Bekerja Itu Menghasilkan “Gravitasi”
Poin Penting
|
INVESTORTRUST.ID - Sering tak disadari, bekerja sesungguhnya melahirkan “gravitasi”. Semakin intens seseorang bekerja, semakin besar pula massa dan gravitasi yang dihasilkannya. Massa dan gravitasi itulah yang kemudian membentuk etos, value, dan jati diri seseorang.
Pada akhirnya, hasil pekerjaan akan kembali kepada sang pekerja. Hasil itu bisa berbentuk apa saja. Bisa materi, bisa nonmateri. Bisa langsung, bisa pula tidak langsung. Bisa kasat mata, bisa tidak kasat mata.
Orang yang bekerja keras tentu akan menikmati “hasil lebih” dibanding orang yang bekerja “biasa-biasa saja”. Intinya, kerja keras tidak akan pernah sia-sia karena semua hasilnya akan kembali kepada sang pekerja.
“Kerja itu kayak gravitasi aja. Asalkan dilandasi ketulusan dan profesionalisme, kerja keras pasti ada hasilnya, pasti kembali ke kita, ada balasannya,” kata Direktur Utama PT Ancara Logistics Indonesia Tbk, Faisal Mohamad Nur kepada wartawan investortrust.id, Sivana Zahla Putri Ritonga, Dicki Antariksa, dan Abdul Aziz di Bakrie Tower, kawasan Rasuna Epincentrum, Kuningan, Jakarta, baru-baru ini.
Faisal Mohamad Nur sudah lama merasakan “kehebatan” bekerja keras. Itu pula yang membuatnya percaya bahwa hasil pekerjaan yang diraih seseorang ditentukan oleh seberapa gigih ia melakukan pekerjaan tersebut. Seseorang yang bekerja dengan upaya lebih (extra effort) bakal mendapatkan hasil ekstra.
“Semakin intens kita bekerja, semakin kuat gaya gravitasi yang kita miliki untuk menarik hasilnya. Jadi, sifatnya otomatis,” ujar eksekutif kelahiran Jakarta, 22 Januari 1970, tersebut.
Itu sebabnya pula, Faisal tak percaya pada jalan pintas atau pencapaian yang didapatkan secara instan. Ia juga tak sepenuhnya setuju pada filosofi kerja pintar (smart). “Saya bilang, kerja smart itu timbul karena ada kerja keras,” tegas Faisal yang sukses mengantarkan Ancara Logistics Indonesia melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 7 Februari 2024, dengan sandi saham ALII.
Faisal bukanlah chief executive officer (CEO) kaleng-kaleng. Sarjana Akuntansi jebolan Universitas Trisakti ini menyandang tiga master sekaligus, yaitu Master of Commerce in Finance dari University of New South Wales (Australia), Magister Manajemen dari Swiss German University (Indonesia), dan Master of Business Administration dari The Hochschule Konstanz – University of Applied Sciences (Jerman).
Uniknya, semasa muda, Faisal bukanlah seorang kutu buku. Ia baru serius belajar setelah duduk di semester II. “Sejak SMA, saya bukan murid yang menonjol di kelas. Saya tidak pintar, biasa-biasa aja, nilai akademik saya pas-pasan. Saya bukan tipe anak yang berprestasi,” tuturnya, merendah.
Salah satu kunci sukses Faisal terletak pada dua hal. Pertama, ia takut dianggap tidak kompeten. Karena takut dianggap tidak layak, ia terus mengembangkan diri, bahkan setelah ia mencapai posisi puncak sebagai CEO.
Kedua, Faisal tidak suka menolak pekerjaan. Dari berbagai jenis tugas yang diberikan atasan, Faisal justru bisa banyak belajar dan meningkatkan kemampuan, sehingga levelnya terus meningkat. Berikut penuturan lengkapnya:
Apa yang membuat Anda sampai pada posisi saat ini?
Saya waktu sekolah bukan termasuk anak yang pandai. Saya bukan siswa berprestasi, tidak pintar. Secara textbook, saya nggak pandai. Mungkin karena saya waktu kecil jarang belajar. Yang ada di otak saya waktu itu main, main, dan main.
Jadi, saya juga nggak pernah ikut organisasi kayak OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) gitu-gitu. Berkebalikan dengan kakak saya. Saya anak nomor 2. Kakak saya itu yang rajin belajar, aktif di OSIS, ikut Pramuka, gitu-gitu. Saya opposite-nya, antitesisnya.
Boleh dibilang, saya tuh sampai SMA nggak belajar. Maksudnya, belajar sekadarnya aja. Pinter? Nggak juga. Nilai di rapor sih nggak pernah merah. Angka 6 sih di tangan.
Bagaimana Anda menyelesaikan studi?
Setelah lulus SMA, saya nggak tahu mau ke mana karena saya nggak pernah belajar. Om saya tanya ke bapak saya. Bapak saya juga bingung karena saya tidak menunjukkan tekad yang kuat untuk kuliah.
Om saya menyarankan agar saya kuliah ambil jurusan akuntansi. Biar jadi orang kaya, katanya. Saya bilang, kalau jadi orang kaya, saya mau. Jadi, motivasinya hanya jadi orang kaya doang. Akuntansi itu apa, saya nggak tahu. Singkat cerita, saya didaftarin di Universitas Trisakti. Ikut tes, saya lulus, lalu kuliah.
Nah, waktu kuliah semester I, gaya saya masih kayak di SMA. Belajar sekadarnya aja. Maka nilai saya jelek semua. Mulai semester II, saya mulai belajar bener, baca buku. Akhirnya nilai-nilai saya bagus.
Masuk semester VIII, saya berhasil menyelesaikan skripsi. Kemudian saya menjadi asisten dosen statistik dan asisten dosen akuntansi. Lalu ikut kursus untuk mendapatkan berbagai sertifikat. Selanjutnya saya melamar kerja.
Perusahaan pertama Anda bekerja?
Saya diterima di Deloitte Indonesia sebagai auditor. Saya bekerja biasa aja. Saya jalanin aja. Tapi karena saya takut dibilang nggak kompeten, saya berupaya bekerja maksimal.
Dari situ justru value Anda naik?
Hasil pekerjaan saya diapresiasi atasan. Saya mengalami dalam setahun mendapat dua kali promosi. Karier saya lumayan cepat. Dalam dua tahun sudah menjadi supervisor. Dari junior auditor, senior auditor, lalu supervisor.
Saya diberi klien-klien yang cukup besar, seperti Sinar Mas Land yang saat itu akan melangsungkan IPO (initial public offering). Saya merasa beruntung karena bisa bertemu banyak orang yang membuka perspektif saya tentang bisnis.
Saya bisa kasih advis ke mereka. Tapi begitu saya bertemu senior-senior person yang lulusan universitas ternama di Kanada, Amerika, Inggris, saya merasa harus menimba ilmu lagi. Saya tanya, belajar apa, Pak? Jawabnya corporate finance. Saya tahunya akuntansi doang. Ternyata ilmu akuntansi tuh ujungnya doang.
Oh, dari situ mulailah saya berpikir bahwa saya harus menambah skill, meningkatkan knowledge tentang corporate finance. Dari situ saya baru berpikir bahwa saya harus kuliah S2.
Saya bilang, mesti nabung nih. Saya pun menabung. Misalnya dapat THR, saya beli dolar. Dapat bonus, beli dolar. Nah, saat terjadi krisis moneter 1998, saya ketiban untung. Kurs US$ 1 yang tadinya Rp 2.500, saat itu melonjak, sempat mencapai Rp 16.000. Saya saat itu belinya sekitar Rp 2.000 per dolar AS.
Saya tukar dolar AS dengan rupiah dan beli dolar Australia. Kemudian tahun 1999 saya berangkat ke Australia. Saya kuliah di Australia sekitar 1,5 tahun. Sepulang dari sana, saya langsung menikah. Padahal belum bekerja, ha, ha, ha...
Dengan bekal ijazah universitas luar negeri, Anda langsung dapat pekerjaan?
Saya waktu itu berpikir, dengan pengalaman kerja sebelumnya dan dengan ijazah dari luar negeri, saya pasti mudah mendapatkan pekerjaan. Ternyata tidak semudah itu. Baru terjadi krisis moneter kan waktu itu? Jadi, setelah pulang dari Australia dan menikah, saya menganggur hampir satu tahun. Jadi, hari-hari saya tuh pengacara, pengangguran banyak acara, he, he, he..
Tapi saya nikmatin aja. Untungnya istri saya masih bekerja, di Telkomsel. Saya juga masih punya income sedikit-sedikit sebagai konsultan paruh waktu. Juga masih ada uang Jamsostek dan dana pensiun dari perusahaan lama, masih bisa hidup lah. Jadi, cashflow nggak ada isu. Cuma nggak punya pekerjaan resmi aja. Itu beban juga sih. Saya mengalami jadi pengangguran juga.
Mungkin karena saya waktu itu sombong. Lulusan Australia pasti gampang dapat pekerjaan. Sempat bilang-bilang juga, gue sih nggak pernah menganggur. Mungkin Allah tidak suka itu. Kan kita nggak boleh sombong karena sombong tuh bajunya Allah kan.
Pada Juni 2001, saya baru dapat pekerjaan di PT M-Web Indonesia (Grup MIH) sebagai Financial Controller. Setelah tiga tahun di sana, saya bergabung dengan PT Reime Indonesia (Grup Reime NIS AS) sebagai Direktur Keuangan, lalu ke PT Holcim Indonesia Tbk sebagai Asisten Eksekutif Presiden Direktur dan Chief Executive Officer (CEO).
Selanjutnya saya bergabung dengan PT Banyu Kahuripan Indonesia (Grup Makin) sebagai Direktur Keuangan, PT Baruna Raya Logistics sebagai Direktur Keuangan dan Managing Director, serta PT Dok dan Perkapalan Surabaya (Persero) sebagai Direktur Keuangan.
Kemudian saya join dengan PT Prasetiya Mulya ELI sebagai Resident Consultant, PT Mahakam Coal Terminal sebagai Komisaris sampai sekarang, dan PT Ancara Logistics Indonesia Tbk sebagai Direktur Utama sejak 2023 sampai sekarang.
Jadi, apa “nilai tambah” Anda?
Salah satunya sportivitas. Saya main basket sejak SMP sampai SMA. Itu mungkin salah satu yang membentuk karakter saya kemudian. Dalam olahraga kan kita diajarin mengenai sportivitas. Kita nggak boleh menang dengan cara-cara curang. Kemudian daya juang untuk tetap kompetitif. Kalau nggak kompetitif, kita nggak bisa menang.
Saya mengalami itu semua. Saya ini pemain ke-11, ke-12 tuh. Jadi, satu tim itu ada 12 pemain. Saya pemain ke-11, ke-12 gitu. Cuma megangin handuk doang.
Saya sadar waktu itu bahwa ketahanan fisik saya kurang bagus karena saya waktu itu masih pulang jam 2-3 pagi, kadang jam 6 pagi. Terus waktu itu masih merokok, walaupun cuma ngerokok gaul.
Akhirnya saya berhenti merokok. Ternyata sejak itu saya menjadi lebih kompetitif. Saya lebih siap berkompetisi.
Value lainnya, saya takut dianggap tidak kompeten saat bekerja. Mungkin itu yang membuat saya terus mengasah diri. Soalnya, waktu itu direct bos saya yang junior partner, kalau marah, dia nggak membentak, tapi diam dengan wajah tidak bersahabat, ngeselin gitu kan?
Bos saya satu lagi, senior partner, dia salah satu akuntan legend. Kalau marah suka bilang aneh-aneh, stupid dan lain-lain. Makanya daripada dibilang bodoh, nggak kompeten, saya berupaya untuk bekerja maksimal.
Saya juga termasuk orang yang nggak suka menolak kerjaan. Apalagi waktu saya memulai karier dulu. Diberi pekerjaan banyak, saya terima saja. Dari berbagai tugas yang saya kerjakan itu, saya banyak belajar.
Selain itu, saya berteman dengan banyak orang, dari berbagai kalangan. Orang tua saya mengajarkan agar saya banyak berteman, dengan siapa aja. Mau Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Budha, suku apa pun, dan lain-lain, berteman saja. Yang penting semuanya baik, semuanya positif.
Intinya, Anda selalu berupaya bekerja maksimal dan terus berbenah diri?
Allah SWT punya matematika sendiri di luar kemampuan kita. Jadi, saya suka bilang, dalam bekerja, kalau Anda digaji 10, kerjakan 15, nanti dinaikin tuh “gaji” Anda sama Allah. Bentuknya bisa apa saja. Sebaliknya, gaji Anda 10, tapi hanya dikerjakan 5, nanti diturunin tuh.
Bekerja keras, belajar, dan berdoa?
Walau kita punya etos kerja bagus, pada titik tertentu kita harus berserah diri kepada Allah, karena Allah punya matematika sendiri. Salah satu “matematika Allah” yaitu kesempatan dan keberuntungan. Kadang kita mendapatkan kesempatan dan keberuntungan di luar nalar. Nah, itu “matematika” Allah.
Allah selalu memberi jalan kepada kita. Kita nggak usah takut kehilangan mata pencarian, karena udah diatur semua. Tapi, nah itu kembali, setiap usaha kita pasti dikasih ujian oleh Tuhan.
Allah memberikan kesempatan dan keberuntungan kepada kita karena banyak hal, misalnya berdoa, termasuk doa orang tua. Saya percaya, pencapaian saya ini juga nggak lepas dari doa orang tua. Itu yang menyelamatkan kita, saya meyakini itu. Makanya saya sering bilang ke ibu saya, mama terus sehat ya karena saya masih butuh doanya.
Berarti Anda tidak percaya pada keberhasilan yang dicapai secara instan?
Tidak ada yang instan. Harus bekerja keras. Kerja itu seperti gravitasi aja. Pasti ada hasilnya. Akan kembali ke kita. Itu yang saya yakini.
Bagaimana dengan kerja smart?
Saya dan anak saya pernah berdiskusi tentang kerja smart (bekerja secara efektif dan efisien). Saya bilang, nggak apa-apa kerja smart. Tapi kerja smart itu timbul karena ada kerja keras. Berkat kerja keras itu, kita punya pengalaman, kita bisa tahu mana yang bisa dilakukan secara smart dan mana yang tidak. Jadi, kembali lagi ke kerja keras.
Pernah terjebak di zona nyaman?
Waktu bekerja di Holcim (PT Holcim Indonesia Tbk) tahun 2005-2012, saya sempat masuk comfort zone. Saya saat itu menjabat sebagai Asisten Eksekutif Presiden Direktur dan Chief Executive Officer (CEO). Di sela-sela kesibukan bekerja, saya ambil lagi Master of Business Administration (MBA) di Swiss German University di Indonesia. Terus saya ambil kursus-kursus yang tersertifikasi. Lalu saya kuliah lagi di The Hochschule Konstanz – University of Applied Sciences,Jerman, ambil Master in Business Administration.
Lama-lama, saya berpikir, saya harus keluar dari comfort zone. Maka saya putuskan, saya harus keluar dari Holcim, saya harus keluar dari zona nyaman. Setelah merasa siap, saya resign. Saya masuk PT Banyu Kahuripan Indonesia (Grup Makin) sebagai Direktur Keuangan. Itu grupnya Gudang Garam yang bergerak di industri sawit.
Pada 2014, saya pindah perusahaan lagi, ke PT Baruna Raya Logistics sebagai Direktur Keuangan dan Managing Director. Mereka hendak IPO (initial public offering). Tapi pada 2015 kondisi makro berubah. Waktu itu harga crude oil drop. IPO pun batal. Prosesnya sampai empat tahun. Saya benar-benar mencari investor, kemudian restructuring, segala macam.
Sampai akhirnya pada 2017 saya pindah ke BUMN, PT Dok & Perkapalan Surabaya (Persero), dari tahun 2017 sampai 2020. BUMN dengan kondisi kurang sehat waktu itu. Di sana saya kurang lebih 2,5 tahun. Saya pikir, dengan skill saya, saya bisa restructuring.
Tapi dalam perjalanannya, pada 17 Juli 2020, ketika pandemi Covid-19 sedang tinggi-tingginya, saya dipanggil untuk mengikuti rapat jam 09.00. Lalu jam 10.00, saya ikut rapat umum pemegang saham (RUPS), dan di situlah pengakhiran saya. Jadi, kalau di BUMN itu mesti siap at any time.
Makanya mereka tuh selain gaji, ada lagi namanya asuransi purna jabatan. Itu 25% dari gaji. Itu berguna untuk yang kayak gitu-gitu. Tiba-tiba harus kehilangan pekerjaan.
Saat saya nganggur, saya mendapat tawaran dari PT Prasetiya Mulya ELI sebagai Resident Consultant. Sampai akhirnya, pada Agustus 2023, saya bergabung dengan PT Ancara Logistics Indonesia Tbk.
Apa yang membuat Anda tertarik untuk bergabung dengan Ancara Logistics?
Ancara Logistics saat itu merencanakan IPO saham. Dulu saya pengen bawa perusahaan IPO, tapi batal. Jadi, saya bilang ini like a dream come true. Kami berhasil.
Kami juga bersyukur, Ancara Logistics posisinya growing, growing mode-lah. Sebagai perusahaan jasa angkutan pertambangan, khususnya batu bara, perusahan ini expansion terus. Kita juga terus menambah kapasitas.
Saya bilang ke teman-teman di sini, ini harus disyukuri, Anda bekerja di perusahaan yang growing, bukan yang sunset. Saya pernah bekerja di perusahaan yang sunset, kita capek tiap hari mikirin bagaimana melakukan efisiensi.
Gaya kepemimpinan Anda?
Teori leadership itu banyak ya. Mana yang paling baik, itu tergantung situasi. Saya pilih gaya kepemimpinan yang situasional. Misalnya kalau kita terlalu tegas, seperti diktator, akhirnya orang-orang jadi takut kepada kita, bukan hormat. Bekerja kalau disuruh aja. Terlalu demokratis juga kurang bagus.
Yang penting saya beri trust ke karyawan. Jadi, saya give them a trust. You have a freedom to think and to act. Tapi jangan lupa, saya punya background auditor. Kadang-kadang otak negatif saya masih ada. Kalau orang auditor itu kan otaknya harus ada negatifnya. Kalau positif terus ya salah. Saya selalu kasih kepercayaan kepada anak buah. Tapi dalam satu detik, saya bisa menganalisis ini ada something wrong.
Saya tetap pakai gaya saya aja. Saya sendiri bukan tipe feodal. Saya coba untuk bisa egaliter. Saya juga mencoba lebih banyak mendengar daripada ngomong. Saya menerapkan konsep 80-20, yaitu 80% mendengarkan, 20% berbicara.
Kadang-kadang kan atasan tuh merasa lebih pintar, lebih tahu, padahal belum tentu. Kalau atasan kebanyakan ngomong, akhirnya bawahannya nggak berkembang, karena mereka tidak mau mengambil inisiatif dan tidak mau berinovasi.
Dalam beberapa kesempatan, kalau mau ambil keputusan, saya suka tanya bawahan, saya perlu feedback, minta pendapat mereka. Saya perlu mendengar dari mereka walaupun belum tentu sama. Saya percaya mereka ini orang-orang pintar. Mereka punya pemikiran sendiri, punya analisis sendiri. Saya kan bukan superman. Kerja tim itu lebih penting.
Filosofi hidup Anda?
Berusaha memberikan yang terbaik aja. Saya percaya, bekerja maksimal atau bekerja keras itu return-nya otomatis akan kembali ke kita. Seperti yang saya sebutkan tadi bahwa kerja keras itu menghasilkan gravitasi, semua akan kembali kepada kita.
Kesimpulan perjalanan karier Anda?
Saya mengalami situasi naik turun. Allah sudah mengatur rezeki kita. Setelah menikah dan belum dapat pekerjaan, misalnya, saya waswas bener. Bagaimana masa depan saya, anak saya? Tapi Allah kasih rezeki.
Itulah dinamika kita hidup, ujian. Kita punya buku ujian masing-masing. Kita nggak boleh nyontek, kita kerjain aja apa yang mesti kita jalanin. Allah akan memberi jalan. Nggak usah takut kehilangan mata pencarian karena udah diatur semua. Kita harus berupaya semaksimal mungkin, tapi pada titik tertentu harus berserah diri kepada Allah.
Cara Anda menyeimbangkan hidup?
Saya suka nonton, travelling, dan kuliner. Saya sering menonton pertandingan basket karena sewaktu muda hobi main basket. Kalau weekend, saya ajak istri jalan kaki, biasanya jam 6 pagi. Setelah itu wisata kuliner, cari makan enak, misalnya nasi uduk, soto Betawi, dan lain-lain, yang viral-viral di medsos.
Yang penting kami happy. Hidup itu mesti happy. Saya nggak menghitung kalori. I don't care-lah. Saya dan istri juga sering pijat refleksi. Ke mana-mana kami berdua, kayak pacaran lagi, he, he, he…
Obsesi Anda yang belum terwujud?
Saya sebetulnya ingin punya bisnis juga, bisnis kecil-kecilan. Jadi, istri saya kan jago memasak. Masakannya enaklah.
Nah, waktu pandemi Covid, sering bikin tuh macam-macam masakan. Istri saya juga jago bikin lasagna (hidangan pasta khas Italia yang disusun berlapis-lapis). Akhirnya kami bikin, kami branding, bikin logo. Namanya Miss Lasagna. Sampai hari ini menghasilkan.
Sekarang sedang berpikir lagi untuk punya semacam food stall (gerai makanan) di depan supermarket. Lumayan, persiapan untuk menyambut masa pensiun di hari tua nanti. Bisa mempekerjakan orang juga, bisa menghidupi orang lain. Itu mendatangkan kenikmatan tersendiri. ***
Biodata
* Nama lengkap: Faisal Mohamad Nur.
* Tempat/tanggal lahir: Jakarta, 22 Januari 1970.
* Pendidikan:
- S1 Ekonomi - Universitas Trisakti (1993).
- Master of Commerce in Finance - University of New South Wales (2000).
- Magister Manajemen - Swiss German University, Indonesia (2010).
- Master of Business Administration - The Hochschule Konstanz – University of Applied Sciences, Jerman (2010).
* Lain-lain:
- Sertifikasi Certified Professional Management Accountant (CPMA) dari The Indonesian Institute of Management Accountants (2019).
- ASEAN Chartered Professional Accountant (ASEAN CPA) dari ASEAN Chartered Professional Accountants Coordinating Committee/ACPACC (2021).
Karier:
* PT Ancara Logistics Indonesia Tbk: Direktur Utama (2023 – sekarang).
* PT Mahakam Coal Terminal: Komisaris (2023 – sekarang).
* PT Prasetiya Mulya ELI: Resident Consultant (2020-2023).
* PT Dok dan Perkapalan Surabaya (Persero): Direktur Keuangan (2017-2020).
* PT Baruna Raya Logistics: Direktur Keuangan (2014-2016) dan Managing Director (2016-2017).
* PT Banyu Kahuripan Indonesia (Grup Makin): Direktur Keuangan (2012-2013).
* PT Holcim Indonesia Tbk: Asisten Eksekutif Presiden Direktur dan CEO (2005-2012).
* PT Reime Indonesia (Grup Reime NIS AS): Direktur Keuangan (2003-2005).
* PT M-Web Indonesia (Grup MIH): Financial Controller (2001-2003).

