Danantara Punya Mimpi RI 'Bebas Sampah' dalam 15 Tahun
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) memiliki mimpi yakni setidaknya dalam 15 tahun ke depan, Indonesia dapat terbebas dari permasalahan sampah yang disebut semakin darurat. Mimpi ini kemudian coba diwujudkan oleh Danantara melalui PT Danantara Investment Management (Persero) dengan mengerjakan proyek Pengolah Sampah Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan Menjadi Energi Listrik (BUPP PSEL) atau waste to energy.
Managing Director Danantara Investment Management, Stefanus Ade Hadiwidjaja mengatakan, permasalahan sampah sebenarnya tidak hanya dialami oleh Indonesia, melainkan juga ditemukan di negara-negara lain. Namun dengan keseriusan negara seperti China, Jepang, serta Eropa, terhadap investasi dan pengembangan proyek pengolahan sampah, permasalahan tersebut justru dapat terselesaikan seiring dengan waktu.
"Kita bermimpi dala, 5, 10, hingga 15 tahun lagi, isu ini di Indonesia makin lama makin hilang. Dan kita bisa menikmati kota yang lebih bersih, lebih sehat," kata dia dalam media briefing yang digelar di kompleks Wisma Danantara, Jakarta, Senin (3/11/2025).
Baca Juga
Danantara Ungkap Bahaya jika Proyek Pengolah Sampah Jadi Listrik Tak Segera Dikebut
Stefanus bercerita, China misalnya, telah serius mengurusi permasalahan sampah sejak 20 tahun lalu. Ia menyebut China dengan jumlah penduduk sekitar 1,5 miliar orang, rata-rata setiap orang menghasilkan sampah sebesar 1 kilogram per hari.
"Jadi kalau 1,5 miliar orang itu berarti 1,5 miliar kilogram per hari, lalu dikalikan saja 365 hari. Sebenarnya isu besar yang dihadapi China 20 tahun lalu. Dan mereka mulai sadar pemerintahnya. Akhirnya mereka mencari berbagai macam teknologi, membeli juga teknologi," ungkapnya.
Menurut dia, pemerintah China kemudian memiliki teknologi incinerator, di mana sampah kemudian diolah menjadi energi listrik.
"Sebagian besar 90% itu hilang jadi bottomless namanya. Dan dengan teknologi yang benar, hasil pembakarannya sebagai flying ash itu boleh dibilang hampir nol, kecil sekali ke udaranya, almost clean. Terus yang bottom ash-nya itu pun sebenarnya bisa diolah lagi, bisa jadi bata dan lain-lain," kata dia menjelaskan.
Baca Juga
Danantara Ungkap Bahaya jika Proyek Pengolah Sampah Jadi Listrik Tak Segera Dikebut
Target 'Groundbreaking'
Sementara itu Danantara Investment Management telah menunjuk sebanyak 24 perusahaan dalam Daftar Penyedia Terseleksi (DPT) Pemilihan Mitra Kerja Sama Badan Usaha Pengembang dan Pengelola Pengolah Sampah Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan Menjadi Energi Listrik (BUPP PSEL) atau yang kerap disebut dengan proyek waste to energy.
Stefanus mengatakan, Danantara akan meminta kepada perusahaan-perusahaan tersebut untuk dapat menggandeng mitra lokal sehingga nantinya dibentuk sebuah konsorsium yang mengeksekusi proyek waste to energy.
Ia menargetkan pada tanggal 6 November 2025 nantinya akan dibuka tender pengelolaan proyek waste to energy di 7 titik kota/kabupaten.
"Masing-masing kota itu akan ada vendornya, jadi bisa ada 7 konsorsium yang menang. Kita juga enggak mau satu konsorsium bisa menang terlalu banyak, kita akan tentukan. Kita akan mulai melakukan tender serempak dimulai tanggal 6 November," ungkapnya.
Stefanus menjelaskan, 24 perusahaan penyedia teknologi yang telah ditetapkan oleh Danantara nantinya akan membentuk konsorsium dengan mitra lokal. Adapun para mitra lokal ini dapat berasal dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), hingga perusahaan swasta.
"Mereka akan melakukan bid untuk masing-masing 7 kota itu. Kalau mereka mau ikut semua tendernya, monggo, kalau mereka mau fokus (satu kota), juga monggo," jelas Stefanus Ade.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyampaikan alasan memilih 24 perusahaan asing dalam DPT BUPP PSEL.
"Kalau sekarang batch 1 ini semuanya memang asing. Dari Jepang, China, dan Eropa. Kenapa? Karena memang batch 1 ini kita mau buat tendernya cukup cepat. Untuk itu karena itu kita cari pemain yang memang sudah berpengalaman," jelasnya.
Ia menekankan Danantara tidak menutup kemungkinan apabila ada perusahaan lokal yang berminat mengajukan proposal sebagai DPT BUPP PSEL dalam batch-batch selanjutnya.
Stefanus menyebutkan, Danantara menargetkan agar proyek ini dapat segera groundbreaking setidaknya pada awal tahun 2026.
"Fokus kita sekarang masih di batch 1 dulu supaya ini jadi proyek pertama. Kita mau tendernya juga bisa cepat dilakukan, sehingga di quarter 1 tahun depan, bulan Maret atau bulan April, mudah-mudahan kita sudah siap bisa groundbreaking di awal-awal tahun 2026," ungkapnya.

