Indonesia, Raksasa Durian yang Masih Tidur
JAKARTA, investortrust.id – Sungguh disayangkan, eksportir durian terbesar di dunia bukan Indonesia, negara dengan 17.466 pulau dan luas daratan 1,92 juta km2. Padahal lima pulau besar di Tanah Air, semuanya, merupakan wilayah subur untuk durian. Sepanjang tahun, hanya dua bulan yang kosong atau bukan musim (off season) durian.
Tapi, mengapa negeri gemah ripah loh jinawi ini bukanlah eksportir durian terbesar di dunia? Meski produksi dan luas tanam durian Indonesia di peringkat satu, eksportir durian dunia dikuasai Thailand, Malaysia, dan kini Vietnam. Mereka lah yang mendominasi pasar China sebagai konsumen utama durian dunia, yang mencapai 90%.
Data teranyar bisa membuat kita miris. Vietnam tahun lalu menancapkan tonggak sebagai raja baru di pasar durian global dengan nilai ekspor sebesar US$ 3,3 miliar pada 2024 atau setara Rp 53,6 triliun. Nilai ekspor tersebut melonjak 7,8 kali lipat dibandingkan performa 2022. Bandingkan dengan ekspor durian Indonesia yang hanya senilai US$ 1,07 juta dolar AS atau setara Rp 17,39 miliar pada 2023.
Indonesia kini harus rela berada di peringkat keilima negara pengekspor durian. Namun sebagai negara produsen, Indonesia adalah yang terbesar. Produksi durian Indonesia dalam satu dekade terakhir cenderung meningkat. Pada 2023, total produksi mencapai 1,85 juta ton, namun tahun lalu sedikit menurun ke level 1,7 juta ton. Pada 2023, Thailand berada di peringkat kedua dengan produksi 1,475 juta ton, Vietnam di urutan ketiga dengan total produksi 1,43 juta ton, dan Malaysia di posisi keempat dengan produksi 592 ribu ton. Berikut ini data grafis peringkat produsen durian dunia.
Wilayah Indonesia, dari Sabang hingga Merauke, semuanya, subur bagi durian. Dari sekitar 29 spesies durian di dunia, 20-21 tumbuh di Indonesia, meski ada beberapa spesies di antaranya yang tidak bisa dikonsumsi manusia. Menariknya, setiap provinsi memiliki varietas durian sendiri yang khas.
Indonesia kini sudah bisa ditumbuhi durian jenis Montong, durian andalan Thailand. Juga Musang King, durian terbaik dunia asal Malaysia. Diperkenalkan kepada para pelancong tahun 1990, Musang King atau Mao Shan langsung menaklukkan semua lidah wisatawan yang datang ke negeri jiran itu.
Mengukuhkan diri sebagai negara penghasil durian, Malaysia kemudian menyodorkan lagi satu verietas unggulan di atas Musang King, yakni Black Thorn. Durian dari negara bagian Penang ini langsung menempati “kasta” tertinggi dan menjadi varietas durian paling mahal dan populer di pasar dunia.
Indonesia punya sejumlah varietas asli dengan kualitas premium, yakni Bawor, varietas durian dari Banyumas, Jawa Tengah. Durian dari daerah leluhur Presiden Prabowo Subianto ini merupakan hasil pengembangan dari varietas Montong, tetapi memiliki karakteristik dan keunggulan khusus. Ini yang membuat durian Bawor berukuran besar seperti Montong, tapi kelezatannya mendekati Musang King.
Di Banyuwangi ada durian Merah. Daging varietas durian ini berwarna merah terang dan rasanya manis legit. Jepara adalah tanah kelahiran Petruk, durian berwarna kuning, berserat, dan memiliki rasa manis dan sedikit pahit. Riau terkenal dengan durian jenis Tembaga karena warnanya menyerupai metal tersebut. Bijihnya sangat kecil, dagingnya tebal, dan rasanya manis. Kemudian di Cimanggu, Bogor, pupuler dengan durian Matahari yang berdaging tebal dan bertekstur halus.
Jenis lain yang cukup populer dan beredar di pasaran adalah Bokor (Majalengka), Pelangi (Manokwari), dan Lai (Kalimantan Tengah). Jenis durian Lai bahkan dibudidayakan di Quensland, Australia.
Peran Pemerintah Minim
Durian acap kali disebut “The King of Fruits” dan Indonesia layak menyandang predikat “The Sleeping Durian Giant”. Bagi penikmat durian sejati, jenis buah lainnya serasa tak lagi nikmat di lidah.
Menurut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), produksi buah durian nasional menempati posisi keenam setelah pisang, mangga, jeruk, rambutan, dan salak. Daerah produksi durian tertinggi adalah Jatim, Sumbar, Jateng, Sumut, dan Jabar.
Menyadari bahwa durian merupakan raja segala buah, King of Fruits, dengan nilai ekonomi tinggi, berbagai upaya pengembangan sebenarnya sudah dilakukan. Tapi yang kerap membuat orang Indonesia penasaran dan geregatan adalah, kenapa Thailand sukses mengembangkan durian dan buah-buahan lainnya.
Dalam perbincangan dengan Investortrust, Direktur Botani Seed IPB, Dadang Syamsul Munir menuturkan, sebagai salah satu buah tropis (tropical fruit) andalan, durian Indonesia memang tidak masuk dalam klaster ekspor buah unggulan. Tapi untuk pasar dalam negeri, produksinya paling tinggi di dunia.
Sebagai komoditas ekspor, durian mungkin dianggap anak tiri. Sebab, pemerintah dan pelaku lebih memilih untuk menembus pasar ekspor dengan buah jenis lain, seperti manggis, mangga, buah naga, alpukat, dan pisang. Pantas saja durian Indonesia tenggelam dan tersisih di kancah global.
Dalam pandangan Dadang, ada beberapa faktor penyebab. Pertama, tidak ada varietas unggulan yang layak dikembangkan dalam skala industri. Kedua, belum ada kebun durian yang dikelola dalam skala orchard (sekitar 150-250 ha). Ketiga, lebih dari 80% durian dihasilkan dari kebun atau pekarangan, bukan orchard atau estate.
“Sejumlah faktor tersebut berimbas pada ketidakmampuan Indonesia dalam memenuhi kualitas dan kontuitas pasokan, dua faktor vital dalam konteks perdagangan internasional,” kata mantan Direktur PT (Persero) Berdikari tersebut.
Swasta pun kurang tertarik untuk mengembangkan durian dalam skala besar-besaran. Menurut Dadang, keengganan swasta boleh jadi karena ada sejumlah alasan. Misalnya tingkat keahlian yang belum banyak, terutama menyangkut teknik budidaya yang mampu menghasilkan buah durian dalam keseragaman kematangan, ukuran, dan kualitas dalam satu pohon.
"Buah durian juga rawan pencurian. Swasta akan berpikir dua kali,“ ungkapnya.
Ihwal kekalahan kita dari negara pesaing, khususnya Thailand, Dadang menganalisis bahwa pemerintah setempat memberikan dukungan yang luar biasa untuk pengembangan hortikultura, termasuk durian.
Dukungan tersebut diwujudkan dalam bentuk fasilitas riset dan pengembangan (R&D), penyuluhan, kredit untuk produksi dengan bunga kompetitif, adanya kelompok tani yang solid, dan penguasaan dalam teknik budidaya. Dukungan juga diberikan oleh kaum diaspora yang tersebar di luar negeri.
“Untuk pengembangan durian, dulu disebut sebagai King Project. Kerajaan memberikan dukungan penuh. Dan terbukti produk hortikultura menjadi penghasil devisa terbesar Negeri Gajah Putih itu,“ lanjut Dadang.
Dalam konteks strategi pengembangan durian secara menyeluruh dan terintegrasi, pemerintah mesti memiliki peran besar. Dadang merekomendasikan sejumlah saran. Pertama, pemerintah mesti menetapkan kawasan pengembangan khusus durian. Dinas Pertanian daerah yang mesti aktif mencari lokasi yang tepat.
“Hampir semua provinsi ada yang bisa dijadikan kawasan pengembangan dan cocok untuk durian. Kawasan itu bisa dijadikan sentra durian,” kata Dadang.
Kedua, dibentuk kelompok petani durian. Ketiga, penyediaan bibit berkualitas, yang telah direkomendasikan para ahli. Pembibitan akan berkembang jika ada produksi masal dan durian ditetapkan sebagai buah unggulan nasional.
Usulan strategi lainnya adalah perbaikan teknik budidaya. Dalam hal ini, Indonesia sebaiknya bekerja sama dengan importir untuk diajak sekaligus sebagai investor. “Misalnya bagaimana bekerja sama dengan penguasa jaringan pasar di Jepang. Itulah yang ditempuh Thailand,” ujarnya.
Saat ditanya tentang penyediaan bibit atau vairetas unggul durian, Dadang mengeklaim bahwa Botani Seed, unit bisnis di bawah IPB University, menyanggupinya. Sejauh ini, Botani Seed telah menjalin kemitraan dengan penangkar-penangkar binaan. Ada kerja sama pelatihan. "Skala kami belum besar-besaran, khawatir tidak ada pembeli bibitnya,“ kata Dadang.
Terlepas dari kesan bahwa durian kurang dikembangkan secara serius, bisnis durian sangat menggiurkan. Terutama bagi pedagang. Penelusuran Investortrust di sejumlah titik penjualan Jadebotabek, pedagang durian bisa mengantongi omzet puluhan juta setiap hari.
Seperti diungkapkan Dika Giovanni (27), pedagang durian di kawasan Grand Depok City (GDC). Dia dapat menjual durian hingga 2.000 butir per hari, dengan harga bervariasi. Mulai dari hanya Rp 10.000 hingga Rp 150.000 per butir. “Rata-rata saya bisa meraih omzet Rp 20 juta hingga Rp 30 juta per hari. Bahkan, saat puncaknya, omzet bisa tembus Rp 50 juta sehari,“ tuturnya.
Dika menjelaskan, durian dagangannya sebagian besar berasal dari Palembang, Padang, dan Bengkulu. Ada sejumlah pengepul yang mengumpulkan durian di wilayah tersebut kemudian disebar ke sekitar 15 titik penjualan di Jadebotabek. "Ada bos besar yang mengumpulkan durian di sejumlah kebun di Palembang kemudian dikirim ke Jadebotabek," kaka Dika.
Pemuliaan Tanaman
Sementara itu, kualitas bibit menjadi titik awal dan cikal bakal yang mesti mendapatkan perhatian prioritas agar memperoleh durian berkualitas. Salah satu metode untuk menghasilkan varietas unggul dan bermutu adalah pemuliaan tanaman.
Ni Luh Putu Indriyani, Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Hortikultura BRIN menyatakan, program pemuliaan durian di Indonesia sudah lama dilakukan, mulai tahun 2010 berlokasi di Subang dan Aripan, Jawa Barat. Induk yang digunakan adalah varietas Matahari, Kani, Otong, Sitokong, dan lain-lain. Hingga 2024, kata dia, tercatat sekitar 114 varietas terdaftar yang merupakan varietas unggul baru.
“Pemuliaan tanaman tidak terlepas dari sumber daya genetik untuk merakit varietas unggul baru. Sementara itu, jenis durian yang liar dan belum teridentifikasi masih tidak terhingga, karena karakteristik tanaman durian yang mempunyai penyerbukan terbuka dapat menambah variabilitas genetik di alam,” tuturnya
Indriyani menyebut, penelitian sumber daya genetik durian yang telah dilakukan meliputi karakterisasi dan evaluasi, eksplorasi durian-durian unggul daerah, persilangan antar tetua terpilih, evaluasi performa pertumbuhan dan kualitas buah dari hasil persilangan, serta pengelolaan database karakter durian.
Varietas unggul baru durian diklaim memiliki karakter ideal untuk menunjang produktivitas tinggi. Varietas unggul baru, kata Indriyani, dapat diperoleh melalui seleksi indigenous atau asli dan sifatnya adalah persarian terbuka. Dengan demikian, selalu terjadi penyerbukan silang. Biji hasil penyerbukan silang yang berlangsung secara alami merupakan bahan seleksi untuk menghasilkan kualitas unggul baru. Selain itu, dilakukan pula persilangan buatan antarvarietas atau antarspesies.
“Karena tanaman durian termasuk tanaman tahunan yang membutuhkan waktu lama untuk mengetahui hasil persilangan, maka kegiatan marka molekuler menjadi sangat penting dalam mempercepat proses pemuliaan,” tegasnya.
Apapun hasil pemuliaan tanaman durian yang dihasilkan, ujungnya harus mampu mengakomodasi kepentingan konsumen, pedagang, dan pemilik kebun durian. Khusus konsumen Indonesia, karakter durian yang diinginkan yaitu berukuran sedang dengan bobot maksimal 2,5 kg, daging buah berwarna kuning, manis legit, ada nuansa pahit, pulen, tebal, dan berbiji kecil. Sedangkan pedagang menginginkan durian tahan simpan dan tidak mudah pecah, serta pekebun yang menghendaki varietas durian produktif, tahan penyakit, dan genjah (cepat berbuah).
Di lain pihak, Indriyani melihat sejumlah tantangan yang dihadapi dalam pengembangan durian di negeri ini. Antara lain adalah hama dan penyakit Pythium yang menyebabkan tanaman tiba-tiba meranggas dan mati. Penggerek batang berupa serangga yang membuat batang berlubang, yang akhirnya melemahkan dan membunuh tanaman.
Selain itu, perhatian pemerintah relatif kurang. Pendanaan yang terbatas untuk riset menjadi kendala karena durian tidak masuk dalam daftar komoditas prioritas. Hal ini berdampak langsung pada pemeliharaan tanaman percobaan di lapangan.
Demikianlah kondisi ‘perdurenan’ di di Tanah Air. Agar bisa menggeser posisi tiga negara pesaing --Thailand, Malaysia, dan Vietnam--, Indonesia harus mereformasi total sistem mulai dari pembibitan, teknik budidaya, pemantapan R&D, manajemen, memperbesar peran pemerintah, hingga keterampilan di tingkat pemilik kebun durian.
Ketertinggalan Indonesia dalam kemajuan komoditas durian menambah daftar kekalahan kita dalam derap kompetisi dunia. Mengerdilkan komoditas potensial seperti durian sepertinya merefleksikan sikap dan pola pikir yang kurang visioner.

