Thailand Was-Was, Ekspor Durian ke China Bakal Tergantikan dengan Durian Hainan
JAKARTA, Investortrust.id – Para eksportir durian asal Thailand ke China mulai was-was menyusul langkah regulator negara tujuan ekspornya kini mulai membudidayakan “durian Hainan”, yang dihargai US$ 8,1 (setara dengan Rp135 ribu) untuk setengah kilogramnya. Durian Hainan disebut-sebut punya potensi pertumbuhan yang signifikan.
Disampaikan Kantor Promosi Perdagangan Thailand di Xiamen, China mengatakan, China mampu memproduksi durian Hainan, yang dinilai menjadi sukses besar bagi bisnis durian di China. Para eksportir Thailand harus mencari cara untuk meningkatkan kualitas dan kesegaran durian miliknya untuk mempertahankan reputasinya di pasar China dan global, demikian saran kantor tersebut seperti dilansir Straitstimes.com, Minggu (23/6/2024).
Melansir laporan China News Service, China telah menanam durian secara luas di kawasan seperti Hainan, Sanya, dan Yucai. Di kawasan tersebut durian tumbuh dengan baik, bahkan ukurannya bisa sebesar bola voli. Batch pertama dari ‘duren’ Hainan ini diperkirakan akan memasuki pasar pada akhir Juni. Pada tahun ini, sekitar 500 pohon sudah mulai menghasilkan buah, demikian laporan tersebut.
Durian Hainan dilaporkan telah dibudidayakan selama empat tahun terakhir, dan tahun ini menandai musim panen pertamanya. Pohon durian berusia empat tahun disebutkan mampu menghasilkan 19 buah dengan berat masing-masing sekitar 2kg.
Baca Juga
Selain CPO dan Batu Bara, China Minati Komoditas Durian Indonesia
Musim panen durian Hainan berlangsung dari bulan Juni hingga Agustus, dengan puncak panen diperkirakan terjadi pada bulan Juli.
Menurut beberapa perkiraan, durian tersebut dibudidayakan di Hainan di lahan seluas lebih dari 6.600 hektare dalam tiga hingga lima tahun ke depan. Namun budidaya durian di pulau tersebut menghadapi tantangan seperti terbatasnya kapasitas produksi dan cuaca yang tidak dapat diprediksi, termasuk angin topan. Sekadar informasi, batang pohon durian dikenal rapuh sehingga membuatnya sulit menahan angin kencang.
Meski sudah berhasil dibudidayakan di Provinsi Hainan, lahan di sana dinilai masih belum ideal untuk durian. Biasanya, durian tumbuh subur pada suhu antara 25 hingga 30 derajat celcius, sehingga kawasan torpis lah yang menjadikan kawasan paling cocok untuk komoditas ini.
Pada Mei 2024, durian Hainan telah mulai memasuki pasar domestik sekitar sebulan lebih awal dari perkiraan, dengan harga jual sekitar 60 yuan per 0,5kg (Rp 135 ribu). Karena terbatasnya lahan budidaya di China, pasokan masih sedikit, sehingga harganya menjadi mahal.
“Ketika China mampu memproduksi durian Hainan, ini merupakan pencapaian lain bagi industri durian China. Namun hal ini tidak berdampak signifikan terhadap impor durian Thailand karena terbatasnya produksi. Namun demikian, Thailand tidak boleh berpuas diri, karena pasar durian Thailand mungkin akan menghadapi persaingan dari durian Hainan yang sedang berkembang, yang kini semakin dikenal,” kata Kantor Promosi Perdagangan Thailand di Xiamen tersebut.
Dari sisi rasa, durian China juga disebutkan ringan, dengan aroma yang samar. Sementara dari teksturnya, tidak lembut. Rasa dan tekstur ini kerap menjadi sasaran kritik dari para konsumennya. “Hampir tidak ada rasa sama sekali” demikian salah satu kritik keras yang dilontarkan. Bahkan sebuah konsensus menyebut durian China “kering, keras, dan hambar”.
Baca Juga
Durian Jadi Komoditas Primadona di China, Nilai Permintaan Diprediksi Capai US$ 8 Miliar
Namun kantor tersebut menyarankan agar Thailand terus mengembangkan durian segar berkualitas tinggi untuk mempertahankan dominasinya di pasar China dan global. Meski durian Hainan menjadi alternatif bagi konsumen China, durian Thailand tetap bisa memiliki keunggulan kompetitif jika tetap menjaga kualitas dan kepercayaan konsumen baik dari segi rasa maupun mutu.
Menurut data Global Trade Atlas, China saat ini mengimpor durian segar dari tiga negara Asia Tenggara, yakni Thailand, Vietnam, dan Filipina. Periode Januari - April, China mengimpor durian segar dalam jumlah tertinggi dari Thailand, yaitu sebanyak 121.398.253 ton, senilai US$ 716,69 juta, atau menguasai 65,65% pangsa pasar China. Padahal porsi tersebut telah mengalami penurunan sebesar 48,71%. Thailand berbagi pangsa pasar khususnya dengan Vietnam.
Vietnam adalah pemasok terbesar kedua, dengan nilai ekspor sebesar 79,186.190 ton, senilai US$369,21 juta, dan menguasai 33,82% pangsa pasar, dan mengalami kenaikan sebesar 82,93%. Filipina menempati urutan ketiga, yang memasok 1.778.123 ton durian, senilai US$ 5,8 juta, dengan pangsa pasar 0,53%.

