Pertaruhan Besar Wujudkan Indonesia Emas 2045
JAKARTA, investortrust.id – Periode 22 tahun ke depan adalah pertaruhan besar bagi bangsa ini. Pemerintah sudah menancapkan tonggak bagi cita-cita besar untuk membawa negeri berpenduduk 280 juta ini sebagai negara maju berpendapatan tinggi, dengan kisaran US$ 23.000 hingga US$ 30.300 per kapita. Artinya, Indonesia harus melompat sejauh 6 kali lipat dari pendapatan saat ini yang masih US$ 4.784 per kapita.
Sebagaimana dibeberkan oleh Bappenas, dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045 atau yang dikenal dengan Visi Indonesia Emas 2045, pemerintah mematok target Produk Domestik Bruto (PDB) di posisi terbesar ke-5 dunia, PDB per kapita US$ 23.000-30.300, kontribusi sektor maritim terhadap PDB 17,5%, serta kontribusi industri pengolahan 28% PDB.
Indikator penting lainnya, kemiskinan ekstrem tinggal 0,5-0,8%, rasio Gini 0,290-0,320, dan kontribusi PDB Kawasan Timur Indonesia (KTI) terhadap PDB nasional minimal 26%. Skor Human Capital Index setidaknya 0,73.
Seberapa realistis, seberapa optimistis, dan juga seberapa kerja keras yang benar-benar harus kita siapkan untuk mewujudkan mimpi besar tersebut? Mari kita berkaca pada realita yang kita miliki saat ini.
Berdasarkan data historis selama 20 tahun terakhir (2002 – 2022), rata-rata peningkatan PDB/kapita Indonesia hanya US$ 180 setahun, jauh tertinggal disbanding sejumlah negara yang ngebut mengejar pertumbuhan PDB. Bandingkan dengan rata-rata peningkatan PDB/kapita per tahun di Asean selama 20 tahun terakhir yang mencapai US$ 1.120 per tahun. Bahkan dalam satu dekade terakhir, PDB/kapita kita hanya bertambah US$ 1.100.
Bappenas sendiri memasang dua target PDB/kapita tersebut berdasarkan skenario optimis dan pesimis. Untuk scenario optimis, yakni bisa mengejar PDB/kapita US$ 30.000, pertumbuhan ekonomi kita harus minimal 7%/tahun mulai sekarang. Untuk scenario pesimis di angka US$ 23.000, PDB kita cukup tumbuh 6% per tahun hingga 2045.
Sedangkan Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menyebut, Indonesia harus mampu mencapai rata-rata pertambahan pendapatan di atas US$ 1.200 per tahun untuk meraih pendapatan per kapita US$ 30.300 pada 2045. Dimulai dari sekarang.
Lantas, apa pandangan para tokoh tentang target-target yang ambisius tersebut?
Mensinergikan Kekuatan
Ketua Umum Kadin Indonesia Arsjad Rasjid merupakan orang yang paling optimis terhadap target Visi Indonesia Emas (VIE) 2045 tersebut. Argumen dia, pertumbuhan ekonomi Indonesia konsisten dan stabil di level yang cukup tinggi. Kemudian, sumber daya melimpah, baik dari sumber daya alam (SDA) maupun sumber daya manusia (SDM).
Untuk SDA, Indonesia memiliki 30 juta ton
cadangan nikel, terbesar di seantero jagat. Potensi energi baru terbarukan (EBT) seperti angin, hidro, maupun geothermal mencapai 3.600 giga Watt. Transformasi energi harus sukses dijalankan.
Dari sisi SDM, jumlah jelas menengah atas yang terus bertambah, dominasi penduduk usia produktif, dan bonus demografi menjadi kekuatan yang dahsyat. Apalagi lebih dari 50% PDB ditopang oleh konsumsi masyarakat.
Namun modal dan kekuatan yang kita miliki tersebut harus dikelola dan disinergikan dengan baik. Arsjad Rasjid menguraikan beberapa prasyarat untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara maju dengan pendapatan per kapita US$ 30.300.
Strategi hilirisasi industri harus didesain lebih cermat, terutama di sektor pertanian dan industri, serta akselerasi transisi energi, untuk menciptakan lapangan kerja seluas mungkin. Pemerintah harus mengidentifikasi industri prioritasyang dikembangkan, baik di hulu, menengah, dan juga subtitusi impor dengan mengacu pada keunggulan yang kita miliki.
Perlu kolaborasi antar-pemangku kepentingan untuk mewujudkan pemerataan dan inklusivitas pembangunan. Yang utama adalah kolaborasi antara perusahaan besar dan UMKM.
Selain itu, Kadin Indonesia juga mengimbau perlunya membuka investasi pada teknologi di semua wilayah. Sebab, Kadin berprinsip bahwa industri bernilai tambah tinggi (hilirisasi), SDM berkualitas, dan inovasi lewat R&D yang kuat menjadi syarat penting dalam mewujudkan VIE 2045.
Perlu Dikaji Ulang
Para pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) juga mengapresiasi Visi Indonesia Emas 2045 yang dipandang mampu menciptakan kepastian tentang terhadap arah pembangunan ekonomi nasional. Meskipun, menurut Ketua Umum Shinta Widjaja Kamdani strategi VIE 2045 perlu dikaji ulang. Terutama menyangkut produktivitas pekerja serta peningkatan fleksibilitas iklim ketenagakerjaan, agar lebih sesuai tren digitalisasi ekonomi global.
Transformasi produktivitas dan kapabilitas tenaga kerja menjadi mutlak. Reformasi struktural iklim usaha, birokrasi, dan pasar tenaga kerja harus diakselerasi. Hal ini menjadi kunci dan penentu bagaimana pengusaha bersikap dalam melakukan ekspansi usaha.
Shinta masih cemas tentang dampak pandemi Covid-19 yang memicu perlambatan pertumbuhan, pelemahan penciptaan lapangan kerja baru, dan pelebaran gap sosial-ekonomi yang mengganggu daya tahan ekonomi. Untuk itu, diperlukan transformasi ekonomi yang lebih cepat, lebih radikal, dan lebih konsisten mengatasi kekurangan-kekurangan sebelumnya.
Jangan Salah Arah
Sedangkan Andry Asmoro menyodorkan prasyarat berupa empat konsistensi. Pertama, konsistensi membenahi permasalahan institusi untuk secara bersama peningkatan daya saing investasi, karena kita sangat membutuhkan investasi, baik dalam negeri (PMDN) dan luar negeri (PMA).
Kedua, konsistensi dalam mengembangkan infrastruktur untuk mendorong industri manufaktur maupun hilirisasi sektor pertambangan, perikanan, dan pertanian. Termasuk pembangunan infrastruktur digital.
Ketiga, konsistensi dalam meningkatkan daya saing sumber daya manusia (SDM) dari akses sisi pendidikan dan kesehatan.
Keempat, konsistensi dalam mendorong inklusi dan pendalaman pasar keuangan agar investor dan dunia usaha semakin tertarik menaruh dananya di dalam negeri.
Bagi Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira, pendapatan per kapita US$ 30.300 pada 2045 harus diraih dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata 7-8% per tahun. Bukan hanya itu, pertumbuhannya harus berkualitas. Artinya, dibarengi dengan penurunan tajam kemiskinan ekstrem, rasio Gini, serta ketimpangan desa dan kota. Pertumbuhan harus bias menyerap tenaga kerja sebanyak mungkin.
Strategi industrialisasi dan penguatan struktur industri manufaktur jangan sampai salah arah. Itu penting guna mencegah industri domestik melompat terlalu cepat ke sektor jasa. Karena itu, seleksi terhadap investasi juga diperlukan, terutama agar diarahkan ke sektor padat karya. Biasanya ini lebih tepat untuk investasi di sektor pertanian, hilirisasi, dan industri pengolahan. Yang juga harus digarisbawahi, efisiensi investasi ( yang diukur dengan incremental capital output ratio /ICOR) harus diperbaiki. ICOR Indonesia masih 6, harus ditekan ke level 4.
Dalam konteks SDM, sangat dibutuhkan tenaga berketerampilan tinggi yang bias dipenuhi dengan strategi link and match. Yang lebih penting lagi, Indonesia membutuhkan banyak inovasi, sehingga dibutuhkan anggaran riset minimal 3% dari PDB. Saat ini, dana untuk riset masih 0,3% PDB.
Pandangan pesimis datang dari Piter Abdullah, Direktur Eksekutif Segara Research Institute. Untuk menjadi negara dengan pendapatan per kapita US$ 30.300, ekonomi Indonesia harus tumbuh minimal 10% per tahun. Padahal, seumur-umur Indonesia belum pernah mencapai pertumbuhan setinggi itu. Karena itu, dia menilai target VIE 2045 kurang realistis.
Karena itu, banyak aspek yang harus dibenahi. Di antaranya adalah mengatasi biaya ekonomi tinggi akibat praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) hingga mengakhiri rezim suku bunga super tinggi. Karena itu, perlu pembenahan besar-besaran dalam system ekonomi dan politik Indonesia.
Rute Mana yang Dipilih?
Banyak contoh negara yang berhasil dalam meraih predikat sebagai negara maju, dengan pendapatan per kapita di atas US$ 12.000. Mereka pun akhirnya lolos dalam sandera middle income trap (MIT). Ada negara yang relatif singkat untuk melepaskan dari MIT, ada negara yang butuh berpuluh tahun. Jepang dan Korea Selatan adalah contoh negara yang membutuhkan waktu kurang dari 20 tahun untuk lepas dari MIT sehingga layak dijadikan benchmark.
Arsjad Rasjid berpendapat, banyak negara di dunia yang terjerumus kelamaan di zona middle income trap (MIT) lantaran akibat ketergantungan terhadap SDA serta sumber daya manusia (SDM) yang kurang berkualitas, di samping kalah dalam persaingan perkembangan teknologi dengan negara maju.
Jepang sanggup lolos dari MIT dengan menerapkan peningkatan produktivitas melalui pengembangan teknologi dengan skema desentralisasi. Produksi barang-barang berteknologi mulai dari level daerah hingga pusat membuat pendapatan per kapita Jepang meningkat.
Negeri Matahari Terbit itu juga menerapkan kolaborasi antara UMKM dengan usaha besar, sehingga dapat membangun kohesi sosial ekonomi yang berkelanjutan. Pada akhirnya Jepang berhasil menjadi negara maju yang memiliki produk-produk berteknologi tinggi dengan dukungan dari industri-industri kecilnya.
Sedangkan Korsel yang meniru Jepang cukup berhasil dalam membenahi kualitas pendidikan. Kualitas pendidikan tinggi menjadi kunci bagi penduduk untuk mendapatkan pekerjaan yang tepat dengan penghasilan yang layak. Negeri yang sukses dengan Korean Wave itu mampu meningkatkan produktivitas melalui transfer teknologi tinggi.
Berikutnya, Tiongkok sudah berada di gerbang jajaran negara maju melalui skema mirip Jepang dan Korea Selatan, yaitu transfer teknologi. Produk industri Tiongkok mampu bersaing dengan produk-produk Jepang dan Korsel.
Ilustrasi dan uraian di atas menunjukkan bahwa berbagai strategi untuk menjadi negara maju bisa diadopsi, dengan sejumlah modifikasi sesuai kondisi terkini. Tinggal bagaimana kemauan politik dan sinergi seluruh pemangku kepentingan untuk mewujudkan mimpi besar tersebut. Bagaimana seluruh energy bangsa diarahkan kesana dan fokus. ***

