Jangan Pernah Merasa Sukses Selama Masih Punya Mimpi
JAKARTA, investortrust.id - Anggia Meisesari bisa dibilang sudah memiliki segalanya: karier yang mentereng, keluarga yang harmonis, prestasi akademik yang cemerlang, dan --tentu saja-- materi yang cukup.
Sebagai founder, owner, sekaligus chief executive officer (CEO), Anggia Meisesari berhasil membesarkan PT Indo Trans Teknologi (TransTrack), perusahaan integrator layanan logistik (logistic service integrator) berbasis teknologi yang didirikan enam tahun silam. Ia bahkan sudah membawanya go international.
Pencapaian pribadi perempuan yang akrab dipanggil Anggi ini pun patut dibanggakan. Pada Oktober 2024, ia masuk daftar 100 Women Tech Founders to Watch versi Founders Forum. Selain itu, pada 2005, Anggi menerima penghargaan dari Presiden sebagai Finalis Top 10 Indonesian Engineer Award yang dihelat Federation of Engineering Institutions in Southeast Asia-Pacific.
Di bidang akademik, Anggi juga punya sederet catatan yang mengagumkan. Ia adalah peraih gelar Magister Rekayasa Perangkat Lunak dari Institut Teknologi Bandung (ITB) 2003–2005 dengan predikat Summa Cum Laude dan indeks prestasi kumulatif (IPK) sempurna 4,0.
Tak pelak, ibu satu anak ini diganjar penghargaan The Best Graduated Student dari Program Studi Teknik Informatika (Juli 2005) dan The Best Alumnus & Student of the Academic Year 2004/2005 dari Fakultas Teknologi Industri (Oktober 2005).
Toh dengan berbagai pencapaian yang telah disandangnya itu, Anggia Meisesari belum merasa sukses. “Jujur, saya nggak merasa sudah sukses. Masih banyak yang ingin saya capai,” kata entrepreneur yang pernah 10 tahun menjadi dosen itu kepada wartawan investortrust.id, Saliki Dwi Saputra, Elsid Arendra Filemon, dan Abdul Aziz di kantornya, kawasan TB Simatupang, Cilandak, Jakarta Selatan, baru-baru ini.
Anggi ternyata punya definisi sendiri tentang kesuksesan. Bagi perempuan yang hobi balap mobil ini, sukses bukanlah pencapaian yang semata berkaitan dengan materi, seperti jabatan, uang, rumah, atau mobil.
“Sukses lebih dari itu. Sukses adalah ketika kita bisa memberi manfaat bagi orang lain. Dan selama masih ada mimpi yang ingin saya capai, saya belum merasa sukses,” tandas dia.
Anggi juga menganggap sukses bukanlah tujuan, melainkan perjalanan. “Mungkin orang lain melihat saya sudah sukses. Tapi buat saya sendiri, masih banyak hal yang ingin saya capai. Masih ada sesuatu yang rasanya belum lengkap,” ujar dia.
Berbagai pencapaian Anggia Meisesari tidak jatuh dari langit. Perempuan yang berulang tahun pada 25 Mei ini pernah terpuruk, berdarah-darah, dan nyaris bangkrut. Lima tahun silam, hartanya ludes demi mempertahankan TransTrack yang hampir karam gara-gara diterjang pandemi.
Saat itu, Sistem Layanan Informasi Keuangan Otoritas Jasa Keuangan (SLIK OJK) Anggi masuk kolateral 5. “Kartu kredit saya diblokir. Aset-aset pribadi terpaksa saya jual,” tutur ibu satu anak ini, mengenang pengalamannya saat terpuruk.
TransTrack memang lahir pada waktu yang kurang tepat. Baru setahun perusahaan itu berdiri, ujian langsung datang. TrancTrack didirikan pada 2019. “Tahun 2020, Covid-19 menghantam kami,” ucap Anggi.
TransTrack langsung goyah. Maklum, sebagian besar pelanggan TransTrack adalah operator transportasi publik. Ketika pemerintah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) untuk mencegah penyebaran Covid, sebagian besar transportasi publik berhenti beroperasi.
Berkat ketangguhan dan keuletan Anggia Meisesari, TransTrack berhasil bangkit dan melaju lagi, bahkan dengan kekuatan berlipat. Justru pandemi menempa Anggi menjadi entrepreneur yang lebih tahan banting.
“Kunci keberhasilan perusahaan kami melewati krisis sebetulnya ada di teamwork. Kami punya teamwork yang hebat,” tegas dia, merendah.
Apa strategi Anggia Meisesari untuk bertahan selama krisis pandemi? Mengapa ia punya teamwork yang tangguh? Apa saja mimpi Anggi yang belum tercapai? Berikut penuturan lengkapnya:
Bisa cerita perjalanan karier Anda?
Saya pertama kali bekerja sebagai dosen di Politeknik Komputer Niaga (Poltek) Lembaga Pendidikan Komputer Indonesia-Amerika (LPKIA) dan Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Ilmu Komputer (STMIK) Bandung pada 1998 (sekarang Institut Digital Ekonomi LPKIA). Saya menjadi dosen di sana sampai akhir 2008.
Saya lulus S2 dari ITB (Institut Teknologi Bandung), tapi sudah mengajar setelah lulus S1. Sebagai dosen, saya terakhir menjabat Ketua Jurusan atau Ketua Program Studi.
Pada 2008, saya mulai beralih ke industri. Saya bergabung dengan PT Champ Resto Indonesia sebagai Information Technology (IT) Manager.
Kebetulan, pemilik Champ Resto Indonesia, Pak Yunus Ciptawilangga, mengajak saya membangun perusahaan IT di Bandung yang bergerak di bidang software. Kliennya kebanyakan instansi pemerintah dan BUMN.
Kemudian saya bergabung dengan PT Business Sofware Solution pada Agustus 2009 hingga Mei 2018. Posisi saya sebagai Managing Director.
Setelah itu, saya bergabung dengan perusahaan fleet telematics global yang beroperasi di 25 negara sebagai Country Manager dan Country Sales Director. Namanya PT Cartrack Technologies Indonesia (Cartrack). Fleet telematics adalah solusi teknologi operasional kendaraan bisnis dan pribadi untuk perlindungan dan produktivitas.
Saya bahkan sempat dikirim ke Johannesburg, Afrika Selatan, untuk belajar lebih lanjut mengenai produk dan pengembangan bisnis mereka. Pada 2019, saya memutuskan untuk resign dan mengajak Aris Pujud Kurniawan (Co-Founder dan Chief Technology Officer TransTrack, Red) untuk membangun TransTrack.
TransTrack adalah perusahaan teknologi yang berfokus pada optimalisasi operasional armada kendaraan dan solusi integrator rantai pasok dengan memanfaatkan teknologi internet of things (IoT) dan artificial intelligence (AI). Model bisnis TransTrack hampir sama dengan perusahaan tempat kami bekerja dulu, bidang fleet telematics.
Nah, sampai sekarang sudah masuk tahun keenam. Jadi, saya dan Pujud punya pengalaman di bidang fleet telematics saat bekerja di perusahaan sebelumnya. Itulah yang menjadi bekal kami untuk membangun TransTrack.
Mengapa Anda memilih bidang fleet telematics?
Latar belakang saya yang pernah bekerja di perusahaan global fleet telematics membuat saya memahami bahwa industri ini sangat potensial. Meski banyak pemain di industri global positioning system (GPS), kami melihat celah untuk menawarkan solusi yang lebih komprehensif. GPS hanyalah 10% dari solusi TransTrack, sementara keunggulan utama kami adalah fleet operation optimizer dan supply chain integrator.
Kami juga menyasar industri yang masih tergolong blue ocean, seperti sektor maritim, perkebunan, dan pertambangan. Di sektor maritim, misalnya, pemain lokal masih sangat sedikit, sementara kebutuhan akan teknologi monitoring sangat tinggi.
Tantangan terbesar saat Anda mendirikan perusahaan dibanding ketika menjadi karyawan?
Tantangan terbesarnya adalah perbedaan pola pikir antara karyawan dan pengusaha. Ketika menjadi karyawan, kita menerima gaji rutin setiap bulan. Tapi sebagai pengusaha, kita yang harus menggaji karyawan.
Kalau dulu tanggal 1 terasa lama karena menunggu gajian, kalau sekarang terasa cepat banget karena harus membayar gaji karyawan, he, he, he…
Jadi, mengelola cashflow adalah tantangan tersendiri. Apalagi saya pernah gagal waktu mendirikan perusahaan IT. Waktu itu saya terlalu percaya kepada seseorang dan menjalankan bisnis yang sangat bergantung pada pihak ketiga, tanpa kontrol penuh.
Saya saat itu tidak menguasai instrumen keuangan. Akibatnya, saya sempat tertipu, kemudian bisnis saya hancur, tutup. Sampai akhirnya saya merasa siap secara mental dan finansial untuk membangun TransTrack.
Apa yang Anda pelajari dari kegagalan tersebut?
Dulu tuh pekerjaannya based on project. Ketika project selesai, baru mendapat pembayaran. Lalu harus lobbying lagi, terima proyek lagi. Dari situ saya belajar. Saya lebih prefer membangun bisnis yang revenue-nya lebih terprediksi. Lebih pasti dibanding based on project.
Walaupun mungkin awalnya sedikit, sedikit, sedikit, tapi seperti TransTrack sekarang revenue-nya sudah lumayan. Sustainable business itu yang benar-benar harus kami bangun.
TransTrack mengalami jatuh bangun juga?
Tentu. Kami sempat terpuruk saat pandemi. TransTrack didirikan pada 2019. Tahun 2020, pandemi Covid-19 menghantam kami. Sebagian besar pelanggan kami adalah operator transportasi publik. Ketika Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) diterapkan, mereka berhenti beroperasi.
Separah apa kondisinya waktu itu?
Wah, saya sampai masuk kol 5 (kolektabilitas 5) di Bank Indonesia (BI) checking (sekarang SLIK OJK). Padahal, kami tetap memiliki kewajiban kepada vendor telekomunikasi yang harus dibayar setiap bulan.
Banyak pelanggan menunda pembayaran, tetapi pelayanan kepada pelanggan kami di sektor logistik tetap harus berjalan. Sebab, meskipun orang bisa berhenti sementara, barang tetap harus dikirim. Kami tetap harus memberikan layanan sesuai komitmen.
Bayangkan, pendapatan kami berkurang drastis, tetapi kewajiban kepada vendor tetap harus dipenuhi, termasuk gaji karyawan.
Kunci TransTrack mampu bertahan?
Untungnya, saya memiliki tim yang luar biasa. Tim ini sebagian saya bawa dari perusahaan lama. Hingga kini, 75% tim saya berasal dari perusahaan sebelumnya, mereka ikut membangun TransTrack.
Saat itu, kami hanya berjumlah 12 orang, termasuk saya. Gaji sempat dicicil. Saya bahkan mengizinkan para karyawan mencari pekerjaan tambahan karena TransTrack belum bisa membayar penuh. Begitu ada pembayaran dari pelanggan, kami membayarkan kepada vendor terlebih dahulu, lalu mencicil gaji karyawan.
Apa yang membuat mereka begitu loyal?
Prinsip saya sederhana. Sebagai pemilik dan direktur utama, saya harus menjadi orang terakhir yang menerima gaji, seperti seorang nakhoda kapal. Ia adalah orang terakhir yang meninggalkan kapal saat kapalnya karam. Saya lebih memilih mengutamakan tim dan keberlangsungan perusahaan agar operasional tetap berjalan.
Memang ada konsekuensinya. Akibatnya, kewajiban pribadi, seperti cicilan rumah dan mobil harus dikesampingkan.
Saya sampai di Kol 5 di BI checking (SLIK OJK). Aset sudah banyak dijual, bahkan nilai tunai asuransi pun sudah dicairkan demi memastikan perusahaan tetap bertahan.
Kenapa Anda memutuskan bertahan?
Ini pertanyaan bagus. Suami saya sempat menyarankan supaya saya berhenti dan kembali menjadi dosen agar hidup lebih tenang. Ia bahkan sempat meminjam uang dari kantornya untuk membantu saya.
Namun, saya yakin rezeki sudah diatur Tuhan. Saya juga merasa bertanggung jawab terhadap tim yang sejak awal percaya kepada saya dan ingin berkembang bersama-sama.
Selain itu, pelanggan kami masih tetap menggunakan layanan TransTrack. Artinya, pasar kami bagus dan produk kami diterima dengan baik. Jika perusahaan tutup, bagaimana dengan pelanggan yang sudah mempercayai kami?
Jalan keluarnya saat itu?
Di tengah pandemi, saya baru mengenal dunia startup dan venture capital. Salah satu pelanggan kami saat itu adalah startup logistik yang baru mendapatkan pendanaan dari venture capital.
Saya mulai mencari tahu lebih lanjut tentang ekosistem ini dan akhirnya memutuskan untuk ikut kompetisi startup She Loves Tech 2020, yang dikhususkan untuk founder perempuan.
Karena TransTrack sudah berbasis revenue, kami bukan sekadar startup dengan ide atau MVP (minimum viable product). Akhirnya kami masuk sebagai finalis dan mendapatkan akses ke jaringan venture capital.
Setelah itu, saya mengikuti Female Founders Mentoring Awards dari Cocoon Capital, Singapura, yang akhirnya membawa kami mendapatkan pendanaan sebesar US$ 550.000 pada Agustus 2021.
Dari bootstrap selama 2,5 tahun, akhirnya kami mendapatkan pendanaan pertama. Itu terasa luar biasa. Namun, dana tersebut cepat habis dalam tujuh bulan karena ekspansi dan rekrutmen.
Melihat pertumbuhan kami yang baik, Cocoon Capital kembali mendukung dengan pendanaan seed kedua sebesar US$ 400.000 pada April 2022. Kami terus berkembang hingga mendapatkan pendanaan pre-series A pada Januari 2023 dan series A pada Agustus 2024.
Saat pertama berdiri pada 2019, kami hanya berjumlah 12 orang di Bandung dan Jakarta. Kini, setelah enam tahun, tim kami telah berkembang menjadi 292 orang di 140 kota di Indonesia, serta ekspansi ke Malaysia, Singapura, dan Australia. Tahun ini, target kami adalah ekspansi ke Timur Tengah.
Bagaimana Anda memandang pendanaan dalam bisnis startup?
Pendanaan memang membantu pertumbuhan perusahaan, tetapi saya selalu mengingatkan tim bahwa TransTrack bukanlah startup yang hanya mengejar valuasi. Sejak awal, kami berorientasi pada profit and loss (P&L), bukan sekadar growth at all costs.
Kami menjual produk dengan margin yang sehat dan selalu berprinsip bahwa cash is king, dalam arti net cash flow dari operasional harus positif.
Artinya strategi “bakar uang” tidak berlaku bagi TransTrack?
Jika perusahaan terus bergantung pada dana investasi tanpa menghasilkan keuntungan nyata, sampai kapan akan bertahan?
Banyak startup hanya fokus mengejar revenue tanpa memperhitungkan biaya ekspansi yang besar, sehingga akhirnya terus merugi. Saya percaya fondasi perusahaan yang kuat harus didasarkan pada profitabilitas.
Filosofi Anda membangun perusahaan dan mengelola karyawan?
Saya ingin membangun perusahaan yang tumbuh bersama. Ada kebanggaan tersendiri saat melihat karyawan yang dulu lajang, kini menikah, memiliki keluarga, dan berkembang bersama TransTrack.
Dari naik kendaraan umum, kini mereka bisa mencicil motor, mobil, bahkan rumah. Beberapa dari mereka yang awalnya staf biasa, kini menjadi supervisor, manajer, hingga VP (vice president).
Nilai-nilai itu ada dampaknya bagi perusahaan?
Ketika perusahaan dalam masa sulit, niat baik founder dan direksi akan membawa banyak doa dari karyawan. Di TransTrack, kami berjuang bersama. Saya harus menumbuhkan sense of belonging perusahaan di hati seluruh karyawan.
Saat ini, jumlah karyawan kami lebih dari 290 orang, dan saya ingin TransTrack terus bertahan dan berkembang. Tidak adil jika hanya jajaran direksi yang menikmati hasil, sementara karyawan kesulitan.
Saya tidak ingin terjadi seperti beberapa startup lain di mana CEO sudah menerima gaji besar, tetapi karyawannya belum dibayar.
Cara Anda membangun rasa memiliki perusahaan di kalangan karyawan?
Setiap tahun, kami mengadakan Annual Leaders Meeting. Saya semakin bangga melihat tim yang dulunya memulai dari bawah, kini memiliki inovasi dan koordinasi yang baik. Kami memiliki prinsip bahwa tujuan utama adalah menyelesaikan masalah, bukan mencari siapa yang salah.
Kesalahan bisa menjadi pelajaran, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana kita melangkah ke depan. Dengan cara ini, kami bisa menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan mendukung pertumbuhan bersama.
Itu juga menjadi gaya kepemimpinan Anda di perusahaan?
Ya, memang seperti itu cara saya memimpin. Meskipun tim kami sudah berjumlah ratusan orang, saya selalu terlibat langsung dalam proses onboarding karyawan baru.
Saya percaya bahwa saat menyampaikan budaya perusahaan, nilai-nilai yang dipegang, serta harapan terhadap kinerja di TransTrack, akan lebih bermakna jika saya sendiri yang menyampaikannya.
Anda seorang one-woman show?
Sebagai pendiri dan CEO, saya ingin mereka merasakan langsung visi yang saya bawa untuk perusahaan ini. Bukan berarti saya tidak mempercayai tim HC (human capital) atau HR (human resources), tapi saya ingin memastikan bahwa setiap karyawan, setidaknya, pernah bertemu dan berkomunikasi langsung dengan saya, meskipun hanya melalui Zoom.
Apalagi, tim kami tersebar di berbagai daerah, bukan hanya di Jakarta. Terkadang, bahkan di kantor pusat, ada karyawan baru yang belum saling mengenal, kecuali saat mereka mengenakan seragam hari Senin. Oleh karena itu, saya merasa penting untuk tetap menjalin komunikasi dengan mereka.
Yang paling Anda tekankan saat onboarding karyawan?
Saya selalu menekankan dua hal utama, yaitu proaktif dan empati. Empati itu mudah diucapkan, tapi sulit untuk benar-benar diterapkan. Kita harus bisa melihat dari sudut pandang orang lain, merasakan apa yang mereka rasakan, serta memahami kondisi mereka.
Ketika kita berpikir sebelum bertindak --apakah saya nyaman jika berada di posisi mereka?— maka kita akan lebih berhati-hati dan bisa menahan diri.
Begitu juga dengan proaktif. Saya selalu mengingatkan tim untuk tidak reaktif terhadap situasi. Misalnya, jika seseorang datang terlambat dan alasannya karena hujan atau macet, itu adalah respons reaktif, menyalahkan kondisi yang di luar kendali kita.
Seharusnya, yang bisa kita lakukan adalah mengantisipasi. "Saya kurang pagi berangkatnya.” Itu jawaban yang lebih baik karena menunjukkan bahwa kita bisa mengendalikan diri sendiri.
Hal ini juga berlaku dalam pekerjaan. Jika ada keterlambatan dalam penagihan, jangan hanya menyalahkan pihak lain, misalnya, "BAS (business activity statement) dari customer belum diterima, makanya lambat."
Sebaliknya, tanyakan, "Apa yang bisa kita lakukan agar proses ini lebih cepat?" Bisa saja kita datangi customer, tanyakan kendala mereka, atau cari solusi lain.
Sebesar apa loyalitas pelaggan TransTrack?
Turn rate kami sangat kecil, hanya 0,38% per tahun sejak 2019. Itu berarti mayoritas pelanggan yang berlangganan sejak awal masih bertahan hingga sekarang.
Tapi kadang-kadang kami harus tegas. Jika ada keterlambatan pembayaran dalam jangka waktu yang sudah disepakati, kami tidak ragu untuk menangguhkan layanan sementara. Pelanggan yang benar-benar membutuhkan layanan kami pasti akan segera menyelesaikan pembayaran.
Kami sudah membuktikan bahwa layanan kami berkualitas, solusi yang kami tawarkan matang, dan kami selalu proaktif dalam membantu customer. Jadi, ketika layanan kami ditangguhkan, mereka mengerti dan akhirnya membayar.
Bagaimana Anda membangun budaya kerja di perusahaan yang didominasi laki-laki seperti di TransTrack?
Saya percaya bahwa seorang pemimpin harus menjadi contoh bagi timnya. Lead by example, itu prinsip saya. Apalagi saya perempuan yang bekerja di industri teknologi, sektor yang mayoritasnya laki-laki.
Saat ini, jumlah perempuan di tim kami masih kurang dari 15%. Namun, saya ingin menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan soal gender, melainkan tentang bagaimana kita membawa tim ke arah yang lebih baik dengan sikap proaktif dan empati.
Sebagai seorang pemimpin di industri teknologi yang mayoritas didominasi oleh laki-laki, saya menghadapi berbagai tantangan, terutama di awal perjalanan saya.
Pernah ada yang meragukan kemampuan Anda?
Pernah suatu kali, ketika saya datang ke seorang calon pelanggan, saya tidak diberi tempat duduk. Mungkin karena saya seorang perempuan, berjilbab pula. Mereka meragukan apakah saya memahami teknologi GPS.
Namun, setelah saya membuktikan kemampuan saya, pelanggan tersebut akhirnya memberikan referensi yang luar biasa. Ini menunjukkan bahwa sering kali ada prasangka, tetapi yang penting adalah bagaimana kita membuktikan diri melalui tindakan dan hasil.
Saya selalu menanamkan kepada tim bahwa kepemimpinan harus dengan contoh nyata. Ketika tim menghadapi masalah di lapangan, saya bisa memberikan masukan karena saya sendiri telah mengalami dan menjalani proses tersebut.
Prinsip saya, lebih baik mendengar dulu kebutuhan pelanggan daripada langsung mempromosikan produk. Memahami apa yang benar-benar mereka butuhkan akan membuat solusi yang kita tawarkan lebih relevan dan bermanfaat bagi mereka.
Strategi Anda menghadapi kompetitor?
Saya selalu menekankan kepada tim agar tidak fokus pada kompetitor, tetapi pada peningkatan produk kami. Kami bisa melihat kompetitor, tetapi bukan untuk sekadar meniru, melainkan untuk menjadi lebih baik.
Kami memulai TransTrack dari solusi fleet management system sejak 2019 karena ini adalah layanan yang sudah dikenal luas. Dengan latar belakang saya dan tim di industri fleet telematics, kami memahami bahwa pasar ini besar. Namun, kami juga belajar dari pengalaman bekerja di perusahaan global yang sistemnya cenderung kaku dan kurang fleksibel dalam menyesuaikan kebutuhan pasar lokal.
Saya pernah mengunjungi berbagai negara dan menemukan bahwa kebutuhan bisnis di setiap tempat itu berbeda. Di Indonesia, misalnya, kendaraan beroperasi hingga 10-15 tahun, berbeda dengan Singapura atau Malaysia yang memiliki regulasi lebih ketat. Dari situ, kami berinovasi dan menawarkan solusi yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasar lokal.
Apa saja inovasi dan pengembangan produk yang menjadi unggulan TransTrack?
Salah satu inovasi yang kami perkenalkan adalah kompensasi kecelakaan berbasis asuransi tanpa nama (unnamed basis insurance). Ini memungkinkan setiap kendaraan yang menggunakan sistem TransTrack mendapatkan kompensasi kecelakaan tanpa perlu mencantumkan nama pengemudi secara spesifik.
Kami bekerja sama dengan insurtech untuk memastikan pelanggan mendapatkan manfaat tambahan tanpa biaya premi tambahan. Sejak diperkenalkan pada Oktober 2019, inovasi ini telah meningkatkan penjualan secara signifikan.
Selain itu, kami juga menciptakan fuel stabilizer yang dapat meningkatkan akurasi pengukuran bahan bakar hingga 98%, jauh lebih tinggi dibandingkan sensor standar yang hanya memiliki akurasi 75%.
Ini sangat penting di Indonesia, di mana banyak kendaraan tua yang sistem pengukuran bahan bakarnya sudah tidak akurat. Hingga akhir 2024, kami telah memiliki 17 paten dan kami menargetkan tambahan 9 paten lagi pada 2025.
Kami pun terus memperluas cakupan layanan, tidak hanya di darat tetapi juga di laut dan ke depan udara. Sejak 2024, TransTrack telah menyediakan solusi monitoring untuk kapal dan tongkang, membantu menghemat bahan bakar hingga Rp 165 juta dalam satu kali perjalanan.
Kami juga telah bekerja sama dengan Ikatan Motor Indonesia (IMI) untuk memasang alat keselamatan dalam ajang rally, dan saat ini sedang dalam proses mendapatkan sertifikasi dari FIA (Fédération Internationale de l'Automobile) untuk perlombaan motorsport internasional.
Anda percaya bahwa setiap orang harus menyeimbangkan pekerjaan dengan kehidupan pribadinya?
Saya tidak percaya pada konsep work-life balance karena sulit untuk benar-benar membagi waktu secara ideal 50-50. Sebaliknya, saya menerapkan work-life harmony, di mana pekerjaan dan kehidupan pribadi bisa berjalan selaras.
Dukungan keluarga terhadap karier Anda?
Dukungan dari keluarga sangat penting. Saya beruntung memiliki ibu yang luar biasa dan memahami karakter saya sebagai perempuan yang aktif bekerja. Suami saya juga sangat suportif, bahkan lebih pandai memasak dibanding saya.
Anda juga menjalankan tugas-tugas sebagai ibu rumah tangga di rumah?
Saya percaya bahwa tidak perlu ada perdebatan antara ibu rumah tangga dan ibu bekerja, karena yang terpenting adalah bagaimana seorang ibu tetap menjalankan perannya di keluarga.
Setiap hari saya bangun pukul 04.30 pagi untuk mengurus keluarga sebelum memulai pekerjaan. Saya selalu mengantar anak sekolah agar bisa memiliki quality time bersamanya.
Meskipun sering bepergian untuk urusan pekerjaan, saya selalu berusaha tetap terlibat dalam kehidupan anak saya. Akhir pekan kami manfaatkan untuk menonton film bersama sebagai bentuk kebersamaan keluarga.
Dengan manajemen waktu yang baik dan dukungan dari keluarga serta tim, saya bisa terus mengembangkan TransTrack tanpa mengorbankan hubungan dengan keluarga. Yang terpenting adalah menemukan ritme yang sesuai agar semua aspek kehidupan tetap berjalan secara harmonis. Bahkan saya masih bisa meluangkan waktu untuk menyalurkan hobi saya, yaitu balap mobil sport. Tapi saya balapnya di track resmi ya, bukan di jalanan umum.
Anda sudah merasa sukses?
Jujur, saya nggak merasa sudah sukses. Masih banyak yang ingin saya capai. Bahkan untuk hal-hal kecil, misalnya bisa santai liburan bertiga sama keluarga. Saya punya anak satu, namanya Rio.
Kadang kepikiran, "Aduh, kapan ya bisa benar-benar liburan tanpa mikirin pekerjaan?" Tapi begitu ada update di grup soal pekerjaan, tetap saja excited. Jadi, otak ini masih susah untuk lepas sepenuhnya.
Kebetulan suami juga sama, jadi ya udah, saling memahami aja. Anak saya juga alhamdulillah bisa memahami. Dari kecil dia sudah sering saya ajak ke kantor, sehingga dia ngerti apa itu TransTrack.
Pernah dia tanya, "Mami, kenapa nggak kayak ibu-ibu lain? Nganter sekolah, nungguin di sekolah?"
Saya jawab, "Rio tahu kan Om dan Tante di kantor kerja di TransTrack? Mereka juga punya anak yang harus sekolah, harus dibeliin baju. Kalau Mami nggak kerja, TransTrack tutup dong? Mereka gimana?"
"Oh ya," katanya. Dari situ dia ngerti.
Apa definisi sukses menurut Anda?
Hmm… Kalau buat saya pribadi, sukses itu bukan tujuan, tapi perjalanan. Soalnya, sukses itu sering kali dilihat dari perspektif orang lain. Mungkin orang lain melihat saya sudah sukses, tapi buat saya sendiri masih ada banyak hal yang ingin saya capai. Masih ada sesuatu yang rasanya belum lengkap.
Mimpi Anda yang belum tercapai?
Sederhananya, salah satu impian saya adalah punya panti asuhan, panti jompo, dan shelter untuk kucing. Saya punya kucing di rumah, tapi sejujurnya dari awal saya bukan yang terlalu suka banget sama binatang.
Awalnya, anak saya yang minta kucing karena dia anak tunggal. Ya udah, akhirnya kami adopsi kucing. Yang paling sayang sama kucing sebenarnya suami dan anak saya. Tapi karena ada di rumah, lama-lama saya juga ikut sayang. Dari situ muncul empati.
Di rumah, kucing saya diperlakukan kayak ratu. Makan enak, tidur nyenyak, di-grooming. Tapi pas lihat kucing jalanan yang telantar, rasanya sedih banget.
Apalagi di internet, algoritma kan suka nunjukin konten yang sering kita lihat. Jadi sering muncul video kucing yang disiksa, ditendang, sampai organ dalamnya rusak. Waduh, itu saya bisa nangis.
Dari situ saya kepikiran, kok nggak bikin shelter sendiri aja ya? Biar bisa nolong lebih banyak kucing.
Bagaimana dengan panti asuhan dan panti jompo?
Mungkin karena saya punya anak, jadi empati ke anak-anak kecil juga besar. Kalau lihat anak yang ditinggal orang tuanya atau sakit, rasanya ingin bantu. Begitu pula dengan orang tua yang hidup sendirian. Kita nggak tahu masa muda mereka seperti apa, tapi di masa tua mereka sendirian tanpa keluarga. Kalau bisa membantu, kenapa nggak?
Makanya, suatu saat nanti kalau ada kesempatan, mungkin dengan menjual sebagian saham saya di TransTrack, saya ingin wujudkan tiga hal itu. Sekalian buat tabungan akhirat juga, ya.
Jadi, sukses menurut Anda itu apa?
Banyak orang ngelihat sukses dari sisi materi, seperti jabatan, rumah, mobil. Tapi buat saya, sukses harus lebih dari itu. Sukses adalah ketika kita bisa memberi manfaat bagi orang lain. Dan selama masih ada yang ingin saya capai, saya belum merasa sukses. Masih banyak yang harus dilakukan, sehingga kita tidak berhenti sampai di situ. ***
Biodata
Nama lengkap: Anggia Meisesari.
Tempat/tanggal lahir: Jakarta, 25 Mei.
Jabatan: Founder, owner, dan CEO TransTrack.
Pendidikan:
* Magister Rekayasa Perangkat Lunak - Institut Teknologi Bandung (2003–2005), lulus dengan predikat Summa Cum Laude, IPK sempurna (4,0).
Karier:
* 2019-sekarang: Founder, owner, dan CEO TransTrack.
* Januari-Maret 2019: Country Sales Director PT Cartrack Technologies Indonesia (Cartrack).
* Agustus 2009-Mei 2018: Managing Director PT Business Sofware Solution.
* Desember 2008-Agustus 2009: IT Manager PT Champ Resto Indonesia.
* 1998-2008: Dosen di Poltek LPKIA – STMIK Bandung (sekarang Institut Digital Ekonomi LPKIA).
Penghargaan:
* 100 Women Tech Founders to Watch oleh Founders Forum (2024).
* Finalis Top 10 Indonesian Engineer Award 2005 - Federation of Engineering Institutions in Southeast Asia and the Pacific.
* The Best Graduated Student dari Program Studi Teknik Informatika (Juli 2005) dan The Best Alumnus & Student of the Academic Year 2004/2005 dari Fakultas Teknologi Industri ITB (Oktober 2005).

