Lambat Tergilas, Berhenti Mati
JAKARTA, investortrust.id - Karier dan rezeki seseorang ternyata bertali-temali langsung dengan dedikasi dan kesungguhan bekerja dan menjalani hidup. Jika ia sungguh-sungguh berkarier dan menjalani nafkah, Tuhan juga akan sungguh-sungguh memberinya karier, rezeki, dan kemudahan hidup.
Begitu pula sebaliknya. Tuhan akan malas memberikan kelapangan karier dan pintu rezeki kepada seseorang yang malas, tidak sungguh-sungguh, tak punya etos, ogah-ogahan dalam bekerja.
“Sering tak disadari, karier, rezeki, dan kesuksesan adalah buah dari kesungguhan kita dalam bekerja, berkarier, atau menjalani hidup,” kata Direktur Utama Bank Luna, Joko Purwanto kepada wartawan investortrust.id, Taufiq Al Hakim, Dicki Antariksa, dan Abdul Aziz di Kantor Pusat Bank Luna, kawasan BSD City, Tangerang, Banten, Jumat (10/1/2025).
Filosofi bahwa kesungguhan atau totalitas dalam bekerja akan menentukan karier dan jalan hidup seseorang sudah dibuktikan Joko Purwanto. Pria kelahiran Wonogiri, Jawa Tengah, 10 Mei 1979, ini meniti karier dari nol.
Sebelum terjun ke dunia perbankan, Joko pernah bekerja serabutan sebagai tukang parkir, ball boy (pemungut bola) tenis, serta penjual kaos, atribut, dan pernak-pernik grup rock kenamaan, Slank. Tekadnya yang kuat dan kesungguhannya dalam bekerja membawanya ke posisi saat ini.
Di kalangan bankir, Joko Purwanto dikenal sebagai “alumnus STM yang jago mereparasi bank minus”. Tangan dingin Joko pula yang berhasil “menyulap” Bank Luna, dari bank rugi menjadi bank untung.
Joko Purwanto bergabung dengan Bank Luna sejak Oktober 2023. Per Desember 2023, bank yang sebelumnya bernama Koinworks Bank itu masih mencatatkan kerugian Rp 3,09 miliar. Per Desember 2024, Bank Luna sudah untung Rp 7,55 miliar. Penyaluran kredit juga melonjak 467,40% dari Rp 32,15 miliar menjadi Rp 182,42 miliar.
Bank Luna kini jauh lebih efisien dengan rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) 72,25% dari sebelumnya 155,11%, dengan net interest margin (NIM) 7,74% dibanding sebelumnya 2,24%. Bank Luna juga mampu menjaga rasio kredit bermasalah (non performing loans/NPL) di level 0,77%.
Tapi jangan salah. Joko Purwanto pernah jatuh, terpuruk hingga ke titik nadir. Kepergian putranya menghadap Yang Maha Kuasa sempat membuatnya kehilangan jari diri. “Saya saat itu seperti orang gila. Hidup saya hancur. Saya sakit, rapuh, hampir bunuh diri,” tutur Joko, dengan suara bergetar, menahan tangis.
Beruntung ia memiliki istri, saudara-saudara, dan teman-teman yang terus memberinya motivasi. Joko akhirnya berhasil bangkit dan meraih impiannya. Kepedihan ditinggal sang buah hati ternyata menjadi titik balik dan “pelontar” yang dahsyat bagi Joko.
“Saya akhirnya sadar bahwa saya harus bangkit dan terus bergerak. Sebab kalau lambat, saya akan tergilas. Kalau berhenti, saya mati,” ujar pria yang gemar bersosialisasi itu, dengan nada berapi-api.
Berikut penuturan lengkap Joko Purwanto. Wawancara sesekali terhenti karena Joko harus menyeka air mata dan menahan tangis saat mengenang kepergian putranya ke pangkuan Yang Maha Khalik akibat kelainan jantung.
Bisa cerita perjalanan hidup dan karier Anda?
Saya lahir di Wonogiri, Jawa Tengah. Tapi ketika bapak saya berpisah dengan ibu, saya ikut ibu. Ibu saya berjuang sendiri di Jakarta. Itu tahun 1982-1983, waktu saya berumur 3-4 tahun. Ibu saya berdagang.
Waktu SD, saya dititipin lagi di Wonogiri, sama nenek saya. Waktu SMP saya balik lagi ke Jakarta. Di situlah saya kenal dunia Jakarta, saya nyari uang di Kalibata. Bekerja apa aja, jadi tukang parkir, ball boy tenis di kompleks perumahan DPR, dan lain-lain.
Berarti sejak remaja Anda sudah merasakan kerasnya kehidupan Jakarta?
Mohon maaf, waktu SMP, saya sudah tindikan (memakai anting). Rambut saya panjang. Liar saya.
Lulus SMP, saya sekolah di Sekolah Teknik Menengah (STM) Chaptoen (STM Negeri 10, sekarang SMK Negeri 52 Jakarta). Saya lulus tahun 1998. Masuk STM, NEM (Nilai Ebtanas Murni) saya tertinggi. Saya sering ikut tawuran, nakal, tapi pinter, he, he, he…
Dulu kan anak-anak STM hobinya tawuran. Saya pernah tiga kali ketangkep polisi. Ada tuh di koran, saya kliping.
Dua minggu sebelum Ebtanas (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional), temen saya meninggal. Kelindes bus saat tawuran. Wah, merinding saya. Sejak itu, saya sadar bahwa saya harus berubah dan melanjutkan pendidikan.
Saya punya cita-cita zaman SD, kalau bisa, saya mesti kuliah di UI (Universitas Indonesia). Saya harus masuk UI gimana caranya? Jujur, setelah lulus STM, saya tuh rajin salat.
Saya kan berdua dengan ibu. Saya nurut sama ibu. Saya geber lagi tuh belajar. Tahun 1999 alhamdulillah saya masuk Politeknik UI, jurusan Elektro.
Biaya kuliah dari mana?
Saya sempat bekerja di pabrik AC karena pernah magang di situ. Saya ngumpulin uang. Saya kebetulan deket juga dengan Ketua Slank, Dibo. Sahabat saya zaman susah, ya si Dibo itu. Waktu SMP dan STM, saya sering nongkrong di Potlot (Gang Potlot, markas Slank).
Makanya saya deket dengan temen-temen Slankers. Bahkan saya pernah menjadi koordinator Slankers juga. Masuk komunitas Slank mendorong saya untuk mencoba berbisnis kaos, atribut, dan pernak-pernik Slank.
Dibo produksi kaos, striker, dan lain-lain, saya yang jual. Dibo mengajari saya bisnis. Alhamdulillah bisnisnya jalan.
Jadi, kuliah sambil bekerja?
Sambil kuliah, saya tetap bekerja, jualan produk-produk Slank. Saat jualan saya berkembang, ada mahasiswa Guna Dharma yang nawarin saya untuk take over kiosnya di Mall Cijantung karena tak mampu bayar. Nekat, saya ambil. Saya tinggal meneruskan. Produknya saya ganti produk Slank.
Waktu itu saya dapat untung Rp 12 juta, zaman itu udah gede banget. Orang belum punya HP, saya udah beli HP. Saya memang anak orang susah. Tapi kalau bisa, jangan kelihatan susah banget, lah. Ha, ha, ha…
Kuliah sambil bekerja, bukankah itu merepotkan?
Nah, lama-lama saya keteteran di UI. Kuliah sambil bekerja, berat banget. Saya putar otak, gimana caranya gue kerja tapi kuliah tetap jalan? Lah, gue harus pindah kuliah. Idealisme tetap tinggi. Pendidikan nomor 1.
Waktu kuliah di UI, saya sekelas dan duduk semeja dengan Joko Sutarya Danasasmita (almarhum). Karena namanya sama-sama Joko, gue dipanggil JP, dia dipanggil Joky. Joky adalah vokalis grup band Panic Disorder, grup band underground yang cukup dikenal di Indonesia. Kami banyak memiliki kesamaan dan saling memotivasi diri untuk bangkit dan berjuang.
Tahun 2000, semester ke-3 UI, saya putusin pindah kuliah. Saya ambil jurusan Manajemen Pemasaran di Institut Bisnis Nusantara, Jakarta. Bayar kuliahnya mahal, tapi alhamdulillah, saya dapat beasiswa, cuma bayar 25%-nya.
Saya lulus dengan IPK (indeks prestasi kumulatif) 3,73, cum laude. Alhamdulillah, meski kuliah sambil bekerja, IPK saya cum laude karena saya nggak berhenti belajar. Distro jalan terus, tapi belajar juga jalan terus. Waktu itu saya juga mengajar di kampus sebagai Asisten Dosen, sambil bekerja di perusahaan bus, Pahala Kencana, bagian keuangan.
Karier pertama Anda setelah lulus kuliah?
Setelah lulus kuliah, saya diterima di management development program (MDP) PT Bank Danamon Indonesia Tbk, lanjut ke Bank Eka, PT Bank BTPN Tbk (kini PT SMBC Indonesia Tbk), PT Bank Mega Syariah, PT Bank Pundi Indonesia Tbk (sebelum berubah nama menjadi PT Bank Eksekutif Tbk, untuk kemudian menjadi PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk), SME Finance, BPR Gunung Rizki, sampai akhirnya bergabung dengan PT BPR Luna Sinar Indonesia atau Bank Luna (sebelumnya bernama Koinworks Bank).
Saya juga turut menulis buku bersama teman-teman di Ikatan Bankir Indonesia (IBI). Ada dua buku yang kami buat dan diterbitkan Gramedia serta dijual di Gramedia seluruh Indonesia, yaitu Mengelola Kredit Secara Sehat dan Bisnis Kredit Perbankan. Buku dibuat tahun 2014 dan diterbitkan tahun 2015. Berkat buku tersebut, saya mengajar di beberapa bank, pernah mengajar di BNI juga.
Anda sudah merasa sukses?
Definisi sukses itu banyak, tergantung sudut pandang. Orang-orang mungkin sering mengasosiasikan kesuksesan seorang dengan jabatan, harta, atau yang bersifat meteri. Kalau menurut saya, sukses itu bisa bermanfaat untuk keluarga dan orang lain.
Sukses tak selalu berhubungan dengan materi. Punya teman banyak, punya relasi banyak, tetap sehat, dicintai keluarga dan orang-orang, diberi kelancaran dalam berbagai hal, juga bagian dari kesuksesan.
Pernah gagal dan terpuruk?
Saya pernah merasa hidup ini tak berarti saat anak saya meninggal dunia. Itu empat tahun yang lalu. Waduh, rasanya luar biasa. Hampir bunuh diri. Saya frustrasi.
Anak saya udah gede, 7,5 tahun, ganteng. Meninggal setelah operasi jantung. Trauma saya belum benar-benar hilang. Sampai sekarang, saya nggak mau lewat Matraman. Anak saya meninggal di Rumah Sakit Jantung Jakarta. Meninggalnya pas operasi.
Cobaan yang diberikan Tuhan belum berhenti sampai di situ. Tahun 2021 kan pandemi Covid-19 lagi kenceng tuh. Tanggal 12 Januari, anak saya meninggal. Saya langsung drop, sakit. Berat badan saya turun 10 kg. Saya benar-benar merasa kehilangan.
Setiap hari, saya kerja di mana? Di makam anak saya. Kayak orang bego, kayak orang gila. Meeting pun di makam. Bangun tidur, saya langsung pergi ke makam. Nisan lama anak saya sampai sekarang saya taruh di rumah.
Badan saya kurus sekali. Saya kena GERD (asam lambung). Saya hampir bunuh diri. Apalagi sekitar dua minggu setelahnya, saya mendapat kabar bahwa ayah saya meninggal. Saya tidak tahu beliau ada di mana, tapi kabar itu makin membuat saya terpukul. Untung istri saya imannya kuat. Dia terus menasihati saya.
Padahal saya waktu itu punya anak buah di 33 cabang, dari Sumatra sampai Bali. Saya malu karena saat itu saya sebagai Regional Head harus memberikan motivasi dan contoh. Namun saat anak saya meninggal, saya lemah tak berdaya, sehingga saya berhenti kerja. Alhamdulillah dapat pesangon 12 kali gaji, dapat mobil juga. Akhirnya saya bikin bengkel dari hasil pendi itu. Bengkelnya sampai sekarang masih ada, namanya JP AC Mobil di AXC Summarecon Bekasi.
Tapi berarti kan saya menganggur. Nah, saat nganggur itu, saya dikasih motivasi sama guru-guru saya, senior-senior saya. Istri, saudara, dan sahabat-sahabat saya juga terus memotivasi saya. Tahun 2022 saya bangkit.
Apa yang membuat Anda tersentuh?
Ya. Kebetulan tahun 2017 saya mendirikan klub komunitas mobil Pajero. Saya aktif di komunitas. Waktu anak saya meninggal, kompleks perumahan saya penuh mobi Pajero. Semua anggota komunitas datang. Saya juga anggota komunitas mobil Terios-Rush. Mereka datang, padahal Januari 2021 kan Covid sedang kenceng-kenceng-nya.
Kebaikan dan kepedulian mereka ikut menyadarkan saya bahwa saya tidak boleh berhenti. Mantan Direktur saya, Pak Gandhi (Ghandi Ganda Putra, mantan Direktur PT Bank BTPN Tbk dan mantan Direktur Utama Bank Pundi --dahulu Bank Eksekutif) datang.
Guru saya ini bilang, “Lo nggak bisa begini terus, lo masih muda! Gua juga pernah ngalamin. Waktu karier gua lagi tinggi-tingginya, istri gua meninggal. Mana anak gua masih kecil-kecil. Apa nggak gila, gua? Tapi gua bisa bangkit!”
Tahun 2021 kan umur saya baru 42 tahun. Perkataan mereka meresap ke hati saya.
Proses Anda bangkit?
Bangkitnya tuh pas di Semarang. Waktu nganggur, saya ikut pendidikan Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Teman-teman menyarankan, udah lo masuk BPR aja. Kalau di bank umum kan udah kenyang. Tahun 2022, masuklah saya ke BPR Gunung Rizki di Semarang sebagai Direktur Bisnis. Itu BPR terbesar di Semarang.
Saya pulang-pergi setiap minggu, Jakarta-Semarang. Itu bener-bener karena dimotivasi temen-temen dan para senior, selain keluarga juga. Pada Oktober 2023, saya bergabung dengan Bank Luna.
Apa filosofi hidup Anda?
Saya punya prinsip “Terus bergerak, lambat tergilas, berhenti mati”.
Artinya?
“Terus bergerak” artinya kita harus terus bergerak dalam hidup ini. Jangan hanya badan yang bergerak, tapi juga hati dan pikirannya. Misalnya sedang jalan-jalan ketemu nenek-nenek yang berjualan pisang. Kalau sempat, belilah. Kalau tidak bisa, doakan dia. Itu namanya empati.
Bergerak hati itu nggak gampang, lho? Yang satu sedang sibuk bekerja, eh yang lain malah main HP, main game. Itu kan berarti hatinya nggak tersentuh.
Nah, saya mengajak teman-teman karyawan agar hati dan pikirannya terus bergerak demi memberikan manfaat kepada orang lain, kepada perusahaan, masyarakat, negara. Kalau bergerak badan sudah pasti, misalnya staf marketing kan harus bergerak, harus keluar.
“Lambat tergilas” artinya kalau kita lambat, dalam hal apa pun, pasti tergilas. Negosiasi lambat akan tergilas. Perubahan berlangsung sangat cepat.
Lalu “berhenti mati”. Zaman sekarang kalau kita berhenti, mohon maaf, ya mati, mati rezeki, mati karier, dan seterusnya. Makanya pagi-pagi, setelah salat Subuh, tangan saya udah bergerak, kasih arahan kepada anak-anak di perusahaan.
Kalau kita lambat ya kita akan tergilas, apalagi kalau berhenti. Saya juga punya filosofi lain bahwa sepanjang kita punya niat baik, Tuhan pasti menolong. Ini prinsip saya sebagai muslim. Maka saya terkadang seperti orang nekat, padahal itu intinya.
Siapa orang yang paling menginspirasi hidup Anda?
Ibu saya. Saya diajarin ibu saya agar selalu bekerja jujur, profesional. Nggak usah macam-macam.
Nasihat itu Anda terapkan dalam kehidupan sehari-hari?
Kalau bicara kesuksesan dari segi materi, mohon maaf, dari dulu saya kerja di dunia kredit. Kalau mau kongkalikong bisa aja. Tapi saya nggak mau yang haram. Saya mau yang halal, yang berkah.
Apa inti dari seluruh pencapaian Anda ini?
Kesimpulan saya, jika kita sungguh-sungguh bekerja, Tuhan juga akan sungguh-sungguh memberi karier, rezeki, dan kemudahan hidup kepada kita. Sebaliknya, Tuhan akan malas memberikan karier dan rezeki kalau kita malas. Jadi, kesungguhan dan kesuksesan itu adalah kausalitas, sebab akibat.
Gaya kepemimpinan Anda?
Alhamdulillah saya termasuk orang yang bisa membangun tim. Buktinya, banyak anggota tim saya dulu menjadi Direktur. Saya memberikan kebebasan kepada tim, tapi mereka jangan sampai menzalimi perusahaan. Staf marketing, misalnya, nggak perlu ke kantor.
Tapi mereka tidak boleh menzalimi perusahaan. Bahasanya, kalau lo zalim ke perusahaan, lo sama dengan zalimin keluarga karena rezekinya bakal hilang. Kejam saya mah kalau udah urusan begini. Mohon maaf, saya anak STM.
Nilai-nilai yang Anda terapkan di perusahaan?
Selain untuk diri sendiri, nilai-nilai “Terus bergerak, lambat tergilas, berhenti mati” juga saya terapkan di perusahaan.
Perbandingan kondisi Bank Luna saat Anda masuk dan saat ini?
Mohon maaf, kondisi sekarang jauh lebih baik. Tadinya rugi jadi untung. Per Desember 2023, aset Bank Luna masih Rp 157,87 miliar, pada Desember 2024 sudah Rp 213,23 miliar, naik 35%. Laba yang tadinya minus Rp 3,09 miliar menjadi positif Rp 7,55 miliar. Kemudian penyaluran kredit melonjak 467,40% dari Rp 32,15 miliar menjadi Rp 182,42 miliar.
Bank Luna sekarang jauh lebih efisien. BOPO-nya sekarang 72,25%, padahal sebelumnya 155,11%. NIM-nya sekarang 7,74% dari sebelumnya 2,24%. NPL kami bagus, hanya 0,77%. Saya masuk Bank Luna pada Oktober 2023.
Apa kuncinya?
Salah satu kunci suksesnya, saya menerapkan prinsip tumbuh berkualitas. Walau tumbuh namun tetap menjaga efisiensi, fokus pada analisis peluang dan risiko, serta optimalisasi aset. Kekuatan utamanya adalah profesionalisme karyawan. Karyawan kami berasal dari bank-bank besar yang selalu saya didik agar mempunyai tiga hal penting, yaitu knowledge, attitude, dan skill.
Cara Anda menyeimbangkan hidup?
Hidup harus seimbang. Kebetulan saya sejak kecil sudah mandiri dan suka bersosialisasi dan berorganisasi, dari mulai OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah), BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa), pengurus RT/RW, pengurus masjid, dan sejumlah organisasi lainnya.
Saya juga aktif di komunitas mobil, saya adalah salah satu pendiri dan pengurus Pajero X-Wild Nusantara, pengurus Asosiasi Club Pajero se-Indonesia atau Pajero Lovers, anggota Terios Rush Club Indonesia (Teruci), anggota Komunitas Diesel Indonesia (KDI).
Saya sangat suka touring untuk explore alam Indonesia dengan menyetir sendiri, berpetualang, dan menyapa masyarakat perdesaan, seperti masuk ke daerah Baduy Dalam dan lain-lain. Saya touring mengajak istri dan anak-anak saya. Ini bagian dari upaya saya menyeimbangkan hidup.***
Biodata
Nama: Joko Purwanto.
Tempat/tanggal lahir: Wonogiri, 10 Mei 1979.
Pendidikan terakhir: Sarjana Ekonomi - Institut Bisnis Nusantara, Jakarta.
Karier:
- Bank Danamon: Program MDP (2004-2006).
- Bank Eka: Senior Account Officer (2006-2007).
- Bank BTPN: Senior Account Officer SME Commercial (2007-2008).
- Bank Mega Syariah: Team Leader Area Jabotabek SME Commercial (2008-2010).
- Bank Pundi Indonesia: Dept Head People & Business Development (2010-2014), Senior Branch Manager Jatinegara (2014-2015).
- SME Finance Indonesia: Regional Head Sumatra, Jawa, Bali (2015-2022).
- BPR Gunung Rizki: Direktur Bisnis (2022-2023).
- Bank Luna: Direktur Utama (Oktober 2023-sekarang).

