Menjemput Kejayaan di Lereng Gunung Puntang
JAKARTA, Investortrust – Nama kopi puntang mungkin belum setenar kopi flores, kopi toraja, kopi sumba, kopi aceh, atau kopi lampung. Tetapi, percayalah, nama kopi puntang tak lama lagi bakal sejajar dengan nama-nama kopi lainnya yang telah menjadi kebanggaan masyarakat di Tanah Air. Itu karena cita rasa kopi puntang yang sensasional, dengan aroma yang sungguh menggoda.
Kopi puntang naik daun setelah kopi yang berasal dari sentra perkebunan kopi di lereng Gunung Puntang, Kabupaten Bandung itu memecahkan rekor harga termahal dalam sebuah lelang kopi di Atlanta, AS, tujuh tahun silam. Harga kopi puntang 10 kali lipat lebih mahal dari kopi kebanyakan.
Nama kopi puntang makin dikenal masyarakat setelah Presiden Jokowi menyeruput segelas kopi di sebuah coffee shop di Jl Progo, Bandung, di sela-sela kunjungannya ke Kota Kembang untuk meresmikian Tol Soroja pada 2017. Jokowi mengunggah kesannya tentang kopi puntang di Instagram.
“Di sini kopinya berasal dari Gunung Puntang Jawa Barat. Katanya, ini kopi terbaik dan termahal di dunia. Kopi kita juara. Raos pisan euy..," kata Jokowi dalam akun Instagramnya.
Puntang Coffee
Perkebunan kopi puntang terhampar di lereng Gunung Puntang di sekitar Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung pada ketinggian 1.200-1.600 meter di atas permukaan laut. Udara sejuk dan tanah subur Priangan menyulap kopi puntang menjadi salah satu kopi paling sedap di dunia.
Proses penanaman kopi puntang dilakukan masyarakat sekitar secara tradisional, mulai dari pemilihan bibit yang berkualitas, penanaman, hingga perawatan yang ekstra teliti.
Nah, di kaki Gunung Puntang sana bertebaran para produsen kopi berskala usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), salah satunya Puntang Coffee, binaan PT Telkom Indonesia Tbk.
Produsen kopi ini sudah menembus pasar Eropa. Produk green bean (biji kopi) unggulannya adalah jenis Arabica sunda typica, salah satu varian kopi puntang hasil pengembangan.
Puntang Coffee yang dibesut Kang Irwansyah S Komaludin pada 2013 di Desa Cimaung, Kecamatan Banjaran memproduksi kopi sekitar 9 ton per tahun. Dari jumlah itu, sekitar 300 kg di antaranya kopi Arabica sunda typica. Seluruhnya diekspor ke Belanda dan Jerman.
“Yang 300 kg itu untuk lot pertama tahun kemarin dan tahun ini," tutur Manajer Operasional Puntang Coffee, Aditya Maulana saat ditemui investortrust.id di sela-sela acara media tourPT Telkom, di gerai Puntang Coffee, di Cimaung, pekan lalu.
Meski sudah berhasil menembus pasar Eropa, Puntang Coffee lebih fokus menggarap pasar domestik alih-alih pasar ekspor. Soalnya, permintaan di dalam negeri masih tinggi.
Lagi pula, biaya distribusi di dalam negeri tidak semahal pengiriman ke Eropa. "Harga di pasar domestik juga bagus, Rp 230 ribu per kg," kata dia.
Yang pasti, para pecinta kopi di Belanda dan Jerman yang manggandrungi kopi Arabica sunda typica, khususnya yang dijual Puntang Coffee, terus meningkat. Buktinya, pesanan dari kedua negara itu terus mengalir.
Dukungan Modal
Puntang Coffee sejatinya masih bisa menggenjot penjualan kopi Arabica sunda typica ke pasar ekspor. Cuma, mereka masih terkendala permodalan, terutama untuk meningkatkan produksi di hulu (perkebunan).
“Sangat jarang pemodal yang mau investasi di perkebunan.Kami sendiri kesulitan karena modalnya terbatas,” ujar Aditya.
Minimnya investasi di perkebunan kopi bisa dipahami. Tanaman kopi biasanya baru berproduksi pada tahun ketiga atau keempat. Apalagi menanam kopi puntang, khususnya Arabica sunda typica, lebih sulit ketimbang kopi-kopi lain. Para investor tidak mau menunggu selama itu untuk memetik cuan.
Terlepas dari persoalan tersebut, Puntang Coffee bersyukur karena banyak dibantu Rumah Binaan BUMN Telkom Soreang. Salah satu bantuannya adalah pembuatan QRIS (Quick Response Code Indonesia Standard) untuk mempermudah transaksi para konsumen Puntang Coffee.
“Kepuasan pelanggan meningkat sekitar 50% karena konsumen lebih suka menggunakan QRIS yang praktis,” ucap dia.
Rasa Khas
Yang pasti, dalam soal cita rasa, kopi puntangmemang berbeda dengan kopi-kopi lainnya. Kopi yang konon pernah berjaya di zaman Belanda ini punya cita rasa yang khas; manis keasam-asaman, dengan karakter rasa buah yang kental.
“Kopi puntang memiliki rasa asam yang lebih tinggi daripada kopi lainnya. Kopi puntang cocoknya untuk manual brew karena rasa asamnya lebih bagus dan rasa aslinya keluar,” papar Aditya.
Di pasar domestik, Puntang Coffee mendistribusikan produknya ke beberapa kota, seperti Bandung, Jakarta, dan Bali. Dalam memproduksi dan memasarkan kopi puntang, Puntang Coffee melibatkan langsung para petani setempat yang tergabung dalam Kelompok Tani Kopi Puntang.
Tentu saja Puntang Coffee punya mimpi besar, yaitu melipatgandakan produksi dan penjualan, baik di pasar domestik maupun pasar ekspor.
“Kami sebenarnya bisa memproduksi 3 ton per tahun kopi Arabica sunda typica. Tapi ya itu tadi, kami terkendala produksi dari pohon yang belum terlalu banyak. Untuk meningkatkan produksi harus investasi kebun," kata Aditya.
Seperti para produsen kopi puntang lainnya di Cimaung, Aditya Maulana juga percaya kopi puntang bakal berjaya, baik di pasar ekspor maupun pasar domestik.
Apalagi kopi puntang sudah mendapatkan momentumnya pada 2016, saat berhasil memenangi kejuaraan dunia dalam Specialty Coffee Association of America Expo di Atlanta, AS.
Berkat prestasi tersebut, minat berbisnis kopi di kalangan anak-anak muda di Banjaran dan sekitarnya meningkat. "Sekarang kami merasa bangga menjual kopi puntang," tutur Ujang, pemuda di Banjaran yang ikut berjualan kopi puntang. (CR-6)

