Harga Minyak Diprediksi Sulit Turun, Tiga Saham Ini Dijagokan
JAKARTA, Investortrust.id – Harga minyak dunia diprediksi sulit turun dalam jangka waktu lama tidak saja dipicu atas memanasnya konflik Israel dengan Hamas, tetapi peluang diterapkan pelarangan ekspor Iran menjadi sentiment utama terhadap harga komoditas ini.
Analis CGS CIMB Sekuritas menyebutkan Wisnu Trihatmojo, Genie Purnamasari, dan Bob Setiadi mengatakan, konflik Israel-Palestina hanya berdampak terhadap penguatan harga minyak dalam jangka panjang. Karena kedua perusahaan bukan produsen minyak besar di dunia.
Baca Juga
Potensi Krisis Minyak Perang Hamas-Israel, Indonesia Kena Imbas?
Justru, ungkap ketiga analis tersebut, pedagang minyak mengkhwatirkan terganggunya pasokan minyak dari negara-negara sekitar kawasan tersebut, khususnya Iran. Sebagaimana diketahui Iran berkontribusi sebanyak 3% terhadap total produksi minyak dunia atau setara dengan 3,1 juta barel per hari pada September 2023.
“Kami mengkhawatirkan konflik Israel-Hamas dapat memicu Amerika Serikat (AS) menjatuhkan sanksi kepada Iran terkait pelaranga ekspor minyak. Sedangkan Iran kemungkinan membalas sanksi tersebut dengan pelarangan pelayaran di selat Hormuz,” tulis riset tersebut.
Baca Juga
Berdasarkan Sejarah, terang CGS CIMB Sekuritas, pasokan minyak global pernah terganggu yang memicu krisis pada 1973. Hal ini setelah Mesir dan Suria menyerang perbatasan Selatan dan utara Israel. Serangan tersebut dilakukan bertepatan pada perayaan suci Yahudi. Serangan tersebut dibalas dengan embargo minyak dari kedua negara.
“Meski demi kian, kami tidak yakin bahwa kondisi seperti itu akan berulang lagi, karena bisa berimbas terhadap lonjakan harga minyak dunia saat permintaan tinggi. Hanya saja konflik tersebut setidak bisa menaikkan harga minyak berkisar US$ 5-10 per barel,” terangnya.
Lalu, apa dampaknya bagi Indonesia? CGS CIMB Sekuritas menyebutkan bahwa kenaikan harga minyak dunia berpotensi menaikkan inflasi Indonesia tahun 2024. Setiap perubahan harga minyak mencapai 10% dapat berimbas terhadap kenaikan inflasi sektor energi dan transportasi mencapai 0,86%.
Baca Juga
Saham Barito Renewable (BREN) Lagi-lagi ARA, Market Cap Kejar Emiten Prajogo Ini
Dampak paling besarnya lagi adalah peningkatan anggaran subsidi pemerintah, apalagi peluang menaikkan harga minyak menjelang pemilu sudah tidak memungkinkan. Dengan demikian, CGS CIMB Sekuritas memperkirakan rata-rata harga minyak tahun ini mencapai US$ 85 per barel dan diharapkan turun ke level US$ 80 per barel pada 2024.
Sedangkan dampaknya terhadap saham emiten minyak, riset tersebut mengkalkulasi, setiap kenaikan harga minyak mencapai US$ 5 per barel bisa berdampak terhadap kenaikan laba per saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) mencapai 9% dan 4%.
Baca Juga
Saham Medco (MEDC) Direvisi Naik ke Level Ini, Simak Faktor Pendorong
Berbagai faktor tersebut mendorong CIMB Sekuritas mempertahankan rekomendasi overweight saham sektor minyak dan gas. Sedangkan saham pilihan teratas adalah MEDC direkomendasikan add dengan target harga Rp 1.650.
Perusahaan sekuritas ini juga merekomendasikan add saham PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) dengan target harga Rp 1.650. Begitu juga dengan target harga saham PGAS dipertahankan rekomendasi add dengan target harga Rp 1.625.

