Mobil Hidrogen: Penguatan Ekosistem Dulu, Baru Produksi Massal
Oleh Tim Investortrust
JAKARTA, investortrust.id – Mobil hidrogen boleh jadi saat ini belum mencapai tahap produksi massal, karena teknologinya masih terus disempurnakan. Hanya soal waktu, mobil hidrogen bakal memasuki era kejayaan, baik yang berbasis fuel cell (Fuel Cell Electric Vehicle) maupun mesin pembakaran internal (Hydrogen Internal Combustion Engine) bakal memasuki era kejayaan.
Sangat menarik pernyataan yang dilontarkan CEO Toyota Motor Corp, Koji Sato Maret lalu. “Boleh saja semua industri mobil dunia hanya berfokus pada kendaraan listrik baterai. Tapi saya memiliki keyakinan bahwa hidrogen akan menjadi tulang punggung masa depan Toyota. Masa depan kendaraan ramah lingkungan menuju netralitas karbon adalah hidrogen,” kata dia.
Selain itu, riset dan pengembangan (R&D) teknologi mobil hidrogen negara-negara maju semakin agresif dan intensif. Tahun lalu, bahkan ada ujicoba terhadap beberapa pesawat yang dimodifikasi dari bahan bakar avtur menjadi hidrogen di Amerika Serikat oleh startup Avia Zerro, dan berhasil.
Dua hal di atas bisa menjadi modal optimisme untuk pengembangan mobil hidrogen ke depan, termasuk di Indonesia. Optimisme tersebut juga bergaung dalam seminar "3rd Investortrust Future Forum: Potensi Besar dan Masa Depan Mobil Hidrogen" di Hotel Aryaduta, Jakarta, Kamis (16/5/2024).
Seminar ini yang dibuka oleh Asisten Deputi Bidang Pengembangan Industri Kementerian Koordinator (Kemenko) bidang Perekonomian, Eko Harjanto ini menghadirkan pembicara Koordinator Keteknikan dan Lingkungan Aneka EBT Kementerian ESDM Tony Susandy, VP Strategy dan Portfolio Pertamina New & Renewable Energy (NRE) Aditya Dewobroto, VP Hidrogen dan Dekarbonisasi PT PLN (Persero), Ricky Cahya Andrian, dan pakar otomotif dan peneliti dari National Center for Sustainable Transportation Technology, Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu.
Eko Harjanto yang hadir mewakili Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, Indonesia memiliki potensi untuk mengembangkan kendaraan berbahan bakar hidrogen. Sebab, Indonesia memiliki sumber daya energi baru terbarukan (EBT) yang melimpah sebagai salah satu bahan hidrogen.
Menurut Eko, pengembangan kendaraan berbasis hidrogen dapat dimanfaatkan untuk transportasi massal, terutama bus dan truk, karena tidak banyak menghasilkan emisi. “Hidrogen fuel cell jadi solusi bersih dan potensial bagi sektor transportasi Indonesia,” ujar dia.
Kementerian Perhubungan telah memetakan potensi hidrogen rendah karbon untuk transportasi. Eko mengatakan, berdasarkan perhitungan Kemenhub, sebagian bus akan mulai beralih ke hidrogen pada 2040. Permintaan awal hidrogen yang diperlukan diperkirakan 6 GWh atau 0,21 juta ton hidrogen. Sedangkan untuk truk, penggunaan hidrogen bakal mencapai 161 GWh atau 4,88 juta ton hidrogen pada 2040.
“PT KAI juga memiliki rencana pengembangan kereta api dengan mengganti lokomotif dengan kereta rel listrik yang dikembangkan dengan hidrogen atau baterai,” ujar dia.
Sedangkan Koordinator Keteknikan dan Lingkungan Aneka EBT Kementerian ESDM Tony Susandy menyatakan, permintaan hidrogen diprediksi melesat untuk sektor industri, pembangkit listrik, transportasi, dan jaringan gas.
Setidaknya ada tiga industri yang ditargetkan beralih ke hidrogen, yaitu industri semen, besi dan baja, dan kimia. Pasalnya, ketiga industri tersebut dipandang menyumbang emisi paling besar dan sulit untuk melakukan upaya dekarbonisasi.
“Oleh karena itu, ketiga industri tersebut ditargetkan beralih ke hidrogen yang merupakan energi rendah emisi. Itu target kita, terutama industri besar yang berkontribusi 80% emisi dari seluruh industri yang ada,” kata Tony.
Saat ini Kementerian Perindustrian tengah menyusun roadmap (peta jalan) dekarbonisasi untuk sektor industri yang dinilai sulit mengurangi emisi karbon. Kementerian ESDM juga sudah melakukan kajian roadmap hidrogen nasional. Berdasarkan roadmap tersebut, sektor industri ditargetkan memanfaatkan 527.501 ton hidrogen pada 2030 dan 3,9juta ton hidrogen pada 2060.
Tony mengungkapkan, pemanfaatan hidrogen di Indonesia saat ini berkisar 1,75 juta ton per tahun, yang didominasi oleh sektor industri seperti urea, ammonia, dan kilang minyak. Selain untuk industri dan transportasi, hidrogen juga bisa dimanfaatkan untuk pembangkit listrik dan gas kota. “Saat ini konsumsi hidrogen di Indonesia tergolong rendah jika dibandingkan dengan China dan Amerika Serikat,” tutur Tony.
Tentang hidrogen hijau yang paling prospektif, Tony menyebut Indonesia memiliki potensi sangat besar. Sebab, negeri ini punya 3.686 GW potensi pembangkit EBT untuk produksi hidrogen.
Sementara itu, cadangan gas alam di Indonesia mencapai 41,62 TCF, yang berpotensi digunakan untuk produksi hidrogen biru. Adapun cadangan batu bara Indonesia mencapai 38,84 miliar ton, berpotensi digunakan untuk produksi hidrogen coklat.
Penguatan Ekosistem
Langkah awal penguatan ekosistem hidrogen diinisiasi oleh Pertamina dan PLN. Menurut VP Strategy dan Portfolio Pertamina New & Renewable Energy (NRE) Aditya Dewobroto, Pertamina memproyeksi permintaan hidrogen ke depan akan sangat besar, mencapai 8 million tons per annum (MTPA). Hal ini didorong oleh peningkatan kebutuhan di sektor transportasi dan industri.
"Fokusnya memang di awal adalah untuk transportasi. Setelah itu, 5-10 tahun ke depan masuk ke industri,” ujar dia.
Sebagai salah satu pemimpin transisi energi, lanjut dia, Pertamina memiliki misi untuk memastikan keamanan energi dan mendukung target pemerintah mencapai Net Zero Emission (NZE) tahun 2060. Salah satu upaya yang dilakukan Pertamina adalah mengembangkan penggunaan hidrogen sebagai bahan bakar kendaraan.
Tonggak pertama yang dilakukan Pertamina melalui anak usaha Pertamina New & Renewable Energy (NRE) adalah pembangunan Hydrogen Refueling Station (HRS) atau Stasiun Pengisian Bahan Bakar Hidrogen (SPBH) di Daan Mogot, Jakarta Barat pada 17 Januari 2024.
“Peluncuran SPBH ini diharapkan dapat mempercepat pencapaian penggunaan energi bersih dan ekosistem kendaraan hidrogen di Indonesia,” kata eksekutif yang akrab disapa Dewo ini.
SPBH skala komersial memiliki kapasitas penyaluran maksimum hingga 300 kilogram (kg). Untuk menekan biaya hidrogen, Pertamina menekan belanja modal dengan mendapatkan sumber hidrogen dari pemasok yang lebih murah.
Karena itulah, Pertamina telah memetakan 17 lokasi sebagai sumber energi terbarukan yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan hidrogen.
Pertamina menargetkan 40 mobil FCEV (fuel cell electric vehicle) fase 1 pada 2025 akan mengisi bahan bakar hidrogen melalui HRS. Mobil ini merupakan mobil dinas Pertamina bagi jabatan tertentu. Selanjutnya, pada fase 2 tahun 2025-2030 diharapkan terdapat tambahan 2 truk atau kendaraan besar yang mengisi bahan bakar dengan volume 95 kg per hari.
Keputusan pemanfaatkan mobil dinas Pertamina merupakan strategi untuk memperkuat fondasi ekosistem kendaraan hidrogen ke depan.
Aditya menyebut, FCEV berbahan bakar gas hidrogen terkompresi untuk menghasilkan tenaga listrik lebih cocok untuk kendaraan jarak jauh dan prediktabilitas rendah. “Kendaraan ringan jarak dekat dengan trafik yang bisa diprediksi, EV lebih menarik karena fasilitas charging di kota lebih banyak. Tapi untuk jarak jauh, mobil hidrogen lebih menarik,” jelasnya.
Hidrogen Lebih Murah
Sedangkan VP Hidrogen dan Dekarbonisasi PT PLN (Persero), Ricky Cahya Andrian mengatakan, harga jual bahan bakar hidrogen (H2) lebih murah dibandingkan bahan bakar minyak (BBM). Harga H2 sebesar US$ 8,14 per kilogram (kg) atau setara Rp 125.500 per kg. Pemakaian 1 kg H2 dapat menempuh jarak 100 kilometer (km), sehingga biaya untuk jarak 1 km hanya Rp 1.255.
Sedangkan jika penggunakan BBM jenis Dexlite, biayanya sebesar Rp 1.592 dan Pertamina Dex sebesar Rp 1.647 per km.
“Kenapa bisa murah? Kita (PLN) kemarin buat yang mahal itu karena kompresor. Mobil FCEV itu rata-rata 700 Bar. Kalau produk FCEV-nya PLN itu 150 Bar, jadi harus dua kali staging, 450 (Bar) kemudian 820 (Bar). Tapi kalau kita bisa menghasilkan kendaraan 150 Bar itu tinggal langsung colok (pengisian) saja,” kata Ricky.
Ricky menjelaskan, ke depan PLN akan mengerahkan sumber-sumber dan aset yang dimiliki agar biaya produksi hidrogen lebih murah. Sebagai contoh, potensi produksi H2 dari kelebihan kapasitas 5% daya Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) PLN mencapai 74,71 ton volt ampere (VA) per hari atau 27,64 kilo ton VA per tahun.
“Rencana kami ke depan akan memproduksi hidrogen dari PLTA, karena itulah yang termurah. Yang menarik, harganya bisa US$ 1 per kg,” papar dia.
Saat ini, PLN memiliki Hydrogen Refueling Station (HRS) atau SPBH di Senayan, yang diresmikan pada 21 Februari 2024. Langkah ini merupakan tindak lanjut inovasi PLN sebelumnya, yaitu pengoperasian 21 unit green hydrogen plant (GHP) yang tersebar di Indonesia pada November 2023.
Waktu yang dibutuhkan untuk pengisian hidrogen hanya sekitar 3-5 menit. Dalam satu jam, penyedia daya untuk FCEV dapat melayani sekitar 10 kendaraan. Hal itu berbeda dengan mobil listrik (BEV) yang harus mengisi daya listrik setidaknya 30-60 menit. Artinya, dalam satu jam, SPKLU hanya bisa melayani sekitar dua sampai tiga kendaraan listrik.
HRS Senayan dilengkapi dengan charger electric vehicle berbasis hidrogen yang memiliki fungsi sama dengan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU). Di lokasi ini dibangun pula Hydrogen Center dan Hydrogen Gallery Room untuk pusat pelatihan dan pendidikan hidrogen nasional.
Hidrogen yang diproduksi PLN berasal dari energi baru terbarukan (EBT) dan tidak ada emisi sama sekali. PLN saat ini mampu memproduksi 199 ton hidrogen hijau. Dari jumlah itu, 75 ton dipakai untuk kebutuhan operasional pembangkit PLN, dan 124 ton sisanya untuk kebutuhan lainnya, termasuk mobil hidrogen.
Mobil Hidrogen
Sementara itu, pakar otomotif dan peneliti dari National Center for Sustainable Transportation Technology, Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu mengungkapkan, mobil hidrogen akan menjadi terobosan (break through) dalam mengatasi hambatan pengembangan industri otomotif bebas emisi di Indonesia. Pasalnya, mobil ini ramah lingkungan namun tetap dapat menggunakan produk-produk industri komponen yang sudah ada di Tanah Air, sebagaimana kendaraan konvensional.
Apalagi, Indonesia kaya akan hidrogen yang menjadi sumber energi masa depan. Hidrogen semakin populer sebagai sumber energi terbarukan yang dapat diproduksi dari air dan tidak menghasilkan emisi gas rumah kaca. Hal ini selaras dengan strategi Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060, yang menjadi komitmen pemerintah Indonesia.
Untuk kondisi Indonesia, Yannes lebih condong pengembangan mobil hidrogen jenis pembakaran internal (Hydrogen Internal Combustion Engine/HICE). Hal ini mengingat jenis ini bisa memanfaatkan investasi dan infrastruktur yang telah dikembangkan oleh produsen-produsen otomotif nasional, hanya tidak menambah dan memodifikasi di teknologi tertentu.
“Nah, HICE jadi solusi yang menarik sebenarnya. Jadi, industri- industri otomotif dan industri pendukung yang ada tidak perlu harus tutup,” kata Yannes.
Jika teknologi bisa dikembangkan cepat, Yannes menyebut mobil hidrogen jenis HICE bisa diproduksi dalam skala massal mulai tahun 2027.
Memang, kata Yannes, mesin HICE masih memerlukan pengembangan lebih lanjut untuk meningkatkan performa, efisiensi, dan keandalannya. Industri otomotif negara-negara maju (G7) terus mempercepat kegiatan penelitian dan pengembangan mobil hidrogen. “Kemajuan teknologi dan peningkatan skala produksi adalah salah satu kunci untuk menjadikan HICE lebih kompetitif ke depannya,” kata dia.
Butuh 6 Kebijakan
Namun, Yannes menyebut sejumlah tantangan pengembangan mobil bermotor bakar hidrogen. Untuk itu, pemerintah harus merancang setidaknya enam kebijakan untuk mengatasi tantangan yang ada.
Pertama, sebagai infant industry, industri ini memerlukan insentif besar dari pemerintah. Insentif yang dibutuhkan adalah insentif pajak dan subsidi untuk R&D, produksi, serta penggunaan hidrogen sebagai bahan bakar. Insentif ini dapat mencakup pengurangan pajak untuk perusahaan yang berinvestasi dalam teknologi hulu-hilir, hingga infrastruktur pengisian hidrogen dan subsidi harga untuk mempercepat adopsi kendaraan hidrogen.
Kedua, menetapkan standar teknis dan keselamatan untuk infrastruktur hidrogen, seperti stasiun pengisian bahan bakar hidrogen dan persyaratan operasional kendaraan hidrogen. Hal ini akan memastikan keselamatan penggunaan dan membantu membangun kepercayaan konsumen.
Ketiga, meningkatkan alokasi anggaran untuk penelitian dan pengembangan dalam teknologi hidrogen, termasuk efisiensi produksi, penyimpanan, dan distribusi hidrogen. Pendanaan ini juga harus mendukung pengembangan teknologi domestik dan kerja sama internasional.
Keempat, mendorong kemitraan antara sektorpemerintah, akademisi, dan industri untuk mengembangkan tingkat komponen dalam negeri (TKDN). Selain itu, mengomersialkan teknologi hidrogen yang menunjukkan kelayakan dan manfaat hidrogen.
Kelima, investasi dalam pembangunan infrastruktur yang diperlukan untuk produksi dan distribusi hidrogen. Ini termasuk stasiun pengisian bahan bakar hidrogen dan jaringan distribusi yang efisien.
Keenam, menjalankan kampanye informasi dan edukasi untuk meningkatkan kesadaran publik mengenai manfaat dan keamanan hidrogen sebagai bahan bakar alternatif. “Edukasi ini penting untuk mengatasi keraguan dan meningkatkan penerimaan publik,” kata Yannes.
Perkembangan terkini mengindikasikan bahwa mobil hidrogen bukan mimpi, tapi akan memasuki masa kejayaan, hanya soal waktu. Yang jelas, penjualan mobil hidrogen (FCEV) di level global bertumbuh cukup tinggi dalam beberapa tahun, periode 2017-2023 mencapai rata-rata 22,5%, meskipun tahun lalu minus atau menurun 30,2%.
Ke depan, kesuksesan ekosistem hidrogen bakal bergantung pada dukungan pemerintah, penelitian dan pengembangan, penguatan ekosistem dan infrastruktur, serta kolaborasi antarindustri. Yang penting, pengembangan mobil hidrogen dan mobil listrik berjalan paralel, bukan saling menjadi predator. ***
Baca Juga

