Pasar Saham Membaik, Asing Potensi Buyback Rp 30 Triliun
Tulisan opini oleh Kuswara, analis BBK - Smart Trader Community
Investortrust.id - Indeks harga saham gabungan (IHSG) memang masih terkikis 1,34% year to date, seiring asing hengkang dari Bursa Efek Indonesia. Namun demikian, bursa saham dalam negeri masih punya potensi besar dan dalam beberapa aspek, jauh lebih baik.
Jika merunut data BEI, asing pada 2022 mencatatkan net buy atau pembelian bersih saham Rp 60,58 triliun. Kemudian, seiring ketidakpastian global yang makin tinggi lantaran memanasnya geopolitik akibat kobaran perang Israel-Palestina, investor asing keluar dari aset berisiko seperti saham. Secara year to date, asing mencatatkan net sell (penjualan bersih) Rp 11,61 triliun hingga Jumat lalu (27/10/2023).
Investor cenderung lebih memilih safe heavens seperti obligasi pemerintah. Selain dinilai bebas risiko alias risk-free, suku bunga naik tinggi. Dalam hal ini, reksa dana juga lebih dilihat sebagai safe havens ketimbang investasi saham yang sangat volatil. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, total dana kelolaan atau asset under management (AUM) mencapai Rp 509,73 triliun per September 2023, naik dari perolehan akhir tahun 2022.
Baca Juga
IHSG Sepekan Berkurang 1,32%, Bagaimana Performa di Kawasan Asean?
Alhasil, nilai perdagangan saham harian di BEI pun anjlok drastis. Merujuk data yang dirilis OJK, tahun lalu, transaksi masih sekitar Rp 11 triliun-14,71 triliun. Namun, rata-rata perdagangan saham sepanjang tahun ini di bursa Indonesia masih di bawah sekitar Rp 10,47 triliun.
Artinya, transaksi harian sudah merosot dalam. Nilainya menyusut hingga Rp 4,24 triliun atau 28,82%.
Saham Baru Incaran
Lantaran likuiditas terbilang rendah, investor lokal kini cenderung memilih penny stocks. Apalagi, saham-saham baru terus bermunculan meramaikan bursa.
Para pendatang baru ini menjadi salah satu opsi untuk perpindahan flow dari saham-saham big caps ke saham-saham anyar yang menjanjikan.
Di sisi lain, maraknya penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham juga menjadi aspek positif tersendiri bagi fundamental perusahaan di Tanah Air, terutama usaha kecil dan menengah (UKM). Sangat bagus bahwa pasar modal kita kini juga memberikan kesempatan bagi perusahaan-perusahaan kecil untuk mencari dana murah di bursa saham.
Apalagi setelah pascapandemi Covid-19, UKM butuh modal untuk recovery. Kondisi ini jauh lebih baik dan patut disyukuri ketimbang sebelum tahun 2015, di mana untuk melakukan IPO bisa dibilang cukup sulit.
FDI Melonjak
Sementara itu, data realisasi investasi langsung (foreign direct investment) masih menderas ke Indonesia, di tengah tren dolar Amerika Serikat yang menguat. Hal ini bisa diartikan prospek perekonomian di Indonesia masih tetap menjadi primadona dan menjanjikan, baik jangka pendek, menengah, dan panjang.
Realisasi investasi di Indonesia tercatat menembus Rp 1.053,1 triliun pada Januari-September 2023, melambung 18% secara year on year, atau dibanding Januari-September 2022. Nilai investasi yang dicatat Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) tersebut tidak termasuk yang di sektor hulu migas dan jasa keuangan.
Yang menggembirakan, investor asing juga mendominasi realisasi investasi di Indonesia hingga September tahun ini. Total Penanaman Modal Asing (PMA) menembus Rp 559,6 triliun, atau 53,1% dari realisasi investasi di Indonesia pada Januari-September 2023. Sedangkan untuk Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebanyak Rp 493,5 triliun atau 46,9%.
Seperti biasa, Singapura tetap menjadi juara 1 dalam realisasi investasi asing di Indonesia hingga kuartal III-2023 tersebut. Investasinya menembus US$ 12,1 miliar.
Berikutnya yang masuk 5 terbesar negara asal investor asing yang menanamkan modal di Nusantara adalah Republik Rakyat Tiongkok, Hongkong (RRT), Jepang, dan Amerika Serikat. Masing-masing investasinya senilai US$ 5,6 miliar, US$ 5,2 miliar, US$ 3,3 miliar, dan US$ 2,4 miliar.
Yang makin menarik, realisasi investasi hilirisasi yang bernilai tambah lebih tinggi menembus Rp 266 triliun atau sekitar 25,3% dari total realisasi investasi di Tanah Air periode Januari – September 2023. Investasi hilirisasi ini terbesar di sektor mineral guna membangun smelter Rp 151,7 triliun, yakni untuk mengolah nikel Rp 97,0 triliun, tembaga Rp 47,6 triliun, dan bauksit Rp 7,1 triliun.
Berikutnya, yang kedua, adalah investasi hilirisasi sektor pertanian sebesar Rp 39,5 triliun di minyak sawit atau oleochemical dan ketiga, sektor kehutanan di pulp and paper Rp 34,8 triliun. Yang lain di sektor minyak dan gas di petrochemical Rp 31,6 triliun dan sektor ekosistem kendaraan listrik di baterai kendaraan listrik Rp 8,4 triliun.
Yang juga menggembirakan, realisasi investasi hingga September 2023 ini telah menyerap hampir 1,37 juta tenaga kerja lokal. Angka itu di luar tenaga asing yang tidak dihitung oleh Kementerian Investasi/BKPM.
Artinya, nanti saat asing kembali masuk ke pasar saham emerging markets, maka ada potensi dana sekitar Rp 30 triliun untuk buyback saham di Indonesia. Hal ini mempertimbangkan bahwa foreign flow untuk equity di Indonesia rata-rata antara Rp 25 triliun-35 triliun setahun.
Apalagi, banyak sekali saham-saham undervalued yang memiliki fundamental cukup baik. Harga anjlok lantaran nilai perdagangan hariannya bahkan ada yang tidak sampai Rp 10 miliar.
Baca Juga
BRI Perluas Program BRILiaN untuk Pengusaha Muda, yang Minat Cek Benefitnya
Asing dipastikan akan kembali lagi jika pasar obligasi sudah menurun. Dalam hal ini, investor bisa memilih mengantisipasi dengan mengoleksi saham-saham yang berprospek bagus. Pemilihannya bisa melalui beberapa pendekatan, baik dari sisi analisis fundamental maupun teknikal plus rutin mencermati berita-berita yang berkembang.
Selain itu, adanya IPO PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Nusantara Sejahtera Raya (CNMA), dan yang lain-lain, memberikan nuansa baru perilaku investor baru atau lama di pasar saham kita. Akan ada banyak cerita-cerita yang semakin menarik ke depan.
Apalagi, masih terbuka harapan indeks harga saham gabungan (IHSG) mampu mencetak all time high lagi beberapa waktu ke depan. Bahkan, terbuka peluang menembus level 10.000, sebelum ulang tahun Indonesia emas, 100 tahun kita merdeka.
Saham-saham yang bisa dijadikan jagoan jangka panjang banyak. Investor bisa melirik saham perbankan seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). Selain itu, saham barang konsumsi PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) dan yang lain, seperti PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) dan PT Astra Otoparts Tbk (AUTO). ***

