Harga Minyak Sulit Turun, Cuan Tiga Saham Migas Kian Panas
JAKARTA, investortrust.id – Potensi gangguan pasokan bakal membuat harga minyak dan gas (migas) berpeluang tetap berada di level tinggi dalam beberapa bulan ke depan. Harga minyak mentah diproyeksikan bertahan di atas US$ 70 per barel hingga tahun 2024.
Tendensi kenaikan harga minyak sudah diisyaratkan oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC). Dalam tinjauan (outlook) tahunan terbarunya, OPEC memprediksi bahwa permintaan minyak dunia akan meningkat dalam jangka menengah dan panjang.
Atas dasar kondisi tersebut, BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi overweight untuk saham sektor migas, termasuk infrastruktur migas, hingga emiten distributor migas.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Hasan Barakwan mengatakan, proyeksi bahwa harga minyak berada di atas level US$ 70 per barel dalam beberapa bulan ke depan didukung sejumlah faktor. Pertama, keputusan OPEC+ untuk mengurangi suplai sebanyak 1,2 juta barel per hari hingga akhir 2023. Arab Saudi telah memulainya dengan memangkas produksi menjadi 8,9 juta barel per hari (bph) tahun ini, dibandingkan realisasi tahun 2022 sebanyak 10,4 juta bph.
Pemangkasan produksi minyak juga dilakukan Rusia menjadi sekitar 9,3 juta bph sejak September 2023, dibandingkan realisasi tahun 2022 sebanyak 10,3 juta bph. Pemangkasan tersebut menjadikan suplai turun bersamaan dengan masih rendahnya permintaan.
Satu-satunya produsen minyak besar dunia yang mempertahankan peningkatan produksi minyak adalah Amerika Serikat (AS). Aksi yang dilakukan negeri Paman Sam tersebut bertujuan untuk menahan laju kenaikan harga minyak sekaligus untuk pengendalian inflasi dalam negerinya yang tidak kunjung menuju target 2%.
Tetap tingginya harga minyak, lanjut Hasan, juga dipicu atas rendahnya cadangan minyak AS setelah pemerintahan Biden melepas sebanyak 230 juta barel minyak akibat perang Rusia-Ukraina. Cadangan tersebut dilepas dengan tujuan untuk mengurangi gangguan pasokan minyak global dan pengendalian inflasi.
AS disebutkan akan kembali menambah cadangan minyaknya setelah harga berada di bawah US$ 60-72 per barel. “Kami menilai bahwa kondisi tersebut juga bisa memicu harga minyak sulit turun ke bawah level US$ 70 per barel dalam jangka panjang,” tegas Hasan.
Selain faktor pemangkasan produksi dan penurunan cadangan minyak AS, Hasan mengatakan, prediksi harga minyak bertahan di level tinggi dipengaruhi oleh perang Hamas dengan Israel yang disebut-sebut melibatkan Iran. Perang tersebut berpotensi memicu gangguan logistik minyak melalui selat Hormuz.
“Risiko paling buruk atas konflik tersebut terhadap pasar minyak adalah kemungkinan meluasnya konflik hingga Selat Hormuz. Sebagaimana diketahui selat tersebut merupakan jalur perdagangan sekitar 20% ekspor minyak global atau setara dengan 17 juta barel per hari,” kata Hasan.
Berpatokan pada berbagai faktor tersebut, BRI Danareksa Sekuritas menyatakan, sentimen terbukanya peluang gangguan perdagangan minyak dunia menjadi isu paling dominan terhadap harga minyak dunia saat ini, dibandingkan dengan penurunan permintaan dunia.
Hal itu mendorong BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan harga minyak dunia akan berada di atas US$ 70 per barel hingga tahun 2024. Penguatan harga minyak juga didukung upaya AS untuk menaikkan cadangan minyak ke level normal dengan membeli dari pasar.
Dengan perkembangan tersebut, BRI Danareksa Sekuritas menjadi saham PT Medco Energi Tbk (MEDC) sebagai pilihan teratas dari sektor ini. Saham ini direkomendasikan beli dengan target harga Rp 1.900.
BRI Danareksa Sekuritas juga merekomendasikan beli saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) dengan target harga Rp 1.800 dan rekomendasi beli saham PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) dengan target harga Rp 2.000 per saham.
Dampak Konflik
Sedangkan tiga analis CGS CIMB Sekuritas Wisnu Trihatmojo, Genie Purnamasari, dan Bob Setiadi mengatakan, harga minyak dunia diprediksi sulit turun dalam jangka waktu lama. Hal itu tidak saja dipicu atas memanasnya konflik Israel dengan Hamas, tetapi juga akibat adanya peluang diterapkan pelarangan ekspor Iran.
Adapun konflik Israel-Palestina sendiri hanya berdampak terhadap penguatan harga minyak dalam jangka pendek. Sebab, kedua perusahaan bukan merupakan produsen minyak besar di dunia.
Justru, ungkap ketiga analis tersebut, pedagang minyak mengkhwatirkan terganggunya pasokan minyak dari negara-negara sekitar kawasan tersebut, khususnya Iran. Sebagaimana diketahui. Iran berkontribusi sebanyak 3% terhadap total produksi minyak dunia atau setara dengan 3,1 juta barel per hari pada September 2023.
“Kami mengkhawatirkan konflik Israel-Hamas dapat memicu Amerika Serikat (AS) menjatuhkan sanksi kepada Iran berupa pelarangan ekspor minyak. Sedangkan Iran kemungkinan membalas sanksi tersebut dengan pelarangan pelayaran di selat Hormuz,” tulis riset tersebut.
Berdasarkan sejarah, terang CGS CIMB Sekuritas, pasokan minyak global pernah terganggu yang memicu krisis pada 1973. Hal ini setelah Mesir dan Suriah menyerang perbatasan selatan dan utara Israel. Serangan tersebut dilakukan bertepatan pada perayaan suci Yahudi. Serangan tersebut dibalas dengan embargo minyak dari kedua negara.
Dengan demikian, CGS CIMB Sekuritas memperkirakan rata-rata harga minyak tahun ini mencapai US$ 85 per barel dan diharapkan turun ke level US$ 80 per barel pada 2024.
Sedangkan dampaknya terhadap saham emiten minyak, riset tersebut mengkalkulasi, setiap kenaikan harga minyak sebesar US$ 5 per barel bisa berdampak terhadap kenaikan laba per saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) masing-masing sebesar 9% dan 4%.
Berbagai faktor tersebut mendorong CIMB Sekuritas mempertahankan rekomendasi overweight saham sektor minyak dan gas. Sedangkan saham pilihan teratas adalah MEDC yang direkomendasikan add dengan target harga Rp 1.650.
Perusahaan sekuritas ini juga merekomendasikan add saham PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) dengan target harga Rp 1.650. Begitu juga dengan target harga saham PGAS dipertahankan rekomendasi add dengan target harga Rp 1.625.
Prospek Saham Energi
|
CGS CIMB Sekuritas |
BRI Danareksa Sekuritas |
|||
|
Rekomendasi |
Target harga |
Rekomendasi |
Target harga |
|
|
AKRA |
Add |
1.650 |
Buy |
2.000 |
|
MEDC |
Add |
1.650 |
Buy |
1.800 |
|
PGAS |
Add |
1.625 |
buy |
1.900 |
Sumber: Diolah dari Berbagai Sumber
Polemik
Sementara itu, perang antara Israel dan Hamas menimbulkan polemik tentang tren harga minyak ke depan. Kalaupun harga naik, apakah berlangsung lama atau hanya temporer? Berbagai analisis dengan asumsi dan argumen masing-masing pada umumnya memang mengarah pada tendensi kenaikan. Hanya besarannya yang berbeda-beda.
Perang Isral-Palestina kali ini memang memperkeruh pasar yang sudah cenderung volatile dalam sebulan terakhir. Gejolak itu antara lain dipengaruhi oleh pemangkasan produksi dari Arab Saudi dan Rusia. Aksi tersebut membuat harga minyak Brent reli dan dan sempat menyentuh level US$ 100 per barel.
Tendensi kenaikan harga minyak juga sangat mungkin jika dikaitkan dengan proyeksi kenaikan permintaan global yang diungkapkan oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC). Dalam tinjauan (outlook) tahunannya, OPEC memprediksi bahwa permintaan minyak dunia akan meningkat dalam jangka menengah dan panjang.
Menurut OPEC, permintaan minyak dunia akan mencapai 116 juta barel per hari pada 2045. Hal ini berarti ada kenaikan sekitar 6 juta bph dibanding proyeksi pada laporan OPEC tahun 2022. Pemicu kenaikan permintaan tersebut adalah Tiongkok, India, serta negara-negara Asia lainnya, juga Afrika dan Timur Tengah.
Untuk itu, OPEC dalam laporan bertajuk “World Oil Outlook 2023” menyebut bahwa dibutuhkan investasi sedikitnya US$ 14 triliun untuk mengantisipasi kenaikan permintaan tersebut.
Permintaan bahan bakar fosil ini tampaknya tidak terlalu terpengaruh oleh kampanye besar-besaran energi baru terbarukan, seiring dengan dorongan untuk menggunakan kendaraan listrik yang bergaung di seantero dunia.
Tren permintaan minyak juga diamini oleh Badan Energi Internasional (IEA), yang menyebut bahwa permintaan mungkin akan mencapai puncaknya pada dekade ini. Itulah sebabnya, IEA menilai bahwa pandangan dan analisis bahwa dunia perlu menyetop investasi di proyek-proyek minyak baru boleh jadi menyesatkan.
Sebagian analis meyakini bahwa lonjakan harga minyak ini bersifat temporer alias sementara. Faktor utamanya adalah Israel bukan produsen utama minyak. Demikian pula Palestina. Dugaan bahwa perang ini menyeret negara-negara sekitar selaku produsen minyak juga terlalu dini.
Isral hanya memiliki beberapa kilang minyak dengan kapasitas produksi total sekitar 300 ribu bph. Negeri itu juga tidak memiliki kondensat. Palestina pun tidak menghasilkan minyak yang layak diperhitungkan.
Menurut Direktur Riset Bank Commonwealth, Vivek Dhar, sejarah telah memperlihatkan bahwa gejolak harga minyak cenderung bersifat temporer. Pasar yang volatile biasanya akan dengan mudah diredam oleh kekuatan-kekuatan pasar yang ada, utamanya oleh produsen dan trader besar.
Dia menambahkan, perang atau konflik ini akan berdampak signifikan terhadap pasar minyak apabila ada pengurangan pasokan secara berkelanjutan. Jika itu tidak terjadi, maka pasar biasanya akan segera mereda secara bertahap.
Vivek Dhar menyebut bahwa perhatian pasar mungkin lebih tertuju pada posisi Iran, yang disebut-sebut terkait dengan serangan Hamas. Pasar khawatir negara-negara Barat memberikan sanksi tertentu terhadap negeri kaya minyak itu, sehingga produksinya berisiko turun.
Atas dasar kemungkinan itu, analis CIO Bison Interests, Josh Young menyatakan bahwa perang Hamas-Israel berpotensi memberikan dampak dramatis terhadap pasar apabila Amerika dan Barat menerapkan sanksi terhadap ekspor Iran. Tapi, itupun, dampak kenaikanya hanya sekitar US$ 5 dolar per barel.
Kenaikan harga yang relatif tidak tinggi juga diungkapkan oleh President Rapidan Energy, Bob McNally. Perang Hamas-Israel kemungkinan hanya akan menaikan harga minyak sekitar US$ 5-10 per barel, dengan asumsi 40% ekspor minyak global dilakukan melalui Selat Hormuz.
Namun demikian, kata Bob McNally, harga minyak mentah berpotensi merambat naik apabila perang ini menyeret keterlibatan Hisbullah, kelompok militan Lebanon. Apalagi jika negara-negara di sekitar ikut memperkeruh suasana.
Keyakinan bahwa volatilitas harga minyak tidak akan berlangsung lama juga diungkapkan oleh analis dalam negeri, Robertus Hardy dari Mirae Asset Sekuritas. Secara umum, berdasarkan data empiris dan historikal selama ini, lonjakan harga sebuah kelas aset yang terjadi secara tiba-tiba biasanya diikuti pula oleh penurunan tajam dalam waktu yang relatif singkat.
Dia lantas merujuk pada lonjakan harga minyak saat terjadi perang Rusia melawan Ukraina yang dimulai pada akhir Februari 2022. Ketika itu, harga minyak mentah WTI sempat melonjak 36% menjadi US$ 125 per barel dalam tempo tujuh hari perdagangan. Tapi, harga minyak perlah menurun ke level US$ 95 per barel pada lima hari perdagangan berikutnya.
Robertus menekankan bahwa pada akhirnya, pergerakan harga komoditas atau barang apapun bakal dipengaruhi oleh fundamentalnya masing-masing, mengikuti suplai dan permintaan.
Dalam komoditas minyak mentah, kontrol produksi oleh OPEC+ masih menjadi penentu harga yang berperan penting. Harga batu bara saat ini dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi Tiongkok yang belum begitu menggembirakan. Adapun harga emas sering terkait dengan nilai tukar dolar AS. (Hari Gunarto)

