IHSG 2026 Bisa 'Dibungkus' di 9.100, 'Conglo Stocks' Masih Prospektif
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada akhir 2026 dipercaya mampu menembus level 9.100, beriringan dengan saham-saham konglomerat yang masih dipandang prospektif.
“IHSG tersebut setara P/E ±13x, atau sekitar 0,9 standar deviasi di bawah rerata 5 tahun, yang mencerminkan valuasi masih tergolong wajar dalam siklus pemulihan,” jelas VP Equity Research PT BNI Sekuritas Yulinda Hartanto, Jumat (2/1/2026).
Dia juga memandang, saham-saham konglomerat atau conglo stocks kembali menarik dan masih prospektif tahun ini, salah satunya karena diversifikasi bisnis yang memberikan resiliensi siklus.
Masih terkait saham-saham konglomerat, posisi kuat juga akan dialami sektor konsumsi, otomotif, infrastruktur, dan keuangan. Likuiditas tinggi dan potensi menjadi tujuan utama rebalancing institusi lokal dan asing dalam membidik saham konglomerat.
“Saham konglomerat berkapitalisasi besar, terutama yang sebelumnya tertinggal akibat arus keluar asing, berpotensi mengalami valuation catch-up dalam lingkungan penurunan suku bunga dan likuiditas yang membaik,” jelas Yulinda.
Di luar conglo stocks, BNI Sekuritas memproyeksikan rotasi sektor dari saham-saham yang sebelumnya didorong spekulasi ritel ke blue chips dan sektor berbasis fundamental.
Baca Juga
Awal Tahun Hijau, IHSG Tembus 8.748 Meski 'Big Banks' Tertekan
Sektor unggulan menurut BNI Sekuritas tahun ini pun meliputi consumer & proxies atau telekomunikasi dan FMCG, sebagai penerima manfaat penurunan suku bunga dan stimulus fiskal. Sementara sektor kesehatan dan bahan bangunan akan diuntungkan eksekusi APBN dan siklus perumahan.
Selanjutnya, komoditas terpilih seperti batu bara, minyak mentah sawit (CPO), dan komoditas yang berhubungan dengan nikel akan terapresiasi, seiring harga yang diperkirakan telah mendekati dasar dan permintaan global yang membaik.
“Saham pilihan kami juga meliputi quality cyclicals & large caps seperti Astra, Telkom, Unilever yang relatif under-owned,” imbuh Yulinda.
Sepanjang 2025, IHSG tumbuh 22,1% dan mendarat di level 8.644,26. Secara historis, pergerakan IHSG tahun lalu mengalami volatilitas yang cukup tajam pada awal 2025. Indeks sempat tertekan hingga menyentuh level terendah di kisaran 5.967,99 pada 9 April 2025, sebelum kemudian berbalik arah secara bertahap.
IHSG mencetak 24 kali all-time high sepanjang tahun lalu, dengan total kapitalisasi pasar tertinggi di Rp 16.000 triliun lebih. Pemulihan ini tidak hanya tercermin pada IHSG, tetapi juga pada fundamental pasar.
Jumlah investor pasar modal telah menembus 20 juta investor, dengan rata-rata 901 ribu investor aktif bertransaksi secara bulanan

