OJK, Kemenag, dan Kemenkop Bersinergi Bangkitkan 'Raksasa Tidur' Dana Umat Rp 1.000 Triliun
JAKARTA, investortrust.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Kementerian Agama dan Kementerian Koperasi resmi menutup rangkaian kegiatan "Gerak Syariah" 2026 yang berlangsung selama bulan Ramadan. Acara penutupan ini menjadi momentum penting bagi penguatan ekosistem ekonomi syariah di Indonesia melalui peluncuran buku edukasi hingga gagasan pengelolaan dana umat yang lebih profesional.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengungkapkan apresiasinya atas capaian yang diraih selama bulan Ramadan. Menurutnya, kolaborasi lintas sektoral menjadi kunci utama dalam mendorong pertumbuhan literasi keuangan syariah di Tanah Air.
"Bersama kita pada hari ini penutupan Gerak Syariah ya, yang merupakan kegiatan yang dilaksanakan selama bulan Ramadan kemarin dengan capaian-capaian yang tadi sudah disampaikan," ujar Friderica dalam sambutannya di Jakarta, Kamis (2/4/2026).
Dalam kesempatan tersebut, OJK juga meluncurkan Buku Saku Edukasi Keuangan Berbasis Agama atau ESA. Friderica atau yang akrab disapa Kiki, menilai kehadiran tokoh agama seperti Nasaruddin Umar memberikan nilai tambah yang luar biasa dalam menjangkau masyarakat luas melalui pendekatan religi.
"Dan apresiasi sekali hari ini Profesor Nasaruddin Umar berkenan hadir bersama kita semua untuk bersama-sama bagaimana kita melihat tadi ada peluncuran buku ESA, Edukasi Keuangan Berbasis Agama yang bisa dimanfaatkan untuk memberikan edukasi keuangan kepada masyarakat di Indonesia dengan berbasis agama yang saya rasa ini sangat luar biasa," tambahnya.
Baca Juga
Terkait data statistik, Kiki menyoroti pertumbuhan tingkat literasi keuangan syariah yang terus menunjukkan tren positif dari tahun ke tahun. Tercatat kenaikan signifikan dari angka satu digit hingga kini mencapai angka di atas 40%, meskipun tantangan untuk melampaui capaian tersebut tetap ada.
"Pertumbuhan tingkat literasi terutama ya, dari mulai 9%, 12%, 39% sampai dengan 43%. Tapi tadi challenge yang seperti disampaikan oleh Bapak Menteri Agama, harusnya kita memang bisa lebih dari yang saat ini kita capai," jelas Kiki.
Senada dengan hal tersebut, Menteri Agama Nasaruddin Umar memberikan apresiasi tinggi terhadap terobosan yang dilakukan OJK. Nasaruddin menganalogikan potensi dana umat di Indonesia sebagai sebuah kekuatan besar yang belum sepenuhnya teroptimalkan untuk kemaslahatan bangsa.
"Kemudian juga tadi dibicarakan potensi dana umat di Indonesia, ibarat raksasa yang sedang tidur. Nah, sekarang kita akan bangkitkan demi untuk kemaslahatan umat dan bangsa kita. Iya, kalau dana umat ini kita berdayakan, obsesi kita persoalan keumatan seperti kemiskinan itu mungkin bisa diselesaikan melalui dana umat itu sendiri," tutur Nasaruddin.
Lebih lanjut, Nasaruddin menjelaskan bahwa pengelolaan dana umat yang baik dapat berjalan beriringan dengan pendapatan pajak negara. Jika pajak digunakan untuk infrastruktur fisik, maka dana umat dapat difokuskan pada pengentasan kemiskinan dan kesejahteraan sosial secara langsung.
"Biarlah pendapatan melalui pajak itu dibangun infrastruktur, jembatan, dan lain-lain untuk kejayaan bangsa kita. Jadi, berjumpanya antara pajak dan juga dana-dana umat ini itu amat sangat dahsyat," ungkapnya
Baca Juga
Gerak Syariah 2026 Sukses Besar: Literasi Melejit 31%, Jangkau 8 Juta Orang
Dalam kesempatan tersebut, Nasaruddin juga mengungkapkan rencana besar pemerintah melalui pembentukan Lembaga Pemberdayaan Dana Umat. Lembaga ini diproyeksikan mampu mengelola 24 sumber pundi-pundi dana dalam Islam yang selama ini belum terkelola secara manajemen profesional dan modern.
"Selama ini yang kita hanya andalkan zakat, nah kita ke depan harus mengandalkan sumber-sumber yang lain seperti wakaf, sedekah jariah, hibah, wasiat, kemudian juga dam, fidyah, kafarat, belum lagi yang mudharabah, musyarakah, murabahah, jizyah, mungkin juga ada yang disebut dengan dana-dana sosial yang lain seperti kurban, kemudian juga akikah, dan juga dam bagi jemaah haji itu," urai dia.
Optimisme tinggi terpancar dari proyeksi angka yang disampaikan oleh Menteri Agama. Ia meyakini jika seluruh instrumen dana sosial tersebut dikelola dengan baik, maka potensi perolehannya bisa mencapai angka ribuan triliun rupiah setiap tahunnya.
"Kami sangat yakin kalau itu kita kumpulkan semuanya, maka perhitungan kotor saya itu bisa kita kumpulkan sekitar minimum 1.000 triliun per tahun kalau itu dikelola secara baik. Tapi ini perlu anak tangga untuk sampai ke puncak," tegasnya.
Sementara itu, Menteri Koperasi Ferry Juliantono menekankan pentingnya membangun ekosistem yang terintegrasi antara sektor keuangan dan sektor riil. Menurutnya, setelah literasi dan digitalisasi diperkuat, langkah selanjutnya adalah memastikan aliran dana tersebut masuk ke jalur produksi dan industri halal.
"Kami di Masyarakat Ekonomi Syariah akan membangun ekosistem ini bersamaan dengan menumbuhkan kegiatan di sektor riil. Yang nanti akan Insyaallah akan menggerakkan kegiatan ekonomi syariah bukan hanya di sektor keuangan dan industri halal, tetapi juga harus kembali masuk ke sektor produksi, ke sektor distribusi, dan sektor industri," pungkas Ferry.

