Soliditas Outlook Anak Usaha Perkokoh Performa Indofood (INDF)
JAKARTA, investortrust.id – Tingkat pertumbuhan laba bersih PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) tahun 2023 dan 2024 diprediksi tetap kuat, seiring dengan harga bahan baku yang lebih rendah bersamaan dengan variasi penjualan produk yang lebih baik. Hal ini membuat tingkat margin keuntungan tetap kuat, diperkokoh lagi dengan prospek (outlook) anak usaha yang kian solid.
Analis Sucor Sekuritas Clara Nathania mengatakan, penjualan mie instan melalui anak usahanya, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), diharapkan tetap menjadi mesin pertumbuhan laba perseroan tahun ini. “Margin keuntungan penjualan CBP diprediksi cenderung meningkat didukung penurunan harga bahan baku dan penjualan yang lebih baik,” tulisnya dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, belum lama ini.
Sucor Sekuritas memperkirakan margin kotor INDF bakal meningkat menjadi 31,5% dan margin keuntungan bersih mencapai 8,2% di tahun 2023, dan angka tersebut berpotensi naik tahun depan. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan perkiraan tahun ini dengan gross margin 30,7% dan net margin mencapai 6,7% dalam lima tahun terakhir.
Sucor Sekuritas juga memprediksi bahwa return on equity (ROE) perseroan akan kembali pulih menjadi 15,8% tahun ini, dibandingkan realisasi tahun lalu sekitar 11,7%. “Berbagai faktor tersebut mendorong kami tetap untuk menyukai saham INDF dengan rekomendasi beli. Saham INDF juga menunjukkan valuasi yang atraktif dan harga lebih murah dibandingkan ICBP,” terangnya.
Sucor Sekuritas merekomendasikan beli saham INDF dengan target harga Rp 9.100. Target harga tersebut mengimplikasikan perkiraan PE tahun 2024 sekitar 7,7 kali. Saat ini, saham INDF ditransaksikan sangat atraktif, karena baru mencerminkan perkiraan PE tahun 2024 sektiar 5,5 kali. Karena itu, masih ada peluang kenaikan hingga mencerminkan perkiraan PE tahun 2024 sekitar 7,7 kali.
Sucor Sekuritas menargetkan kenaikan laba bersih INDF menjadi Rp 9,49 triliun tahun ini dan diharapkan naik menjadi Rp 10,34 triliun pada 2024, dibandingkan raihan tahun lalu sebesar Rp 6,30 triliun. Pendapatan perseroan juga diestimasi naik menjadi Rp 115,34 triliun tahun 2023 dan menjadi Rp 124,24 triliun pada 2024, dibandingkan raihan tahun lalu Rp 110,83 triliun.
Laba Lampaui Rp 10 Triliun
Prospek baik saham Indofood Sukses Makmur (INDF) juga diproyeksikan oleg analis BRI Danareksa Sekuritas Natalia Sutanto. Menurut dia, tingkat pertumbuhan laba bersih INDF diprediksi tetap solid hingga tahun depan. Perseroan diestimasi mampu untuk mencetak kenaikan pendapatan dan margin keuntungan.
“Kami melihat bahwa INDF merupakan sebuah proksi nilai dari ICBP. Padahal, saat ini saham INDF ditransaksikan dengan diskon mencapai 52% terhadap saham ICBP. Hal ini mendorong saham INDF layak dipertahankan dengan rekomendasi beli,” tulisnya dalam riset yang dipublikasikan di Jakarta, pekan lalu.
Terkait mesin pertumbuhan INDF, Natalia mengatakan, segmen penjualan mie instan melalui ICBP dan bidang usaha distribusi akan tetap menjadi andalan hingga tahun depan. Pertumbuhan penjualan perseroan juga berasal dari kenaikan volume dan harga jual tepung terigu yang dipasarkan Bogasari.
Sebaliknya, lini agribisnis perseroan diperkirakan menjadi penekan kinerja keuangan hingga tahun depan, seiring dengan proyeksi penurunan rata-rata harga jual minyak kelapa sawit (CPO).
Selain menopang kenaikan penjualan, kata Natalia, anak usaha ICBP diprediksi pengerek naik tingkat margin keuntungan perseroan hingga tahun 2024. Kenaikan tersebut didukung peningkatan rata-rata harga jual bersamaan dengan kenaikan volume penjualan. Margin EBIT ICBP diperkirakan kuat mencapai level 21,8%.
Begitu juga dengan distribusi diperkirakan tetap menghasilkan margin EBIT yang sehat dengan perkiraan mencapai 7% tahun depan. Sedangkan segmen penjualan tepung terigu juga berpotensi mencetak kenaikan margin keuntungan seiring dengan perkiraan penyesuaian rata-rata harga jual.
BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan kenaikan laba bersih INDF menjadi Rp 9,02 triliun tahun 2023 dan menjadi Rp 10,04 triliun pada 2024, dibandingkan raihan tahun lalu Rp 6,35 triliun. Pendapatan perseroan juga diharapkan melesat menjadi Rp 114,53 triliun tahun ini dan menjadi Rp 121,28 triliun pada 2024, dibandingkan raihan tahun 2022 senilai Rp 110,83 triliun.
“Berbagai faktor tersebut mendorong kami untuk mempertahankan rekomendasi beli saham INDF dengan target harga Rp 8.000. Target harga tersebut menggambarkan diskon 50% terhadap target PE ICBP tahun depan berkisar 14,2 kali,” terangnya.
Pada perdagangan Senin (13/11/2023), saham INDF ditutup pada Rp 6.450, masih terkoreksi 4,1% selama periode tahun berjalan (ytd), dengan market cap Rp 56,63 triliun.
Target harga tersebut juga mencerminkan bahwa saham INDF konsisten mengikuti tren peningkatan harga ICBP. Hal ini terlihat dari historis selama 10 tahun terakhir. Sedangkan sentimen negatif terhap penekan saham INDF datang dari berlanjutnya pelemahan nilai tukar rupiah dan harga CPO yang kian menurun.
Hingga September 2023, Indofood mencatatkan kenaikan pendapatan sebanyak 3,8% dari Rp 80,82 triliun menjadi Rp 83,88 triliun. Kenaikan tersebut berimbas terhadap peningkatan laba bersih perseroan sebanyak 52,4%, dari Rp 4,64 triliun menjadi Rp 7,08 triliun.
Lompatan laba bersih tersebut juga didukung penurunan biaya keuangan dari Rp 5,44 triliun menjadi Rp 2,52 triliun. Hal ini menjadikan margin keuntungan bersih (net margin) perseroan melesat dari 5,7% menjadi 8,4%. Begitu juga dengan margin EBIT naik dari 16,6% menjadi 16,8%.
Prospek Saham INDF
Sucor Sekuritas
Rekomendasi : Buy
Target harga : Rp 9.100
BRI Danareksa Sekuritas
Rekomendasi : Buy
Target harga : Rp 8.000
Pangsa Pasar vs Profitabilitas
Mengomentari torehan kinerja tiga kuartalnya di 2023, Anthoni Salim, Direktur Utama dan Chief Executive Officer Indofood, mengatakan: “Indofood telah berhasil mempertahankan kinerjanya yang positif selama periode sembilan bulan di tahun 2023 ini meskipun dihadapi oleh volatilitas dan ketidakpastian pasar yang masih terus berlanjut. Kami tetap optimis dan waspada untuk sisa tahun ini, dan akan terus berupaya dalam menjaga keseimbangan antara pangsa pasar dan profitabilitas serta neraca keuangan yang sehat.”
PT Indofood Sukses Makmur Tbk didirikan dengan nama PT Panganjaya Intikusuma pada 1990, dan memiliki berbagai kegiatan usaha yang telah beroperasi sejak awal tahun 1980-an. Perseroan menyandang nama PT Indofood Sukses Makmur Tbk saat melangsungkan penawaran umum perdana (IPO) saham pada 17 Mei 1994 di Bursa Efek Jakarta (sekarang BEI).
INDF dimiliki oleh First Pacific Company Limited dengan porsi 50,07% dan publik 49,93%. Sedangkan Anthoni Salim selaku CEO hanya memegang 0,02%.
Tahun 2007, Indofood mencatatkan saham salah satu afiliasinya di lini agribisnis, yakni Indofood Agri Resources Ltd di Singapore Stock Exchange (SGX). Tahun yang sama, grup agribisnis INDF memperluas perkebunannya dengan mengakuisisi PT PP London Sumatra Indonesia Tbk.
Pada 2010, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia yang disusul PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP), anak perusahaan pada grup agribisnis pada 2011.
Grup CBP memperluas kegiatan usaha mi instan dengan mengakuisisi Pinehill Company Limited, produsen mi instan yang beroperasi di Afrika, Timur Tengah dan Eropa Tenggara pada 2020.
Indofood menyebut diri sebagai perusahaan ‘Total Food Solutions’ dengan kegiatan operasional yang mencakup seluruh tahapan proses produksi makanan, mulai dari produksi dan pengolahan bahan baku hingga menjadi produk akhir yang tersedia di pasar. Dalam menjalankan kegiatan operasionalnya, Indofood memperoleh manfaat dari skala ekonomis serta ketangguhan model bisnisnya.
Corporate Secretary INDF, Victor Suhendra menjelaskan, ada empat kelompok usaha strategis atau grup yang menjadi pilar Indofood. Pertama, Produk Konsumen Bermerek (CBP), yang memproduksi beragam produk konsumen bermerek antara lain mi instan, produk dairy, makanan ringan, penyedap makanan, nutrisi dan makanan khusus, dan minuman.
Kedua, Grup Bogasari, yang memiliki kegiatan usaha utama memproduksi tepung terigu dan pasta, didukung oleh unit usaha perkapalan dan kemasan.
Grup ketiga di lini agribisnis, dengan kegiatan utama meliputi penelitian dan pengembangan, pemuliaan benih bibit, pembudidayaan dan pengolahan kelapa sawit hingga produksi dan pemasaran produk minyak goreng, margarin dan shortening. Di samping itu, kegiatan usaha grup ini juga mencakup pembudidayaan dan pengolahan tebu dan karet serta tanaman lainnya.
Grup keempat adalah Distribusi. Dengan jaringan distribusi yang paling luas di Indonesia, kelompok ini mendistribusikan sebagian besar produk konsumen Indofood dan anak-anak perusahaannya, serta berbagai produk pihak ketiga. (Hari Gunarto)

