Setahun Prabowo: Diplomasi dan Kebangkitan Marwah Indonesia
Poin Penting
|
INVESTORTRUST.ID – Reputasi Presiden Prabowo Subianto di mata internasional tak disangsikan lagi. Sejak dilantik Oktober 2024, Prabowo bukan hanya rajin bersilaturahmi menemui pemimpin negara sembari menjaring investor serta hadir di berbagai forum internasional. Diplomasi Prabowo menjadikan Indonesia sebagai kekuatan yang diperhitungkan dalam percaturan geopolitik global.
Selama setahun pemerintahannya, Prabowo tercatat telah mengunjungi sekitar 24 negara dan melakukan 16 perjalanan dinas ke manca negara. Prabowo telah berkunjung ke negara dan kawasan strategis sebagai pusat kendali ekonomi dunia.
Presiden Prabowo mengunjungi China dan Amerika Serikat, dua kekuatan ekonomi yang bersaing dan bersitegang. Langkah Prabowo menjaga hubungan baik dengan dua kekuatan ekonomi dipandang sebagai upaya diplomasi ekonomi-politik untuk meminimalisasi risiko sekaligus memaksimalkan keuntungan. Prabowo harus menjaga hubungan baik dengan China dan AS tanpa harus terlihat mementingkan salah satunya.
Presiden Prabowo juga melakukan muhibah ke negara-negara Timur Tengah untuk mengundang investor petro dolar itu menanam modal di Tanah Air. Di India, Prabowo berhasil menandatangani sejumlah perjanjian penting dengan negara berpenduduk terbesar kedua dunia yang ekonominya melesat mengagumkan itu.
Dalam setahun kepemimpinannya, berbagai “pencapaian monumental diplomasi” sudah menghasilkan jejak yang layak dikenang. Di bidang ekonomi, Indonesia resmi menandatangani kesepakatan substantif Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) yang sempat terhenti selama satu dekade. Melalui kesepakatan substantif IEU-CEPA ini, Indonesia dan Uni Eropa akan menghapus lebih dari 98% pos tarif dan 99% dari total nilai impor.
Kesepakatan bersejarah tersebut bakal diimplementasikan pada Januari 2027. Kelak, produk Indonesia langsung akan menikmati tarif nol persen di 90% pasar Uni Eropa. Komoditas unggulan, seperti produk padat karya (alas kaki, tekstil, garmen), minyak sawit, perikanan, serta sektor energi terbarukan dan kendaraan listrik, akan mendapatkan perlakuan preferensial yang lebih adil.
Sebagai timbal baliknya, Indonesia akan membebaskan bea masuk produk industri asal Uni Eropa yang saat ini terkena tarif tinggi. Misalnya, tarif untuk mobil buatan Uni Eropa akan diturunkan dari 50% menjadi 0% dalam 5 tahun.
Kemudian, sebagian tarif mesin dan peralatan listrik serta produk farmasi yang saat ini dikenai hingga 15% dan bahan kimia sebesar 25% akan bebas bea masuk.
Konvergensi Kebijakan
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan, kesepakatan IEU-CEPA menempatkan Indonesia setelah Singapura dan Vietnam terlebih dahulu menandatangani perjanjian serupa. Kesepakatan ini sekaligus menjamin terciptanya persaingan yang lebih adil bagi produk dan investasi Indonesia serta menegaskan posisi kuat Indonesia di kancah global.
Kesepakatan tersebut disambut baik dunia usaha. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W Kamdani berpandangan bahwa penandatanganan kesepakatan IEU-CEPA merupakan pencapaian diplomasi penting yang menjadi game-changer yang menandai transisi dari potential economy menuju performance economy. Dia menyebut IEU-CEPA sebagai hasil proses panjang konvergensi kebijakan (policy convergence) yang perlu diapresiasi karena melibatkan pemerintah, dunia usaha, dan pemangku kepentingan lainnya.
”Dunia usaha Indonesia melihat IEU-CEPA sebagai instrumen strategis untuk memperluas akses pasar ekspor, menarik arus investasi, serta memperkuat daya saing industri nasional,” kata Shinta.
Kekuatan yang Diperhitingkan
Sementara itu, kiprah diplomasi terakhir yang membuat mata dunia terbuka adalah kehadiran Prabowo dalam Diplomasi Gaza di Mesir beberapa hari lalu. Kehadiran Prabowo di pertemuan untuk mencari perdamaian di Timur Tengah, mendamaikan Israel-Palestina bukti bahwa Prabowo bukan hanya punya pengaruh. Tapi Prabowo memiliki keberanian tinggi dalam ikut penyelesain konflik berdekade-dekade never ending story Israel vs Palestina.
Sikap Prabowo dalam konflik itu sudah terbaca saat berpidato di forum PBB. Presiden terang-terangan menyampaikan gagasan yang eksplisit bahwa Indonesia akan mengakui Israel jika negara itu terlebih dahulu mengakui kemerdekaan Palestina. Ini berarti pemikiran Prabowo mengarah pada sebuah solusi tuntas, bukan semata bentuk solidaritas terhadap Palestina.Solusi dua negara, atau two state solutions, adalah tawaran konkret sebagai jalan keluar atas permasalahan panjang kedua negara.
”Kita harus menghentikan bencana kemanusiaan di Gaza dan mengakhiri perang harus menjadi prioritas utama kita. Kita harus mengatasi kebencian dan ketakutan. Kita harus mengatasi kecurigaan. Kita harus mencapai perdamaian yang dibutuhkan umat manusia. Kami siap mengambil bagian dalam perjalanan menuju perdamaian ini,” tegas Prabowo dalam pidato yang mendapat aplaus panjang itu.
Disampaikan dalam Bahasa Inggris yang luas, pidato Presiden Prabowo mengalir dengan retorika yang rapi, bukan hanya ihwal dukungan Indonesia kepada Palestina, tapi juga tentang perubahan iklim dan ketahanan pangan. Delegasi yang hadir beberapa kali memberikan tepuk tangan, sesuatu yang jarang terjadi dalam forum diplomatik yang biasanya dingin dan formal. Suasana itu memperlihatkan bahwa Presiden Prabowo mampu memainkan peran diplomasi yang tegas dan elegan.
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia menilai bahwa kehadiran Presiden Prabowo dalam Emergency Summit for Gaza Peace Implementation di Mesir bukan sekadar simbol keprihatinan, melainkan bukti konkret bahwa Indonesia telah menjelma menjadi kekuatan yang diperhitungkan dalam percaturan geopolitik global. “Dalam forum yang mempertemukan berbagai kekuatan dunia untuk mencari jalan damai bagi Gaza, Indonesia tampil bukan sebagai pengamat, tetapi sebagai penggerak moral dan diplomatik,“ tuturnya.
Menurut dia, langkah ini mempertegas posisi Indonesia sebagai middle power — sebuah kekuatan menengah yang memiliki pengaruh strategis di tengah ketegangan global. Indonesia kini memainkan peran penting dalam membangun jembatan antara kekuatan besar dunia dan negara-negara berkembang yang mendambakan perdamaian sejati.
Perjalanan Prabowo dalam diplomasi global, baik ekonomi maupun politik jelas mengangkat derajat Indonesia di panggung global. Dia tetap konsisten menerapkan politik luar negeri bebas-aktif yang lebih bermartabat dan elegan, sebagaimana dirintis pendiri bangsa, Presiden Soekarno. ***

