Adu Strategi Bank-Bank Papan Atas, Siapa Jawaranya?
JAKARTA, investortrust.id – Empat bank papan atas kategori bank dengan modal inti di atas Rp 70 triliun atau Kelompok Bank Modal Inti (KBMI-4) bersaing ketat dalam meraih performa keuangan terbaik. Berdasarkan laporan kinerja kuartal I-2024, masing-masing memiliki keunggulan dari sisi pencapaian berbagai indikator, lewat strategi dan terobosan masing-masing.
Keempat bank tersebut -- PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, PT Bank Mandiri Tbk, PT Bank Negara Indonesia Tbk, dan PT Bank Central Asia Tbk -- secara konsolidasi menguasai aset perbankan nasional sebesar Rp 6.664 triliun serta total kredit dan pembiayaan sebesar Rp 4.274 triliun.
Dari struktur bottom line, seperti laba bersih, baik secara konsolidasi maupun bank only, BRI memimpin dari sisi nominal, mencapai Rp 15,89 triliun (konsolidasi). Namun dari sisi pertumbuhan, BCA masuk peringkat tertinggi, sebesar 12,2% (konsolidasi). Pertumbuhan laba bersih BRI, Bank Mandiri, dan BNI pada kuartal I-2024 sangat tipis namun tetap meyakinkan.
Sedangkan dari unsur aset, Bank Mandiri menyodok di posisi teratas, mencapai Rp 2.164 triliun (konsolidasi) dan BRI di tempat kedua sebesar Rp 1.989 triliun. Demikian pula kredit, Bank Mandiri tercatat paling royal mengucurkan pinjaman dengan total Rp 1.435 triliun, disusul BRI sebesar Rp 1.309 triliun.
Ditilik dari sisi pertumbuhan kredit, baik secara konsolidasi maupun bank only, Bank Mandiri juga memimpin dengan kenaikan 19,1% (konsolidasi) dan 20,1% (bank only). Pertumbuhan terbesar kedua diraih BCA, yakni mencapai 17,1% (konsolidasi) dan 17% (bank only).
Untuk dana pihak ketiga secara konsolidasi, secara nominal Bank Mandiri tertinggi, mencapai Rp 1.572 triliun. Namun secara bank only, BRI berada teratas, senilai Rp 1.410 triliun.
Diversifikasi Sumber Pertumbuhan BRI
Dalam jangka pendek-menengah, semua bank dihadapkan pada kebijakan moneter ketat menyusul penaikan BI-Rate 25 bps ke 6,25% pada Rabu (24/4/2024) lalu. Tantangan suku bunga tinggi adalah likuiditas. Namun bagi BRI, menurut Direktur Utama BRI Sunarso, likuiditas tidak menjadi masalah. Bank dengan 83% segmennya UMKM ini mampu menjaga rasio likuiditas, yakni loan to deposit ratio (LDR) di level 83%.
Menurut Sunarso, pertumbuhan kinerja BRI kuartal I-2024 ini tidak secemerlang tahun lalu. Salah satu penyebabnya adalah perlambatan bisnis UMKM, yang pada periode sebelumnya (tahun 2020-2022) dimanjakan stimulus. Atas dasar itu, BRI membuat strategi baru untuk menggenjot kinerja ke depan dengan memperbesar kredit korporasi, namun yang berkaitan dengan UMKM.
BRI juga akan meningkatkan kemampuan pengelolaan aset dan liabilitas yang lebih produktif. Hal ini dilakukan dengan terus melanjutkan ekspansi secara selektif pada aset dengan tingkat imbal hasil yang tinggi.
“Strategi lainnya, BRI akan mendiversifikasi sumber pertumbuhan dengan mendorong perolehan pendapatan melalui penguatan kapabilitas segmen ritel, fokus integritas holding UMi, serta penguatan bisnis entitas anak sebagai sumber pertumbuhan konsolidasi,” ujar Sunarso.
Seperti diketahui, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) meraih laba bersih konsolidasi sebesar Rp 15,89 triliun pada kuartal I-2024, meningkat 2,5% dibanding periode sama 2023 (year on year/yoy) sebesar Rp 15,5 triliun.
Laba tersebut didukung oleh kredit dan pembiayaan yang mencapai Rp 1.308,65 triliun, atau tumbuh 10,9% yoy dibanding kuartal I-2023 sebesar Rp 1.180,12 triliun. Selain itu, pendapatan bersih BRI menembus Rp 50,08 triliun pada kuartal I-2024, melonjak 17,9% dari Rp 42,46 triliun (yoy).
Adapun dana pihak ketiga (DPK) naik 12,8% menjadi Rp 1.416,2 triliun, dan periode sebelumnya Rp 1.255,45 triliun. Aset konsolidasi bertumbuh 9,1%, dari Rp 1.822,97 triliun menjadi Rp 1.989,1 triliun pada kuartal I-2024.
Konsolidasi merupakan gabungan secara grup, yang terdiri atas BRI, PT Permodalan Nasional Madani (PNM), PT Pegadaian, BRI Danareksa Sekuritas, BRI Life, Bank Raya, dan beberapa lagi.
Bank Mandiri Resilien dan Adaptif
Sementara itu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk jawara dalam nilai aset, kredit, DPK, serta pertumbuhan kredit dan DPK di jajaran empat bank elite ini. Bank Mandiri berhasil membuktikan ketahanan dan adaptabilitasnya dalam kondisi pasar yang volatil di tengah ketidakpastian ekonomi dan keuangan global.
Hal ini tercermin pada kemampuan Bank Mandiri dalam menyalurkan kredit konsolidasi sebesar Rp 1.435 triliun pada kuartal I 2024, meningkat 19,1% secara year on year (yoy). Pencapaian tersebut melampaui pertumbuhan kredit industri yang secara tahunan tercatat sebesar 12,4% pada akhir Maret 2024.
Menurut Direktur Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidi, pertumbuhan kredit Bank Mandiri tersebut mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang solid dan resilien. “Melalui pencapaian fungsi intermediasi ini, Bank Mandiri mempertegas peranan sebagai agen pembangunan yang berupaya untuk berkontribusi maksimal terhadap perekonomian di Indonesia,” ujar Darmawan di Jakarta, Selasa (30/4).
Secara konsolidasi, perolehan laba bersih BMRI pada kuartal I-2024 mencapai Rp 12,7 triliun, naik 1,1% dari periode sama sebelumnya sebesar Rp 12,56 triliun. Pendapatan bunga bersih mencapai Rp 24,19 triliun, naik 5,2% dibanding kuartal I-2023 sebesar Rp 23 triliun.
BMRI group tergolong agresif dalam menyalurkan kredit dan pembiayaan, dengan pertumbuhan 19,1%, dari Rp 1.205,5 triliun pada kuartal I-2023 menjadi Rp 1.435,49 triliun pada kuartal I-2024. Di periode sama, DPK tercatat meningkat 13%, dari Rp 1.391 triliun menjadi Rp 1.571,9 triliun.
Sementara itu, aset konsolidasi BMRI tertinggi di antara bank KBMI 4, menembus Rp 2.163,8 triliun, dari posisi kuartal I-2023 sebesar Rp 1.908 triliun.
Meski pertumbuhan kredit agresif, rasio non-performing loan (NPL) gross bank only yang terus terjaga hingga ke level 1,02% per Maret 2024, turun 68 basis poin (bps) dari periode yang sama di tahun lalu yang sebesar 1,7%.
Transformasi Lanjutan BNI
Di lain sisi, bank BUMN yang masuk empat besar, PT Bank Negara Indonesia Tbk atau BNI (BBNI) optimistis pertumbuhan bisnisnya tetap moncer di tengah tekanan geopolitik global, melemahnya nilai tukar rupiah, dan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI).
Direktur Utama BNI Royke Tumilaar menyebut, BNI sudah menyiapkan sejumlah strategi untuk mengelola kondisi likuiditasnya. Manajemen risiko yang ketat diterapkan, termasuk melakukan analisis untuk menguji ketahanan (stress test) dalam menghadapi berbagai kemungkinan atau skenario ekonomi yang buruk.
Selain itu, ujar Royke Tumilaar, perseroan terus melanjutkan transformasi perusahaan yang sudah berjalan selama tiga tahun agar mampu memberikan tingkat profitabilitas yang kuat dan sehat dalam jangka panjang.
"Fundamental BNI semakin sehat dan kuat berkat program transformasi yang menjadi langkah besar kami untuk terus tumbuh dan berkembang, serta beradaptasi terhadap tantangan di tingkat nasional dan global," kata Royke dalam paparan kinerja kuartal I-2024, Senin (29/4/2024).
Dia mengklaim BNI berada di jalur yang tepat untuk mencapai aspirasi profitabilitas return on equity (ROE) hingga level 20% pada 2028 mendatang. Hal ini didasari oleh pertumbuhan aset yang stabil dan berkelanjutan dari segmen prospektif berisiko rendah serta kualitas aset yang semakin sehat.
Upaya lain, lanjut Royke, BNI juga sudah menerapkan kebijakan pembiayaan (pricing) yang efisien, khususnya untuk kredit berbasis valuta asing (valas). Bank pelat merah itu juga akan terus memantau perkembangan nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
BNI dalam laporan kinerja kuartai I-2024 menorehkan laba bersih konsolidasian sebesar Rp 5,33 triliun pada kuartal I-2024, naik tipis 2,1% (yoy) dari posisi Rp 5,22 triliun. Pendapatan bersih terkontraksi 9,8%, dari level Rp 10,41 triliun menjadi Rp 9,39 triliun.
Adapun kredit meningkat 9,6% dari Rp 634 triliun menjadi Rp 695 triliun. DPK naik 4,9%, dari Rp 743,7 triliun menjadi Rp 780,2 triliun. Adapun aset BNI konsolidasi mencapai Rp 1.066,7 triliun, naik 5,4% dari Rp 1.012,4 triliun.
BCA Kawal Pertumbuhan
Di jajaran bank swasta KBMI 4, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) selalu berada di posisi teratas. Secara konsolidasi, laba bersih BCA meningkat 12,2% jadi Rp 12,9 triliun di kuartal I-2024, dari periode sama sebelumnya sebesar Rp 11,5 triliun. Pendapatan bunga bersih naik 7% dari Rp 18,5 triliun menjadi Rp 19,8 triliun.
Laba bersih BCA ditopang kredit yang melonjak 17,1% (konsolidasi), dari Rp 713,8 triliun menjadi Rp 835,7 triliun pada kuartal I-2024. DPK BCA konsolidasi bertumbuh 7,9% dari Rp 1.038,8 triliun menjadi Rp 1.120,6 triliun. Sedangkan aset konsolidasi BCA saat ini mencapai Rp 1.444 triliun, naik 9,3% dibanding kuartal I-2023 sebesar Rp 1.321,7 triliun.
Presiden Direktur BCA, Jahja Setiaatmadja menyatakan bahwa likuiditas tidak ada masalah. LDR tercatat sebesar 71%, dengan pertumbuhan kredit di atas rata-rata industri. BCA juga dikenal jago dalam memobilisasi DPK murah, terbukti rasio dana murah (CASA) mencapai 80%.
Jahja Setiaatmadja berharap ke depan perekonomian tetap terus bertumbuh, dan perbankan akan mengawal pertumbuhan tersebut dari sisi fungsi intermediasi. “Sebagai bank kita tugasnya mengawal. Pertama dari segi financing karena kita adalah intermediasi keuangan, dapat duit dari masyarakat dan kepercayaan masyarakat. Maka, kita kasih kredit yang berkualitas. Ini salah satu keunggulan,” kata Jahja dalam halal bihalal dengan pemimpin redaksi di Jakarta, Selasa (30/4/2024).
Bank Only
Peringkat sedikit berbeda jika ditinjau dari sisi bank only. Bank BRI bukan hanya teratas dalam hal laba bersih dan pendapatan bunga bersih di kuartal I-2024 ini, tapi juga tertinggi dalam hal aset, penyaluran kredit, serta DPK.
Laba bersih BRI (bank only) tercatat sebesar Rp 13,8 triliun. Pendapatan bunga bersih Rp 28,41 triliun, naik 8,1% dibanding kuartal I-2023 sebesar Rp 26,27 triliun. Kredit meningkat 10,9%, dari Rp 1.065,3 triliun menjadi Rp 1.181,6 triliun. Sementara DPK bertumbuh 12,9%, dari Rp 1.249,5 triliun ke posisi Rp 1.410,4 triliun.
Aset bank only sebesar Rp 1.850 triliun, tumbuh 8,9% dari periode sama sebelumnya sebesar Rp 1.699,7 triliun.
Secara bank only, kredit BMRI melesat 20,1%, dari Rp 927,2 triliun menjadi Rp 1.113,9 triliun. DPK tumbuh 13,6% dari Rp 1.084,8 triliun menjadi Rp 1.232,5 triliun. Total aset BMRI (bank only) pada kuartal I-2024 mencapai Rp 1.666,5 triliun, dibanding periode sama sebelumnya Rp 1.473,8 triliun.
Meski pertumbuhan kredit agresif, rasio non-performing loan (NPL) gross bank only terus terjaga hingga ke level 1,02% per Maret 2024, turun 68 basis poin (bps) dari periode yang sama di tahun lalu yang sebesar 1,7%.
Sementara itu, laba bersih Bank Mandiri (bank only) hingga kuartal I-2024 tercatat sebesar Rp 11,13 triliun, naik 0,4% yoy dari Rp 11,09 triliun. Pendapatan bunga bersih tumbuh satu digit dari Rp 16,93 triliun menjadi Rp 17,96 triliun.
Untuk BNI (bank only), laba bersih tercatat sebesar Rp 5,29 triliun, naik tipis 1,5% dari Rp 5,29 triliun. Pendapatan bersih susut 10,7% menjadi Rp 9,2 triliun, dari level kuartal I-2023 sebesar Rp 10,3 triliun. Kemudian kredit tumbuh 8,9% menjadi Rp 685,96 triliun. Adapun aset di kuartal I-2024 meningkat 4,8% menjadi Rp 1.026, 2 triliun. Dana pihak ketiga BNI meningkat 4,5% dari 737,4 triliun menjadi Rp 770,84 triliun.
Direktur Finansial BNI Novita Widya Anggraini menambahkan, BNI bakal menggenjot dana murah (CASA) yang saat ini porsinya, 70%. Salah satunya lewat optimalisasi platform digital, baik untuk nasabah retail maupun korporasi.
Untuk bank only, laba bersih BCA melesat 17,9% dari Rp 11 triliun (Q1/23) menjadi Rp 13 triliun (Q1/24). Untuk periode sama, pendapatan bunga bersih naik 6,2% dari Rp 17,4 triliun menjadi Rp 18,5 triliun.
Kredit tumbuh tinggi, sebesar 17% dari Rp 693,7 triliun menjadi Rp 811,6 triliun. DPK tumbuh 7,6% dari 1.022 triliun menjadi Rp 1.100 triliun. Kemudian aset bank only meningkat 9%, dari Rp 1.288,7 triliun menjadi Rp 1.404,8 triliun.
Tetap Optimistis
Ilustrasi kinerja empat bank raksasa nasional tersebut memberikan sinyal bahwa mereka mampu mempertahankan performa yang baik, meski pertumbuhannya terhambat. Bank KBMI 4 itu terbukti memiliki ketahanan tinggi, resilien, serta mampu meng-generate laba dan pendapatan.
Ke depan, di tengah suku bunga tinggi yang “higher for longer”, bank harus semakin berhati-hati menjaga likuiditas dan kualitas kredit. Ekspansi yang terukur dan konservatif akan lebih baik, daripada NPL membengkak dan bisa menggerus laba.
Yang pasti, keempat pimpinan bank papan atas tersebut sama-sama optimistis bahwa kinerja ke depan tetap akan tetap solid dan lebih baik. Berbagai strategi baru sudah mereka kibarkan, transformasi terus dilanjutkan, berjalan seiring dengan perluasan digitalisasi. Alhasil, peran bank-bank jumbo ini terhadap perekonomian diharapkan kian signifikan.***

