Anies Baswedan: Pilihlah Jalan Mendaki Agar Menemukan Puncak-Puncak Baru
JAKARTA, investortrust – Karier politik seorang Anies Rasyid Baswedan berfondasikan kecermelangannya di dunia akademis. Jejak pendidikannya yang mulus semenjak SD hingga bergelar doktor, mengantarkan Anies sebagai rektor termuda di usia 38 tahun, yakni di Universitas Paramadina untuk periode 2007-2015.
Kandidat presiden 2024 yang lahir di Kuningan, 7 Mei 1969 tersebut tumbuh dalam lingkungan keluarga akademisi. Rasyid Baswedan, sang ayah, pernah menjabat Wakil Rektor Universitas Islam Indonesia. Adapun sang ibu, Aliyah, adalah guru besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
Menempuh pendidikan SD hingga SMA di Yogyakarta, Anies meraih beasiswa satu tahun di Amerika saat masih duduk di SMA. Akibatnya, Anies yang mestinya lulus pada 1988, harus molor satu tahun. Dia diterima di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Selama menjadi mahasiswa UGM, Anies bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam dan berhasil menjabat sebagai Ketua Senat Mahasiswa.
Setelah lulus UGM, Anies meneruskan pendidikan S2 di University of Maryland, School of Public Policy, College Park, Amerika Serikat dan S3-nya di Northern Illinois University, Department of Political Science. Keduanya difasilitasi beasiswa.
Segala impiannya untuk mewujudkan gagasan-gagasan di bidang pendidikan dia curahkan semasa menjadi Rektor Universitas Paramadina, sejak 2007. Pada periode itu, Anies mencetuskan Gerakan Indonesia Mengajar, yakni sebuah program atau gerakan inspirasi kaum muda untuk mengajar di daerah-daerah terpencil di Indonesia.
Lewat gerakan ini, Anies bermimpi agar bangsa Indonesia diisi oleh manusia-manusia yang memiliki kepribadian dan budaya yang unggul untuk memajukan dan mensejahterakan Indonesia.
Kegiatan yang pantas diapresiasi dalam Gerakan Indonesia Mengajar adalah mengirimkan anak-anak muda terbaik menjadi pengajar di Sekolah Dasar di daerah-daerah terpencil. Anies juga menggerakkan ribuan orang di berbagai kota untuk mengorganisir dan mengajar selama satu hari di Sekolah Dasar.
Pada era-era itulah Anies kerap melontarkan kata-kata bijak yang inspiratif. Di antaranya adalah ajakan Anies kepada kaum muda agar memiilih jalan mendaki, karena hal itu akan mengantarkan ke puncak puncak baru.
Jenjang Politik
Karier politik Anies Baswedan diawali dengan mengikuti Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat bersama 11 kandidat lainnya, atas undangan Presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada Agustus 2013. Untuk menyukseskan konvensi ini, Anies membentuk sebuah komunitas relawan “Turun Tangan".
“Pemimpin bukan sekadar bisa jadi hero, tapi bisa menciptakan dan menggerakkan hero-hero lainnya ikut turun tangan,” kata Anies saat mensosialisaskan relawan “Turun Tangan”.
Dalam gagasan barunya ini, Anies menyerukan agar semua orang yang terlibat mengurus negeri ini, khususnya kaum muda, mendorong kemunculan calon pemimpin muda yang potensial dan bersih.
Sayangnya, gelaran konvensi ini terhenti di tengah jalan dan tidak berlanjut sampai kontestasi pemilihan presiden 2014, lantaran suara Partai Demokrat merosot drastis.
Popularitas Anies ketika itu langsung ditangkap pasangan Jokowi-Jusuf Kalla yang siap bertarung dalam Pilpres 2014. Tidak tanggung-tanggung, Anies direkrut sebagai tim sukses sekaligus menjadi juru bicara. Kemenangan Jokowi-Kalla membuat Anies dihadiahi sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam Kabinet Kerja 2014-2019. Sayangnya, nuansa rivalitas yang muncul saat itu membuat Anies terkena reshuffle dan tersingkir dari kabinet pada Juli 2016. Posisi Anies digantikan oleh Muhadjir Effendy, yang kini menjabat Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.
Periode Gubernur DKI
Mencermati popularitas dan elektabilitas Anies, maka pada 2017, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Gerindra membujuk Anies untuk mengikuti Pilkada DKI. Padahal, dua partai tersebut berseberangan dengan Anies pada Pilpres 2014. Alhasil, Anies memenangi Pilkada setelah mengalahkan pasangan Ahok-Djarot di putaran kedua. Pada 16 Oktober 2017, Anies bersama Sandiaga Uno dilantik menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2020.
Ada sejumlah prestasi selama Anies menjabat Gubernur DKI Jakarta, mesti tak sedikit sejumlah kebijakannya yang memicu kontroversi.
Salah satu kisah sukses Anies adalah membenahi wajah Ibukota dengan memperbaiki sarana transportasi publik, pedestrian, dan taman kota. Itulah yang membuat DKI menyabet penghargaan Sustainable Transport Award (STA) 2021, khususnya dalam konteks transportasi publik.
Warisan Anies lainnya adalah proyek Jakarta International Stadium (JIS) berstandar FIFA.
Sementara itu, isu kontroversial yang disorot publik semasa kepemimpinan Anies menjabat Gubernur DKI setidaknya ada dua. Pertama, perubahan istilah normalisasi menjadi naturalisasi untuk program pengendalian banjir Ibu Kota pada 2018. Saat awal menjabat sebagai orang nomor satu di Ibu Kota, Anies berani mengubah istilah normalisasi menjadi naturalisasi.
Kontroversi kedua adalah aksi Anies menghentikan proyek reklamasi di Teluk Jakarta pada 26 September 2018. Ketika itu, Anies mencabut izin 13 pulau yang belum dibangun, salah satunya pulau M. Dia beralasan, izin tersebut pantas dicabut lantaran para pengembang reklamasi tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana mestinya.
Suami dari Fery Farhati Ganis yang menikah pada 11 Mei 1996 ini mengakhiri jabatan Gubernur DKI Jakarta pada 16 Oktober 2022.
Pilpres 2024
Seperti juga pada pilpres-pilpres periode sebelumnya, keterbelahan para kubu pendukung masing-masing pasangan calon (paslon) tetap saja terjadi. Meskipun saat ini belum terlihat, atau setidaknya tidak setajam pada pilpres 2019.
Menyadari fenomena itu, Anies mengajak masyarakat untuk bersikap rasional, dengan melihat rekam jejak para kandidat. Dengan bersikap rasional, Anies yakin bahwa masyarakat akan lebih merasa rileks dan tidak mudah tersulut emosi jika terdapat perbedaan pendapat dan pilihan.
Untuk itu, Anies minta rakyat untuk membandingkan prestasi yang pernah dicapai oleh para kandidat. Bagaimana tindakannya, apa yang pernah dikerjakan, prestasi yang pernah dicapai, serta gagasan yang pernah dimunculkan dan bagaimana gagasan menjadi realita.
Penghargaan
Atas berbagai kiprahnya di bidang pendidikan, sosial, maupun politik, Anies Baswedan mendapat sejumlah penghargaan, baik di level nasional maupun tingkat dunia. Majalah Foreign Policy Amerika Serikat menyebut Anies Baswedan sebagai salah satu dari 100 Tokoh Intelektual Publik Dunia pada 2008. World Economic Forum (WEF) mentasbihkan Anies sebagai salah satu Pemimpin Muda Dunia Global pada 2009.
Kemudian pada 2010, Anies Baswedan memborong tiga penghargaan internasional. Yakni dari Majalah Foresight (Jepang) sebagai salah satu '20 Pemimpin Masa Depan Dunia', lembaga International Policy Studies (IIPS) Jepang menganugerahi Nakasone Yasuhiro Awards, serta lembaga Royal Islamic Strategic Studies Centre (Yordania) menjuluki Baswedan sebagai '500 Muslim Paling Berpengaruh di Dunia'.
Pada akhir 2009, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan Anies sebagai anggota Tim-8 dalam kasus dugaan pidana terhadap pimpinan KPK saat itu, Bibit dan Chandra. Anies pun ditunjuk sebagai Ketua Komite Etik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Kini, Anies dicalonkan oleh Partai Nasdem sebagai kandidat presiden di Pilpres 2024, berpasangan dengan Muhaimin Iskandar (Cak Imin), didukung oleh PKS dan PKB.
Salah satu misi pasangan Anies-Muhaimin atau “Amin” adalah memenuhi kebutuhan dasar rakyat yang diyakini sebagai langkah pertama negara untuk mewujudkan keadilan sosial bagi rakyatnya.
“Negara harus mewujudkan kemandirian pangan, ketahanan energi, dan kedaulatan air untuk memastikan bangsa Indonesia mampu melanjutkan perbaikan kesejahteraan dalam jangka panjang,” demikian isi misi pasangan “Amin” tersebut.
Ada satu lagi pernyataan menarik Anies dalam sebuah pidatonya. “Jika pemimpin pasang badan buat rakyat maka rakyat akan pasang badan untuk pemimpinnya.” ***
CURICULUM VITAE
Nama : Anies Rasyid Baswedan
Lahir : Kuningan, 7 Mei 1969
Istri : Fery Farhati Ganis, Spsi, MSc
Anak :
1.Ismail Hakim
2. Mikail Azizi
3. Kaisar Hakam
4. Mutiara Annisa
PENDIDIKAN
SD IKIP Labrotori II, Yogyakarta (1982 )
SMP Negeri 5, Yogyakarta (1985)
SMA Negeri 2, Yogyakarta (1989)
Fakultas Ekonomi UGM, Yogyakarta (1995 )
S2 – University of Maryland, School of Public Policy, College Park, Amerika Serikat (1998 )
S3 – Northern Illinois University, Department of Political Science, DeKalb, Illinois, Amerika Serikat (2005)
KARIER
· Peneliti dan Koordinator Proyek di Pusat antar Universitas (PAU) Studi Ekonomi UGM (1994 - 1996)
· Peneliti pada The Office of Research, Evaluation, and Policy Studies, Northern Illinois University (2000 - 2004)
· Research Manager di IPC, Inc., Chicago, Illinois, Amerika (2004 - 2005 )
· Direktur Riset The Indonesian Institute, Center for Public Policy Analysis, Jakarta (2005 - 2009)
· Peneliti Utama di The Indonesian Survei Institute (LSI), Jakarta (2005 - 2007)
· Rektor Universitas Paramadina (2007 - 2011 )
· Pendiri dan Ketua Gerakan Indonesia Mengajar (2010)
· Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah dalam Kabinet Kerja (2014-2016)
· Gubernur DKI Jakarta (2017-2022)
PENGHARGAAN
1. Top 100 Intelektual Publik, Majalah Foreign Policy (2008).
2. Pemimpin Global Muda, World Economic Forum (Juni 2010).
3. Nakasone Yasuhiro Awards (Juni 2010).
4. 500 Muslim Paling Berpengaruh, Yordania (2010).
5. Penghargaan Soegeng Sarjadi untuk Inisiatif Hak Asasi Manusia (Oktober 2011).
6. Anugerah Integritas Nasional, dari Komunitas Pengusaha Antisuap (Agustus 2013).
7. Penghargaan Tokoh Inspiratif, dari Anugerah Hari Sastra Indonesia (Juli 2013).

