Hilirisasi Naik Kelas, dari Smelter Menuju Industri Teknologi Tinggi
“Hilirisasi semestinya tidak hanya menghasilkan komoditas olahan, tetapi sekaligus membangun teknologi, memperkuat industri nasional, dan memberi ruang bagi UMKM untuk tumbuh“.
Oleh: Whisnus Bagus Prasetyo
JAKARTA, Investortrust.id - Firman, warga Cibubur, Jakarta Timur, menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membeli emas sedikit demi sedikit. Emas bukan sekadar perhiasan atau barang mewah, melainkan simpanan yang dapat dijual kembali ketika kebutuhan mendesak datang.
“Saya cuma ingin punya tabungan yang nilainya tidak cepat tergerus. Sekarang, setiap kali ada uang lebih, saya sisihkan untuk membeli emas sedikit demi sedikit,” kata Firman kepada Investortrust.id pada Jumat (23/10/2026).
Pengalaman berbeda datang dari Ningken, pengguna kendaraan listrik (electrical vehicle/EV) di Jakarta Selatan. Ia merasakan kendaraan yang lebih senyap dan praktis untuk aktivitas sehari-hari. Namun, di balik baterai kendaraan yang digunakannya, terdapat perjalanan panjang mineral, mulai dari penambangan nikel, pemurnian, pengolahan material, hingga pembuatan sel baterai. “Kendaraan listrik lebih praktis untuk dipakai sehari-hari,” ujar Ningken kepada Investortrust.id.
Kisah Firman dan Ningken memperlihatkan dua ujung dari perjalanan sumber daya alam (SDA) Indonesia. Satu menikmati hasil pengolahan emas, sementara yang lain menggunakan produk teknologi yang membutuhkan mineral olahan. Emas yang semula berada di perut bumi berubah menjadi batangan dan dapat diperdagangkan sebagai instrumen investasi. Di antara keduanya terdapat industri, modal, tenaga kerja, dan teknologi yang menentukan manfaat ekonomi dapat tinggal di dalam negeri.
Selama bertahun-tahun, Indonesia lebih banyak menjual kekayaan mineral dalam bentuk bahan mentah atau produk dengan pengolahan terbatas. Pemerintah kemudian mendorong pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian atau smelter agar hasil tambang tidak langsung meninggalkan Indonesia sebelum memperoleh nilai tambah lebih besar.
Kini, tantangannya telah berkembang. Indonesia tidak cukup hanya membangun smelter dan meningkatkan produksi logam. Industri nasional perlu melangkah menuju material baterai, sel baterai, aluminium untuk berbagai kebutuhan manufaktur, komponen kendaraan listrik, hingga produk berteknologi tinggi yang mampu bersaing di pasar global.
Direktur Indonesian Development of Economics and Finance (Indef) Green Transition Initiative (GTI) Imaduddin Abdullah menilai peningkatan permintaan mineral global perlu dimanfaatkan untuk memperkuat struktur industri nasional. Menurutnya, pengembangan industri nikel tidak cukup berhenti pada produk setengah jadi.
“Peningkatan permintaan nikel global ini peluang besar bagi Indonesia. Kuncinya, kita harus memperdalam hilirisasi sampai ke produk akhir, bukan berhenti di produk antara (intermediate product),” kata Imaduddin dalam keterangannya, Senin (19/10/2026).
Berdasarkan proyeksi Shanghai Metals Market (SMM), permintaan nikel global diperkirakan meningkat 21,39% dari 3.717 kiloton pada 2026 menjadi 4.512 kiloton pada 2031. Pertumbuhan kebutuhan baja nirkarat dan baterai kendaraan istrik membuka peluang bagi Indonesia untuk memperluas pasar produk mineral olahan.
Ketua Umum Indonesian Mining Association (IMA) Rachmat Makkasau menilai industri hilir menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral Indonesia. “Nilai tambah yang lebih tinggi itu ada pada industri hilir. Tugas utama kita sebenarnya mendorong peningkatan industri hilir di Indonesia,” tegas Rachmat.
Gambaran sederhananya terlihat pada bauksit, bahan tambang yang digunakan untuk memproduksi aluminium. Dalam ilustrasi rantai nilai yang dikemukakan dalam berbagai pembahasan hilirisasi, bauksit bernilai sekitar US$ 40 per ton dapat diolah menjadi alumina senilai sekitar US$ 350 per ton, kemudian menjadi aluminium dengan nilai sekitar US$ 3.200–3.400 per ton.
Investasi Hilirisasi Menembus Rp 147,5 Triliun
Dorongan menuju industri bernilai tambah lebih tinggi terlihat dalam realisasi investasi. Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani menyampaikan bahwa investasi hilirisasi pada triwulan I 2026 mencapai Rp 147,5 triliun atau 29,6% dari total investasi nasional sebesar Rp 498,8 triliun pada periode yang sama.
Besarnya modal yang mengalir ke industri hilir terlihat dari pertumbuhan investasi dalam 2 tahun terakhir. Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mencatat investasi hilirisasi sepanjang 2024 mencapai Rp 407,8 triliun. Setahun kemudian, nilainya melonjak menjadi Rp 584,1 triliun atau tumbuh 43,3%. Dengan capaian tersebut, hampir sepertiga dari total investasi nasional pada 2025 yang mencapai Rp 1.931,2 triliun mengalir ke sektor hilirisasi.
Besarnya angka itu semakin terlihat ketika dibandingkan dengan realisasi pada awal 2026. Dalam 3 bulan pertama tahun ini, investasi hilirisasi mencapai Rp 147,5 triliun, setara dengan sekitar 25,3% dari total investasi hilirisasi sepanjang 2025. Nilai tersebut juga mencakup 29,6% dari keseluruhan investasi nasional pada triwulan I 2026 yang mencapai Rp 498,8 triliun. Artinya, hampir Rp 3 dari setiap Rp 10 investasi yang masuk ke Indonesia pada periode tersebut berkaitan dengan kegiatan hilirisasi.
Dari Rp 147,5 triliun pada triwulan I 2026 tersebut, investasi hilirisasi mineral mencapai Rp 98,3 triliun atau sekitar 67%. Nilai ini memperlihatkan dominasi industri pengolahan mineral dalam agenda hilirisasi nasional. Namun, besarnya investasi belum otomatis menjamin nilai tambah maksimal bagi perekonomian. Tantangan berikutnya adalah memastikan modal tersebut membangun rantai industri yang semakin lengkap, menciptakan pekerjaan dengan keterampilan lebih tinggi, serta mendorong produksi barang jadi di dalam negeri.
“Hal yang perlu kami soroti adalah sektor hilirisasi sumber daya alam yang kontribusinya meningkat menjadi 30% dari total realisasi investasi pada triwulan I 2026, yakni sebesar Rp 147,5 triliun,” kata Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala BKPM Rosan Roeslani dalam sebuah kesempatan.
Nikel menjadi kontributor terbesar investasi hilirisasi mineral pada triwulan I 2026 dengan nilai Rp 41,5 triliun. Tembaga menyusul Rp 20,7 triliun, besi dan baja Rp 17 triliun, bauksit Rp 13,7 triliun, serta timah Rp 2,5 triliun.
Sebaran investasi juga memperlihatkan peluang pengembangan ekonomi di luar Pulau Jawa. Sebanyak 75,5% investasi hilirisasi pada triwulan I 2026 atau Rp 111,4 triliun berada di luar Jawa. Sulawesi Tengah dan Maluku Utara, misalnya, berkembang menjadi pusat pengolahan nikel dan pengembangan ekosistem baterai.
Rosan juga menyampaikan bahwa realisasi investasi Indonesia dalam satu dekade terakhir mencapai sekitar Rp 9.100 triliun. Ia menilai hilirisasi menjadi salah satu penggerak transformasi ekonomi karena mendorong terbentuknya rantai industri yang lebih lengkap di dalam negeri.
Sementara pemerintah menargetkan nilai hilirisasi Indonesia mencapai US$ 618 miliar pada 2040 atau sekitar Rp 11.062 triliun, berdasarkan proyeksi yang disampaikan Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus merangkap sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada pembukaan Trade Expo Indonesia ke-41 di ICE BSD, Tangerang, Banten, Rabu (14/10/2026).
Skala pengembangan hilirisasi nasional juga terlihat dari pelaksanaan proyek-proyek baru sepanjang 2026. Sebanyak 26 proyek hilirisasi telah menjalani peletakan batu pertama atau groundbreaking, terdiri dari 13 proyek pada 6 Februari dan 13 proyek pada 29 April 2026.
Proyek-proyek tersebut mencakup beragam sektor, antara lain pengolahan batu bara menjadi dimethyl ether (DME), tembaga dan emas, garam industri, alumina dan aluminium, serta pengolahan sampah menjadi energi atau waste-to-energy. Cakupan tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan nilai tambah tidak hanya menyasar mineral, tetapi juga bahan baku industri dan sumber daya lain yang dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi.
Pembangunan berbagai fasilitas tersebut membuka peluang pembentukan pusat-pusat ekonomi baru di daerah. Pada tahap konstruksi, proyek membutuhkan pekerja bangunan, operator alat berat, tenaga teknis, serta jasa transportasi dan logistik. Setelah fasilitas beroperasi, kebutuhan berkembang menjadi tenaga operator, teknisi, petugas keselamatan, tenaga laboratorium, pekerja administrasi, dan berbagai profesi lain sesuai karakter industrinya.
Aktivitas industri juga menciptakan permintaan terhadap barang dan jasa pendukung. Perusahaan membutuhkan makanan bagi pekerja, transportasi, penginapan, perlengkapan kerja, jasa kebersihan, perawatan mesin, hingga pengiriman barang. Kebutuhan tersebut membuka peluang bagi pelaku usaha di sekitar kawasan untuk mendapatkan pelanggan baru.
Peluang serupa terbuka bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Kehadiran kawasan industri dapat meningkatkan permintaan terhadap makanan, transportasi lokal, pakaian kerja, jasa perbaikan, penginapan, dan berbagai kebutuhan operasional perusahaan. Jika perusahaan memberikan akses yang memadai bagi pemasok lokal, aktivitas industri dapat menciptakan sumber pendapatan yang menjangkau lebih banyak rumah tangga.
Ekspor Nikel dan Perluasan Industri Baterai
Perubahan industri nikel menjadi salah satu contoh yang paling terlihat dari kebijakan hilirisasi Indonesia. Bahlil Lahadalia mengatakan nilai ekspor sektor mineral nikel meningkat dari sekitar US$ 3,3 miliar pada 2017–2018 menjadi US$ 34 miliar pada 2023 dan melampaui US$ 40 miliar pada 2025.
Bahlil juga menargetkan nilai ekspor sektor tersebut mencapai sedikitnya US$ 45 miliar pada 2026. Target itu mencerminkan harapan pemerintah agar peningkatan kapasitas pengolahan terus memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan mineral global.
Tantangan berikutnya adalah memperluas rantai industri menuju produk yang membutuhkan teknologi lebih tinggi. Salah satu langkahnya terlihat dalam pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik yang menghubungkan industri nikel dengan manufaktur material dan sel baterai.
Holding Industri Pertambangan Indonesia, PT Mineral Industri Indonesia atau MIND ID, melalui PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam dan Indonesia Battery Corporation (IBC), bekerja sama dengan konsorsium CATL–Brunp–Lygend melalui PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) untuk mengembangkan fasilitas produksi baterai di Karawang, Jawa Barat.
Pabrik tersebut dirancang memiliki kapasitas awal 6,9 gigawatt-jam (GWh), dengan rencana perluasan hingga 15 GWh. Pengembangan itu menjadi bagian dari upaya menghubungkan sumber daya nikel dengan kebutuhan industri baterai kendaraan listrik.
Dalam rantai produksi tersebut, nikel dapat diolah menjadi material antara, kemudian diproses menjadi bahan aktif baterai dan sel baterai. Setiap tahap membutuhkan kemampuan produksi, pengendalian mutu, dan teknologi yang berbeda.
Pada Oktober 2026, Presiden Prabowo Subianto meluncurkan 11 proyek hilirisasi senilai Rp 180 triliun sekaligus melepas ekspor perdana baterai kendaraan listrik dari kawasan industri Weda Bay. Agenda tersebut menandai perluasan pengolahan mineral menuju manufaktur produk yang lebih beragam.
“Hari ini kita akan meluncurkan ekspor perdana baterai kendaraan listrik. Kemudian kita juga akan meluncurkan 11 proyek hilirisasi, terdiri dari komersialisasi 4 proyek industri dan dimulai pembangunan 7 proyek industri baru, di kawasan ini, Kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park,” ucap Prabowo, dikutip Jumat (9/10/2026).
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto yang mendampingi Presiden mengatakan hilirisasi perlu memperkuat struktur industri nasional sekaligus menarik investasi dan menciptakan lapangan kerja.
“Hilirisasi tidak hanya bertujuan meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, tetapi juga memperkuat struktur industri nasional, menarik investasi, dan menciptakan lapangan kerja,” ujar Airlangga.
Empat proyek yang memasuki tahap komersialisasi mencakup pengolahan mixed hydroxide precipitate (MHP), material baterai kendaraan listrik berupa nickel manganese cobalt (NMC) dan lithium iron phosphate (LFP), kapasitor aluminium elektrolitik, serta komponen alat berat berbasis kendaraan listrik.
Sementara itu, tujuh proyek baru mencakup pengembangan material dan komponen baterai, industri aluminium, kendaraan berat berbasis listrik, serta photovoltaic glass, yaitu kaca yang digunakan dalam pembuatan panel surya.
Presiden Direktur IWIP Kevin He mengatakan perkembangan kawasan tersebut menunjukkan semakin luasnya keterhubungan industri dari pengolahan bahan baku hingga manufaktur.
“IWIP telah memasuki fase baru. Dari pengolahan dan pemurnian nikel, kini semakin banyak mata rantai industri hadir dan terhubung di dalam kawasan, mulai dari bahan baku baterai, aluminum kendaraan listrik, truk dan alat berat listrik,” tutur Kevin.
Menurut Kevin, perkembangan tersebut juga membuka peluang ekonomi melalui peningkatan aktivitas produksi, penyerapan tenaga kerja, dan kebutuhan barang serta jasa. Kawasan IWIP telah menjadi tempat bekerja bagi lebih dari 100.000 karyawan, sedangkan 11 proyek yang diluncurkan diproyeksikan membuka hingga 13.950 lapangan kerja.
Riset Menjadi Penentu Industri Teknologi Tinggi
Setelah tambang, smelter, dan fasilitas manufaktur dibangun, tantangan berikutnya adalah menguasai teknologi yang digunakan. Kemampuan riset menentukan efisiensi pengolahan, kualitas produk, penggunaan energi, pengurangan limbah, dan kemampuan perusahaan bersaing di pasar internasional.
Ketua Bidang Kajian Mineral Strategis, Mineral Kritis, dan Hilirisasi Mineral Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Muhammad Toha mendorong penguatan kolaborasi antara perusahaan tambang, perguruan tinggi, dan lembaga riset agar inovasi nasional lebih cepat diterapkan di industri. “Kerja sama ini dapat membantu menjembatani penelitian dengan kebutuhan nyata perusahaan,” kata Toha saat dihubungi Investortrust.id.
Toha mengatakan banyak inovasi yang dihasilkan perguruan tinggi belum mampu menembus tahap komersialisasi karena berhenti pada pengujian skala laboratorium. "Yang paling menjadi tantangan adalah menyinkronkan hasil temuan universitas dengan dunia praktis. Selama ini banyak yang masih berhenti di skala laboratorium," kata Muhammad Toha.
Seperti pepatah, sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Hilirisasi semestinya tidak hanya menghasilkan komoditas olahan, tetapi sekaligus membangun teknologi, memperkuat industri nasional, dan memberi ruang bagi UMKM untuk tumbuh.
Kekayaan alam akan benar-benar menjadi kekuatan ekonomi ketika Indonesia tidak hanya memiliki bahan bakunya, tetapi juga menguasai kemampuan untuk mengubahnya menjadi produk masa depan. Nilai tambah itu perlu mengalir hingga ke pekerja, petani, nelayan, pelaku usaha kecil, dan masyarakat yang hidup di sekitar pusat-pusat produksi.***
