Menikmati Sajian Aneka Sagu di Bueno Nasio, Kuningan CBD
JAKARTA, Investortrust—- Mendung perlahan menggantung di atas langit Jakarta. Waktu pukul 12.30 WIB. Didampingi Dirut PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJ) Lucas Kurniawan, Director of Sustainability & Corporate Communications ANJ Group, Nunik Maharani, dan Tim ANJ, saya dan dua rekan dari Investortrust memasuki Bueno Nasio, restoran aneka sagu, yang terletak di Menara BTPN, Kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (19/09/2023). Inilah satu-satu sajian aneka sagu yang ada di Jakarta.
Membaca kata “Bueno Nasio” pikiran orang, termasuk saya,menerawang ke Portugis, Spanyol,atau Amerika Latin. “Surpricingly! Bueno nasio berasal dari bahasa Papua yang artinya dapur enak. Nama ini diberikan oleh ketua Lembaga Masyarakat Adat Papua tahun 2018,” kata Nunik.
Selain Belitung, Sumatera, dan Kalimantan, PT ANJ Tbk beroperasi juga Papua Barat Daya. Konsesi lahan ANJ di Kabupaten Sorong Selatan dan Maybrat,Papua Barat Daya seluas 91.210 ha. Seluas 9.024 ha telah dikembangkan untuk sawit. Sisanya untuk lahan konservasi dan infrastruktur. Selain itu, ada sekitar 40.000 ha lahan sagu.
“Nama bueno nasio dari suku asli Papua di sekitar lokasi perkebunan sawit,” timpal Lucas. Karena ada jejak Portugis di daerah sekitar perkebunan sawit di Papua, kemungkinan besar kata “bueno nasio” dipengaruhi oleh bahasa Portugis. Tapi, terlepas dari soal nama, aneka sajian sagu di Restoran Bueno Nasio memang lezat dan sehat. Dari awal proses, batang sagu diolah menjadi tepung halus putih seperti terigu hingga makanan siap saji, makanan di Bueno Nasio 100% organik. “Tidak ada bahan pengawet,” kata Lucas.
Dibuka Agustus 2019, Restoran Bueno Nasio langsung memasukiera pandemi Covid-19. Ketika banyak karyawan tidak bekerja di kantor, restoran ini pun sepi pengunjung. Namun, karena kuatnya niat untuk mempromosikan sagu, restoran ini tetap dipertahankan.
“Menu utamanya adalah sagu. Semua bahan makanan diolah bersama sagu. Menu makanan Indonesia dan Barat di restoran ini mengandung sagu,” papar Lucas. Mie sagu dan baso sagu adalah makanan yang cocok dengan lidah orang Indonesia di bagian barat.
Saat pesanan kami tersajikan di meja, hujan pun turun. Meski tidak lebat, curah hujan cukup untuk sedikit menghalau polusi yang selama lima bulan terakhir mendera Ibukota. “Ini mie sagu dengan ikan tuna, masakan Italia,” jelas Windianti, Head of Corporate Planning Windianti.
Lucas dan Nunik juga memesan mie, namun mie makanan khas Aceh. Dua masakan ini sama-sama favorit di Bueno Nasio. Di restoran ini, ada menu selera Barat, ada menu selera Asia. Ada chicken katsu curry rice. Ada sagu chicken katsu curry rice, dan banyak lagi. Ada makanan dengan kandungan sagu kental.
Di Indonesia bagian timur orang mengenal sagu hanya untuk papeda. “Kita coba menunjukkan bahwa sagu bisa diolah menjadi masakan yang dikenal oleh orang Indonesia di wilayah barat. Ada tahu bale, tahu yang di dalamnya diisi adonan sagu. Ada cireng yang dibuat dari sagu murni, mie sagu, dan lainnya,” papar Lucas.
Tepung sagu yang diproduksi ANJ, demikian Lucas, dijamin hygienis. Setelah dihancurkan menjadi tepung, proses selanjutnya cukup diayak dan dicuci dengan air, tak perlu menggunakan bahan kimia.
Dalam waktu 15 menit, semua pesanan tersaji di atas meja. Tidak saja mie sagu dan makanan mengandung sagu, melainkan juga ada edamame rebus, sejumlah produk olahan edamame, dan kripik okra.
“Crispy edamame bisa langsung dimakan. Ini adalah hasil UMKM binaan PT Gading Mas Indonesia Teguh, yang bergerak di bidang pembekuan edamame, atau produk-produk hortikultura yang berlokasi di Jember,” jelas Lucas. Produk edamame beku dijual dengan merek dagang ‘Edashi’. Ada varian edashi original ada yang salted, asin.
Ada produk berupa edamame polong yang dijual ke UMKM untuk dijadikan edamame crispy. Brand frozen edamame edashi ini untuk pasar domestik. “Jika ada produk yang tidak sesuai dengan kualifikasi ekspor, pihak ANJ akan alihkan ke UMKM. “Semua produk bekunya sudah matang. Saat hendak konsumsi, tinggal ditaruh di air panas atau microwave,” jelas Lucas.
Pangan Lokal
Didirikan tahun 1993, PT ANJ Tbk menancapkan sebuah visi besar, yakni “menjadi perusahaan pangan berbasis agribisnis berkelas dunia yang meningkatkan kualitas kehidupan manusia dan alam”. ANJ memiliki perkebunan kelapa sawit di Sumatera, Balitung, Kalimantan, dan Papua dengan total lahan seluas 135.187 ha.
Di Papua Barat Daya, dahulu Papua Barat, ANJ mengembangkan 40.000 ha lahan untuk sagu dan 75.947 ha lahan untuk sawit. Mulai dari pemanenan sagu, ANJ mengoperasikan pabrik pengolahan tepung sagu.
“Visi kami adalah menjadi perusahaan pangan yang berbasis agribisnis berkelas dunia,” ujar Lucas. Setelah besar di perkebunan sawit, ANJ masuk ke bisnis ekstraksi tepung sagu.
Salah satu pemilik atau pemegang saham utama ANJ, kata Lucas, memiliki visi untuk menjadikan tepung sagu sebagai bahan makanan dengan kandungan karbohidrat utama yang bisa dibanggakan oleh masyarakat Indonesia.
Sagu masuk bisnis inti ANJ di samping sawit dan edamame. “Bisnis inti ANJ terdiri atas tiga, yakni kelapa sawit dari hulu ke hilir, ekstraksi tepung sagu yang terletak di Sorong Selatan, Papua Barat Daya, dan sayuran beku di Jawa Timur. Dan ada bisnis complimentary, yaitu energi terbarukan di mana sumber dari energi terbarukan ini adalah limbah dari kelapa sawit.
Saat ini, ANJ memproduksi sekitar 300 ton tepung sagu dari kapasitas terpasang bisa mencapai 2.500 ton per bulan. “Kami akan terus berupaya meningkatkan produksi, terutama mengatasi tantangan yang saat ini, yakni pengiriman tual-tual sagu dari hutan menuju pabrik. Sebagai gambaran, satu meter tual sagu beratnya sekitar 100 kg,” jelas Lucas.
Saat ini, bisnis sagu belum memberikan keuntungan kepada perusahaan. Di wilayah terpencil seperti Papua, biaya logistik sangat besar. Tantangan kedua yang cukup besar adalah biaya bahan bakar. “Tantangan ketiga adalah meningkatkan kesadaran masyarakat untuk tumbuh berkembang bersama kami. Ini memerlukan sikap saling percaya,” papar Lucas.
Akibat lemahnya kesadaran masyarakat, terjadi hambatan dalam pemanenan. Pasokan bahan baku terhambat. ANJ selama ini bekerjasama dengan masyarakat setempat untuk pemanenan sagu. Setiap satu batang sagu yang dipanen, masyarakat mendapatkan bagian.
Bisnis sagu ANJ belum memberikan keuntungan, bahan belum bisa menutup biaya operasi. “Pada tahun 2022 kerugian kami mencapai US$ 5 juta. Setipa tahun, kerugian yang diderita kurang lebih US$ 4-5 juta. Kami terus berupaya untuk minimal mencapai break even point,” jelas Lucas.
Hingga saat ini, ANJ tetap komit mengembangkan sagu di Papua sesuai visi perusahaan. Makanan lokal seperti sagu harus tetap dilestarikan dan diangkat derajatnya. Selain itu, pengembangan sagu mampu mengangkat kesejahteraan penduduk setempat. Masyarakat sekitar lahan, yakni Kampung Saga, menikmati kehadiran ANJ. “Merasa merasakan manfaat kehadiran kami dalam bentuk penyediaan lapangan kerja dan peningkatan kualitas pendidikan,” jelas Lucas.
Untuk bisa membukukan keuntungan, ANJ meningkatkan riset. Lucas mengakui, riset sagu masih jauh tertinggal dibandingkan riset sawit. Ke depan, perusahaan akan memilih kualitas pohon sagu yang siap panen. Riset dan pengembangan juga mencakup ekstraksi tepung sagu yang efektif dan efisien.
PT ANJ Tbk juga mengembangkan edamame di Jember, Jawa Timur. Memiliki protein dan antioksidan tinggi, sejenis kacang-kacangan ini masuk kelompok keluarga kedelai. Di Jember, ANJ tidak memiliki lahan sendiri. Para petani setempat yang menanam hingga panen, baik di lahan milik sendiri maupun lahan sewa.
Selaras dengan perubahan visi, sejak 2015, ANJ meninggalkan bisnis tembakau dengan tidak meninggalkan petani mitra dengan memasuki bisnis holtikultura. Tanaman hortikultura pengganti yang dinilai sesuai adalah edamame. Di bawah PT Gading Mas Indonesia Teguh, bisnis edamame berkembang dengan baik.
Selama ini, edamame diekspor ke Jepang dan India. Dalam pada itu, permintaan edamame dari dalam negeri, perlahan, meningkat. Jika ada lahan, edamame adalah tanaman dengan nilai ekonomi cukup tinggi.
Selain edamame, ANJ memproduksi okra. Karena belum dikenal luas di Indonesia, okra diolah menjadi chrispy okra. Ekspor edamame setiap bulan bervariasi, 20-40 ton.
Hujan tidak lama mengguyur Kawasan Mega Kuningan. Kalau turun siang hari dan tidak berlangsung lama, demikian seorang teman, maka itu hujan buatan untuk mengurangi Jakarta yang sudah sangat politif. Kami pun meninggalkan Restoran Bueno Nasio dengan membawa pengalaman baru: edamame yang lezat dan tepung sagu yang bisa diolah menjadi aneka makanan sesuai selera konsumen. (Pd)

