Empati Gibran di Tengah Bencana dan Kehadiran Negara yang Dirasakan Korban
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Bencana alam selalu menyisakan cerita yang lebih panjang daripada sekadar angka korban meninggal, rumah rusak, atau infrastruktur yang hancur. Di balik setiap peristiwa, ada keluarga yang kehilangan orang tercinta, anak-anak yang terputus dari kegiatan belajar, warga yang kehilangan tempat tinggal, serta masyarakat yang harus memulai kembali kehidupan dari kondisi yang serba terbatas.
Dari Minahasa, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kalimantan, hingga Aceh, Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming menunjukkan perhatian kepada masyarakat terdampak bencana. Bukan sekadar meninjau kerusakan, Gibran juga menemui keluarga korban, mendengar keluhan pengungsi, memperhatikan kelompok rentan, hingga mendorong pemulihan kehidupan masyarakat.
Hal itu salah satunya ditunjukkan Gibran saat meninjau ruangan darurat Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) TC Hillers Maumere di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (20/8/2026). Saat itu, Gibran berinteraksi dengan sejumlah pasien. Temasuk para ibu yang baru melahirkan pascabencana gempa NTT pada Sabtu (15/8/2026) lalu.
Baca Juga
Tinjau Ruang Darurat RSUD Maumere, Gibran Gendong Bayi Korban Gempa NTT yang Baru Lahir
Gibran mendatangi satu per satu pasien dan berdialog. Wali Kota Solo itu menanyakan kondisi dan kebutuhan masing-masing pasien dan menyerahkan bingkisan berisi kebutuhan pasien serta mainan untuk pasien anak.
"Pak sudah dikasih nama?" tanya Gibran kepada salah seorang pria yang sedang menemani istrinya yang baru melahirkan.
"Kok bingung, nanti langsung dibikinin akta sama Pak Bupati," kata Gibran sambil menunjuk Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago yang turut mendampinginya.
"Berapa kilo (berat bayi)," tanya Gibran.
"3,1 (kilogram)," jawab seorang petugas kesehatan.
"Panjangnya?" tanya Gibran lagi.
"Panjangnya 49 (cm)," jawab petugas tersebut.
"Kapan (lahirnya bayi)?" tanya Gibran.
"Tadi pagi," jawab perempuan yang merupakan ibu dari sang bayi.
Bupati Juventus kemudian meminta Gibran untuk memberikan nama kepada sang bayi berjenis kelamin perempuan tersebut. Gibran pun menanyakan kepada orang tua sang bayi mengenai nama yang sudah disiapkan. Ayah sang bayi mengaku baru menyiapkan nama belakang atau marga.
Bupati Juventus kemudian meminta Gibran menggendong sang bayi. Sebelum menggendong bayi yang dibedong dengan kain kuning itu, Gibran meminta untuk membersihkan tangannya terlebih dahulu. Secara perlahan, Gibran menerima bayi tersebut dan menggendongnya dengan hati-hati.
"Takut nangis. Rambutnya tebal ini. Masih ada bayi lagi?" kata Gibran.
"Masih" jawab tenaga kesehatan.
"Kasih nama sendiri ya," kata Gibran sambil bercanda.
"Tahun lalu ada yang dikasih nama Gibran, yang gunung meletus," ujar Gibran lagi.
Gibran juga memuji sang bayi karena tetap tenang dalam gendongannya. Namun, Gibran khawatir sang bayi lapar.
"Kayaknya lapar ini. Lapar ya? Asi-nya lancar?" tanya Gibran.
Gibran secara perlahan mengembalikan sang bayi kepada seorang tenaga kesehatan.
"Takut nangis," katanya.
Dialog dan interaksi Gibran dengan penyintas bencana tersebut menunjukkan kehadiran negara dalam meringankan beban para korban. Dalam situasi bencana, kehadiran negara tidak cukup hanya ditunjukkan melalui pengerahan personel, pengiriman logistik, maupun pembangunan kembali infrastruktur. Ada dimensi lain yang tidak kalah penting, yakni empati dan kepekaan terhadap penderitaan masyarakat.
Dalam berbagai kesempatan, Gibran tidak hanya memeriksa kondisi lapangan dan memberikan arahan kepada jajaran pemerintah, tetapi juga menemui korban, menyampaikan belasungkawa, berdialog dengan pengungsi, serta memastikan kebutuhan masyarakat mendapat perhatian.
Tak hanya di Sikka, NTT, pola pendekatan itu terlihat dalam sejumlah peristiwa bencana lainnya, seperti banjir bandang di Sumatra Barat, karhutla Kalimantan, hingga peninjauan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Aceh.
Salah satu gambaran paling nyata dari pendekatan kemanusiaan Gibran terlihat ketika mengunjungi rumah keluarga korban gempa bumi di Desa Tateli, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, Senin (6/4/2026).
Kunjungan tersebut dilakukan setelah Gibran menyelesaikan agenda kerja di NTT. Ia mendatangi kediaman keluarga Deitje Lahia (69), warga Desa Tateli yang meninggal dunia akibat tertimpa reruntuhan bangunan di kawasan Gedung KONI Manado setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,6 mengguncang Sulawesi Utara.
Di tengah suasana kehilangan, Gibran menyampaikan belasungkawa secara langsung kepada keluarga korban. Kunjungan itu menjadi bentuk perhatian dan empati pemerintah kepada masyarakat yang mengalami musibah.
Kehadiran seorang pejabat negara di rumah keluarga korban mungkin tidak dapat mengembalikan anggota keluarga yang telah meninggal. Namun, perhatian tersebut memiliki arti tersendiri bagi keluarga yang sedang menghadapi masa sulit. Negara tidak hanya hadir melalui institusi dan prosedur penanganan bencana, tetapi juga melalui kepedulian terhadap warga yang mengalami kehilangan.
Demikian juga saat Gibran takziah ke kediaman almarhum Akhmad Rizani di Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng) untuk menyampaikan belasungkawa secara langsung kepada keluarga yang ditinggalkan. Almarhum Akhmad Rizani merupakan petugas yang gugur saat menangani Karhutla Kalimantan.
Kehadiran Gibran merupakan bentuk penghormatan atas dedikasi dan pengorbanan almarhum dalam menjalankan tugas di garis depan penanganan karhutla. Langkah ini sekaligus menegaskan penghargaan negara atas pengabdian para petugas yang mempertaruhkan keselamatan jiwa dan raga dalam melindungi masyarakat dan lingkungan dari dampak karhutla.
“Saya menyampaikan dukacita mendalam, saya mohon maaf atas kejadian ini dan terima kasih yang sebesar-besarnya atas jasa-jasa beliau dalam penanganan karhutla,” ungkap Gibran.
Dimensi kemanusiaan penting karena penanganan bencana tidak selalu berkaitan dengan kebutuhan fisik. Keluarga korban juga membutuhkan dukungan moril, perhatian, dan kepastian bahwa mereka tidak menghadapi musibah seorang diri.
Tembus Wilayah Sulit untuk Dengar Keluhan Warga
Pendekatan serupa terlihat ketika Gibran mengunjungi wilayah terdampak gempa di NTT pada Agustus 2026. Gempa berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Kabupaten Nagekeo pada 15 Agustus 2026 memicu kerusakan dan menimbulkan korban jiwa.
Dalam pernyataan awalnya, Gibran menyampaikan duka dan keprihatinan mendalam, terutama kepada keluarga yang kehilangan anggota keluarga, warga yang rumahnya rusak, serta masyarakat yang berada dalam situasi sulit.
Ia memastikan pemerintah mengupayakan penanganan darurat, mulai dari evakuasi, pendataan dampak bencana, hingga penyaluran bantuan secara cepat dan terkoordinasi.
Perhatian tersebut kemudian diwujudkan melalui kunjungan langsung ke sejumlah lokasi terdampak.
Pada Jumat (21/8/2026), Gibran mengunjungi Kampung Waso, Desa Satar Kampas, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur. Akses menuju wilayah tersebut tidak mudah dijangkau. Gibran bahkan menggunakan sepeda motor untuk melihat kondisi masyarakat secara langsung.
Kunjungan itu memperlihatkan pentingnya menjangkau masyarakat yang berada jauh dari pusat pemerintahan maupun jalur utama distribusi bantuan.
Di lokasi tersebut, Gibran berdialog dengan warga yang berada di tenda pengungsian. Ia mendengarkan kondisi dan kebutuhan masyarakat sekaligus melihat dampak gempa terhadap lingkungan tempat tinggal mereka.
Gibran juga menunaikan salat Jumat bersama warga di Masjid Nurul Huda, Desa Reo, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai. Masjid tersebut mengalami kerusakan parah akibat gempa.
Momentum itu tidak hanya menjadi kegiatan keagamaan, tetapi juga kesempatan untuk membangun kedekatan dengan masyarakat yang sedang menghadapi ujian bencana.
Baca Juga
Gibran Salat Jumat dan Santap Siang Bersama Warga Terdampak Banjir Bandang Solok
Setelah salat Jumat, Gibran kembali menyapa dan berdialog dengan warga serta meninjau rumah-rumah penduduk yang rusak. Ia juga mengunjungi Puskesmas Reo untuk memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan dan kebutuhan masyarakat terdampak memperoleh perhatian.
Rangkaian kunjungan tersebut menunjukkan bahwa kepekaan terhadap korban bencana menuntut pejabat negara untuk melihat langsung persoalan yang dihadapi masyarakat, termasuk mereka yang tinggal di wilayah dengan akses terbatas.
Perhatian terhadap Kebutuhan Korban
Pada Jumat (25/9/2026), perhatian Gibran terhadap korban bencana kembali terlihat dalam kunjungan ke Kabupaten Solok, Sumatra Barat, yang terdampak banjir bandang.
Dalam kunjungan tersebut, Gibran tidak hanya meninjau posko utama penanggulangan bencana dan memberikan arahan kepada forum komunikasi pimpinan daerah (forkopimda), tetapi juga mendatangi posko pengungsian Balai Pemuda Kayu Aro.
Di Lokasi itu, Gibran menemui warga, menanyakan kondisi dan kebutuhan mereka selama berada di tempat pengungsian, serta mendengarkan keluhan yang disampaikan masyarakat.
Pendekatan dialogis ini penting karena kebutuhan korban bencana tidak selalu dapat sepenuhnya diketahui melalui laporan administratif. Kondisi di lapangan dapat berubah, sementara kebutuhan setiap keluarga berbeda-beda.
Gibran juga memberikan perhatian kepada keluarga yang kehilangan anggota keluarganya. Ia bertakziah ke rumah keluarga Dafi Arahman, korban banjir bandang di Kabupaten Solok, untuk menyampaikan dukacita secara langsung.
Pada saat yang sama, Gibran menerima laporan mengenai Agusra (59), warga yang sebelumnya dinyatakan hilang dan kemudian ditemukan tim SAR gabungan dalam kondisi meninggal dunia. Ia meminta agar penanganan korban dilakukan dengan sebaik-baiknya, termasuk memberikan pendampingan dan perhatian kepada keluarga yang ditinggalkan.
Perhatian terhadap keluarga korban menjadi bagian penting dari penanganan bencana yang berorientasi pada manusia. Sebab, dampak bencana tidak berhenti ketika proses pencarian dan evakuasi selesai. Keluarga yang ditinggalkan tetap membutuhkan dukungan dalam menghadapi kehidupan setelah kehilangan.
Pastikan Korban Tak Terabaikan
Kepekaan terhadap masyarakat terdampak juga terlihat dari perhatian Gibran terhadap layanan kesehatan pascabencana. Saat meninjau RSUD Arosuka, Kabupaten Solok, Gibran meminta agar seluruh korban luka memperoleh perawatan maksimal hingga pulih. Ia juga mengingatkan tenaga kesehatan agar tidak hanya menunggu pasien datang ke rumah sakit.
Layanan medis, menurutnya, harus aktif menjangkau masyarakat di posko pengungsian maupun lokasi pengungsian mandiri.
"Prioritas kelompok rentan, tidak hanya yang datang ke RS tapi juga yang berada di pengungsian. Pantau secara berkala, datang kunjungan ke posko dan pengungsian mandiri," kata Gibran.
Arahan tersebut memperlihatkan perhatian terhadap kelompok masyarakat yang sering kali menghadapi risiko lebih besar dalam situasi bencana.
Gibran secara khusus meminta tenaga kesehatan mengantisipasi penyakit pascabanjir, seperti diare, penyakit kulit, demam berdarah dengue (DBD), hingga infeksi luka. Ketersediaan obat-obatan dan vitamin bagi pengungsi juga menjadi perhatian.
"Saya ingin Bapak Ibu mendapat perawatan terbaik. Pemerintah memastikan kebutuhan medis terpenuhi, termasuk apabila ada pasien yang membutuhkan rujukan lanjut. Semoga segera pulih dan dapat kembali berkumpul bersama keluarga," tuturnya.
Hal yang menarik dari arahan tersebut adalah penekanan pada pelayanan kesehatan yang bersifat proaktif. Dalam kondisi darurat, kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, penyandang disabilitas, ibu hamil, dan warga dengan kondisi kesehatan tertentu berpotensi menghadapi kesulitan lebih besar untuk mengakses fasilitas medis.
Karena itu, pendekatan jemput bola menjadi penting agar tidak ada korban yang luput dari pelayanan hanya karena keterbatasan mobilitas atau akses.
Tidak Berhenti pada Bantuan Darurat
Tak hanya berdialog dan memberikan bantuan, dalam sejumlah kunjungannya ke daerah bencana, Gibran juga memberikan perhatian terhadap meringankan beban ekonomi masyarakat terdampak.
Salah satunya, Gibran meminta agar warga terdampak yang memiliki kewajiban cicilan kepada bank-bank himpunan bank milik negara (Himbara) maupun Permodalan Nasional Madani (PNM) Mekaar memperoleh keringanan selama masa kebencanaan.
Ia meminta Bupati Solok Jon Firman Pandu mendata warga yang membutuhkan restrukturisasi pembiayaan agar bantuan dapat diberikan secara tepat sasaran.
"Jadi warga yang memiliki cicilan di bank Himbara mana pun, selama masa kebencanaan mendapatkan sedikit keringanan," ujar Wapres dalam rapat koordinasi dengan BNPB dan jajaran Forkopimda di Solok, Jumat (25/9/2026)
Gibran juga meminta pendataan dilakukan terhadap warga yang membutuhkan bantuan restrukturisasi agar masyarakat tidak semakin terbebani oleh kewajiban keuangan ketika sedang berusaha memulihkan kehidupan.
Baca Juga
Tinjau Huntara di Tapsel, Wapres Gibran Minta Maaf kepada Warga
Kebijakan ini relevan karena bencana dapat menghentikan sumber penghasilan masyarakat dalam waktu singkat. Petani kehilangan lahan atau hasil panen, pedagang kehilangan tempat usaha, sementara kewajiban pembayaran pinjaman tetap berjalan.
Dengan demikian, penanganan bencana perlu memperhitungkan dampak ekonomi yang dialami keluarga korban. Bantuan logistik memang penting untuk memenuhi kebutuhan mendesak, tetapi pemulihan ekonomi juga menentukan kemampuan masyarakat untuk bangkit.
Gibran turut menekankan penanganan bencana tidak selesai ketika air banjir surut. Lumpur, pasir, batu, kayu, dan material longsoran harus dibersihkan dari permukiman, jalan, jembatan, rumah ibadah, lahan pertanian, serta fasilitas umum.
Ia juga meminta agar akses utama segera dipulihkan sehingga mobilitas warga, distribusi bantuan, dan pelayanan pemerintahan kembali berjalan.
Perhatian terhadap sektor pertanian menjadi salah satu bagian dari upaya pemulihan ekonomi. Solok merupakan salah satu lumbung pangan Sumatra Barat dan nasional sehingga pemulihan lahan pertanian harus menjadi prioritas agar masyarakat dapat kembali bekerja.
Dari Tanggap Darurat hingga Pemulihan Pascabencana
Perhatian Gibran terhadap korban bencana tidak hanya terlihat dalam kunjungan ke wilayah yang sedang menghadapi situasi darurat. Gibran juga terus memantau proses rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur serta layanan dasar pascabencana. Salah satunya dengan meninjau proses rehabilitasi dan rekonstruksi di Aceh pada 6 Agustus 2026 lalu.
Dalam kesempatan tersebut, Gibran menyampaikan pemerintah mengerahkan kemampuan untuk mempercepat pemulihan. Ia juga menyatakan pemerintah terbuka terhadap aspirasi dan kritik masyarakat, sekaligus mengapresiasi gotong royong relawan dan seluruh pihak yang membantu penanganan bencana.
Ia menegaskan bahwa penyediaan infrastruktur yang aman, layak, dan permanen merupakan tanggung jawab negara.
Pesan ini memperluas makna kehadiran pemerintah dalam penanganan bencana. Negara tidak cukup hanya datang ketika bencana terjadi, kemudian meninggalkan wilayah terdampak setelah situasi darurat berakhir.
Pemulihan harus memastikan masyarakat kembali memperoleh akses terhadap layanan dasar, fasilitas publik, tempat tinggal, serta infrastruktur yang lebih aman dan layak.
Dengan kata lain, empati harus diterjemahkan menjadi kebijakan dan tindakan yang memberikan manfaat jangka panjang bagi korban.
Peka terhadap Penderitaan Masyarakat
Rangkaian kunjungan Gibran ke sejumlah wilayah bencana memperlihatkan beberapa pola pendekatan. Pertama, hadir secara langsung untuk melihat kondisi masyarakat dan menyampaikan dukungan moril kepada keluarga korban. Kedua, membuka ruang dialog untuk mendengar kebutuhan dan keluhan pengungsi. Ketiga, mendorong pelayanan yang memperhatikan kelompok rentan. Keempat, memastikan penanganan tidak berhenti pada tanggap darurat, tetapi berlanjut hingga pemulihan sosial, ekonomi, dan infrastruktur.
Keempat aspek tersebut menjadi penting karena keberhasilan penanganan bencana tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya anggaran atau banyaknya bantuan yang dikirimkan. Ukuran lainnya adalah bantuan benar-benar menjangkau mereka yang membutuhkan, kelompok paling rentan memperoleh perlindungan, dan masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan secara layak.
Baca Juga
Wapres Gibran Tinjau Aceh Pascabencana, Pengamat Tekankan Keseriusan Negara
Gibran menghubungkan kebutuhan masyarakat di lapangan dengan koordinasi kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah. Kunjungan langsung juga menjadi sarana untuk mengetahui persoalan yang mungkin tidak sepenuhnya tergambar dalam laporan birokrasi.
Namun, kehadiran fisik pejabat negara tentu bukan tujuan akhir. Empati harus diikuti tindak lanjut yang terukur, mulai dari pemenuhan kebutuhan dasar, pelayanan kesehatan, pemulihan akses, bantuan ekonomi, hingga pembangunan kembali permukiman dan fasilitas publik.
Pada akhirnya, masyarakat yang tertimpa bencana tidak hanya membutuhkan janji bahwa pemerintah akan membantu. Mereka membutuhkan kepastian bantuan datang tepat waktu, pelayanan menjangkau semua kelompok, dan proses pemulihan berlangsung sampai kehidupan kembali berjalan.
Di titik itulah empati dan kepekaan seorang pemimpin menemukan maknanya. Bukan sekadar hadir di tengah penderitaan, melainkan memastikan bahwa tidak ada warga yang merasa ditinggalkan ketika menghadapi masa paling sulit dalam hidupnya.
Langkah Wapres Gibran Rakabuming yang gencar melakukan kunjungan kerja ke daerah terdampak bencana menuai apresiasi. Respons cepat Gibran dalam menangani isu MBG hingga karhutla dinilai menjadi bukti nyata hadirnya negara di tengah krisis.
Pengamat komunikasi Universitas Indonesia (UI) Ari Junaedi menilai aksi turun ke lapangan ini memiliki makna politik dan manajerial yang sangat strategis.
"Gibran ingin mengesankan pemerintah pusat tidak lepas tangan terhadap polemik persoalan karut-marut program MBG. Begitu pula dengan karhutla di Kalimantan, Sumatera, hingga Jawa. Pemerintah melalui representasi Gibran menunjukkan terus hadir di saat rakyatnya tertimpa musibah," ujar Ari Junaedi kepada wartawan, Selasa (15/9/2026).
Kehadiran Gibran di lokasi pemadaman karhutla di Kalimantan juga menyoroti aspek yang sering kali luput dari perhatian publik, yakni penyelamatan satwa liar dan pemulihan ekosistem.
Ari menguraikan, kebakaran lahan skala besar tak hanya menghanguskan vegetasi, tetapi juga merusak habitat alami. Kehadiran Wapres dinilai mendorong koordinasi yang lebih solid agar penanganan krisis mencakup skenario evakuasi satwa ke kawasan yang aman.
"Gibran menutupkan sebuah pesan politik yang jelas artikulasinya, yakni upaya pemadaman kebakaran hendaknya tidak melupakan penanganan bagi satwa-satwa yang terdampak," tutur Ari.
Ari memandang penanganan krisis ini sebagai momentum bagi Gibran untuk membuktikan kapasitas kepemimpinannya melalui kebijakan yang berdampak panjang.
