Sukses Bukanlah saat Berada di Puncak
JAKARTA, investortrust.id - Kesuksesan kerap diidentikkan dengan jabatan, kekayaan, dan pencapaian-pencapaian lainnya yang bersifat materi. Seseorang akan dianggap sukses jika ia sudah berada di puncak karier, puncak kemakmuran, dan “puncak-puncak” pencapaian lahiriah lainnya.
Tapi Entjik S Djafar punya definisi sendiri tentang kesuksesan. Bagi Direktur Utama Dana Rupiah yang juga Ketua Umum Asosiasi Fintech Pendanaan Indonesia (AFPI) ini, barometer kesuksesan bukanlah pencapaian seseorang saat ia berada di puncak.
“Ukuran kesuksesan bukan saat kita berada di atas, tetapi saat kita jatuh terpuruk dan bisa naik melampaui keberhasilan yang pernah kita peroleh sebelumnya,” kata Entjik kepada wartawan investortrust.id, Bagus Kasanjanu, Dicki Antariksa, dan Abdul Aziz di kantor AFPI kawasan Mega Kuningan, Jakarta, baru-baru ini.
Entjik Djafar pernah terpuruk hingga titik terendah dalam hidupnya. Kisah itu bermula saat ia ingin menjajal dunia baru sebagai pengusaha, dengan merintis bisnis batu bara dan pembangkit listrik (power plant).
Saat itu, Entjik begitu yakin pengalamannya malang melintang di dunia perbankan selama puluhan tahun bisa melapangkan jalan menjadi pengusaha sukses.
Rupanya, garis tangan berkata lain. Bisnisnya ambyar. Alih-alih untung, Entjik malah buntung. “Saya terpuruk, saya hancur. Aset-aset dijual untuk membiayai sekolah anak-anak saya di luar negeri. Saya nyaris tak punya apa-apa,” tutur Entjik.
Tapi Entjik Djafar tak patah arang. Berbekal pengalamannya sebagai bankir, ia mendirikan perusahaan konsultan keuangan. Agar dapurnya tetap ngebul, Entjik mendatangi berbagai bank secara door to door.
Hidup Entjik berubah 180 derajat. Karena hampir semua asetnya dijual dan tabungannya terkuras, Entjik memulai semuanya dari nol. “Untuk menyambung hidup, istri saya berjualan nasi uduk,” ujar dia.
Saat pergi ke bank-bank untuk menawarkan jasa konsultansi, Entjik cuma bisa naik angkot atau metromini, sambil menenteng laptop. Karena dompetnya cekak, ia hanya bisa makan di pedagang kaki lima pinggir jalan.
“Padahal sebelumnya, ke mana-mana, saya naik Alphard, naik Mercy, disopirin. Kalau turun dari mobil dibukain pintu sama sopir atau satpam. Makan pun selalu di restoran mewah,” ucap ahli keuangan dan manajemen yang merahasiakan hari ulang tahunnya itu.
Toh Entjik tak peduli. Ia tak merasa canggung atau turun gengsi. Apalagi para kolega dan orang-orang tercintanya terus memberikan dukungan. “Teman-teman dan orang-orang terdekat saya, terutama istri (alm) dan anak-anak, terus memberikan support. Saya tidak boleh menyerah,” ujar dia.
Itu sebabnya, saat rumor tak sedap tentang dirinya merebak di kalangan teman-temannya, Entjik tak ambil pusing. “Saya tidak merasa malu. Untuk apa? Saya nggaknyolong, kok,” tegas pria berdarah Melayu kelahiran Makassar itu.
Entjik juga mendapat “petuah” dari sekretarisnya saat itu bahwa dunia tidak “membayar” terhadap apa yang diketahui seseorang, melainkan apa yang dilakukannya. The world doesn't pay for what you know, but it pays for what you do.
“Dunia ini tidak membayar kita tentang apa yang kita tahu, apa ilmu kita, apa CV (curriculum vitae) kita. Walaupun dulu kamu dianggap orang hebat, itu nggak ada artinya. Kamu hanya bisa dibayar kalau kamu do something. Kalau diam aja, yanggak dapat apa-apa,” papar dia.
Tentu saja empati dan dukungan terhadap Entjik Djafar tidak datang begitu saja. Semua itu merupakan buah integritas yang dijaga Entjik selama puluhan tahun berkarier di bidang perbankan. “Nggak boleh menipu orang, nggak boleh nyolong, nggak boleh melakukan hal-hal di luar etika bisnis, itu prinsip saya,” tandas dia.
Entjik memang menjadikan integritas adalah segala-galanya. Eksekutif berkaca mata itu percaya, jika ia berhasil menjaga integritas, integritas juga akan menjaganya, baik ketika ia berada di puncak, maupun saat ia terpuruk.
“Kalau punya nama baik, kita tidak mudah goyang. Kalau terpuruk, kita akan naik lagi. Kalau nama saya nggak bagus, sudah lama saya hancur. Silakan cek,” kata dia. Berikut penuturan lengkapnya:
Kapan dan di mana Anda mulai meniti karier?
Saya mulai bekerja di bank tahun 1983. Saya start saat berusia 27 tahun. Sampai sekarang saya sudah bekerja di delapan bank. Cuma, di CV, saya tulis enam bank aja karena di dua bank, saya bekerja very-very short. Nah, setelah itu saya keluar dari industri perbankan, sampai akhirnya masuk ke industri fintech pada 2018 sampai sekarang.
Awalnya saya bekerja di Bank Niaga, di Makassar, tahun 1983. Saya bekerja mulai dari bawah, cuma mungkin nasib saya beruntung. Saya selalu terpilih untuk diikutkan training, sehingga karier saya naik.
Saya di Bank Niaga sampai tahun 1994, lebih banyak di marketing. Saya mulai dari bawah, consumer, commercial, corporate, dan seterusnya. Tahun 1994, saya resign dari Bank Niaga.
Apa yang Anda cari?
Saya ingin tantangan baru. Saya bergabung dengan Bank Jaya International (Jaya Bank), di Jakarta. Di Jaya Bank, saya menjabat sebagai Consumer Banking Division Head. Saya banyak menangani KPR (kredit pemilikan rumah).
Saya kemudian resign dari Jaya Bank pada 1997, setelah itu terjadi krisis moneter 1998. Menjelang krisis moneter, saya masuk Bank Artha Graha (PT Bank Artha Graha Internasional Tbk) sebagai AVP Operation Division Head. Saya benar-benar mengalami krisis moneter saat itu. Pada 1997 kan saya masuk Bank Artha Graha sebagai Operation Division Head. Pada 1998 saya pegang operation di Jakarta. Jadi, krisisnya terasa betul.
Setelah krisis moneter, tahun 2000, saya masuk Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Waktu itu ada kerja sama antara BPPN, Artha Graha, dan Grant Thornton. Posisi saya sebagai Assistant Vice President dan Team Leader Loan Outsourcing.
Lantas pada 2001, saya bergabung dengan Bank Bumiputera (PT Bank ICB Bumiputera Indonesia Tbk) sebagai Senior Vice President untuk Regional Manager Jakarta. Lalu pada 2005 saya masuk QNB (PT Bank QNB Indonesia Tbk) sebagai Business Director.
Pada 2009, saya mendirikan Training Provider Entjik & Partners Consulting yang namanya kemudian diubah menjadi GNV Business Consulting. Pada 2018, saya bergabung dengan PT Layanan Keuangan Berbagi (Dana Rupiah) sebagai Presiden Direktur. Tahun 2009, saat saya mendirikan perusahaan konsultan, adalah titik balik kehidupan saya.
Bisa Anda gambarkan seperti apa krisis moneter 1998?
Waktu itu kerusuhan terjadi di mana-mana. Saya harus buka kantor jam 09.00, jam 10.00 harus tutup karena ada kebakaran, ada kerusuhan, ada perampokan, dan sebagainya. Jakarta sangat menyeramkan waktu itu.
Lebih menyeramkan lagi terjadi PHK di mana-mana, terutama di bank. Banyak teman yang di-PHK. Begitu menyeramkan Republik ini pada zaman itu. Tapi alhamdulillah saya bisa melalui itu semua. Wah, seram sekali. Pergi ke kantor menyeramkan, pulang apalagi. Kerusuhan di mana-mana.
Pada 1998, inflasi Indonesia melambung 77,63%, pertumbuhan ekonomi minus 13,16%. Bank Indonesia (BI) waktu itu sempat menaikkan suku bunga acuan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) hingga mencapai 70,2%. Nilai tukar rupiah ambruk dari Rp 2.500 menjadi Rp 16.800 per dolar AS saat itu.
Hampir semua kredit di bank macet. Bagaimana bisa bayar cicilan kredit kalau bunganya 60%? Orang nggak punya duit, semua nggak punya duit, penjarahan di mana-mana, kerusuhan di mana-mana, ekonomi hancur saat itu.
Saya termasuk orang yang paling beruntung karena mengalami beberapa kali krisis ekonomi, mulai dari krisis 1987 (yang direspons pemerintah dengan Pakto 88/Gebrakan Sumarlin).
Kemudian krisis 1990, namanya krisis tight money policy (kebijakan uang ketat). Bank Indonesia (BI) saat itu melakukan pengetatan uang. Lalu krisis moneter 1997-1998, kemudian krisis finansial global 2008-2009 yang dipicu kasus subprime mortgage di Amerika Serikat (AS).
Setiap krisis ekonomi itu sangat mengerikan. Sangat-sangat mengerikan. Alhamdulillah saya bisa melewati krisis-krisis itu semua, terutama krisis moneter 1998.
Pelajaran yang Anda peroleh dari krisis?
Banyak sekali pengalaman yang saya dapatkan dari krisis ekonomi, terutama krisis moneter. Saat krisis moneter, saya pegang operation di Bank Artha Graha, semua cabang di bawah saya, sehingga tantangannya banyak sekali. Tapi semua itu bisa dilalui.
Alhamdulillah Bank Artha Graha adalah salah satu bank yang lolos dari BPPN. Yang lainnya banyak banget yang ditutup, dilikuidasi, dan seterusnya.
Bahkan, pada tahun 2000, saya masuk ke BPPN. Zamannya Pak Glenn Yusuf dan setelah itu diganti Pak Cacuk Sudarijanto (alm). Orang hebatlah. Saya masuk di situ sebagai outsourcing, servicing agent. Jadi, ada kerja sama antara BPPN, Artha Graha, dan Grant Thornton. Cuma saya mesti keluar dari Artha Graha untuk masuk ke BPPN.
Apa kuncinya?
Pertama adalah karena Artha Graha itu sangat konservatif, sampai sekarang. Kedua, kami waktu itu tidak membiayai perusahaan sesama grup. Kebetulan memang para deposannya kuat, jadi funding-nya sangat kuat. Mungkin juga karena kreditnya tidak terlalu banyak.
Waktu itu kan yang membuat banyak bank roboh karena mereka melanggar legal, lending, limit (3L). Banyak yang membiayai grup, sehingga kalau grupnya jebol ya dia jebol juga. Runtuh sama-sama runtuh.
Artha Graha untungnya tidak membiayai grup pada zaman itu. Setelah itu, kami menjadi servicing agent bekerja sama dengan BPPN. Jadi, BPPN memberi kami portofolio untuk ditagih. Ada yang direstrukturisasi, ada yang kami tagih, ada yang kami jual, dan sebagainya. Intinya bagaimana menyelamatkan kredit. Sebagai servicing agent, kami dapat fee.
Pencapaian karier Anda yang paling monumental?
Setelah dari BPPN kan saya masuk Bank Bumiputera. Saya ditugaskan di Medan, menjadi Regional Manager, untuk membangun cabang-cabang di Sumatra. Salah satu keberhasilan karier saya waktu di bank ya waktu di Medan itu.
Brand Bank Bumiputera sebagai bank pribumi kan sangat kuat. Bank pribumi masuk Medan, padahal kegiatan bisnis di Medan dikuasai orang-orang keturunan Tionghoa. Orang mau berhubungan aja dengan Bank Bumiputera udah malas duluan kan?
Tetapi saya selalu bekerja out of the box. Prinsip saya, saya nggak mau kerja seperti orang lain, saya harus berbeda, dan saya harus luar biasa. Waktu di Jaya Bank, saya melakukan gebrakan untuk KPR dan sebagainya. Di Bank Niaga juga gitu, selalu out of the box, itu prinsip saya.
Yang saya lakukan untuk Bank Bumiputera di Medan saat itu adalah menjadikan Bank Bumiputera sebagai bank yang pertama kali menggelar seremoni pembukaan cabang pake barongsai. Zaman itu masih jarang sekali, dan orang takut.
Saya nggak peduli, pokoknya saya pake barongsai. Tujuannya untuk meng-grab orang-orang Chinese. Terus, Bank Bumiptera juga merupakan bank pertama yang saat Imlek memajang aksesoris Imlek di gedungnya. Saya bikin lampion yang besar, sehingga orang-orang melihat ini sebagai sesuatu yang berbeda. Setelah itu bank-bank lain ngikut.
Waktu itu, kami pun menjadi bank pertama yang membagikan mooncake atau kue bulan kepada para calon nasabah dan nasabah. Apa yang terjadi? Heboh. Masyarakat kaget karena sebelumnya tidak pernah terjadi.
Terus terang aja, ini bukan rasis. Saya rekrut orang-orang keturunan Tionghoa untuk bekerja di front office. Bank Bumiputera, bank pribumi, tapi isinya di depan Chinese semua. Bahkan saya kemudian belajar bahasa Hokkien. Oleh-oleh terindah dari Medan selama saya bekerja di sana adalah bahasa Hokkien, bisa bahasa Hokkien.
Setelah itu, pada 2005, saya resign dari Bank Bumiputera, saya balik ke Jakarta. Saya masuk Bank Kesawan (PT Bank Kesawan Tbk) yang sekarang menjadi Bank QNB Indonesia. Waktu itu saya diutus ke sana oleh pemegang saham baru. Saat saya masuk, bank ini rugi berturut-turut selama lima tahun. Hancur bank ini, rugi lima tahun.
Nasabahnya sangat biasa saja, bahkan levelnya di bawah. Karyawannya begitu lambat. Mungkin karena mereka berada di comfort zone. Akhirnya saya lakukan reformasi di bank ini, saya buat revolusi istilahnya, saya benahi semua.
Saya sebenarnya ‘kerja’ cuma sekitar delapan bulan. Saya masuk pada akhir 2005, start awal pada 2006. Tiga bulan saya beresin dan restructuring semua. Kredit macetnya saya beresin selama tiga bulan.
Pada bulan ke-4, baru saya kerjakan marketing. Sampai Desember akhirnya kami meraih keuntungan Rp 18,6 miliar dari sebelumnya rugi. Kerugian selama lima tahun bahkan ketutup, ruginya ketutup.
Apa yang Anda lakukan saat itu?
Banyak sekali. Pertama adalah restructuring dulu semua karyawan, kita motivasi semua, dan saya benar-benar turun ke lapangan. Saya datang ke cabang. Setiap saya datangi cabang, semua heboh. Misalnya saya mau ke Batam, mereka itu senang banget, bukan takut.
Senang karena saya akan datang membawa bisnis. Bawa ‘muatan’-lah. Kalau nggak, saya nggak mau datang. Strategi seperti itu saya lakukan juga di bank-bank sebelumnya, sehingga bank yang semula rugi berubah menjadi untung.
Setelah kinerjanya bagus, Bank Kesawan akhirnya dijual. Saya waktu itu roadshow ke mana-mana, hingga bank tersebut berjodoh dengan investor dari Qatar. Mereka beli bank itu (Bank QNB Indonesia). Setelah itu, saya keluar. Saya resign, walaupun waktu itu saya ditahan-tahan supaya tidak resign.
Anda berjasa menyehatkan Bank Kesawan, mengapa keluar?
Saya waktu itu mau jadi pengusaha, itu sekitar tahun 2010. Ternyata dari bankir mau jadi pengusaha itu tidak gampang. Tahun 2010, terus terang saja saya terpuruk. Pengen berbisnis batu bara, power plant, dan bisnis lainnya. Tapi nggak jalan-jalan juga. Saya nggak sadar setiap bulan duit saya tergerus, padahal pemasukan nggak ada.
Alhamdulillah ini pelajaran sangat baik dari Allah, dari Tuhan. Alhamdulillah saya hanya sembilan bulan terpuruk.
Apa yang menyelamatkan Anda saat itu?
Untungnya hidup saya sangat konservatif. Saya paling takut kredit, walaupun pernah bekerja di bank. Kecuali credit card, itu pun nggak banyak. Alhamdulillah waktu terpuruk, saya nggak punya kredit, nggak punya pinjaman. Itu yang menyelamatkan saya.
Pada 2011 awal, saya sadar bahwa ini nggak benar, saya nggak boleh jadi pengusaha. Tapi bagaimana mencari nafkah? Akhirnya teman-teman menyarankan agar saya membuka bisnis konsultan dan training provider. Saya pun mendirikan Entjik & Partner.
Akhirnya dari situ saya pegang beberapa bank, mengajar, saya bikin namanya edu event, misalnya bawa 400 karyawan ke satu tempat, ada event-nya, ada outbound-nya, ada indoor, outdoor class, dan sebagainya.
Berkat bantuan teman-teman, saya berhasil bangkit. Saya dibantu, dikasih proyek training karena mereka merasa bahwa saya punya pengalaman di bank cukup banyak, cukup lama.
Salah satu yang saya pegang adalah Bank Pundi (PT Bank Pundi Tbk, sekarang PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk). Bank Pundi baru start, langsung gede, langsung buka cabang hampir 200 kantor cabang. Saya diminta membantu training-nya, saya buatkan training berapa modul di situ. Sekitar 3.000 orang yang saya training pada 2011, 2012, 2013, dan seterusnya.
Tapi kemudian saya berpikir, kalau perusahaan ini pakai nama saya, kayaknya susah berkembang. Akhirnya saya bikin GNV Business Consulting pada 2016. Sampai sekarang masih jalan, kami tetap main di business consulting dan training provider.
Motivasi yang membuat Anda bangkit saat terpuruk?
Saya suka membaca kata-kata bijak, filosofi, atau motivasi. Salah satunya bahwa barometer sukses itu bukan pada saat kita di atas, tetapi saat kita jatuh terpuruk dan bisa naik melampaui sukses yang pernah kita peroleh.
Waktu saya terpuruk, banyak orang yang empati juga ke saya dan memberikan motivasi. Saya bahkan tak menyangka sekretaris saya saat itu ikut memberikan motivasi yang sangat berharga, yaitu the world doesn't pay for what you know, but it pays for what you do.
Dunia ini tidak membayar kita tentang apa yang kita tahu, apa ilmu kita, apa CV kita. Walaupun dulu kamu dianggap orang hebat, itu nggak ada artinya. Kamu hanya bisa dibayar kalau kamu do something. Kalau diam aja, yanggak dapat apa-apa. Itu antara lain yang membuat saya bisa bangkit.
Kondisi saat Anda terpuruk?
Sebelumnya saya punya Alphard, punya Mercy, punya lain sebagainya, itu saya jual semua. Kebetulan waktu itu anak saya sedang sekolah di luar negeri.
Saya waktu itu nggak pernah merasa turun gengsi. Saya pergi jualan dari bank ke bank, dari pintu ke pintu, tenteng-tenteng komputer, tas, naik angkot, naik metromini. Banyak teman yang lihat, sampai kemudian muncul rumor aneh-aneh tentang saya.
Namun saya nggak peduli. Tadinya naik Alphard, naik Mercy. Tadinya, istilahnya, sorry to say, kalau turun dari mobil dibukain pintu sama sopir atau satpam, sekarang naik angkot, naik metro mini. Saya nggak peduli. Makan di pinggir jalan, saya nggak peduli.
Karena itu tadi, the world doesn't pay for what you know. Ini dunia tidak bayar kamu, bahwa kamu pernah direktur, dulu jagoan, dulu orang hebat banget, itu nggak ada.
But, it's pay for what you do. Tapi, kamu bisa dibayar kalau do something. Nah, itu yang saya kerjakan.
Saya juga pegang filosofi Kahlil Gibran bahwa di dunia ini tidak ada tempat berhenti. Lambat tergilas, berhenti mati. Itu yang saya lakukan, saya nggak mau berhenti. Kalau saya berhenti, mati. Dapur nggakngebul. Kalau saya lambat akan dihajar orang lain.
Pelan-pelan akhirnya saya bisa bangkit. Zaman itu, order proyek sebulan Rp 15 juta, lalu Rp 30 juta, terus naik sampai Rp 200 juta per bulan.
Waktu Anda terpuruk, siapa orang yang paling memotivasi Anda?
Almarhumah istri saya. Dia bisa menerima, dan tidak pernah menuntut. Istri saya sampai jualan nasi uduk di sekolah. Dia waktu itu meminta maaf karena dirinya membuat saya malu. Saya bilang, nggak apa-apa. Kenapa kita harus malu? Kita nggaknyolong, yang penting halal. Tidak ada barang haram.
Nilai-nilai itu Anda peroleh dari mana?
Ada peran orang tua juga. Balik lagi kepada anak-anak sekarang. Tidak ada yang instan, harus berdarah-darah. Banyak yang instan, langsung roboh, banyak sekali.
Instan langsung gede, dia akan roboh karena fondasinya tidak kuat, mental nggak kuat. Kalau kita ingin berada di atas, yang paling penting itu mental. Mental itu tidak ada di bangku kuliah. Semua tentang pengalaman hidup, tentang jam terbang.
Apa yang bisa Anda simpulkan dari perjalanan hidup ini?
Yang paling penting adalah integrity. Integrity harus benar-benar dijaga. Nama baik harus dijaga. Kalau integrity kita bagus, nama baik kita bagus, memegang teguh kejujuran, berperilaku baik, dan seterusnya, diterpa apa pun akan kuat.
Tetapi kalau kita bermasalah dalam integrity, kita akan mudah goyang, hancur kita. Jadi, integrity itu, nama baik itu, di atas segalanya. Saya bisa jadi Ketua Umum AFPI, bisa menjadi Chief Executive Officer (CEO) Dana Rupiah juga karena nama baik. Kalau nama baik saya nggak bagus, sudah lama saya hancur.
Boleh cek. Kita nggak boleh menipu orang, nggak boleh nyolong, nggak boleh melakukan hal-hal yang di luar etika bisnis, dan sebagainya. Bagi saya, integrity dan nama baik adalah segalanya. Kalau kita punya nama baik, nama kita bagus, kita tidak akan goyang. Kita terpuruk, akan naik lagi.
Selain integritas?
Saya selalu punya prinsip, saya nggak percaya ada orang bodoh. Saya sangat tidak pernah percaya kalau ada orang bodoh. Yang ada adalah orang tidak mau kerja, atau orang itu tidak mau belajar, atau memang dia belum tahu karena dia belum belajar.
Makanya harus kita kasih tahu. Jadi, saya nggak pernah percaya ada orang bodoh, kecuali kalau memang orang itu nggak normal, itu beda.
Yang saya percaya adalah orang itu tidak mau. Sekali lagi, saya tidak percaya ada orang bodoh dan orang tidak bisa, saya nggak percaya itu. Yang saya percaya, setiap orang harus bekerja dari hati dulu. Kalau hati kita senang, hati kita mau, semua bisa.
Gaya kepemimpinan Anda?
Mungkin saya dekat dengan teman-teman (karyawan), saya nyelem ke bawah. Saya bukan orang di belakang meja, saya harus benar-benar paham, mau tahu semua problem dan apa yang terjadi.
Gaya kepemimpinan saya sih santai aja, saya tidak terlalu suka yang ingin kelihatan berwibawa atau bagaimana gitu. Bagi saya, kalau kita mau dihormati, kita harus memperlihatkan sesuatu supaya anak buah kita respect, misalnya dengan prestasi, dengan karya. Tidak bisa kita hanya ngomong tapi tidak ada prestasi. Anak buah tidak akan percaya.
Cerita Anda ‘hijrah’ dari bank ke perusahaan fintech dan masuk Dana Rupiah?
Pada 2017, saya mulai mengenal fintech, mendengar fintech, tetapi belum terlalu banyak yang saya mengerti. Pada zaman itu, fintech terutama peer-to-peer (P2P) lending, belum terkenal.
Pada 2018, saya diajak oleh sebuah perusahaan untuk join di perusahaan fintech P2P lending, namanya Dana Rupiah. Waktu ada ajakan itu, terus terang aja saya resistan. Saya bilang, wah lu gila, masa kasih kredit nggak pernah ketemu orangnya? Di bank, gua kasih kredit, orangnya ketemu, itu pun masih bisa ngemplang, gimana ceritanya?
Saya mendapat penjelasan tentang teknologi dan sebagainya. Tetapi tetap saja, saya nggak mudeng, nggak ngerti. Di zaman itu kan industri fintech, terutama P2P, masih baru.
Karena saya selalu punya prinsip out of the box dan di China bisnis ini booming, saya mulai berpikir bahwa industri fintech akan booming juga di Indonesia. Saya suka kerja out of the box, jangan sama dengan orang lain, saya nggak mau biasa-biasa aja, saya mau luar biasa. Akhirnya oke, saya coba.
Adaptasinya seperti apa?
Adaptasinya berat sekali, karena sangat bertentangan. Istilahnya fintech ini dalam memproses kreditnya melawan arah, manajemen risikonya jauh berbeda dengan di bank.
Ternyata memang berbeda dari cara melihatnya. Di P2P ini, 70-80% yang mengerjakan prosesnya itu mesin. Makanya proses pencairan dananya cepat sekali. Dari mulai calon borrower melakukan apply, sampai disetujui, sampai disburse ke rekeningnya, itu mesin semua yang kerjakan, nggak ada tangan manusia sedikit pun.
Itu yang waktu awal saya resistan, bagaimana bisa kita percaya kepada mesin? Setelah saya analisisis, akurasi orang dibandingkan mesin ternyata jauh lebih akurat mesin. Kenapa? Umpamanya saya ketemu calon peminjam, dia teman sekampung. Karena satu kampung, pasti ada feeling, ada conflict of interest. Tapi kalau di mesin, nggak ada itu. Fraud lebih bisa dihindari, diminimalisasi.
Kinerja Dana Rupiah saat ini?
Kinerja perusahaan bagus. Saat ekonomi menghadapi banyak tantangan seperti sekarang, kami punya total akun borrowing 11,1 juta, dengan applied transaksi per hari mencapai 5.000. Kami sudah membukukan total nilai transaksi US$ 1 miliar (sekitar Rp 16 triliun, kurs Rp 16.000 per dolar AS), dengan rata-rata total outstanding per bulan US$ 19,75 juta atau sekitar Rp 316 miliar.
Tingkat wanprestasi (TWP) 90 kami juga terjaga rendah di level 2%, nggak sampai 3% (berdasarkan data OJK, TWP 90 industri fintech P2P lending per November 2024 mencapai 2,53%). Tentu kami akan terus meningkatkan kinerja di tengah kondisi ekonomi yang menantang saat ini.
Bagaimana Anda bisa memimpin AFPI?
Saya sudah paling tua di industri ini. Tapi karena hati saya senang dan saya mau, ya bisa dijalankan. Tugasnya kan sangat berat, dan saya tidak digaji di AFPI. Ini kerja sosial. Saya menjadi pengurus sejak 2018. Di AFPI pun sama, bisa tanya teman-teman, saya selalu mengerjakan sesuatu dengan out of the box.
Saya waktu itu baru join, baru 4-5 hari. Dibahaslah saat itu tentang pembentukan asosiasi. Saya mengusulkan diri untuk ikut dalam pengurusan. Teman-teman setuju, maka saya jadi pengurus AFPI 2018, ikut mendirikan juga. AFPI didirikan pada 10 Oktober 2018, kemudian ditunjuk secara resmi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Di AFPI, sekitar November 2018, saya mengusulkan pembentukan LSP (Lembaga Sertifikasi Profesi) Fintech Indonesia. Cuma, teman-teman waktu itu pesimistis karena mengurus perizinannya berat. Alhamdulillah sekarang kami sudah punya LSP. Sebentar lagi, insyaAllah akan diresmikan, license-nya dari BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi).
Kedua, saya mengusulkan agar semua Direksi, pemegang saham, dan Komisaris wajib mendapat sertifikasi AFPI. Nah, pada 2018 akhir, kami mulai, dan disetujui OJK.
Kenapa harus sertifikasi? Karena ini industri baru, semua mesti mengerti aturan. Bukan hanya aturan OJK, banyak sekali, mulai dari peraturan Kemenkomdigi, peraturan BSSN (Badan Siber dan Sandi Negara), Siber Bareskrim Polri, dan lain-lain.
Semua harus mengerti Undang-Undang tentang Perseroan Terbatas (UU PT) juga. Mereka pun mesti training UU Ketenagakerjaan. Asing itu haknya di mana, kewajibannya di mana, dan seterusnya. Peraturan-peraturan OJK semua mesti tahu. Akhirnya itu dapat diimplementasikan dan berjalan sampai sekarang.
Cara Anda menyeimbangkan hidup?
Main sama cucu, saya punya cucu lima. Jadi, kalau hari Sabtu-Minggu, biasanya teman-teman udah tahu bahwa saya nggak bisa diganggu, karena itu adalah ‘hari cucu sedunia’. Anak saya tiga, laki-laki semua.
Orang tua saya dari Riau, Melayu. Semua anak saya dipanggil Entjik, bapak saya juga dipanggil Entjik. Jadi, kalau di rumah saya, tanya ada Entjik nggak? Pasti ada karena semuanya Entjik, ha, ha, ha...
Selain bercengkerama dengan cucu?
Hobi saya jalan-jalan. Ada dua negara yang paling sering saya kunjungi, yaitu Jepang dan Selandia Baru. Hampir semua tempat di Jepang pernah saya kunjungi. Dalam setahun, saya bisa empat kali ke Jepang, hanya jalan-jalan.
Kalau winter, saya ke Hokkaido. Daerah ini punya salju terhalus di dunia. Cucu saya juga suka, jadi kami jalan-jalan bersama. Kalau akhir tahun biasanya dengan cucu, di waktu lain biasanya saya jalan sendiri.
Selain itu, saya hobi koleksi sepatu, mengikuti tren. Saya mengoleksi sejumlah merek sepatu yang saya suka, kebanyakan beli di luar, seperti ini (sambil menunjukkan sepatu kets hitam yang dipakainya). ***
Biodata
Nama: Entjik S Djafar
Tempat/tanggal lahir: -
Pendidikan: -
Karier:
* 1983-1994: Bank Niaga (Marketing and Credit, Senior Service Assistant, Pre‐Prepared Signer, Assistant Manager, terakhir sebagai Credit Commercial Departement Head).
* 1994‐1997: Jaya Bank International (Consumer Divison Head).
* 1997‐2000: PT Bank Artha Graha Internasional Tbk (AVP Operation Division Head).
* 2000-2001: Badan Penyehatan Perbankan Nasional/BBPN - Bank Artha Graha – Grant Thornton (Assistant Vice President, Team Leader Loan Outsourcing).
* 2001‐2005: PT Bank ICB Bumiputera Indonesia Tbk (Senior Vice President untuk Regional Manager Jakarta/Jabodetabek).
* 2005‐2009: PT Bank QNB Indonesia Tbk (Business Director).
* 2009‐2016: Training Provider Entjik & Partners Consulting (Managaing Partner).
* 2016 - sekarang: GNV Business Consulting (President Comissioner).
* 2018 - sekarang: PT Layanan Keuangan Berbagi/Dana Rupiah (President Director).

