Mendongkrak Pertumbuhan Ekonomi 8% lewat Pasar Modal
Oleh Abdul Aziz
INVESTORTRUST.ID - Suka atau tidak suka, masih banyak orang yang tidak “ngeuh” bahwa pasar modal berperan vital dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional. Pasar modal dan sektor riil dianggap sebagai “air dan minyak”.
Padahal, keduanya saling berkaitan, saling memengaruhi, dan tidak bisa berdiri sendiri. Seberapa kencang roda ekonomi sebuah negara berputar bisa dilihat dari kinerja pasar modalnya. Begitu pula sebaliknya.
Bukankah melalui pasar modal, perusahaan-perusahaan yang sahamnya tercatat di bursa setiap tahun menggalang dana (fundraising) senilai ratusan triliun rupiah dari masyarakat?
Mereka menghimpun dana melalui penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham, penerbitan saham baru untuk menambah modal lewat hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) alias rights issue, dan emisi obligasi.
Nah, dana-dana itu digunakan untuk berbagai kebutuhan strategis perusahaan, di antaranya untuk ekspansi usaha di sektor riil, seperti mendirikan pabrik baru, membuka cabang baru, menambah kapasitas produksi, memperluas pasar atau jaringan distribusi, dan meningkatkan pasar ekspor.
Tak cuma itu, hasil penggalangan dana di pasar modal juga digunakan untuk modal kerja, seperti menambah inventaris atau stok barang, membayar gaji, sewa, logistik, membiayai operasional harian, pelunasan atau restrukturisasi utang, atau menutup utang sebelumnya (refinancing).
Hasil fundraising itu pun bisa digunakan untuk mengurangi beban bunga dan risiko keuangan, biaya R&D, pengembangan produk atau layanan baru, meningkatkan daya saing dan inovasi, untuk akuisisi, konsolidasi, merger, dan diversifikasi portofolio usaha, atau pengembangan teknologi dan digitalisasi.
Seluruh rangkaian kegiatan tersebut, pastinya, akan mendorong pertumbuhan ekonomi, menyerap tenaga kerja, dan meningkatkan devisa. Juga bakal mendatangkan penerimaan negara, baik berupa penerimaan pajak maupun penerimaan negara bukan pajak (PNBP), seperti royalti, dana bagi hasil, dan dividen.
Tentu saja pasar modal juga menjadi sarana investasi bagi masyarakat (investor). Dengan berinvestasi di saham, reksa dana, obligasi korporasi, dan obligasi negara, para investor berkesempatan meraih cuan dan meningkatkan kesejahteraannya.
Perlu diingat pula, melalui pasar modal, masyarakat (investor ritel) dan perusahaan (investor institusi) dapat berpartisipasi dalam pembangunan nasional, sekaligus memperkuat ketahanan APBN. Dengan membeli Surat Berharga Negara (SBN), berarti masyarakat ikut mendanai proyek-proyek pembangunan yang dibiayai APBN.
Jangan salah, pasar modal turut mendorong perusahaan untuk menjalankan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance/GCG) atau melaksanakan prinsip-prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (environmental, social and governance/ESG). Itu sebabnya, perusahaan-perusahaan yang sahamnya tercatat di bursa (listed company) cenderung lebih tahan banting.
Tahun lalu saja, menurut data OJK, fundraising di pasar modal mencapai Rp 259 triliun, terdiri atas IPO saham Rp 14 triliun, rights issue Rp 34 triliun, dan emisi obligasi Rp 211 triliun. Tahun ini, fundraising di pasar modal ditargetkan mencapai Rp 220 triliun.
Sementara itu, per akhir September 2025 (ytd), nilai penawaran umum korporasi mencapai Rp 186,52 triliun. Pada periode itu terdapat 17 emiten baru yang melakukan fundraising senilai total Rp 13,15 triliun.
Source: DataTrust, BEI
Pasar Modal Berintegritas
Narasi positif tentang peran pasar modal itulah yang terus disuarakan Self Regulatory Organization (SRO) pasar modal yang terdiri atas PT Bursa Efek Indonesia, PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSE), dan PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI).
Bersama OJK, ketiga lembaga itu mafhum bahwa pasar modal bisa mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional ke level 8% sebagaimana ditargetkan pemerintahan Prabowo Subianto - Gibran Rakabuming Raka.
Karena itu pula, OJK bersama BEI, KSEI, dan KPEI terus berupaya menggenjot likuiditas pasar modal, di antaranya dengan cara menarik perusahaan-perusahaan jumbo untuk melantai di bursa saham domestik melalui IPO saham.
Di sisi lain, OJK bersama SRO terus memperbaiki kualitas emiten dan pelaku pasar dengan cara mendorong perbaikan tata kelola (governance) sambil memperkuat infrastruktur digital.
Source: DataTrust, BEI
Di luar itu, OJK dan SRO paham betul bahwa peran pasar modal dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi tidak akan maksimal jika pasar tidak kredibel atau tidak memiliki integritas. Kepercayaan (trust) investor adalah yang paling utama.
Atas dasar itu, OJK bersama SRO membentuk tim khusus untuk memperkuat pengawasan terhadap pergerakan “saham gorengan” di pasar. Langkah ini merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo yang menekankan pentingnya menjaga integritas pasar dan perlindungan investor ritel.
Tim khusus ini akan bekerja secara intensif untuk memastikan aktivitas perdagangan berjalan transparan dan sesuai ketentuan yang berlaku.
“Melalui berbagai inisiatif ini, BEI berkomitmen membangun ekosistem pasar modal yang inklusif, likuid, dan adaptif terhadap perubahan,” ujar Direktur Utama BEI, Iman Rachman.
Source:
Di samping itu, BEI memprioritaskan program pengembangan untuk meningkatkan likuiditas perdagangan, pelindungan investor, layanan data sesuai kebutuhan pelanggan, serta penyempurnaan teknologi kebursaan.
Di sisi lain, OJK sadar bahwa penguatan integritas pasar harus diprioritaskan. “Makanya, program peningkatan jumlah investor, jumlah transaksi, jumlah emiten, dan lain-lain, tetap harus diimbangi dengan penguatan integritas pasar agar pertumbuhan pasar modal berlangsung berkelanjutan,” tandas Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi.
Pembenahan juga dilakukan terhadap infrastruktur dan teknologi. KSEI, misalnya, tengah mempersiapkan pengembangan C-BEST sebagai langkah strategis untuk memastikan sistem mampu mengikuti laju pertumbuhan pasar modal domestik yang semakin dinamis.
Saat ini, C-BEST memiliki kapasitas pemrosesan hingga 20.000 penyelesaian transaksi per menit, yang masih memadai untuk mengakomodasi aktivitas pasar, termasuk rata-rata nilai transaksi harian Rp 16,64 triliun dan jumlah investor yang telah mencapai 19,3 juta per 7 November 2025.
“Namun melihat tren peningkatan jumlah investor dan volume transaksi yang terus berlanjut, pengembangan C-BEST menjadi penting agar sistem tetap andal, aman, dan siap menopang kebutuhan industri di masa depan,” tutur Direktur Utama KSEI, Samsul Hidayat.
Source:
Samsul mengakui, tantangan paling krusial yang dihadapi industri pasar modal domestik ke depan adalah pendalaman pasar, baik dari sisi supply, demand, maupun kesiapan infrastruktur. Soalnya, ketiga aspek tersebut menentukan stabilitas dan kepercayaan investor dalam jangka panjang.
Untuk mengantisipasinya, SRO bersama OJK menjalankan strategi terpadu dengan mendorong perluasan produk dan peningkatan jumlah perusahaan berkapitalisasi besar yang melakukan IPO.
SRO pun memperbesar basis investor aktif agar partisipasi semakin luas serta memperkuat infrastruktur melalui pengembangan platform dan sistem yang lebih efisien, aman, dan responsif terhadap kebutuhan industri.
“Kolaborasi ini diharapkan mampu memperdalam pasar dan memperkuat fondasi pertumbuhan pasar modal Indonesia ke depan,” kata Samsul Hidayat.***

