Menuju Indonesia Emas 2045, Kualitas SDM masih Jadi Tantangan?
JAKARTA, investortrust.id – Peningkatan sumber daya manusia (SDM) masih menjadi tantangan terbarat Indonesia guna mempercepat lajut pertumbuhan ekonomi ke depan. Penguatan SDM merupakan isu krusial untuk merealisasikan Indonesai Emas 2045.
Berdasarkan data yang dirilis World Bank Human Capital Index (HCI) Indonesia masih tertinggi dibandingkan dengan negara Asia Tenggara lainnya. Data World Bank tahun 2020 menyebutkan Indonesia menempati peringkat 0,54 poin, Vietnam 0,69 poin, Brunei Darussalam 0,63 poin Malaysia 0,61 poin, Thailand 0,61 poin, bahak Singapura mencapai 0,88 poin.
Penguatan sumber daya manusia dinilai sangat erat penting dalam memacu pertumbuhan ekonomi suatu negara, apalagi dengan target Indonesai Emas 2045. Peningkatan SDM akan menjadi faktor krusial, baik melalui pendikan formal maupun non formal.
Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listiyanto mengatakan, guna mempercepatan kualitas SDM harus memanfaatkan digitalisasi. Hal tersebut untuk mendorong kualitas SDM lebih baik lagi.
“Digitalisasi perlu dimanfaatkan untuk percepatan kualitas SDM seperti, kursus gratis, tutorial berkualitas untuk membantu terbatasnya guru, dan lainnya,” kata Eko saat dihubungi investortrust.id, Sabtu (3/2/2024)
Deputy Director INDEF Eko Listiyanto
Tak hanya itu, Eko mengatakan, penguatan di level pendidikan tetap perlu menjadi prioritas utama. Sebisa mungkin generasi muda ke depan lulusan sarjana, sehingga akses untuk melanjutkan ke jenjang S1, S2, S3 perlu diperluas.
Kemudian pada level pendidikan menengah, kata Eko, kapasitas SMP dan SMA perlu diperbanyak dengan tenaga pendidik yang memadai dan mumpuni.
Selain itu, Eko menyebut, dari sisi SDM juga perlu didorong untuk mampu berwirausaha. “Jangan semua diarahkan untuk jadi ilmuwan, sehingga bentuk-bentuk kebijakan pelatihan kewirausahaan intensif, dukungan modal bagi wirausahawan muda dan perintis, wirausaha perempuan, generasi muda desa, itu perlu didukung,” tutur dia.
Dengan memperbanyak pertukaran gagasan, belajar, magang dan berwirausaha dengan negara lain dapat terbangun network untuk maju bersama-sama di kancah internasional.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), dilihat dari pendidikan tertinggi yang ditamatkan oleh pekerja, pada Agustus 2023 mempunyai pola yang hampir sama dengan Agustus 2022. Pada Agustus 2023, tamatan SMK menempatkan paling tinggi dibandingkan tamatan jenjang pendidikan lainnya, yaitu sebesar 9,31%.
Sementara itu, di posisi terendah adalah pendidikan SD ke bawah sebesar 2,56%. Dibandingkan Agustus 2022, penurunan terjadi pada hampir semua tingkat pendidikan, dengan penurunan terbesar pada yang berpendidikan SMP sebesar 1,17% poin.
Sementara itu, jenjang lulusan Diploma I/II/III dan lulusan Diploma IV, S1, S2, S3 mengalami peningkatan masing-masing sebesar 0,20% poin dan 0,38% poin.
Lulusan vokasi termasuk yang tingkat penganggurannya cukup tinggi, dia mengatakan, hal ini karena dukungan fasilitas seperti alat, praktikum, dan tenaga pengajar yang tidak memadai. Sehingga, hal tersebut kalah cepat dengan perkembangan industrinya.
“Jadi seharusnya perlu dukungan sarana, alat praktikum yang update, serta kolaborasi dengan industri, termasuk para pengajarnya, agar ilmu update dan siap kerja saat lulus,” pungkas Eko.
Berdasarkan data dari BPS, rata-rata upah buruh pada Agustus 2023 sebesar Rp 3,18 juta. Sementara itu, dari Agustus 2022 ke Agustus 2023 naik 3,50% dari Rp 3,07 juta menjadi Rp 3,18 juta. Dan rata-rata upah buruh laki-laki sebesar Rp 3,47 juta sedangkan buruh perempuan sebesar Rp 2,64 juta.
Eko mengatakan upah buruh perlu dinaikkan, seiring dengan kenaikan produktivitasnya. “Saat ini produktivitas tenaga kerja di level Asean, Indonesia termasuk rendah,” terangnya.
IPM digunakan untuk mengukur capaian pembangunan manusia berbasis sejumlah komponen dasar kualitas hidup. Komponen IPM terdiri dari Angka Harapan Hidup, Angka Melek Huruf, Rata-Rata Lama Sekolah, Pengeluaran Riil per Kapita yang disesuaikan.
Eko menyebut angka tersebut masih ke dalam tren yang meningkat dari tahun ke tahun. “Namun, juga perlu dilihat adalah komponen per indikatornya, tingkat stunting yang masih di atas 20% misalnya, menggambarkan sungguh pun IPM naik, tetapi permasalahan per indikator masih jadi tantangan,” tutup dia. (CR-5)

