Inilah Faktor Positif yang Bikin Analis Merekomendasi Beli BBNI
JAKARTA, investortrust.id – Banyak faktor positif yang membuat sejumlah analis merekomendasikan beli saham BBNI. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) berhasil mempertahankan momentum pertumbuhan kredit hingga Agustus 2023. Begitu juga dengan margin bunga bersih (NIM) menunjukkan peningkatan.
BNI mencetak pertumbuhan pendapatan bunga bersih sebesar 3% dari Rp 26,70 triliun menjadi Rp 27,43 triliun hingga Agustus 2023. Sedangkan PPOP naik tipis dari Rp 22,84 triliun menjadi Rp 22,90 triliun. Hal ini menjadikan laba bersih meningkat sekitar 12% dari Rp 12,17 triliun menjadi Rp 13,63 triliun. Sedangkan ekspansi kredit kembali tumbuh 0,8% (mom) dan mencapai 8,4% (yoy) menjadi Rp 652 triliun.
CGS CIMB Sekuritas menilai bahwa realisasi kinerja keuangan perseroan hingga Agustus 2023 telah sesuai dengan harapan. Raihan laba bersih hingga Agustus senilai Rp 13,63 triliun tersebut sudah sesuai dengan proyeksi CIMB Sekuritas dan konsensus analis atau masing-masing merefleksikan 65% dari target tahun ini.
"Kami cukup senang melihat momentum positif pertumbuhan kredit berlanjut di Agustus 2023. BBNI juga bisa membukukan kenaikan pada NIM setelah mereka secara penuh mendapatkan subsidi bunga KUR,” tulis riset harian CGS CIMB Sekuritas, Rabu (20/09/2023).
Terkait perubahan susunan dewan komisaris perseroan setelah diangkatnya Pahala Nugraha Mansury sebagai wakil presiden komisaris, hal itu berdampak minimal terhadap performa keuangan perseroan. Sebab, susunan manajemen perseroan saat ini akan tetap mempertahankan standar underwriting kredit sesuai yang telah dilaksanakan selama ini.
Hal ini mendorong CIMB Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi add saham BBNI dengan target harga Rp 11.300. Dengan penutupan harga BBNI level Rp 9,575 pada perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (20/9/2023), potensi cuan saham ini masih terbuka hingga 18,01%.
Pandangan positif terhadap performa keuangan BNI juga datang dari analis Mandiri Sekuritas Kresna Hutabarat dan Boby Kristanto Chandra. Menurut analis tersebut, BNI menunjukkan pertumbuhan pesat kredit pada Agustus 2023 bersamaan dengan penurunan biaya kredit. Begitu juga dengan pendapatan nonbunga tetap stabil.
“Jika kondisi ini bisa dipertahankan dalam beberapa bulan sampai akhir tahun, kami memperkirakan momentum pertumbuhan pendapatan operasional dan PPOP perseroan akan berlanjut sepanjang tahun ini,” terangnya.
Terkait realisasi laba bersih perseroan senilai Rp 13,63 triliun hingga Agustus 2023, Mandiri Sekuritas menyebutkan, angka tersebut setara dengan 63% dari target tahun ini senilai Rp 21,50 triliun. Sedangkan berdasarkan konsensus analis, perolehan tersebut telah merefleksikan 65% dari target konsensus analis Rp 21,08 triliun.
Adapun penurunan NIM dari 4,8% menjadi 4,7% hingga Agustus 2023, Mandiri Sekuritas menyebut hal itu dipengaruhi oleh peningkatan biaya dana menjadi 2,4%. Meski demikian, peningkatan imbal hasil membuat penurunan margin bisa terkendali dan masih sesuai dengan perkiraan manajemen.
Pertumbuhan performa keuangan yang sudah sesuai dengan estimasi tersebut mendorong Mandiri Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham BMRI dengan target harga Rp 11.500. Rekomendasi tersebut mempertimbangkan proyeksi kenaikan pendapatan bunga bersih menjadi Rp 43,81 triliun dan laba bersih diharapkan meningkat menjadi Rp 21,50 triliun pada 2023.
Stock Split
Pemegang saham sebelumnya telah menyetujui pemecahan nilai nominal saham beredar (stock split) dengan rasio 1:2. Persetujuan tersebut diputuskan dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) Selasa (19/09/2023).
Direktur Utama BNI Royke Tumilaar mengatakan, aksi korporasi tersebut dilakukan dengan tujuan meningkatkan minat investor ritel pada saham BBNI. Sekaligus memberikan dorongan positif pada perkembangan pasar modal di Tanah Air.
"Dengan stock split, kami berharap basis investor dapat diperluas seiring dengan harga saham perseroan yang lebih terjangkau, terutama bagi investor perorangan atau ritel. Langkah ini diharapkan berdampak positif pada aktivitas perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) sehingga mendorong likuiditas saham perseroan," kata Royke.
Kini, nilai nominal saham perseroan Seri A Dwiwarna dan Seri B berubah dari Rp 7.500 menjadi Rp 3.750. Ketentuannya, satu saham Seri A Dwiwarna tetap dipertahankan sebagai saham Seri A Dwiwarna milik Negara Republik Indonesia senilai Rp 3.750.
Selain itu, 1 saham Seri A Dwiwarna menjadi 1 saham Seri B milik Negara Republik Indonesia dengan nominal Rp 3.750 per saham. Sedangkan nilai nominal per Saham Seri C berubah dari Rp 375 menjadi Rp 187,5.
"Aksi korporasi tersebut tidak mempengaruhi kecukupan modal dan kinerja keuangan perseroan. Stock split juga tidak akan menyebabkan dilusi atau penurunan jumlah kepemilikan saham oleh pemegang saham perseroan," terang Royke.
Dengan aksi korporasi tersebut, jumlah saham perseroan yang beredar akan meningkat secara proporsional. Sedangkan nilai nominal dan nilai pasar dari setiap saham akan menyesuaikan secara proporsional.
Dalam tiga tahun terakhir, saham perseroan telah mendapat respon positif dari para investor. Harga saham perseroan pada penutupan perdagangan tanggal 31 Agustus 2023 tercatat di level Rp 9.175 per lembar, meningkat sebesar 79,9% dari posisi yang sama tiga tahun sebelumnya.
Secara year-on-year (yoy), harga saham perseroan meningkat sebesar 7,6%. Peningkatan ini lebih baik dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang turun 3,1% (yoy) dan Indeks LQ-45 yang juga melemah 5,9% YoY per 31 Agustus 2023.
Dari segi volume perdagangan, selama periode Januari- Agustus 2023, saham perseroan memiliki rata-rata volume transaksi harian sebesar Rp 256 miliar.
Tumbuh Berkualitas
Sementara itu, terkait performa perseroan selama semester I-2023, Dirut BNI Royke Tumilaar menyebut bahwa BNI mampu mempertahankan kinerja positif karena disiplin menjalankan strategi pertumbuhan selektif dan terukur dengan berfokus pada profitabilitas jangka panjang.
Dia menegaskan, transformasi yang dilakukan BNI telah memberikan output berupa layanan transaksi sekaligus berbagai solusi layanan perbankan yang baik bagi seluruh segmen nasabah. Selain menyederhanakan proses bisnis, transformasi ini juga meningkatkan efisiensi operasional perseroan.
Seperti yang disampaikan Presiden RI Joko Widodo dalam perayaan HUT ke-77 BNI, Juli lalu, saat ini BNI telah membuktikan diri dan berhasil menjawab tantangan global dengan beragam transformasi. Presiden berharap, BNI dapat terus meningkatkan peran dan kontribusi bagi perekonomian nasional, dengan memberikan dukungan pembiayaan dan pendampingan bagi UMKM dan pelaku usaha nasional agar naik kelas ke taraf internasional.
“Teruslah berinovasi dan memberdayakan potensi-potensi terbaik untuk memberikan layanan yang lebih baik lagi kepada masyarakat,” kata Presiden.
Menurut Royke, BNI terus berupaya mendukung Pemerintah RI untuk dapat memberikan dorongan positif pada pertumbuhan ekonomi sambil tetap menjaga kontribusi pada penerimaan negara. Dengan program konsolidasi, BNI terus mendorong transformasi pada perusahaan anak sehingga berdampak positif pada kinerja dan kontribusinya pada BNI Group.
“Program serta solusi yang ditawarkan BNI telah berdampak pada kemampuan perseroan untuk mencetak kinerja positif pada semester pertama 2023. Hal ini diikuti dengan strategi bisnis yang konsisten kepada segmen potensial, serta optimalisasi digital,” tegasnya.
Royke melanjutkan, perseroan juga fokus dalam penguatan likuiditas guna menopang akselerasi penyaluran kredit pada semester berikutnya. BNI akan mengoptimalkan pipeline penyaluran kredit, sekaligus mengakuisisi debitur sehat.
“BNI yakin akselerasi pada semester kedua ini akan lebih baik. Transformasi perusahaan sudah mulai memberikan output dan dampak positif pada kinerja yang lebih baik dalam hal portofolio, likuiditas, hingga profitabilitas,” katanya.
Laba bersih BNI semester I-2023 mampu tumbuh 17% (yoy) ke level Rp 10,3 triliun dengan portofolio kredit Rp 650,8 triliun. Kredit ditopang oleh segmen korporasi swasta blue chip yang tumbuh 17% (yoy) dan segmen konsumer yang tumbuh 12%. NPL turun ke 2,5%, dengan rasio pencadangan kredit bermasalah (NPL Coverage ratio) yang aman, yaitu 3,1 kali. DPK tumbuh 10,6% (yoy) menjadi Rp 765 triliun dan LDR 85,1%. Permodalan kuat dengan CAR 21,6%. Adapun kredit lancar yang direstrukturisasi juga membaik 270 bps menjadi 9,3% seiring pulihnya bisnis debitur. Rasio pembentukan beban CKPN terhadap total kredit (credit cost) turun ke 1,4%
Kredit Tumbuh Optimal
Sementara itu, Direktur Finance BNI Novita Widya Anggraini menyatakan, BNI semakin optimis dengan target pertumbuhan kredit tahun ini yang semakin positif seiring dengan kinerja ekonomi nasional. Portfolio kredit konsolidasi BNI pada Agustus 2023 tercatat lebih dari Rp 658 triliun, tumbuh sebesar 8,8% (yoy).
Peningkatan kinerja kredit diikuti oleh pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang mencapai lebih dari Rp 728 triliun (tumbuh 7,3% yoy).
Novita menyatakan, prospek makro pada paruh kedua tahun ini lebih positif, terutama dari sisi fiskal, dengan potensi peningkatan belanja masyarakat dan pemerintah.
“BNI memiliki pipeline yang kuat di segmen wholesale hingga akhir tahun, yaitu perusahaan blue chip dari beberapa sektor ekonomi yang prospektif dan resilient, termasuk yang fokus pada mendukung green loan, hilirisasi sumber daya alam, dan manufaktur,” kata Novita, Rabu (20/09/2023).
Di samping itu, ada juga tren penguatan daya beli masyarakat dan belanja pemerintah sehingga meningkatkan kredit sektor konsumer yang juga diharapkan memberikan efek pengganda ke sektor produktif. "Memasuki semester kedua, kami optimis kredit akan terus tumbuh sesuai dengan target pertumbuhan kredit Perseroan sebesar 7% hingga 9% pada akhir tahun 2023," katanya.
Selain itu, Novita juga memaparkan bahwa kinerja fungsi intermediasi yang sehat hingga Agustus 2023 telah membawa BNI mampu mencatatkan pre-provision operating profit atau PPOP lebih dari Rp 23,2 triliun, sehingga laba bersih perseroan saat ini telah mencapai Rp 13,71 triliun, tumbuh sebesar 14,9% (yoy).
Dari sisi indikator keuangan lainnya, Novita menambahkan, kualitas kredit juga dalam kondisi yang sehat, dengan rasio non performing loan (NPL) berada di level 2,31%, lebih rendah dibandingkan dengan tahun lalu.
Selain itu, permodalan juga dalam kondisi yang sangat kuat, dengan posisi Capital Adequacy Ratio (CAR) berada di level 22,05% per Agustus 2023. "Dengan kinerja fungsi intermediasi yang positif dan solid ini, kami yakin untuk terus membawa BNI lompat lebih tinggi lagi," tegas Novita.
Solusi Digital
Di lain sisi, Wakil Direktur Utama BNI Adi Sulistyowati menyampaikan BNI tetap melanjutkan pertumbuhan kinerja digital banking yang baik. Perseroan mampu konsisten meningkatkan kapabilitas, dan terus inovatif dalam pengembangan solusi keuangan digital yang sesuai dengan kebutuhan nasabah.
Dari segmen ritel, jumlah pengguna BNI Mobile Banking pada semester I-2023 mencapai 14,9 juta. Nilai transaksi mencapai Rp 544 triliun dari 460 juta transaksi.
“Pencapaian kinerja tersebut sejalan dengan strategi perseroan untuk menjadikan BNI Mobile Banking sebagai One Stop Financial Solutions, sehingga mampu menjawab berbagai kebutuhan layanan keuangan nasabah,” kata Susi, sapaan akrabnya.
Dari segmen wholesale banking, jumlah pengguna BNIDirect mencapai lebih dari 138.000 user. Hal ini mendorong pertumbuhan volume transaksi cash management mencapai Rp 3.168 triliun, dengan jumlah transaksi mencapai 384 juta transaksi.
Susi menambahkan, BNI juga memiliki agen laku pandai BNI Agen46 sebanyak lebih dari 173.000, tersebar di 6.000 kota dan 34.000 desa dengan total transaksi pada semester pertama mencapai Rp 28,4 triliun.
Laba bersih Perusahaan Anak di Juni 2023 tumbuh 50,1% YoY mencapai Rp 255,2 miliar, terutama didukung oleh BNI Life dan hibank. Hibank mampu mencatatkan pertumbuhan kredit 56,9% menjadi Rp 4,74 triliun, channeling UMKM melalui kolaborasi dengan beberapa fintech.
“Penguatan bisnis hibank ke depan, akan kami lakukan dengan membangun digital core banking baru, modernisasi sistem IT, dan pengembangan basic mobile banking. hibank juga akan memperkuat customer digital touch point yang akan dikembangkan dalam sebuah super platform, data analytics & artificial intelligence, hingga machine learning system,” tutur Susi.
Perubahan Susunan Pengurus
RUPS-LB Selasa (19/09/2023) juga menyetujui perubahan susunan pengurus perseroan. Rapat menyepakati pemberhentian dengan hormat Agus Dermawan Wintarto Martowardojo dari Komisaris Utama BNI dan kemudian mengangkat Pradjoto sebagai Komisaris Utama BNI. Sebelumnya, Pradjoto menjabat sebagai Wakil Komisaris Utama BNI. Selain itu, Pahala Nugraha Mansury (kini Wakil Menteri Luar Negeri) diangkat sebagai Wakil Komisaris Utama BNI.
Berikut susunan Dewan Komisaris:
- Komisaris Utama sekaligus Komisaris Independen Pradjoto
- Wakil Komisaris Utama Pahala Nugraha Mansury,
- Komisaris Independen Sigit Widyawan,
- Komisaris Askolani,
- Komisaris Independen Asmawi Syam,
- Komisaris Susyanto,
- Komisaris Independen Iman Sugema,
- Komisaris Independen Septian Hario Seto,
- Komisaris Independen Erwin Rijanto Slamet,
- Komisaris Fadlansyah Lubis, dan
- Komisaris Robertus Billitea,
Dewan Direksi:
- Direktur Utama Royke Tumilaar,
- Wakil Direktur Utama Adi Sulistyowati,
- Direktur Finance Novita Widya Anggraini,
- Direktur Digital & Integrated Transaction Banking Corina Leyla Karnalies,
- Direktur Enterprise & Commercial Banking Sis Apik Wijayanto,
- Direktur Risk Management David Pirzada,
- Direktur Wholesale & International Banking Silvano Winston Rumantir,
- Direktur Network & Services Ronny Venir,
- Direktur Institutional Banking Muhammad Iqbal,
- Direktur Retail Banking Putrama Wahju Setyawan,
- Direktur Human Capital & Compliance Mucharom, dan
- Direktur Technology & Operations Toto Prasetio.
(Hari Gunarto)

