CEO Bombay Stock Exchange: Bursa India Tunjukkan Peran Strategis Pasar Modal sebagai Penggerak Perekonomian
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - Pasar modal India kini dipandang bukan semata-mata sebagai tempat transaksi keuangan, melainkan sebagai infrastruktur publik yang memiliki peran strategis dalam mendorong pembangunan ekonomi nasional.
Perspektif ini disampaikan oleh CEO Bombay Stock Exchange (BSE) Sundararaman Ramamurthy saat berbicara ajang Investortrust Capital Market Forum 2025 yang digelar di JW Marriot Hotel, Jakarta, Kamis (4/12/2025).
Sundararaman menekankan bahwa bursa modern mampu memberikan dampak besar ketika berfungsi sebagai penyalur modal risiko bagi usaha kecil dan menengah (UKM). Ia mencontohkan bagaimana India berhasil mengubah dana US$800 juta yang dihimpun dari 671 UKM menjadi nilai pasar sekitar US$15 miliar melalui pemanfaatan teknologi, transparansi, dan partisipasi investor secara masif.
Prinsip-prinsip inilah yang kini mulai diadopsi Indonesia, seiring ambisinya mengejar kapitalisasi pasar setara 120 persen PDB pada 2045.
Ramamurthy menjelaskan bahwa sejarah global pasar modal menunjukkan perubahan mendasar. Apa yang pada awalnya merupakan arena privat bagi para pedagang telah berevolusi menjadi institusi publik yang berperan penting dalam menopang pembangunan ekonomi suatu negara.
“Pasar modal tidak lagi sekadar kendaraan untuk menciptakan kekayaan pribadi. Pasar modal adalah sarana untuk kebaikan publik,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa pembentukan modal secara luas pada akhirnya mendorong penciptaan lapangan kerja, pertumbuhan pendapatan, produktivitas nasional, dan peningkatan kesejahteraan jangka panjang. “Ketika pembentukan modal terjadi, penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan, dan pertumbuhan PDB akan mengikuti.”
Gagasan tersebut sejalan dengan arah kebijakan Indonesia. Arief Wibisono, Staf Khusus Menteri Keuangan Bidang Jasa Keuangan dan Pasar Modal, menyatakan bahwa Indonesia membutuhkan sistem keuangan yang mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat untuk mencapai visi ekonomi 2045.
“Pada 2045, target kami adalah kapitalisasi pasar modal mencapai sekitar 120 persen PDB. Ini target yang ambisius,” ujarnya. Menurut Arief, sektor keuangan yang dalam, inklusif, dan efisien bukan hanya pelengkap pertumbuhan, tetapi menjadi salah satu mesin utama perekonomian. Untuk mencapai pertumbuhan jangka panjang sebesar delapan persen, pasar modal harus memainkan peran publik yang lebih besar. “Sektor keuangan adalah fondasi dan penggerak Indonesia Emas 2045. Pemerintah tidak bisa bekerja sendirian, begitu juga sektor swasta. Perguruan tinggi, investor, dan industri harus berkontribusi,” katanya.
Baca Juga
CEO Remiges Sebut Indonesia Punya Potensi Samai Pasar Modal India, Kenapa?
Komitmen pasar modal India sebagai infrastruktur publik tampak jelas dalam keberpihakannya terhadap UKM. Ramamurthy menyebut UKM sebagai tulang punggung penciptaan lapangan kerja dan dinamika ekonomi di India maupun Indonesia. Ia menjelaskan bahwa pasar modal India baru memenuhi potensinya sebagai sarana publik ketika mulai melayani jutaan UKM yang sebelumnya tidak terlayani oleh perbankan karena keterbatasan agunan dan kemampuan membayar utang.
Melalui pembentukan papan pencatatan khusus UKM, India membuka akses baru bagi perusahaan kecil untuk menghimpun modal risiko dengan biaya dan proses yang lebih ringan. “Itulah kekuatan dari pencatatan saham. Selalu dimulai dari yang kecil dan tumbuh besar kemudian,” ungkapnya.
Ramamurthy kemudian menyoroti peran teknologi sebagai kekuatan pengikat ekosistem pasar modal modern. Ia menuturkan bahwa perjalanan pasar modal India dari lantai bursa fisik menuju arsitektur digital sepenuhnya menjadikan teknologi sebagai faktor penentu likuiditas, aksesibilitas, transparansi, tata kelola perusahaan, dan perlindungan investor. “Teknologi membantu likuiditas. Teknologi membantu demokratisasi akses terhadap pasar dan informasi. Teknologi membantu tata kelola, kesadaran investor, dan perlindungan risiko,” ujarnya.
Saat ini, sistem perdagangan India mampu memproses lebih dari satu miliar pesanan derivatif setiap hari, mendukung jutaan transaksi harian, dan menangani dua juta pesanan per detik pada kapasitas puncak. Jumlah investor ekuitas terdaftar mencapai 225 juta orang, melonjak 400 persen dalam lima tahun terakhir. Semua ini didukung oleh proses pembukaan akun yang sepenuhnya digital, tanpa kertas, dan akses mobile-first yang mempermudah siapa pun untuk berinvestasi.
Transaksi reksa dana pun tersebar melalui lebih dari 80.000 distributor nasional yang menghasilkan arus investasi rutin sekitar US$3,5 miliar per bulan. Peralihan dari lantai bursa fisik ke partisipasi berbasis ponsel menggambarkan bagaimana teknologi telah menurunkan hambatan masuk dan keluar pasar hingga mendekati nol. “Masuk menjadi mudah. Keluar menjadi mudah. Dan ketika keduanya mudah, partisipasi akan tumbuh,” kata Ramamurthy.

