Konsolidasi Industri Reksa Dana Menemukan Jalan Terang
JAKARTA, investortrust.id – Industri reksa dana di Indonesia mengalami jatuh bangun. Nilai aktiva bersih (NAB) sempat mencapai titik terendah dan perannya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tertinggal dibanding negara lain. Jumlah produk reksa dana terus merosot. Persaingan sesama Manajer Investasi (MI) tidak sehat.
Namun, perlahan industri reksa dana bangkit. NAB terus meningkat seiring gencarnya sosialisasi dan literasi, infrastruktur distribusi yang makin baik, serta kemudahan yang diberikan oleh regulator. Konsolidasi yang terjadi di industri reksa dana telah menemukan jalan terang.
Demikian mengemuka dalam diskusi “Tantangan Investasi Reksa Dana di Tahun Politik” yang digelar investortrust.id di Jakarta, Senin (18/09/2023).
Acara yang dipandu Pemimpin Redaksi investortrust.id Primus Dorimulu itu menghadirkan pembicara Presiden Direktur PT Principal Asset Management Naresh Krishnan, Direktur Utama PT Sucorinvest Jemmy Paul, Presiden Direktur PT Trimegah Asset Managemen Antony Dirga, Direktur PT Panin Asset Management Rudiyanto, Chief Investment Officer PT STAR Asset Management Susantio Chandra, Direktur PT Bahama TCW Investment Management Budi Hikmat, dan Direktur PT Infovesta Utama Parto Kawito.
Animo masyarakat berinvestasi di reksa dana atau mutual fund menunjukkan tren positif. Gairah masyarakat menaruh uangnya di produk investasi ini bisa dilihat dari jumlah investor reksa dana yang terus meningkat. Begitu pun dana kelolaan reksa dana, yang diukur berdasar asset under management (AUM) atau nilai aktiva bersih (NAB) industri reksa dana nasional, tetap bertumbuh.
Mengacu data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), jumlah investor pasar modal Indonesia mencapai angka 11,58 juta investor (single investor identification/SID) per Agustus 2023. Angka tersebut naik 1,41% dari Juli 2023 yang sebanyak 11,42 juta dan tumbuh 12,32% sepanjang tahun (ytd). Dari jumlah itu, investor reksa dana mendominasi sebesar 10,85 juta atau naik 13% (ytd). Sedangkan jumlah investor saham dan surat berharga lainnya menembus angka 4,94 juta atau naik 11,46% (ytd). Adapun jumlah investor Surat Berharga Negara (SBN) tercatat naik 13,42% (ytd) mencapai 943.020.
Sedangkan dari sisi dana kelolaan, berdasar data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), NAB industri reksa dana (RD) nasional mencapai Rp 516,68 triliun per akhir Agustus 2023, atau tumbuh 1,67% sepanjang tahun berjalan (ytd). Namun angka itu turun Rp 3,42 triliun atau 0,66% dibandingkan periode bulan sebelumnya yang sebesar Rp 520,10 triliu.
Dana kelolaan tersebut belum memasukkan Reksa Dana Penyertaan Terbatas (RDPT) yang mencapai Rp 26,19 triliun, Dana Investasi Infrastruktur (DINFRA) Rp 7,88 triliun, Discretionary Fund atau Kontrak Pengelolaan Dana (KPD) Rp 277,54 triliun, Dana Investasi Real Estat (DIRE) Rp 10,33 triliun, dan Efek Beragun Aset (EBA) Rp 2,06 triliun.
Jika dihitung seluruhnya termasuk reksa dana, maka total dana investor yang dikelola manajer investasi (MI) mencapai Rp 840,658 triliun per Agustus 2023. Angka tersebut sudah melampaui capaian dana kelolaan sepanjang tahun 2022 yang sebesar Rp 828,74 triliun.
Sementara jumlah unit penyertaan industri reksa dana sebanyak 384,83 miliar unit per akhir Agustus 2023. Angka itu naik 1,41% sepanjang tahun berjalan, dan hanya naik tipis jika dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 384,42 miliar. Di sisi lain, jumlah produk reksa dana berkurang 161 produk atau 6,92% sepanjang tahun berjalan menjadi tersisa 2.166 produk.
Direktur Bahana TCW Investment Management Budi Hikmat mengatakan, kesadaran investasi masyarakat mulai tumbuh pesat saat pandemi Covid-19. ‘’Investor punya potensi besar bagi reksa dana dan awareness ini sudah muncul sejak pandemi. Reksa dana dianggap sebagai instrumen investasi yang aman dan cuannya nyaman,’’ papar Budi Hikmat.
Terlalu Banyak MI
Bagaimana peta industri reksa dana pasca-pandemi dan bagaimana progres terkini dan prospek ke depannya?
Presiden Direktur PT Principal Asset Management Naresh Krishnan menyatakan, jumlah perusahaan MI (Manajer Investasi) di Indonesia terlalu banyak, sehingga memicu persaingan yang tidak sehat. Selain itu, dengan jumlah pemain yang banyak, sulit mengharapkan tumbuhnya perusahaan dengan skala bisnis besar.
Bila di Indonesia jumlah MI mencapai 95 perusahaan, berbeda dengan di India. Di negara asal Bollywood ini hanya ada 30 MI, padahal jumlah penduduknya mencapai 1,43 miliar jiwa. “Akibatnya, jumlah MI banyak, tapi skala bisnisnya tidak besar,” kata dia.
Menurut Naresh, dengan terlalu banyak pemain, industri tidak punya daya tawar yang kuat. Ia membandingkan dengan Malaysia dan Thailand, yang mempunyai kekuatan tawar. Begitu juga dengan India. “Di India, peduduk lima kali lebih besar, hanya punya 30 perusahaan dalam konsolidasi. Tapi, bisnisnya berskala besar,” ujarnya.
Jumlah MI yang banyak akan mengakibatkan terjadi perebutan pasar. Terutama, di pasar discretionary fund atau kontrak pengelolaan dana (KPD). Karena pasarnya terbatas, bisa saja terjadi jor-joran penawaran fee, yang ujung-ujungnya merusak industri secara keseluruhan.
Di samping itu, untuk mengembangkan MI, kata Naresh, perlu membangun skala bisnis agar bisa menawarkan produk yang tepat dan tidak ada yang salah. Perlu membawa praktik terbaik untuk melihat bagaimana menyediakan produk yang berbeda. “Kalau produknya itu saja, dan tidak menarik, nasabah bosan,” kata Naresh.
Antony Dirga juga menyoroti terlalu banyaknya MI di Indonesia. AUM Rp 500 triliun lebih dikelola hampir 100 manajer investasi (MI). Padahal, di negara-negara lain, terutama negara-negara maju, AUM sebesar itu hanya ditangani satu perusahaan atau satu MI saja. “Di sini, 95 player MI harus sharing bersama. Sangat-sangat berat sebenarnya. Semoga ke depan persaingan industri kita semakin baik,” tutur dia.
Di Indonesia saat ini terdapat 95 MI aktif yang mengelola hampir 4.000 produk RD, dari mulai RD saham, RD pendapatan tetap, exchanged trade fund (ETF), RD campuran, RD pasar uang, global fund, RD terproteksi, RD indeks, hingga RD berbasis sukuk.
Dari Rp 512,70 triliun AUM itu, RD pendapatan tetap menempati porsi terbesar (27,96%), diikuti RD saham (21,58%), RD terproteksi (19,54%), RD pasar uang (17,29%), RD campuran (4,52%), ETF (2,80%), global fund (2,71%), RD indeks (2,61%), dan RD berbasis sukuk (1%).
Jatuh-Bangun NAB
Terkait penurunan nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana sepanjang 2020-2023, Rudiyanto mengatakan, tak hanya dipengaruhi pandemi Covid-19. Penurunan dipengaruhi atas beberapa kasus-kasus di pasar modal. Hal ini membuat orang ragu berinvestasi.
Kasus tersebut membuat investor institusi menahan investasi, seperti pengelola dana pensiun dan asuransi. “Lembaga-lembaga tersebut dulu berinvestasi besar-besaran, tapi karena ada kasus tersebut investasi dikurangi,” terangnya.
Penurunan NAB reksa dana juga dipicu gencarnya bank menarik dana nasabah. Perbankan nasional tengah membutuhkan dana besar untuk melanjutkan pertumbuhan kredit. Adanya kasus-kasus tersebut dimanfaatkan bank untuk gencar menarik dana nasabah.
Faktor lain pemicu penurunan NAB adalah jumlah produk RD yang ditawarkan. Tahun 2019 tercatat 2.181 produk RD, kemudian meningkat menjadi 2.219 RD pada 2020, turun menjadi 2.198 pada 2021, sebanyak 2.120 produk pada 2022, dan hingga Agustus 2023 hanya menyisakan sebanyak 1.952 produk RD.
Begitu juga dengan jumlah unit penyertaan (UP) yang beredar, tahun 2019 tercatat 424,79 miliar UP, tahun 2020 menjadi 435,14 miliar UP, tahun 2021 turun menjadi 420,66 miliar UP, tahun 2022 turun drastic menjadi 376,25 miliar UP, dan terakhir Agustustus 2023 menjadi 386,13 miliar UP.
“Tapi, di satu sisi, saya melihat selama satu tahun terakhir, regulasi menjadi lebih ketat. OJK memperketat regulasi setelah sejumlah kejadian tersebut. Manajer investasi yang kerjanya benar dan susuai aturan, diprediksi akan mencetak pertumbuhan NAB ke depan,” terangnya.
Karena itulah, NAB perlahan bangkit. Jika di akhir 2022 NAB masih Rp Rp 504,86 triliun, per akhir Agustus 2023 naik ke level Rp 521,73 triliun. Tren peningkatan NAB reksa dana telah terlihat sejak Mei 2023.
Meski demikian, NAB masih di bawah raihan tahun 2019-2021. NAB tahun 2019 mencapai Rp 542,19 triliun, tahun 2020 meningkat menjadi Rp 573,43 triliun, dan tertinggi tahun 2021 senilai Rp 578,43 triliun.
Sementara itu, berdasarkan data OJK, dana kelolaan reksa dana terpusat di 20 manajer investasi hingga Agustus 2023. Data tersebut menyebutkan bahwa sebanyak 88,8% dari total dana kelolaan reksa dana sampai Agustus 2023 dipegang 20 MI dari total 95 MI yang terdaftar.
Angka tersebut tidak jauh berbeda dengan posisi tahun 2019 bahwa sebanyak 86,5% dana kelolaan reksa dana berada di kantor 20 MI.
Outlook 2027
Presiden Direktur PT Trimegah Asset Management, Antony Dirga menjelaskan, penurunan AUM reksa dana terjadi karena OJK menerbitkan beleid baru yang melarang perusahaan asuransi menginvestasikan dana nasabah di unit link pada reksa dana. Namun, seiring penurunan AUM reksa dana, nilai KPD justru naik. “Ada peralihan, AUM reksa dana turun, tetapi KPD naik,” tutur dia.
Itulah sebabnya, Antony meminta para MI tidak perlu pesimistis. Apalagi potensi pasar reksa dana di dalam negeri sangat besar, mengingat kontribusi AUM reksa dana terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional baru mencapai 5%, jauh lebih rendah dari negara-negara tetangga, seperti Malaysia dan Thailand, yang sudah mencapai 30%.
Antony optimistis dana kelolaan (asset under management/AUM) industri reksa dana melonjak tiga kali lipat menjadi Rp 1.500 triliun dalam 5-7 tahun mendatang dibanding saat ini sekitar Rp 516,68 triliun. Alhasil, target AUM yang dipatok Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebesar Rp 1.000 triliun pada 2027 bakal terlampaui.
“AUM Rp 1.000 triliun pada 2027 yang ditargetkan OJK bisa dengan mudah tercapai. Bahkan, AUM bisa tumbuh tiga kali lipat dalam tempo 5-7 tahun dari saat ini,” kata Antony Dirga.
Antony Dirga mengungkapkan, peningkatan AUM hingga tiga kali lipat dalam 5-7 tahun mendatang bisa dicapai karena ekonomi Indonesia masih terus tumbuh rata-rata 5% per tahun, dengan inflasi yang tetap terjaga dan nilai tukar stabil.
Selain itu, menurut Antony, kekayaan sekitar 10,5 juta investor reksa dana akan meningkat, sehingga mereka bakal menambah investasinya di instrumen tersebut. Apalagi peran AUM industri reksa dana terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia masih sangat rendah, baru sekitar 5%. Padahal di Malaysia dan Thailand sudah 30%.
Baca Juga
Mantap! AUM Reksa Dana Bakal Melonjak Tiga Kali Lipat Menjadi Rp 1.500 Triliun dalam 5-7 Tahun
Mana Paling Prospektif?
Pertanyaan bagi investor adalah, jenis reksa dana mana yang memiliki prospek return menarik ke depan? Direktur PT Panin Asset Management Rudiyanto memperkirakan, tingkat imbal hasil (return) RD pendapatan tetap dan campuran akan bertumbuh pesat pada 2024-2025. Pertumbuhan didukung ekspektasi penurunan tingkat suku bunga pada periode tersebut, baik di Indonesia maupun di tingkat global.
Penurunan suku bunga juga bakal berimbas pada industri pasar modal secara keseluruhan. “Bayangkan ada peluang penurunan suku bunga dari 5% ke 3,5%,” ungkapnya.
Jika penurunan suku bunga ini sesuai perkiraan, terang dia, RD berbasis obligasi secara return akan tumbuh pesat. Begitu juga dengan RD campuran yang berinvestasi besar di obligasi.
Khusus RD saham, menurut Chief Executive Officer PT Sucorinvest Asset Management, Jemmy Paul Wowointana, kinerjanya kurang meyakinkan seiring dengan kinerja pasar saham yang relatif stagnan. Sebab, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat hanya menguat 1,50% secara year to date hingga akhir Agustus 2023.
Bahkan, performa kurang apik RD saham terjadi dalam kurun waktu tujuh tahun terakhir. Dalam kurun waktu 2017 – 2023, IHSG hanya bergerak dalam rentang 6.600 – 7.000. “Penyebabnya kita lihat, IHSG relatif tidak kemana-mana (stagnan), sehingga berbanding lurus dengan kinerja reksa dana saham secara industri,” papar Jemmy Paul.
Baca Juga
Ini Penyebab Kinerja Reksa Dana Saham Relatif Stagnan 7 Tahun Terakhir
Meski demikian, periode stagnan RD saham diyakini Jemmy Paul segera berlalu. Ke depan dia optimistis reksa dana bisa kembali merebut singgasana penghasil return tertinggi dibanding reksa dana jenis lain. Jemmy juga melihat pertumbuhan pasar saham didorong oleh makin membaiknya kondisi global, di mana asumsi penurunan suku bunga mulai mengemuka seiring penurunan inflasi global.
Baca Juga
Strategi ke Depan
Para pembicara juga membeberkan sejumlah strategi ke depan untuk membangkitkan dan membenahi industri reksa dana. Salah satunya adalah sosialisasi dan literasi investasi kepada masyarakat yang lebih gencar, termasuk generasi milenial dan zilenial. Hal ini, kata Naresh, sekaligus untuk mencegah mereka terjebak oleh tawaran investasi bodong.
“Mereka perlu mengenal produk yang akan dimasuki dan mengetahui risikonya, tidak hanya mendengarkan iming-iming keuntungan,” kata Naresh.
Menurut Naresh, sangat penting untuk mengedukasi masyarakat. Ia mengajak MI memberi lebih banyak waktu untuk kembali ke banyak populasi. Menghadirkan generasi milenial baru sebagai produk utama.
Lantas, apa yang harus dilakukan MI dalam mengajak zilenial untuk berinvestasi?
Naresh memberi gambaran, salah satu masa depan industri asuransi jiwa adalah fokus mereka pada solusi. Bagaimana mencapai tujuan hidup. “Salah satu hal utama yang ingin kita fokuskan adalah bagaimana bisa membantu semua generasi milenial. Bagaimana mereka bisa menabung secara rutin,” ujarnya.
Jadi, kata dia, salah satu hal penting di seluruh pasar adalah program tabungan rutin. Bisa menyimpan untuk jangka panjang. Bahkan jika memiliki keuntungan 2%, lebih baik dalam 30-40 tahun.
“Perlu membantu masyarakat belajar dan menemukan solusi untuk kehidupan mereka dan itu akan menjadi transisi yang sangat penting dalam industri ini,” tegas Naresh.
Pandangan senada diungkapkan Antony Dirga. Pertumbuhan AUM harus didukung oleh upaya-upaya literasi dan edukasi keuangan oleh semua pihak. Sebab industri reksa dana merupakan bisnis kepercayaan yang harus terus ditingkatkan.
“Sejatinya pengawasan industri reksa dana sudah sangat ketat di RI, begitu juga dengan tata kelola manajer investasi sudah begitu maju. Hal ini harus disampaikan dengan baik untuk meningkatkan keparcayaan masyarakat pada industri ini,” tutur Antony.
Hal penting berikutnya, kata Naresh, adalah penguatan infrastruktur distribusi. Perlu membangun infrastruktur distribusi, sehingga dapat menjangkau 200 juta orang dalam 5-10 tahun ke depan.
Terkait dengan rekomendasi investasi, menurut Naresh, perlu dilihat profil risiko dari nasabah. Profil risiko yang rendah, sebaiknya di pasar uang, RD pendapatan tetap atau obligasi yang lebih aman dan kondusif. Untuk yang memiliki profil risiko tinggi, RD saham bisa jadi opsi.
Selain itu, untuk keamanan dana nasabah, perlu regulasi yang mendukung. Menurut Naresh, sebagian besar peraturan saat ini adalah tentang menjaga nasabah, melindungi nasabah. Objek utama regulator adalah melindungi, sehingga berjalan dengan baik. “Jadi ini bagus untuk lebih memudahkan agar kita semua bisa fokus menumbuhkan industri. Tahun lalu kita fokus pada regulasi. Kita perlu mengembangkan bisnis,” paparnya.
Chief Investment Officer PT STAR Asset Management Susanto Chandra juga mendorong agar literasi investasi kepada generasi muda ditingkatkan. Generasi zillennial atau Z, yang berumur 11-26 tahun, dalam sensus Penduduk Indonesia tercatat mendominasi, mencapai 27,94% dari total populasi.
Untuk meningkatkan jumlah investor ke depan, Susanto menegaskan, regulator juga berperan penting. "Kalau kita lihat saat pandemi Covid-19 kemarin, industri ritel meningkat signifikan. Hal tersebut tidak terlepas dari peran regulator yang mempermudah dari segi opening account, sehingga semua proses bisa dijalankan dengan lancar," ucap Susanto.
Baca Juga
OJK Diharap Libatkan Pelaku Industri Reksa Dana Saat Melansir Aturan
Susanto meminta regulator industri pasar modal untuk mempermudah aktivitas para pelaku pasar. Regulasi yang dipermudah akan semakin membuka pengembangan berbagai jenis investasi ke depan. "Industri pasar modal khususnya reksa dana kita masih tertinggal jika dibandingkan negara tetangga di kawasan Asia Tenggara. Jadi, penting bagi regulator untuk mempermudah regulasi bagi pelaku pasar," tandas Susanto. (CR-1/CR-2/CR-5)

