Danantara, Sebuah Revolusi Pengelolaan BUMN
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id -- Sejak masih jadi wacana maupun di awal-awal pembentukannya, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) terus menuai polemik dan menyisakan keraguan sejumlah kalangan. Konsep yang masih abu-abu dan trauma intervensi politik terhadap BUMN membuat entitas dengan aset Rp 15.000 triliun ini belum sepenuhnya meyakinkan kelompok ekonom dan analis.
Namun, kiprah dan aksi korporasi yang ditempuh Danantara belakangan ini bisa jadi meredakan keraguan publik. Terutama sejumlah rencana investasi yang akan ditempuh, meskipun lagi-lagi, pilihan investasinya bisa menuai perdebatan. "Kami membahas rencana penandatanganan head of agreement (HoA) dan memorandum of understanding (MoU) untuk proyek-proyek prioritas agar dapat segera masuk pipeline eksekusi investasi," kata Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Roeslani, Selasa (24/6/2025).
Beberapa investasi yang telah dan akan dilakukan Danantara adalah di sektor energi terbarukan. Badan ini komit investasi di PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) untuk menggenjot energi panas bumi hingga 3 gigawatt (GW). Upaya ini diharapkan dapat menjadi katalis percepatan hilirisasi energi dan pendorong pertumbuhan ekonomi hijau nasional.
Aksi korporasi lainnya adalah menyuntikkan modal ke PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) sebesar Rp 6,65 triliun (US$ 405 juta). "Garuda Indonesia bukan sekadar entitas bisnis, tetapi simbol kedaulatan udara dan kebanggaan nasional. Penyaluran dana ini adalah bentuk nyata dari mandat transformasi yang kami emban, dengan pendekatan yang profesional, terukur, dan mengedepankan prinsip tata kelola yang baik," kata Chief Operation Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria, Selasa (24/6/2025).
Kemudian, investasi dalam jumlah yang cukup fantastis adalah rencana Danantara memberikan sokongan dana Rp 130 triliun melalui skema kredit usaha rakyat (KUR) perumahan. Ini merupakan dukungan untuk menyukseskan program 3 juta rumah yang dicanangkan Presiden Prabowo.
Di sektor swasta, Danantara ikut berpartisipasi dalam akuisisi kilang Shell di Singapura yang dilakukan oleh PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) bersama mitra strategisnya Glencore.
Perjalanan Danantara
BPI Danantara terbentuk usai pemerintah dan DPR mengesahkan RUU Perubahan Ketiga UU BUMN sebagai payung hukumnya, Selasa (4/2/2025). Danantara merupakan gagasan Presiden Prabowo, yang dilontarkan beberapa hari usai dilantik 20 Oktober 2024.
“Anagata“ bermakna masa depan, yang diserap dari bahasa Sansekerta. Dengan nama tersebut, Danantara digadang-gadang menjadi masa depan mesin pendapatan negara yang dapat membantu dalam mewujudkan target pertumbuhan ekonomi 8%.
Danantara membawahkan dua holding, yaitu holding investasi dan holding operasional. Secara umum, Danantara memiliki tiga fungsi, yakni sebagai badan pengelola dana abadi (sovereign wealth fund/SWF), pengelola investasi pembangunan, serta pengelola aset (asset management).
Tugas Danantara antara lain mengelola dividen holding investasi, holding operasional, dan BUMN; menyetujui penambahan dan/atau pengurangan penyertaan modal pada BUMN yang bersumber dari pengelolaan dividen; menyetujui restrukturisasi BUMN; dan menyetujui usulan hapus buku dan/atau hapus tagih atas aset BUMN. Menteri BUMN akan menjadi pengawas Danantara, di samping menetapkan kebijakan, pengaturan, pembinaan, pengoordinasian, dan penyelenggaraan kebijakan pengelolaan BUMN.
Ada satu paradigma baru Danantara yang bakal memberikan implikasi strategis dalam operasionalnya ke depan. Yaitu, aset Danantara bukan aset negara, melainkan aset korporasi. Artinya, direksi memiliki keleluasaan untuk mengembangkan perusahaan tanpa ketakutan akan kriminalisasi kebijakan. Inilah yang sempat mengundang reaksi, takut terselip moral hazard.
Yang pasti, Danantara berbeda dengan Sovereign Wealth Fund (SWF) negara lain, yang dana kelolaannya berasal dari kelebihan pendapatan fiskal. Danantara mengelola dividen BUMN. Seluruh aset BUMN diinbrengkan ke dalam satu entitas, yaitu Danantara Asset Management. Dengan model seperti ini, Danantara ke depan tidak lagi bergantung pada penyertaan modal negara (PMN) untuk penyehatan BUMN.
Selama ini, kata Dony Oskaria, kontribusi BUMN ke APBN mencapai Rp 500-600 triliun per tahun. Pada tahun 2025, BUMN dimandati menyetor dividen sebesar Rp 120 triliun. Dengan leverage 10 kali lipat, Danantara berpotensi mendapat sumber pembiayaan Rp 1.200 triliun.
Selain memikirkan investasi, Danantara harus mengonsolidasikan aset yang dimiliki. Manajemen kini sedang mengkaji ulang (fundamental business review) 888 entitas anak dan cucu BUMN, untuk diciutkan menjadi kurang dari 200 entitas, baik lewat merger atau konsolidasi, agar memiliki skala usaha jauh berlipat-lipat.
Nantinya, 16 perusahaan logistik anak-cucu BUMN dijadikan satu. Demikian pula 130 hotel yang ada. Sekitar 15 asuransi juga akan diperas jadi tiga perusahaan sesuai bidangnya. Dengan demikian, kelak anak-anak dan cucu BUMN skalanya kecil-kecil bakal hilang.
Dony Oskaria menyebut strategi di atas sebagai bagian dari revolusi pengelolaan BUMN. Setelah jumlah BUMN diciutkan, Danantara melakukan streamlining business process dan mendesain roadmap masing-masing. Tahapan berikutnya adalah melakukan recreation perusahaan. Doni berjanji, pada tahun ketiga atau keempat akan banyak perusahaan yang melakukan penawaran umum perdana (IPO) saham.
Dalam berbisnis, Danantara akan mengajak mitra strategis, salah satunya adalah pengusaha anggota Kadin Indonesia. Para pengusaha Kadin bisa menjadi vendor untuk sejumlah perusahaan di bawah Danantara.
Proyek Berdampak Tinggi
Presiden Prabowo Subianto meminta Danantara dikelola dengan prudent, menjaga trust. Danantara diharapkan menjadi katalis untuk mengembuskan sentimen positif, meyakinkan pemodal, dan menjadi tonggak baru ekonomi Indonesia.
Presiden juga menekankan bahwa dana-dana yang dikelola Danantara akan digunakan untuk membiayai proyek-proyek yang berkelanjutan dan berdampak tinggi, antara lain di sektor energi terbarukan, manufaktur canggih, industri hilir, dan produksi pangan.
Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Novyan Bakrie menilai Danantara mampu membawa perubahan signifikan bagi pengelolaan investasi dan aset negara. Komunitas internasional pun memandang pendirian Danantara sebagai sebuah terobosan. Dengan aset US$ 900 miliar, Danantara memiliki kekuatan finansial luar biasa untuk menggerakkan roda investasi Indonesia ke depan.
Pengamat BUMN dari Universitas Indonesia, Toto Pranoto optimistis, Danantara berpotensi melipatgandakan aset BUMN sekaligus menarik investasi asing baru karena lembaga ini bisa mengonsolidasikan seluruh aset BUMN.
Kita berharap performa Danantara dapat memenuhi ekspektasi publik yang begitu besar. Kesuksesannya bakal tergantung pada profesionaltas, kapabilitas, dan integritas jajaran badan pengelola. Juga kemampuan mereka membentengi Danantara dari intervensi politik maupun kepentingan pribadi dan kelompok.
Baca Juga
Presiden: Danantara dan Swasta Menjadi Motor Penggerak Pertumbuhan Ekonomi
Video: Courtesy of Sekretariat Presiden Youtube Channel

