Pelemahan Saham Bank Mulai Terbatas, Siap Rebound?
JAKARTA, investortrust.id – Penurunan harga saham bank papan atas, khususnya kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMI) IV BBRI, BBNI, BBCA, dan BMRI, diprediksi sudah terbatas. Potensi penguatan lebih besar, dibandingkan penurunan untuk beberapa hari ke depan.
Peluang penguatan terbuka setelah harga mayorita saham empat bank saham tersebut turun signifikan terhitung sejak awal April 20224. Penurunan menjadikan harga tiga dari empat saham bank tersebut bertengger ke level terendah sepanjang tahun 2024 berjalan atau year to date (ytd).
Berdasarkan data, saham BBRI telah melorot sebanyak 23,35% ytd disusul saham BBNI dengan penurunan sebanyak 12,56% ytd. Selanjutnya saham BBCA telah terkoreksi mencapai 1,06% ytd. Sebaliknya saham BMRI masih berhasil cetak penguatan harga mencapai 2,45% untuk ytd. Padahal, pada pertengahan Maert 2024, seluruh saham bank tersebut berhasil sentuh rekor tertinggi baru
Baca Juga
Bank Sentral Eropa Pangkas Suku Bunga 25 Bps, Pertama Kali sejak 2019
Penurunan harga saham empat bank tersebut kian dalam setelah pemodal asing secara massif merealisasikan penjualan (net sell) dalam tiga bulan terakhir. Berdasakan data sebulan terakhir, net sell terbanyak melanda saham BBRI senilai Rp 6,86 triliun, BBCA mencapai Rp 1,96 triliun, BMRI mencapai Rp 1,84 triliun kdan BBNI senilai Rp 233,01 miliar. Aksi jual saham perbankan tersebut menjadikan pemodal asing membukukan net sell ytd senilai Rp 8,59 triliun.
Analis Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nafan Aji Gusta menatakan, pelemahan harga saham bank mulai terbatas, Khususnya saham dengan kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMI) IV, seperti BBRI, BBNI, BBCA, dan BMRI.
“Dari sisi teknikal downtrend harga saham bank diharapkan sudah mulai terbatas ya, mudah-mudahan ini menandakan pelepasan asing mulai mereda kemudian akumulasi kembali,” jelas Nafan kepada investortrust.id, di Jakarta, belum lama ini.
Sebagai bukti, dia menyebutkan, saham BBNI, BBCA, dan BMRI sempat rebound, hanya BBRI yang masih dalam kondisi konsolidasi. “Apalagi kalau kita lihat historical dari pergerakan IHSG selama delapan tahun terakhir performanya positif. Menurut saya ini bisa memberikan sentimen positif untuk perbankan mulai saat ini,” tegas dia.
Baca Juga
Merujuk hasil analisis Nafan, saham BBCA berpotensi naik menuju level Rp 9.775 hingga Rp 10.400, sehingga saham ini direkomendasikan akkumulasi buy. Sedangkan saham BBRI diyakini akan rebound ke level Rp 4.590 untuk kemudian menjajal posisi Rp 5.125-5.625. Investor pun disarankan untuk buy on weakness saham bank pelat merah ini.
Khusus saham BMRI, diproyeksikan bisa melanjutkan rebound ke level Rp 6.750 dan investor disarankan melakukan pembelian akumulatif (accumulative buy). Begitu juga dengan beberapa saham bank lainnya tetap menarik untuk dipantau dengan terbukanya peluang penguatan.
Sudah Oversold
Pandangan positif terhadap saham perbankan papan atas juga datang dari analis Samuel Sekuritas Indonesia Brandon Boedhiman dan Prasetya Gunadi. Kedua analis ini kompak menyebutkan bahwa saham perbankan, khususnya bank BUMN, sudah oversold.
“Kami meyakini bahwa saham bank papan atas, khususnya bank BUMN, sudah oversold. Penurunan laba bersih yang melanda emiten ini sebenarnya sudah terefleksi pada harga sahamnya, sehingga kami memberikan rekomendasi overweight saham-saham ini,” tulisnya dalam riset yang dipublikasikan di Jakarta, pekan lalu.
Baca Juga
Hal ini mendorong Samuel Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi saham BBCA dengan target harga Rp 10.800, saham BBRI direkomendasikan beli dengan target harga Rp 5.000, saham BMRI direkomendasikan beli dengan target harga Rp 6.100, dan saham BBNI direkomendasikan beli dengan target harga Rp 4.620.
Brandon dan Prasetya menyebutkan bahwa bank dengan rasio CASA tinggi yang paling diuntungkan tahun ini, seiring dengan kemampuan untuk menjaga biaya dana tetap terkendali di tengah pengetatan likuiditas. BBCA menjadi bank yang paling mumpuni di tengah pengetatan likuiditas saat ini.
Sumber: Samuel Sekuritas
Terkait realisasi laba bersih bank only hingga April 2024, Samuel Sekuritas menyebutkan, tercatat peningkatan sebanyak 5,5% menjadi Rp 61,2 triliun. Faktor utama peningkatan laba berasal dari penurunan biaya provisi dengan rata-rata mencapai 7,4% hingga April 2024.
Sebaliknya rata-rata margin bunga bersih (NIM) empat bank tersebut menunjukkan penurunan sekitar 4 bps. “Kami memperkirakan NIM masih tertekan hingga akhir tahun ini. Hal ini mendorong kami untuk merevisi turun target pertumbuhan rata-rata empat bank tahun ini dari semula 9,5% menjadi 5,6% tahun ini,” terangnya.
Baca Juga
Tekanan terhadap NIM yang berimbas terhadap perlambatan pertumbuhan laba bersih. Kondisi pengetatan likuditas perbankan diprediksi berlanjut sampai semester II tahun ini. Biaya dana juga diperkirakan meningkat. Sebaliknya pertumbuhan kredit tahun ini diestimasi tetap baik dengan rata-rata 11,2%.
Pandangan positif terhadap saham bank papan atas juga datang dari tim riset CGS International. Dalam riset terakhirnya CGS International tetap mempertahankan rekomendasi beli empat saham tersebut. Riset tersebut mengasumsikan penurunan NIM mulai terbatas setelah kuartal I-2024. Begitu juga dengan kualitas kredit diperkirakan turun.
Di antaranya saham BBCA direkomendasikan add dengan target harga Rp 10.900 dan BMRI direkomendasikan add dengan target harga Rp 7.100. CGS International juga merekomendasikan add saham BBRI dengan target harga Rp 6.500, saham BBNI direkomendasikan add dengan target harga Rp 5.700, dan saham BBTN direkomendasikan add dengan target harga Rp 1.850.
Baca Juga
CGS International menyebutkan bahwa penurunan NIM diperkirakan mulai terbatas ke depan, seiring dengan perkiraan kenaikan biaya dana lebih terkendali dan adanya peningkatan bunga kredit. “Kami tidak memperkirakan adanya penurunan NIM lebih lanjut setelah kuartal I-2024,” terangnya.
Perusahaan sekurtas tersebut juga menyebutkan bahwa penurunan kualitas kredit kemungkinan dapat dikendalikan dengan strategi mengurangi eksposur kredit ke segmen UMKM. Seluruh bank bakal gencar menyasar kredit korporasi dan segmen komersial yang masih memiliki kualitas kredit baik demi mengejar pertumbuhan kredit tahun ini. Dampaknya persaingan kredit sektor tersebut akan meningkat.
Grafik 4 Saham Bank Papan Atas Ytd

