar. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa menghambat minat emiten besar dan investor global untuk menjadikan bursa Indonesia sebagai tujuan utama.
Pada akhirnya, memperkuat peran investor institusi adalah kunci pendewasaan pasar modal Indonesia. Dengan regulasi yang lebih adaptif, insentif yang tepat, serta partisipasi aktif dana jangka panjang—termasuk dari Danantara—pasar saham nasional dapat bertransformasi dari pasar yang volatil menjadi pasar yang stabil, dalam, dan mampu menopang pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

