Bangun SPBH, Pertamina Percepat Ekosistem Kendaraan Hidrogen di Indonesia
JAKARTA, investortrust.id – PT Pertamina (Persero) melalui anak usahanya Pertamina New & Renewable Energy (NRE) telah melakukan groundbreaking pembangunan Hydrogen Refueling Station (HRS) atau Stasiun Pengisian Bahan Bakar Hidrogen (SPBH) di Daan Mogot, Jakarta Barat pada 17 Januari 2024. Peluncuran SPBH ini diharapkan dapat mempercepat pencapaian penggunaan energi bersih dan ekosistem kendaraan hidrogen di Indonesia.
Menurut data Pertamina NRE, SPBH skala komersial memiliki kapasitas penyaluran maksimum hingga 300 kilogram (kg). Untuk menekan biaya hidrogen, Pertamina menjelaskan bahwa biaya belanja modal perlu diturunkan dengan meningkatkan kebutuhan dan mendapatkan sumber hidrogen dari supplier yang lebih murah.
Baca Juga
Potensi Kendaraan Hidrogen Topang Percepatan Net Zero Emission 2060
"Tantangan dari Pertamina untuk menekan biaya dari hidrogen itu sendiri adalah dengan mendekatkan sumber demand dengan renewable sources," ujar VP Strategy dan Portfolio Pertamina RNE, Aditya Dewobroto dalam “3rd Investortrust Future Forum: Potensi Besar da
Sehingga saat ini, Pertamina telah memetakan terdapat 17 lokasi yang dapat menjadi sumber renewable energy yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan green atau blue hydrogen. Oleh sebab itu, Pertamina memproyeksi pertumbuhan ekosistem mobil FCEV (fuel cell electric vehicle) yaitu fase 1 pada 2025 terdapat 40 mobil yang akan mengisi bahan bakar hidrogen melalui 1 HRS. Selanjutnya, pada fase 2 tahun 2025-2030 diharapkan terdapat tambahan 2 truk atau kendaraan besar yang mengisi bahan bakar dengan 95 kg per hari.
Baca Juga
Mobil Hidrogen Jadi Break Through Pengembangan Industri Otomotif Bebas Emisi
“Jadi ya pertama kita coba satu HRS dulu. Jadi kita harapkan bisa memiliki mulai 40 mobil di dalam internal Pertamina,” ujar Dewo.
Sebagai catatan, FCEV atau jenis kendaraan yang menggunakan gas hidrogen terkompresi sebagai bahan bakar untuk menghasilkan tenaga listrik lebih disukai untuk rute dengan jarak jauh dan prediktabilitas rendah, untuk memaksimalkan muatan yang tersedia dan fleksibilitas operasional.
“Kendaraan ringan jarak dekat dengan prediksi trafik yang bisa diatur di EV lebih menarik, sebab tempat charging di kota lebih banyak. Tapi untuk jarak jauh maka hidrogen lebih menarik,” jelasnya.

