Fiber Optik, Mesin Pertumbuhan Sarana Menara (TOWR)
JAKARTA, investortrust.id –Ekspansi besar-besaran jaringan fiber optik bakal menjadi sumber pertumbuhan baru bagi PT Saran Menara Nusantara Tbk (TOWR) dalam jangka panjang. Hal ini diharapkan membuat tingkat pertumbuhan kinerja keuangan dan saham perseroan menjanjikan di masa depan.
Analis Bahana Sekuritas Jason Chandra dan Tarra Laurentia mengatakan, kinerja keuangan dan saham Sarana Menara (TOWR) menyimpan potensi pertumbuhan pesat ke depan. Hal ini sejalan dengan masifnya ekspansi di segmen fiber optik,seiring tingginya pertumbuhan konsumsi data.
Jason dan Tarra mengatakan, segmen fiber optik ini akan menjadi mesin pertumbuhan kinerja keuangan perseroan ke depan dan diharapkan memperkuat prospek saham TOWR. Alasan tersebut didukung tiga faktor, yaitu perseroan telah berinvestasi besar ke segmen ini yang diharapkan mulai membuahkan hasil dalam beberapa tahun mendatang.
Segmen fiber optik menawarkan margin keuntungan lebih tinggi. Perusahaan telekomunikasi terus meningkatkan kebutuhan terhadap densifikasi. Faktor-faktor tersebut tentu akan menjadikan segmen ini sebagai mesin pertumbuhan TOWR ke depan.
Dengan anggaran belanja modal lebih dari Rp 5 triliun tahun ini, Jason dan Tarra melanjutkan, TOWR berpotensi menambah 30-50 kilo meter jaringan fiber optiknya tahun ini. Penambahan tersebut memang lebih rendah dari realisasi tahun lalu sepanjang 90 ribu km.
Terkait bisnis menara telekomunikasi, Bahana Sekuritas menyebutkan, pendapatan segmen ini diperkirakan relatif stagnan tahun ini. Perseroan membidik 800 penambahan tenan tahun ini ditambah 500 pembaruan penyewaan menara dari Indosat.
Sedangkan harga saham TOWR saat ini sudah tergolong murah, dibandingkan perusahaan sejenis di sektornya. Saat ini, saham TOWR baru ditransaksikan pada perkiraan EV/EBITDA sebesar 8,6 kali tahun 2024. Angka tersebut jauh di bawah perkiraan dua pesaingnya, yaitu PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel sekitar 9,3 kali dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) sekitar 12,1 kali.
“Dengan perkiraan laba bersih yang melanjutkan pertumbuhan ke depan, saham TOWR layak direkomendasikan beli. Sedangkan tingginya tingkat suku bunga menjadi pemberat utama terhadap pergerakan saham sektor ini,” tulisnya dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, belum lama ini.
Berbagai faktor tersebut mendorong Bahana Sekuritas untuk mempertahankan kenaikan laba bersih Sarana Menara (TOWR) menjadi Rp 3,85 triliun tahun ini dan diharapkan melesat menjadi Rp 4,29 triliun pada 2024, dibandingkan realisasi tahun lalu Rp 3,44 triliun. Pendapatan perseroan juga diprediksi naik dari Rp 11,03 triliun menjadi Rp 11,64 triliun di 2023 dan menjadi Rp 12,57 triliun pada 2024.
Bahana Sekuritas menyebutkan bahwa Sarana Menara (TOWR) merupakan saham dengan perkiraan EV/EBITDA paling rendah sekitar 9 kali pada 2024, dibandingkan estimasi MTEL sebanyak 9,3 kali dan TBIG mencapai 12,1 kali pada 2024.
Begitu juga dengan proyeksi P/E saham TOWR diperkirakan yang paling rendah mencapai 13 kali pada 2024. Valuasi tersebut jauh rendah dibandingkan MTEL dengan proyeksi 23,1 kali dan TBIG sekitar 27,4 kali. Begitu juga dengan dividend yield TOWR dirpediksi mencapai 3,7% pada 2024, dibandingkan MTEL sekitar 3,2% dan TBIG sektiar 1,8%.
Berbagai faktor tersebut mendorong Bahana Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham TOWR dengan target harga Rp 1.200. “Kami tetap memberikan pandangan positif untuk jangka panjang atas saham TOWR. Hal ini didukung perluasan jaringan telekomunikasi dan densifikasi, adopsi FTTH lebih lanjut, dan tren penurunan tingkat suku bunga lebih rendah,” kata Jason.
Konsolidasi Telekomunikasi
Pandangan hampir senada diungkapkan analis CGS CIMB Sekuritas Bob Setiadi dan Genie Purnamasari dalam riset yang diterbitkan belum lama ini. Hal ini terungkap dari pelaksanaan non deal roadshow (NDR) yang berlangsung di Singapura dan Kuala Lumpur bulan lalu.
CGS CIMB Sekuritas menyebutkan bahwa manajemen TOWR mengekspresikan bahwa progress pengembangan fiber optik cukup memuaskan sejalan dengan lompatan konsumsi data telekomunikasi setelah Indonesia beralah ke 4G. Bahkan, manajemen memperkirakan bahwa sumbangan segmen fiber optik akan sama dengan segmen menara telekomunikasi dengan periode payback dalam delapan tahun.
Manajemen TOWR juga menyebutkan bahwa perseroan telah berhasil merealisasikan sinergi biaya segmen fiber dan bisnis menara telekomunikasi. Langkah itu berhasil membuat margin EBITDA perseroan menjadi 84,8% pada semester I-2023.
TOWR mengungkapkan,sekitar 60% dari permintaan baru untuk menara telekomunikasi telah memanfaatkan fiber. Berdasarkan data perseroan terungkap bahwa sekitar 27% pendapatan perseroan dikontribusikan segmen fiber optik pada kuartal III-2023. Angka tersebut diharapkan meningkat menjadi 30% dalam 2-3 tahun ke depan dan mencapai 50% dalam jangka panjang.
Selain faktor tersebut, CIMB Sekuritas menyebutkan, berjalannya konsolidasi telekomunikasi bakal berimbas positif terhadap industri menara telekomunikasi ke depan. Sebab, dengan konsolidasi diharapkan neraca keuangan operator makin kuat dan berdampak terhadap penguatan kualitas jaringan ke depan.
Terkait total utang perseroan yang besar, CIMB Sekuritas menyebutkan, perseroan ditengarai akan menekan net debt terhadap LQA EBITDA menjadi 3 kali tahun ini, dibandingkan realisasi kuartal II-2023 sekitar 4,3 kali. Perseroan juga berupaya secara bertahap menekan tingkat suku bunga kreditnya dari realisasi 6,5% pada Maret 2023 menjadi 6,1% pada 2023. Penurunan beban bunga diprediksi tercapai, karena risiko investasi sektor ini terbatas.
Berbagai faktor tersebut mendorong CIMB Sekuritas mempertahankan rekomendasi add saham TOWR dengan target harga Rp 1.475. Target harga tersebut menggambarkan penguatan segmen fiber ke depan.
CIMB Sekuritas memperkirakan peningkatan laba bersih perseroan tahun ini diprediksi mencapai Rp 2,96 triliun tahun ini dan diharapkan meningkat menjadi Rp 3,10 triliun pada 2024. Sedangkan pendapatan diprediksi naik menjadi Rp 11,42 triliun tahun 2023 dan menjadi Rp 12,01 triliun.
Prospek Saham TOWR
Bahana Sekuritas
Rekomendasi : Buy
Target harga : Rp 1.200
CGS CIMB Sekuritas
Rekomendasi : Add
Target harga : Rp 1.475
Kinerja Keuangan
Sementara itu, Sarana Menara (TOWR) pada semester I-2023 menorehkan laba sebesar Rp 1,5 triliun. Memang terjadi penurunan sebesar 7,8% dibanding periode sama tahun lalu (yoy), akibat kenaikan beban pokok pendapatan sebesar Rp 1,6 triliun, meningkat dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp 1,4 triliun.
Meski laba bersih terpangkas, TOWR meraih kenaikan pendapatan menjadi sebesar Rp 5,7 triliun, dibandingkan akhir semester I-2022 yang hanya Rp 5,3 triliun. Pendapatan emiten yang berada dalam naungan Grup Djarum tersebut bersumber dari tiga operator seluler, yakni PT Indosat Tbk (ISAT) sebesar Rp 2 triliun, PT XL Axiata Tbk (EXCL) Rp 1,64 triliun, dan Telkomsel senilai Rp 701,8 miliar.
TOWR memiliki kas sebesar Rp 485,8 miliar pada semester I-2023, dengan jumlah ekuitas sebesar Rp 15,1 triliun, dan aset senilai Rp 66,3 triliun. Adapun kewajiban perseroan mencapai menjadi Rp 51,2 triliun, naik dibanding periode Desember 2022 sebesar Rp 51,1 triliun.
Sarana Menara Nusantara (TOWR) didirikan di Kudus, kota markas induknya Grup Djarum, pada 2008. Sarana Menara memiliki 99,99% saham di Protelindo, perusahaan yang mengoperasikan dan menyewakan menara telekomunikasi, dengan jumlah menara hampir 30 ribu pada Desember 2002. Protelindo sendiri sudah didirikan sejak 2003. (Hari Gunarto)

