Astra Komit Kembangkan BEV
Oleh Primus Dorimulu
TOKYO, Investortrust.id — PT Astra International Tbk tetap komit mewujudkan energi bersih dengan terus mengembangkan electric vehicle (EV), termasuk kendaraan listrik berbasis baterai (BEV). Selain mobil hibrida, Astra memproduksi BEV.
Demikian dikemukakan Presdir PT Astra International (AI) Djony Bunarto Tjondro di area pameran mobil Japan Mobility Show 2023 di Tokyo, Rabu (25/10/2023). Sebelumnya, terakhir tahun 2019, ajang pameran ini bernama Tokyo Motor Show.
“Mengenai EV, tentunya pertama, kita harus bicara dulu mengenai industry policy dari negara. Tentunya Astra selalu mendukung secara industry policy, yang kami percaya hal itu bisa bermanfaat bagi negara. Tetapi, tentunya kami juga melihat bagaimana Astra merespons. Kami selalu bekerja sama dengan partner, dengan prinsipal kami untuk bisa membuat suatu produk BEV (battery EV) yang memang fit terhadap pasar Indonesia, bukan sekadar BEV. Ini semua butuh proses, sedang kami persiapkan, sedang secara konsisten dari waktu-waktu, kami bicarakan dengan principal (di Jepang) dan partner kami,” kata Djony.
Video oleh Primus Dorimulu/Investortrust
Lebih lanjut, kata Djony, kita harus menyadari bahwa di sisi lain secara paralel juga harus membangun ekosistem BEV di Tanah Air. Kita harus membangun infrastrukturnya.
Astra pun sudah cukup agresif dalam membangun charging station mobil listrik maupun charging unit. Charging unit yang merupakan produksi dan desain dari PT Astra Otoparts Tbk (AOP) di Indonesia juga sudah digunakan di lingkungan Toyota, dengan reliabilitas yang baik.
Baca Juga
Astra International (ASII), Raja Mobil Hibrida yang Difavoritkan Analis
“Jadi, kami tidak mengimpor dari luar negeri, lalu hanya kami tempel, itu tidak. Ini adalah suatu diferensiasi dari kami. Jadi, bagi Astra, kami melihat secara ekosistem di mana kami bisa membangun sambil bekerja sama dengan principal, bagaimana kami bisa mendapatkan suatu produk yang baik, yang memang secara produk market fit bagi struktur otomotif Indonesia,” ucap Djony.
Hal itu, tandas Djony, merupakan suatu proses. Ia berharap dengan bantuan semua pihak, termasuk dengan prinsipalnya di Jepang, Astra bisa mendapatkan suatu produk BEV yang baik pada saatnya nanti.
Video oleh Primus Dorimulu/Investortrust
Dukung Kebijakan Pemerintah RI
Djony menegaskan, Astra selalu berupaya mendukung dan menyukseskan apa pun kebijakan industri Pemerintah Indonesia, yang mereka yakini pasti baik untuk negara. Sementara itu, secara internal, perusahaan harus menyelesaikan beberapa hal dan sejumlah aspek yang terkait produk BEV.
“Kalau komitmen dan aktivitas kami menuju ke sana, tinggal bentuk-bentuknya, kita butuh waktu. Jadi, untuk komitmen itu bulat,” ucap Djony.
Djony menilai, kebijakan yang ada saat ini sudah baik. Astra pun sudah membuat charging station dan sebagainya untuk mendukung program pemerintah mengembangkan ekosistem BEV di Tanah Air. Ini merupakan bukti dukungan perusahaan otomotif tersebut.
Bila membeli produk mobil listrik misalnya bZ4X, juga sudah dilengkapi charging unit. BEV ini menggunakan merek Toyota.
Baca Juga
Djony juga menjelaskan, pihaknya sadar harus bergerak cepat juga di industri EV, tetapi adopsi dari suatu teknologi mobil tidak homogen. Itulah sebabnya, Astra memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk memilih, ada mobil hybrid, ada plug-in hybrid, dan segala macam.
“Kami tidak mengatakan bahwa Toyota itu hanya akan hybrid, BEV juga sudah dikembangkan, tapi kami tidak bisa ‘sampaikan’. Mereka sedang bekerja keras, kami juga sedang bekerja keras, yang penting bagaimana kami bisa menelurkan satu produk BEV yang memang secara struktur otomotif Indonesia itu tepat,” ucap Djony.
Ia menjelaskan, di pasar mobil Indonesia, yang terbesar atau 65% adalah mid-low customer. Meski mudah-mudahan pada 2030-2040, struktur atau karakteristik market bisa bergeser lebih sedikit ke atas, tetapi diperkirakan tidak akan sampai ke yang sangat high end.
“Nah, ini semua sedang kami kerjakan bersama. Jadi, kami tidak mengatakan bahwa Toyota hanya akan hybrid, meski memang di hybrid memiliki basis yang kuat, yang masyarakat umum juga sudah tahu. Tetapi BEV juga sedang kami kembangkan, yang ini adalah suatu proses yang butuh waktu untuk ke sana,” tandas Djony.
Ia menegaskan, Toyota sudah memiliki produk-produk BEV, seperti bZ4X yang launching tahun lalu. Hanya saja, hingga tahun ini, penjualannya masih kecil, karena target segmennya belum begitu pas.
“Ini adalah fase-fase di mana kita mengalami akselerasi dari adopsi BEV. Tentunya, semua orang juga belajar bagaimana produk yang fit ke pasar,” tandasnya.
Saat ditanya mengenai respons pasar dengan adanya BEV dari prinsipal otomotif asal Cina maupun Korea, Djony mengatakan pihaknya tidak bisa banyak berkomentar. Hal itu diserahkan kepada konsumen untuk menilai.
“Banyak merek dagang misalnya dari mainland China dan dari Korea, ya itu adalah suatu persaingan atau kompetisi yang sehat. Yang penting bagi Astra adalah pemerintah negara memiliki satu visi, kami support. Bahwa kami masih butuh proses yang harus diselesaikan secara internal, hal itu tidak mengecilkan atau tidak meniadakan intensi kami untuk mendukung pemerintah,” ucapnya.
70% EV Toyota Hybrid
Toyota di Indonesia tercatat sudah mulai menawarkan BEV. Sedangkan tren peningkatan mobil listrik yang bagus adalah hybrid Toyota.
“Mobil hybrid itu sekitar 60-70% dari electric vehicle Toyota di Indonesia, penerimaannya cukup baik. Untuk BEV, Toyota di Indonesia juga sudah punya tiga produk, yakni Lexus UX, Toyota bZ4X, dan Lexus RZ. Kami pasti enggak akan berhenti sampai di situ, karena akan terus mengenalkan BEV dan juga ekosistem itu yang penting,” kata Vice President Director Toyota Astra Motor Henry Tanoto.
Djony juga menjelaskan, respons pasar terhadap mobil listrik sangat tergantung kondisi negara dan sangat dipengaruhi kebijakan masing-masing. Ia menilai, kebijakan masing-masing negara ada kelebihan dan ada kekurangan, sehingga agak sulit mengatakan mana yang direspons pasar lebih baik.
Hal ini agak berbeda dengan zaman dulu, lebih dari 100 tahun yang lalu, saat mobil mulai menggunakan mesin pembakaran dalam atau internal combust engine, yang kemudian berlangsung 100 tahun. Sedangkan kini situasinya bisa berbeda, lantaran banyak kombinasi teknologi dan sulit mengatakan bahwa teknologi tertentu yang terbaik atau yang lainnya.
“Jadi, saya tidak mau terikat di dalam perdebatan-perdebatan, yang penting bagi Astra dan di Toyota adalah menyediakan produk, memberikan pilihan-pilihan. Kami memberikan pilihan produknya seperti begini, fit atau tidak ke market, dan jangan lupa bagaimana dengan pelayanan purnajual. Bagaimana dengan total pelayanan, bukan cuma produk yang kita harus lihat, tetapi secara holistik. Nah, Astra ada di sana,” tuturnya.
Produk Indonesia Dipamerkan
Sementara itu, Henry mengatakan, menjadi kebanggaan dari Toyota di Indonesia bahwa hasil karyanya dipakai untuk dipamerkan dalam Jepang Mobility Show, yang kebetulan topiknya adalah mobility. “Mobil produksi di Indonesia itu cukup merepresentasikan tentang kebutuhan mobility masyarakat di Indonesia yang beragam, dalam hal ini adalah kebutuhan dari enterprise ataupun small medium enterprise kita, yang salah satunya adalah mobile coffee shop. Mereka lihat produk kami bisa merepresentasikan kegunaan dari konsep untuk membantu mobilitas konsumen-konsumen kita. Karena dilihat suitable, sesuai dengan tema dari Japan Mobility Show, maka mereka membawa display ini ke Jepang,” paparnya.
Produk tersebut membantu mobilitas perusahaan di Indonesia yang sangat bervariasi, termasuk untuk membantu usaha kecil dan menengah (UKM). Satu segmen dengan segmen yang lain di dalam negeri, tandas dia, kebutuhan mobilitasnya berbeda-beda.
Dari platform mobil tersebut, Astra di Indonesia sudah mengkreasikan banyak desain. Selain untuk mobile coffee shop, untuk ambulans, camping car, dan untuk logistik seperti fullbox car serta yang lain.
“Platformnya sama, tapi bisa dimodifikasi sesuai kebutuhan. Tapi, karena belum launching, belum ada harganya,” imbuh Henry Tanoto.
Djony menjelaskan lebih lanjut mengenai sasaran yang ingin dicapai oleh Astra Internasional di Japan Mobility Show. “Dengan perubahan perubahan konstelasi di mana sekarang kita bicara mobility, tidak bicara produk, tapi bicara the full value chain yang ada di dalam industri otomotif itu sendiri. Tentunya bagi Astra, kami bekerja sama dengan partner, selalu mencoba melihat peluang-peluang yang ada. Jadi bukan hanya dari sisi dulu kita selalu bicara dari hulu ke hilir, baik itu manufacturing maupun penjualan, tetapi sebetulnya banyak di dalam value chain, dalam satu ekosistem mobility itu banyak peluang yang bisa didapatkan,” paparnya.
Ia mencontohkan mengenai segmen mobil komersial. Segmen komersial itu mencapai sekitar 25% dari pasar di Indonesia, dan berdasarkan data yang ada, selalu sangat stabil. Kalau ekonomi berkembang, orang makin butuh kendaraan untuk logistik, untuk mengangkut barang, dan segala macam.
Model mobil komersial tersebut bermacam-macam, dari yang pickup sampai truk besar. Dalam hal ini, Toyota di Indonesia mencoba melihatnya dan memberikan kemudahan dengan fleksibilitas modifikasi penggunaan, yang diharapkan bisa bermanfaat bagi konsumen.
Sementara itu, Marketing Director PT Toyota Astra Motor (TAM) Anton Jimmi Suwandy menambahkan, saat ini, sekitar 8% dari total produksi mobil PT AI adalah mobil listrik. Dari jumlah itu, 70% adalah mobil hibrida dan sisanya, 30% adalah BEV.
“Kenaikan mobil listrik Astra itu pesat sekali. Tahun 2022, porsi mobil listrik di Astra baru 2%,” kata Anton.

