Jatuh untuk Bangun, Bukan untuk Tidur
JAKARTA, investortrust.id - Setiap orang pasti pernah mengalami jatuh, terjerembab, terpuruk, hingga di titik nadir. Banyak yang bisa bangkit, tak sedikit pula yang akhirnya menyerah.
Seseorang yang pernah jatuh dan bisa kembali bangkit biasanya menjelma menjadi pribadi yang lebih kuat, tahan banting (resilient), tak mudah goyah saat menghadapi masa-masa sulit.
Masalahnya, bangkit dari keterpurukan tidaklah mudah. Selain membutuhkan daya juang tinggi, seseorang butuh trigger (pemicu) untuk bangkit dan kembali berlari. Nah, dari mana trigger itu datang?
“Bersyukur bisa menjadi trigger. Saat terpuruk, lihatlah orang-orang di sekeliling kita yang lebih susah. Dari situ akan muncul rasa syukur. Rasa syukur itulah yang akan memicu kita untuk bangkit,” kata Direktur Utama PT Asuransi Candi Utama, Budi Herawan kepada wartawan investortrust.id, Bagus Kasanjanu, M Defrizal, dan Abdul Aziz di kantornya, kawasan Kasablanka, Kuningan, Jakarta, baru-baru ini.
Budi Herawan adalah eksekutif yang sudah terbiasa jatuh bangun. Bagi pria kelahiran Jakarta, 2 Oktober 1961 ini, jatuh bangun dalam hidup dan bisnis justru diperlukan. Jatuh akan menempa seseorang menjadi lebih kuat. “Konglomerat pun sama, jatuh bangun juga. Jangan cuma dilihat manisnya sekarang,” ujar dia.
Pengalaman jatuh bangun itu pula yang menempanya menjadi eksekutif yang pantang menyerah. “Filosofi saya, jatuh itu bukan akhir dari segalanya. Jatuh itu bukan untuk tertidur, tapi untuk bangun,” tegas pria yang pernah berkarier sebagai konsultan itu.
Puluhan tahun malang melintang di industri asuransi, Budi Herawan dikenal sebagai eksekutif bertangan dingin. Ia berhasil membenahi perusahaan-perusahaan sakit menjadi sehat. Rekam jejaknya itu pula yang membuatnya mendapat amanah untuk mendirikan PT Asuransi Candi Utama.
Asuransi Candi dibangun dari nol. Sejak didirikan sampai sekarang, perusahaan itu tak pernah merugi. “Saya kelola perusahaan ini dengan sangat prudent. Sesuatu kalau kita bangun pelan-pelan, value perusahaan lama-lama naik dan tumbuh secara sustainable,” tandas dia.
Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) ini juga percaya bahwa keberhasilan tidak bisa diraih dengan ongkang-ongkang kaki, berpangku tangan, atau mengandalkan faktor keberuntungan. Tidak pula lewat jalan pintas. Butuh proses dan perjuangan untuk menggapai kesuksesan.
Itu sebabnya, untuk memetik kesuksesan, seseorang membutuhkan jam terbang. “Tidak ada yang smooth semua. Tidak ada yang instan. Butuh proses, butuh perjalanan,” tutur Budi Herawan.
Ayah dua anak yang semasa muda bercita-cita menjadi bankir ini mengakui, seseorang yang sedang terpuruk cenderung sulit menyadari bahwa ia harus bangun dan tak boleh berlarut-larut dalam kepedihan.
“Banyak yang udah jatuh, ya udah, give up aja. Padahal, kalau kita sadar bahwa kita itu jatuh untuk bangun, bukan untuk tidur, setiap masalah berat yang kita hadapi pasti lebih mudah diatasi,” papar dia. Berikut penuturan lengkapnya:
Apa definisi sukses menurut Anda?
Bagi saya, sukses itu kategorinya banyak ya. Berhasil di suatu bidang sesuai penugasan, itu juga bisa dikatakan sukses. Artinya, kita berhasil melaksanakan amanah yang diberikan pimpinan, shareholder, atau anggota, bagaimana kita menjaga amanah itu agar bisa mencapai satu tujuan. Intinya sih gitu.
Bagaimana Anda bisa sampai ke posisi saat ini?
Ceritanya panjang. Tapi karier ini dibangun dari zero. Memang tidak serta-merta. Ini lebih kepada kemampuan diri yang terus diasah, sehingga mencapai satu titik seperti sekarang. Orang tua saya memberikan fondasi yang kuat dalam diri saya.
Pernah mengalami jatuh bangun?
Oh, sering. Jatuh bangun sih biasa ya. Tapi saya punya filosofi bahwa jatuh itu bukan untuk tidur, tapi untuk bangun. Setelah jatuh, kita harus bangun. Bukan tertidur, tapi bangun.
Saya belajar dari orang tua saya. Orang tua saya juga berkarier di pemerintahan, di BUMN. Saya banyak belajar dari beliau, bagaimana menerapkan disiplin ilmu pada anaknya. Itu menjadi pijakan saya juga.
Bukankah ‘bangun’ setelah ‘tidur’ itu tidak mudah?
Benar, untuk menyadari bahwa kita harus bangkit setelah jatuh itu susah. Banyak yang udah jatuh, ya udah give up aja. Nah, di situlah perlunya motivasi.
Motivasi seperti apa yang diperlukan untuk bangkit?
Kalau saya lebih ke motivasi diri sendiri. Kalau masih merasa punya tanggung jawab besar, kita bisa segera bangkit, baik tanggung jawab terhadap diri sendiri, maupun tanggung jawab terhadap orang lain. Juga tanggung jawab terhadap lingkungan.
Dan yang paling penting adalah menjaga integritas. Kalau integritas dibangun dari awal, tentunya waktu kita jatuh, banyak yang akan mengulurkan tangan untuk membantu. Saya percaya itu.
Apa pemicu yang dapat membuat seseorang termotivasi dan cepat bangkit setelah terpuruk?
Saat terpuruk, seseorang akan cenderung sampai pada titik atau fase yang dia merasa, oh saya udah nggak bisa lanjut lagi nih, menyerah. Untuk segera bangkit banyak trigger-nya.
Saat jatuh, saya selalu melihat ke sekitar. Seperti diajarkan orang tua saya, lihatlah orang-orang di sekeliling kita yang lebih susah. Dari situ akan muncul rasa syukur. Rasa syukur itulah yang akan memicu kita untuk bangkit.
Artinya trigger harus berasal dari dalam?
Paling bagus kalau berasal dari dalam. Rasa syukur akan membuat kita tahu jati diri kita. Dari situ kemudian muncul rasa tanggung jawab. Tuntutan ekonomi itu juga kan bagian dari tanggung jawab.
Jatuh bangun juga terjadi di perusahaan yang Anda pimpin?
Istilahnya pasang surut, mungkin. Pasang surut di suatu perusahaan, saya pikir, adalah hal yang wajar. Dalam dunia bisnis, jatuh bangun itu wajar sih. Begitu pula dalam kehidupan. Tidak ada yang smooth semua. Tidak ada jalan pintas.
Saya pikir, konglomerat pun sama, jatuh bangun juga. Jangan dilihat manisnya saat posisi yang ada sekarang. Perjalanan, jam terbang, itu sangat diperlukan.
Jam terbang penting, tapi bukankah teori juga diperlukan?
Bagi saya sih porsinya 50-50. Pengalaman itu ilmu yang sangat berharga, jam terbang. Teori juga penting, tapi ada beberapa aspek dalam teori yang tidak bisa menjadi pijakan untuk dipraktikkan. Maka untuk mencapai kesuksesan dalam memimpin suatu perusahaan atau organisasi, kita harus mengombinasikan praktik dan teori.
Jangan lupa, talenta tak kalah penting. Jadi, tidak serta-merta dari pengalaman atau teori. Kalau kita tidak punya talenta, tentu leadership ini tidak bisa terbangun.
Apa yang Anda lakukan saat perusahaan mengalami fase ‘surut’?
Perusahaan itu kan organisasi, banyak yang terlibat. Saat posisi perusahaan ada di bawah, sebagai Chief Executive Officer (CEO) atau Direktur Utama, saya dituntut bagaimana meng-encourage karyawan, teman sesama direksi, bagaimana memahami direksi. Memerintah, memberi arahan, memberi instruksi kepada bawahan untuk mencapai visi-misi perusahaan, itu hal yang sangat penting saat kinerja perusahaan menurun.
Cerita awal karier Anda hingga memimpin Asuransi Candi?
Saya masuk ke industri asuransi pada 1986. Latar belakang pendidikan saya adalah ekonomi. Tapi cita-cita menjadi seorang ahli asuransi nggak ada di benak saya saat itu.
Saya pernah bekerja juga di beberapa perusahaan konsultan. Waktu itu ada yang mengajak saya bergabung dengan perusahaan besar. Saya masuk dari bawah. Tapi akhirnya saya keliling dari satu divisi ke divisi lainnya, diberi kepercayaan oleh pimpinan waktu itu.
Saya nggak banyak pindah-pindah industri. Jadi, dari konsultan langsung masuk ke asuransi, masuk Asuransi Tugu. Kebetulan mirip, jadi tidak terlalu banyak membutuhkan adaptasi. Di Asuransi Tugu sekitar 25 tahun.
Terus, saya jadi pimpinan, jadi Direktur di Tugu Reasuransi, perusahaan reasuransi. Dari situ saya pindah ke Victoria Insurance. Selanjutnya saya pindah ke Bosowa Asuransi, minta bantu beresin. Dari sana saya ke Aspan (Asuransi Purna Artanugraha).
Tapi sebelum ke Aspan, saya diperbantukan dulu karena Otoritas Jasa Keuangan (OJK) perlu orang seperti saya untuk menjadi Staf Ahli. Saya di OJK selama dua tahun sebagai Staf Ahli Deputi, kemudian ke Aspan. Setelah itu, saya diminta bangun perusahaan ini, Asuransi Candi.
Saya diminta, bisa nggak bangun perusahaan? Ya, visi perusahaan ini saya yang bikin juga sebenarnya. Sampai sekarang, alhamdulillah perusahaan ini survive.
Ada filosofi khusus di balik nama Asuransi Candi Utama?
Dulu saya bingung juga cari nama. Akhirnya saya ambil Candi. Bagi saya, candi itu adalah suatu yang sakral dan mampu bertahan dalam kondisi apa pun. Umur candi itu ribuan tahun, tapi masih utuh. Saya menginginkan perusahaan ini seperti candi, bertahan lama. Andai saya udah nggak di sini lagi, saya ingin perusahaan ini bisa tetap eksis, tentunya dengan mengikuti perubahan zaman.
Kita tahu rata-rata umur perusahaan 80-90 tahun, ada yang 100. Tapi kalau kita mengikuti roda ekonomi, mengikuti perubahan-perubahannya, harusnya kita juga tetap sustain.
Kinerja bisnis Asuransi Candi?
Alhamdulillah, perusahaan ini kebetulan saya bangun dari nol, saya bangun fondasinya. Dari berdiri sampai sekarang alhamdulillah nggak pernah rugi. Bertumbuh terus. Tahun lalu, kami membukukan laba komprehensif Rp 16,77 miliar, naik 39% dibanding Rp 12,04 miliar pada 2023.
Saya kelola perusahaan ini dengan sangat prudent, sangat berhati-hati, karena pemegang saham juga minta nggak usah terlalu terburu-buru mengejar pertumbuhan. Sesuatu kalau kita bangun secara pelan-pelan, value perusahaan lama-lama akan terus naik juga kan? Perusahaan ini harus tumbuh secara sustainable.
Saya sih bersyukur ‘kapal’ saya belum terlalu gede. Kalau ibaratnya kapal pinisi, kami masih lincah. Kalau ada ombak, saya bisa nyender ke kapal induk di sebelahnya, aman gitu. Ini karena umur kami baru lima tahun. Mungkin setelah 10 tahun, saya juga harus berpikir, sebagai nakhoda ya harus switching juga.
Ada niat untuk IPO?
Ke depan, saya melihat ada kemungkinan untuk melakukan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO), setidaknya karena fundamental di market sudah cukup kuat. Lima tahun bagi saya sudah cukup. Tinggal bagaimana perusahaan ini masuk ke jangka menengah.
Bagaimana Anda melihat industri asuransi umum saat ini dan ke depan?
Ya, industri asuransi sedang tidak baik-baik saja. Sebagai Ketua Umum AAUI, ini yang selalu saya tekankan kepada teman-teman. Saya juga mohon bantuan karena asosiasi nggak bisa bekerja sendiri. Ada stakeholders lainnya. Ada pemerintah, ada pelaku industri (perusahaan asuransi), ada nasabah.
Industri asuransi juga berkaitan langsung dengan kondisi ekonomi makro. Ini harus kita jaga agar semua bisa tumbuh. Secara umum, industri asuransi saat ini sedikit stagnan ya. Yang tumbuh itu hanya yang punya captive market.
Banyak hal yang harus kita benahi, termasuk regulasi. Tentu nggak gampang. Makin banyak regulasi kan makin banyak yang dilanggar karena kebutuhan. Saya juga bilang ke regulator, beresin dulu regulasinya.
Kalau melihat negara-negara Asean yang lain, hati saya kadang miris. Vietnam dulu belajar dari sini, sekarang kita ketinggalan. Kita cuma di atas Kamboja. Kebetulan ketua asosiasi kamboja dulu orang lama di sini, kerja dengan saya di sini, orang bule. Ini bukan pekerjaan asosiasi saja. Ini pekerjaan regulator dan para pelaku industri juga, harus bersama-sama.
Anda sudah merasa sukses?
Belum, saya masih nggak ada apa-apanya. Cuma, di industri asuransi ini, senangnya kan kita bisa membantu sesama, itu suatu kebanggaan bagi saya. Ada kepuasan batin.
Begitu pula waktu saya ditunjuk untuk memimpin asosiasi ini (AAJI). Saya bilang, kenapa saya? Mereka bilang, jam terbang, teori, networking saya cukup mumpuni. Saya bilang, nggak lah masih banyak orang pintar. Lalu mereka bilang bahwa orang pintar tidak menjamin perusahaan akan sukses.
Ibarat Anda seorang pendaki gunung, apa kesimpulan Anda setelah mendaki dari bawah sampai puncak?
Sampai di titik ini, saya masih banyak kekurangan. Masih banyak. Hidup nggak ada yang sempurna. Orang Jawa bilang jangan jemawa. Masih banyak orang yang lebih pintar lagi. Sekarang bagaimana kita mengombinasikan lagi yang di bawah dengan yang di atas untuk mencapai satu tujuan perusahaan.
Apa yang paling berkesan selama Anda berkarier di industri keuangan?
Kebetulan dari beberapa penunjukan, saya masuk ke jajaran direksi di perusahaan-perusahaan yang kondisinya tidak baik-baik saja. Nah, itu saya terima dengan lapang dada. Tentunya dengan satu tujuan, yaitu agar perusahaan yang tidak baik-baik itu bisa menjadi sehat kembali, bisa berkiprah lagi. Alhamdulillah, semua yang ditugaskan kepada saya dapat diselesaikan dengan baik.
Pandangan Anda tentang keseimbangan hidup?
Keseimbangan hidup sangat penting. Jangan duniawi aja yang dikejar. Akhirat juga harus dikejar. Kadang-kadang lupa, duniawi dikejar, akhiratnya lupa. Kita harus seimbang. Kita pun nggak bisa ngejar akhirat terus, harus seimbang. Sama-sama.
Kalau semua orang berpikir seimbang, dunia dan akhirat, saya yakin kita semua akan menjadi lebih baik. Kalau ini diterapkan, kita bisa bebas dari korupsi dan perilaku menyimpang lainnya.
Kegiatan Anda saat weekend?
Dulu sih masih golf. Terus sepedaan bersama teman-teman, bangun networking. Sekarang cukup jalan kaki aja. Kadang-kadang bersama anak. Anak saya dua, satu putri, satu putra. Yang putri 16 tahun, yang putra baru empat tahun, masih kecil.
Anda tipe pekerja seperti apa?
Kalau saya gini, saat bekerja, pada titik jenuh, saya nggak mau paksa, selesai. Tapi kalau dibilang tipe workaholic, mungkin ya, terutama saat usia saya masih muda. Sekarang sih nggak terlalu kayak dulu lah, jam 21.00, jam 22.00 sudah selesai. Dulu biasa jam 23.00. Sekarang saya rata-rata masuk kerja jam 07.00. Dulu jam 06.00 sudah di kantor.
Gaya kepemimpinan Anda?
Saya lebih bottom-up karena saya harus mendengar aspirasi dari teman-teman di bawah, lalu menyatukannya menjadi satu kesatuan yang berjalan secara harmonis.
Cara Anda mengelola karyawan?
Karyawan sekarang kan generasi milenial dan Gen Z. Mengelola mereka nggak gampang, nggak gampang. Beda dengan zaman saya dulu. Jadi, saya harus pintar-pintar berupaya agar mereka bisa bertahan dan mau bekerja.
Mereka ini kan punya karakter berbeda, kalau tidak suka ya tinggalin. Ini PR kita bersama. Tapi alhamdulillah di sini mereka betah. Setiap pagi kan saya selalu ada coaching dan doa bersama. Di situlah saya bangun satu teamwork yang kuat. Doktrin-doktrin itu saya sampaikan kepada semua karyawan bahwa perusahaan ini milik kalian semua.
Jangan sampai Anda jatuh, dan Anda harus punya mimpi. Wujudkan mimpi Anda semua dengan kerja keras. Alhamdulillah, walau selama lima tahun perusahaan ini tanpa ada istilahnya branding, tetapi orang-orang sudah tahu.
Andai waktu bisa diputar mundur dan Anda diminta memilih, karier apa yang akan Anda pilih?
Saya sih jujur, banking. Dulu saya ingin sekali masuk banking. Cuma, apa namanya, garis tangan mungkin berbeda. Ya udah, dijalanin aja. Saya tekunin.
Kalau saya, kalau sudah di suatu tempat, saya lebih senang untuk berkarya di situ dalam waktu yang cukup lama. Rata-rata saya bekerja di perusahaan cukup lama. Nggak ada yang turn-over tinggi. Saya dulu lama di Asurasi Tugu, itu hampir 25 tahun. Di Tugu Re juga satu periode.
Mimpi Anda yang belum tercapai?
Karena saya gede di industri ini, saya ingin industri asuransi benar-benar sehat dan semuanya taat regulasi. ***
Biodata
Nama lengkap: Budi Herawan.
Tempat/tanggal lahir: Jakarta, 2 Oktober 1961.
Pendidikan: Fakultas Ekonomi - Universitas Krisnadwipayana, Jakarta (1981-1986).
Karier:
* Agustus 2023 - sekarang: Komisaris Utama PT Reasuransi Maipark Indonesia.
* Agustus 2018 – sekarang: Direktur Utama PT Asuransi Candi Utama.
* Juli 2018 - November 2022: Komisaris Utama PT Partnerindo Inti Cipta.
* Mei 2016 - Desember 2018: Direktur Utama PT Asuransi Purna Artanugraha (Aspan).
* Januari 2015 - Mei 2016: Direktur Teknik PT Asuransi Purna Artanugraha (Aspan).
* Juni 2015 – 2018: Komite Renumerasi PT Asuransi Bintang Tbk.
* Juni 2014 - Juni 2015: Komisaris Independen PT Asuransi Bintang Tbk.
* Januari 2014 – 2015: Staf Ahli Kepala Departemen IKNB II Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
* Februari 2012 - Desember 2013: Direktur Marketing PT Bosowa Asuransi.
* 2010 – 2012: Direktur Utama PT Victoria Insurance.
* April 2008 - Mei 2010: Direktur Teknik PT Tugu Reasuransi Indonesia.
* Juli 1998 - Juli 2010: PT Tugu Pratama Indonesia (April 2008 - Juli 2010: merangkap jabatan sebagai Direktur Operasional/Teknik PT Tugu Reasuransi Indonesia).
* 2004 – 2010: Underwriting Group Head (Vice President) - All Class of Business Underwriting Group.
* 2003 – 2004: Executive Underwriter (Assistant to Vice President) - All Class of Business Underwriting Group.
* 2001 – 2003: Senior Manager of Underwriting. Department - All Class of Business - Non Marine Division.
* 1999 – 2001: Manager of Fire Department - Non Marine Division.
* 1994 – 1999: Section Manager of Underwriting Fire - Non Marine Division.
* 1993 – 1994: Claim Engineering of Non Marine Division.
* 1991 – 1993: Underwriter of Aneka of Non Marine Division.
* 1988 – 1991: Auditor.
* 1986 – 1987: Penilaian dan Konsultan PT Satyatama Graha Tara.
Lain-Lain:
* Maret 2023 - sekarang: Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI).
* Agustus 2024 – sekarang: Tim Penilai Kemampuan danKepatutan dari Unsur Eksternal Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
* September 2023 – sekarang: Anggota Pengawas mewakili AAUI di Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa Sektor Jasa Keuangan (LAPS SJK).

