Banyak Jalan Menuju Roma, Selalu Ada Babak Kedua
Poin Penting
|
INVESTORTRUST.ID – Tiga buah pigura besar terpampang di sudut dinding ruang kerja Tony Jackson. Bukan sertifikat penghargaan atau foto seremonial perusahaan, melainkan ikon klub papan atas Liga Premier, Liverpool FC!
Pigura paling besar berisi jersey tandang The Reds berkelir putih yang dibubuhi tanda tangan sejumlah legendanya. Lalu ada foto Kenny Dalglish, striker ikonik Si Merah yang merumput di Anfield pada 1977-1990.
Satu foto lainnya adalah momen heroik penjaga gawang Jerzy Dudek memblok tendangan penalti Andriy Shevchenko (AC Milan) di final Liga Champions 2005. Laga bersejarah yang dihelat di Stadion Olimpiade Atatürk, Istanbul, Turkiye, itu secara dramatis mengantarkan Liverpool merengkuh Si Kuping Besar.
Ya, Tony Jackson adalah penggemar berat Liverpool, raksasa sepak bola Inggris yang lekat dengan anthem You’ll Never Walk Alone.
"Kalau saya sudah tidak menjabat di sini lagi, tiga pigura ini saya bawa pulang. Yang lainnya boleh kalian ambil," kata Tony kepada anak buahnya, pada suatu waktu.
Separuh bergurau, separuh serius.
Bagi yang belum mengenalnya, koleksi itu mungkin sekadar pajangan penggemar sepak bola.
Tapi bagi Tony, itu adalah manifesto.
"Pantang menyerah. Kita selalu comeback di menit-menit terakhir. Babak pertama boleh kalah 0-3, tapi tonton dulu babak kedua," ujarnya, dengan nada penuh optimistis.
Filosofi serupa diterapkan Tony di perusahaan yang dinakhodainya, PT Teknologi Merlin Sejahtera yang dikenal dengan brand UKU Indonesia.
Prinsip pantang menyerah menjadi kompas UKU dalam mengarungi ketatnya persaingan di industri financial technology (fintech) pinjaman langsung dari pengguna ke pengguna alias peer to peer (P2P) lending.
Perjalanan Tony Jackson di industri fintech tidak dimulai dari dunia teknologi atau keuangan. Lulusan Fakultas Hukum Universitas Tarumanagara ini mengawali karier sebagai pengacara di firma hukum Jusuf Indradewa & Partners.
Tony ditempatkan di divisi pasar modal. Uji tuntas (due diligence), penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham, emisiobligasi, hingga menyusun cetak biru holding BUMN di era Menteri Erick Thohir adalah kegiatan yang dijalani Tony sebelum usianya genap 30 tahun.
Titik balik terjadi pada 2017 saat Tony Jackson diminta membantu mendirikan sebuah perseroan terbatas (PT), yang ternyata adalah perusahaan pindar. Ia bahkan diajak bergabung.
Tak butuh waktu lama bagi Tony untuk menerima tawaran itu. Dua hari kemudian, ia mengundurkan diri dari firma hukum tempatnya bekerja.
Tony merasa tertantang untuk menggeluti bidang baru. Dan, ia ingin masuk secara total, tidak setengah-setengah.
"Kalau bahasa orang tua saya, kalau mau basah, jangan mau kecipratan doang, tapi nyemplung sekalian," tegas pria kelahiran Bagansiapiapi, Riau, 17 Januari 1995, tersebut.
Toh jalan yang dipilih Tony Jackson tak benar-benar mulus. Banyaknya kasus penipuan (fraud) dan maraknya pinjaman online (pinjol) ilegal pada awal-awal karier di industri fintech lending membuat Tony nyaris menyerah. Apalagi aturan tentang pindar saat itu belum lengkap.
Saking frustrasinya, Tony Jackson sempat ingin berhenti dan kembali ke Jusuf Indradewa & Partners. "Saya bilang ke managing partner di sana, kalau ini tidak sustain, apakah saya masih boleh berpraktik lagi? Ternyata mereka siap menerima saya kembali dengan bangga," tutur Tony.
Perbaikan regulasi, lahirnya Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), terbentuknya Satgas Waspada Investasi, dan terbitnya berbagai peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) yang lebih lengkap dan rinci akhirnya meyakinkan Tony untuk bertahan.
Terlebih ia terinspirasi oleh mentalitas Liverpool bahwa kemenangan akan datang kepada orang yang terus berjuang dan pantang menyerah hingga menit terakhir.
"Di situlah saya menemukan titik terang. Ini mungkin dunia saya,” tandas Tony, mantap.
Bergabung dengan UKU sebagai Direktur pada 27 November 2017, Tony Jackson didapuk menjadi chief executive officer (CEO) sejak 27 November 2025.
Sebagai CEO, Tony punya filosofi mitigasi risiko yang ia analogikan sebagai “memancing di tengah kolam”. Ia lebih memilih mendapatkan ikan hanya beberapa ekor, tetapiberukuran jumbo, alih-alih puluhan ekor tapi kecil-kecil.
UKU sangat hati-hati mengelola risiko dan lebih mementingkan peminjam berkualitas. Tony tak ingin UKU tumbuh tinggi tapi fundamentalnya rapuh.
Ia memilih pertumbuhan yang tidak agresif, tetapi berkesinambungan.
Tak mengherankan jika Tingkat Wanprestasi (TWP) 90 hari UKU terbilang rendah, berada di kisaran 3,1% dibanding rata-rata industri yang mencapai 4,32% (per Juli 2026).
Kunci mengelola risiko ternyata bukan pada penagihan di hilir, melainkan seleksi di hulu. "Kalau di hilir banyak pekerjaan, berarti kita tidak efektif. Ibarat aliran sungai, sampahnya sudah deras di sini, padahal sudah mau masuk jurang," ujar dia.
Tony Jackson adalah pemimpin yang fleksibel dan berorientasi hasil. Ia mendorong para karyawan berinovasi dan berimprovisasi. Sebagaimana peribahasa “Banyak jalan menuju Roma”, semua orang bisa melakukan berbagai cara untuk mencapai tujuan yang sama.
“Mau lewat jalan lain, saya tidak peduli. Output-nya 10, mau 5+5 atau 6+4, sama saja," tandas CEO yang sedang menyelesaikan kuliah Master of Business Administration (MBA) di University of Hertfordshire, Inggris, tersebut.
Pria yang gemar membaca buku dan punya perpustakaan mini di rumahnya ini menggunakan parameter berbeda dalam mengukur keberhasilan UKU.
Tony tidak melihat keberhasilan perusahaan berdasarkan skala usaha. Ia melihatnya dari keberlangsungan. "Saya bukan orang yang mengejar angka besar. Kalau sustain dan besar, itu bonus," kata Tony.
Tony Jackson memiliki definisi sendiri tentang kesuksesan. Sukses, dalam pandangan Tony, harus diukur dari sisi kebermanfaatan bagi orang lain.
"Saya senang sekali melihat orang berkembang. Saya selalu titip pesan kepada staf saya, ‘Kamu harus lebih pintar dari saya. Kalau cuma selevel dengan saya, saya kecewa’," ucap eksekutif yang hobi bermain golf tersebut.
Berikut penuturan lengkap Tony Jackson kepada jurnalis investortrust.id, Bagus Kasanjanu, Elsid Arendra, dan Abdul Aziz di Jakarta, baru-baru ini:
Bagaimana perjalanan karier Anda hingga akhirnya menggeluti industri fintech lending?
Latar belakang saya sebenarnya di bidang hukum. Saya lulusan Fakultas Hukum Universitas Tarumanagara. Sekarang saya juga sedang mengambil program magister Master of Business Administration (MBA) di Inggris. Mudah-mudahan akhir tahun ini selesai.
Setelah lulus Fakultas Hukum Tarumanagara, saya langsung praktik di law firm Jusuf Indradewa & Partners. Itu salah satu law firm yang cukup tua. Di sana saya menangani divisi pasar modal.
Saya mengerjakan berbagai hal, mulai dari due diligence, IPO saham, penerbitan obligasi, sampai membantu penyusunan berbagai blueprint, termasuk pada masa ketika ada rencana pembentukan sejumlah holding BUMN, seperti holding perumahan dan pangan. Itulah pekerjaan pertama saya.
Apa yang membuat Anda memutuskan banting setir ke fintech lending?
Bisa dibilang ini blessing in disguise atau berkah yang datang secara tidak terduga. Suatu sore saya sedang berbicara dengan teman-teman. Tiba-tiba ada yang bertanya, “Bisa bantu nggak? Saya punya teman investor yang mau masuk ke Indonesia.”
Saya jawab, “Boleh, bisa. Kalau hanya mendirikan perseroan terbatas (PT), itu gampang.” Kemudian saya bertemu dengan investor tersebut. Ternyata dia ingin membangun bisnis fintech lending.
Saat itu fintech lending masih sangat baru. Kami juga belum terlalu tahu fintech lending itu seperti apa. Bahkan regulasinya pun baru berkembang saat industrinya mulai muncul. Itu kan memang industri baru.
Dia kemudian bercerita mengenai praktik P2P lending di China dan Amerika Serikat (AS). Saya melihat ini menarik karena bisa menjadi salah satu terobosan untuk pembiayaan di samping sistem konvensional.
Dua hari kemudian saya langsung mengajukan pengunduran diri kepada managing partner. Saya bilang, “Bu, saya mau mengajukan izin untuk resign karena saya ingin mencoba ini.”
Akhirnya saya keluar dan ikut membangun UKU dari nol. Mulai dari membuat PT, menyiapkan organisasi, berkoordinasi dengan investor, mengurus tanda terdaftar, sampai proses perizinan. Kurang lebih dua sampai tiga tahun proses itu berjalan sampai semuanya beres. Saya masuk dengan menempati posisi Direktur.
Jadi, dalam perjalanan karier memang ada momen-momen yang datang tiba-tiba. Tinggal kembali kepada kita, apakah bersedia mengambil risiko, mau belajar sesuatu yang baru, dan kemudian all out atau total menjalaninya.
Orang tua saya punya nasihat sederhana: “Kalau mau basah, jangan cuma mau kecipratan. Nyemplung sekalian.”
Saat masuk industri fintech lending, Anda tidak kesulitan beradaptasi?
Kesulitan pasti ada. Kami harus belajar dari nol mengenai apa itu P2P lending. Kami juga melakukan studi banding karena investor kami berasal dari China dan AS. Kami mempelajari bagaimana model bisnis fintech lending di masing-masing negara.
Setelah itu, kami melihat regulasi yang berlaku di Indonesia. Saat itu ada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 77/POJK.01/2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi. Regulasi tersebut masih cukup umum dan belum mengatur secara sangat detail mengenai aspek-aspek taktis.
Karena itu, kami tetap harus mengikuti regulasi sambil mengakomodasi best practice ke dalam bisnis kami.
Sempat merasa salah jalan?
Ada. Begitu juga ada momen ketika saya merasa, “Nah, ini dunia saya.”
Momen merasa salah pilih itu muncul ketika kami sedang mengurus berbagai perizinan. Ada saat-saat ketika saya merasa secara regulasi kok seperti tidak jalan.
Mungkin regulator saat itu juga belum terlalu familiar dengan industri ini karena memang masih sangat baru, pengaturannya juga belum terlalu detail.
Di sisi lain, saat itu banyak terjadi fraud, pinjol ilegal, dan berbagai persoalan lainnya. Saya sempat berpikir bahwa industri ini sepertinya tidak akan bertahan lama.
Namun kemudian terjadi perubahan. Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) mulai berperan. Asosiasi bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), komunikasi dibangun, dan regulasi terus diperbarui. Kemudian muncul Satgas Waspada Investasi untuk memberantas aktivitas ilegal.
Di situlah saya melihat titik terang. Setidaknya mulai ada langkah konkret untuk membereskan berbagai persoalan. Dari situ saya berpikir bahwa ini bisa. Kalau terus seperti ini pasti bisa.
Ketika POJK baru dan Surat Edaran OJK (SEOJK) terbit, lalu asosiasi mendapatkan kewenangan lebih besar untuk membina anggotanya, saya mulai berpikir bahwa mungkin ini memang dunia saya.
Yang pertama Anda lakukan di UKU?
Pertama, kami belajar dari para senior. Dari sisi eksternal, kami datang dan belajar mengenai best practice. Dari sisi internal, karena saya orang hukum, saya berpikir semuanya harus memiliki aturan. Harus ada standard operating procedure (SOP).
Jadi, pembenahan dimulai dari SOP. Kami menentukan koridornya. Kalau begini, SOP-nya seperti apa. Kalau begitu, SOP-nya bagaimana. Semuanya harus memiliki aturan main.
Setelah itu baru kami bisa melakukan ekspansi dan berbagai kegiatan lainnya. Kalau tidak, semuanya bisa berantakan dan saling tumpang tindih.
Setelah pembenahan internal dan SOP selesai, kami membangun proses perizinan dan mengajukan izin kepada OJK. Prosesnya berlangsung sekitar dua tahun.
Apa yang mendorong Anda terus maju ketika nyaris menyerah?
Pertama, saya suka belajar. Ketika melihat ada perbaikan dari pihak eksternal, saya merasa harus ikut mendukung. Saya ingin melihat bagaimana perjalanan ini sampai ke ujung. Apakah titik terangnya benar-benar ada atau justru kembali redup?
Saya tidak terbiasa berhenti di tengah jalan. Saya ingin tahu sampai akhirnya seperti apa supaya pemahamannya komprehensif. Sejak 2017 sampai sekarang, saya tahu bagaimana industri ini berubah dari tahun ke tahun. Saya tahu apa yang berubah dan apa tantangan yang muncul pada setiap periode.
Saya memulai, maka saya juga ingin melihat bagaimana akhirnya. Apakah berakhir dengan baik atau tidak, itu persoalan lain.
Kondisi yang Anda rasakan saat berada di titik terendah?
Sangat berat. Bahkan saya sampai kembali ke law firm tempat saya bekerja dulu. Saya menemui managing partner dan menjelaskan kondisi saya.
Saya bertanya, “Kalau misalnya bisnis ini tidak sustain, apakah saya masih boleh berpraktik di law firm ini lagi?”
Ibaratnya, kita mengetuk pintu dulu sebelum pulang.
Jawabannya, “Boleh.” Bahkan saya diterima dengan baik dan penuh rasa bangga. Namun, pada saat yang sama, proses perbaikan di industri ini mulai berjalan. Karena itu, akhirnya saya memutuskan tetap melanjutkan perjalanan di UKU.
Cara Anda meningkatkan kompetensi?
Saya tipe orang yang mau belajar kepada siapa pun. Saya memang agak muka tembok, he, he, he… Sejak kuliah pun saya seperti itu. Kalau ada yang tidak saya mengerti, saya akan menunggu dosen sampai selesai.
Ketika mulai bekerja, saya juga begitu. Misalnya saya ingin tahu bagaimana cara mengaudit perusahaan, saya akan mengejarnya sampai benar-benar mengerti. Pernah tiga hari saya tidur di kantor karena pada pagi harinya saya ingin menjadi orang pertama yang mendapatkan kesempatan berdiskusi dengan managing partner.
Di industri P2P lending pun seperti itu. Ketika awal bergabung, sayamendatangi para senior. Saya bertanya, “Pak, ini seperti apa? Bu, kalau seperti ini bagaimana? Kalau pandangan saya seperti ini, apakah benar?”
Definisi sukses menurut Anda?
Sukses bagi saya adalah bermanfaat. Bermanfaat terutama bagi diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita. Kalau tidak begitu, untuk apa kita hidup dan bekerja?
Saya merasa sukses ketika bisa mengangkat tim saya. Jenjang karier mereka sekarang sudah berkembang. Bahkan suksesor saya di UKU juga sudah ada. Pengetahuan yang kita dapat dari orang lain secara gratis, pada akhirnya harus kita berikan kembali kepada orang-orang di sekitar kita.
Kalau pengetahuan itu bisa digunakan untuk mengangkat derajat mereka, bagi saya itulah kesuksesan. Kuncinya adalah bermanfaat. Mau manfaat itu untuk diri kita sendiri, orang sekitar, atau siapa pun, bagi saya tidak masalah.
Manfaatnya macam-macam. Bisa materi, bisa juga dalam bentuk lain. Kalau saya berbagi dengan orang lain, semuanya bisa masuk. Bisa pengetahuan, pemikiran, diskusi, bahkan hal-hal spiritual.
Wah, itu tidak ternilai. Tidak bisa dinilai.
Anda sudah merasa sukses?
Untuk pribadi saya, ya. Tapi untuk yang lebih luas lagi, saya rasa belum. Saya masih perlu memberikan lebih banyak manfaat kepada orang lain, termasuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang mendapat pinjaman dari UKU.
Ya, itu salah satu parameternya. Saya juga sangat senang melihat orang-orang di sekitar saya berkembang. Saya selalu mengatakan kepada tim, “Kamu harus lebih pintar dari saya. Kalau kamu hanya sepintar saya, saya kecewa.”
Justru kalau mereka bisa berlari lebih cepat, melangkahi saya, lebih sukses, lebih pintar, saya akan mendukung habis-habisan.
Gaya kepemimpinan Anda?
Saya cukup fleksibel dan sangat adaptif. Bahkan kadang karena terlalu adaptif, saya menjadi sulit ditebak. Pada prinsipnya saya fleksibel dan berorientasi pada hasil.
Setiap orang memiliki cara yang berbeda. Ada peribahasa: Banyak jalan menuju Roma. Tujuannya tetap Roma, tetapi jalannya bisa berbeda.
Kalau seseorang ingin mencapai target dengan cara tertentu, saya tidak terlalu mempermasalahkan selama hasilnya tercapai. Kita tidak bisa memaksakan apa yang kita mau kepada orang lain. Belum tentu ritme dan cara kita cocok dengan orang tersebut. Kalau dipaksakan, hasilnya justru bisa tidak maksimal.
Saya berorientasi pada output. Kalau targetnya 10, ya bagaimana caranya mencapai 10. Mau 5 + 5, silakan. Mau 6 + 4 juga menjadi 10. Bagi saya tidak masalah.
Ada melihat pribadi Anda sebagai apa?
Saya melihat diri saya sebagai family man. Prinsip hidup saya sederhana: bagaimana menjalani kehidupan sehari-hari bersama keluarga dengan prinsip tegas tetapi tidak keras. Saya dididik dengan latar belakang seperti itu. Saya belum berkeluarga. Mudah-mudahan tahun depan.
Nilai-nilai apa yang menuntun Anda ke posisi saat ini?
Didikan orang tua. Bagi saya, semuanya berawal dari keluarga. Bagaimana kita dididik sejak kecil, sejak sekolah, itu membentuk kita, termasuk pola berpikir. Saya dididik dengan tegas dan keras. Dulu saya bercanda menyebutnya seperti VOC.
Kami diajarkan bahwa semuanya harus logis dan masuk akal. Kalau kami mempunyai pandangan, pertanyaan dari orang tua biasanya sederhana, “Masuk akal tidak?” Kalau masuk akal, silakan.
Termasuk ketika saya memutuskan banting setir dari firma hukum ke UKU. Itu nilai yang saya bawa sampai sekarang, termasuk ketika memimpin perusahaan.
Berarti keluarga menjadi role model Anda?
Betul. Kebetulan orang tua saya pengusaha. Makanya saya dididik keras, tegas, tetapi juga adaptif. Karena keluarga pengusaha, kami harus bisa beradaptasi.
Pandangan Anda tentang keseimbangan hidup?
Kalau istilah anak Gen Z, itu work-life balance. Rutinitas harian saya sebenarnya sudah cukup teratur. Saya ini seperti buku terbuka yang bisa dibaca semua orang di kantor. Jam sekian Pak Tony biasanya ada di sini, jam sekian di sana.
Tinggal bagaimana kita pintar-pintar menyelipkan kegiatan. Misalnya ada meeting yang kosong setengah hari, saya gunakan untuk bermain golf karena itu hobi saya. Kalau ada waktu lagi, saya main golf lagi. Olahraga saya selipkan di antara rutinitas kerja.
Kalau akhir pekan, 100% family time. Tidak bisa diganggu. Itu waktu libur. Kecuali ada sesuatu yang benar-benar mendesak, itu pun saya harus meminta izin terlebih dahulu kepada keluarga, adik-adik, dan orang tua. Biasanya kalau akhir pekan, kami makan di luar bersama. Itu sudah menjadi tradisi keluarga.
Di luar itu?
Ada dua koleksi yang paling penting bagi saya. Di rumah, saya punya perpustakaan mini. Isinya buku-buku yang saya beli sejak masih sekolah. Saya memang hobi membaca. Setiap zaman, genre yang saya baca juga berbeda.
Di sekolah dulu, saya membaca teen lit (sastra remaja), novel, fiksi, dan sebagainya. Ketika kuliah, saya mulai tertarik pada memoar dan biografi. Saya punya biografi Steve Jobs, buku-buku tentang Bung Karno, koleksi lengkap karya Pramoedya Ananta Toer, sampai Samkok yang terdiri atas 10 seri.
Pokoknya, saya suka mengoleksi buku-buku yang menurut orang mungkin rare (langka). Saya sering ke Yogyakarta, ke Taman Budaya. Di sana banyak sekali buku seperti itu. Saya bisa seharian berada di sana, dari pagi sampai tempatnya tutup di sore hari.
Saya juga banyak mengoleksi buku bekas. Kalau ada buku yang menurut saya penting, saya beli lagi dan saya baca ulang. Banyak sekali buku langka yang saya koleksi.
Koleksi kedua adalah sepak bola. Saya penggemar berat Liverpool. Saya memiliki beberapa jersey yang ditandatangani legenda-legenda Liverpool. Saya pajang di kantor. Selain itu, saya punya foto King Kenny (julukan Kenny Dalglish, salah seorang legenda Liverpool). Saya membelinya melalui bidding di Singapura. Foto tersebut masih dalam format hitam putih. Sekarang saya pajang di kantor.
Saya lupa harganya dalam dolar Singapura, tetapi benda seperti itu tidak bisa dinilai dengan uang. Saya bahkan pernah bilang kepada anak-anak di kantor, "Kalau saya sudah tidak menjabat di sini lagi, tiga ini saya bawa pulang. Yang lainnya kalian boleh ambil."
Satu pigura lagi yang saya pajang di kantor yaitu yang terkait Liga Champions 2005, ketika Jerzy Dudek (kiper Liverpool) melakukan penyelamatan penalti Andriy Shevchenko. Ada foto yang dibuat oleh seorang reporter dan ditandatangani Dudek.
Apa hebatnya Liverpool?
Filosofinya: pantang menyerah. Liverpool punya karakter selalu melakukan comeback, bahkan di menit-menit terakhir. Babak pertama boleh saja kita kalah 0-3. Tetapi tonton dulu 45 menit babak kedua. Bisa saja kita menang dan melakukan comeback.
Bagi saya, itu karakter pantang menyerah. Saya sudah menjadi penggemar Liverpool sejak 2005 dan sampai sekarang tidak berubah. Kadang saya ngobrol dengan adik-adik saya. Kami satu keluarga adalah penggemar Liverpool karena saya yang "mencuci otak" mereka, ha, ha, ha...
Anda menerapkan filosofi serupa di perusahaan?
Pasti, terutama filosofi pantang menyerah, sampai menit terakhir. Selalu ada babak kedua, selalu ada kesempatan untuk comeback sampai peluit panjang berbunyi. Itu yang selalu saya sampaikan ke tim.
Kinerja UKU saat ini?
Kinerja kami positif dengan Tingkat Wanprestasi 90 (TWP90) yang tetap terjaga.TWP90 industri per Juli 2026 mencapai 4,32%, naik dari 2,75% pada Juli 2025. TWP90 kami berada di 3,1%, sehingga Tingkat Keberhasilan Bayar (TKB) kami mencapai 96,9%. Angka itu masih relatif rendah dibandingkan industri.
Cara Anda menjaga TWP?
Kami melakukan mitigasi dari sisi hulu. Hulunya harus memadai supaya pekerjaan di hilir tidak terlalu banyak. Di hulu, kami menyalurkan pinjaman kepada borrower (peminjam) yang memang memiliki kualitas bagus. Sistem scoring (penilaian risiko) kami terus diperbarui agar semakin mutakhir dan memadai. Pemutakhiran sistem scoring dilakukan secara berkala.
Bahkan, kalau ada 100 calon borrower yang masuk dalam proses akuisisi, mungkin hanya satu atau dua yang kami setujui. Ibarat memancing di kolam, mungkin kita mendapatkan banyak ikan, tetapi ikan yang besar hanya satu atau dua ekor.
Kalau semua di hulu sudah dipastikan baik, seharusnya pekerjaan di hilir tidak terlalu banyak. Kalau ada masalah, mungkin karena force majeure (keadaan kahar).
Saya mengibaratkannya aliran sungai. Kalau sampah sudah mengalir deras sampai ke hilir, baru kita sibuk membersihkannya, itu sudah terlambat. Apalagi kalau di depan ada jurang.
Bagaimana UKU merespons risiko keamanan siber?
Keamanan siber menjadi perhatian industri ini. Kami pernah mengalami berbagai kasus cyber security, seperti deepfake atau pemalsuan identitas menggunakan kecerdasan buatan (AI) dalam pengajuan pinjaman.
Dari situ kami belajar bahwa ternyata masih ada celah dalam sistem yang bisa dimanfaatkan. Memang sempat ada beberapa yang lolos, tetapi tidak banyak karena kami melakukan deteksi dini. Teknologi berkembang sangat cepat dan kita semua harus terus belajar.
Selain cyber security, tantangan lainnya adalah regulasi yang adaptif terhadap perubahan di lapangan. Iniharus kita kolaborasi bareng, misalnya dari sisi regulator. Ke depan banyak peraturan yang harus kita comply. Bukan POJK doang. Ada Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi dan undang-undang lainnya.
Tren kebijakan moneter global masih higher for longer (suku bunga dipertahankan pada level tinggi untuk waktu yang lebih lama), apa dampaknya terhadap industri fintech lending?
Untuk suku bunga, kami sudah dibatasi oleh OJK. Mau setinggi apa pun suku bunga di luar sana, kami harus mengikuti ketentuan Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan (SEOJK). Saat ini ada batas maksimum manfaat ekonomi, misalnya 0,3% per hari, sedangkan untuk pembiayaan produktif 0,1% per hari, kalau saya tidak salah ingat. Jadi, itu menjadi batas bagi kami dalam menyalurkan pembiayaan.
Kalau melihat kondisi makro, dampaknya lebih kepada bagaimana kami memastikan kemampuan pembayaran kembali atau repayment capacity peminjam tetap baik. Kami harus memastikan borrower masih sanggup membayar pinjamannya, karena kebutuhan dan beban mereka kemungkinan meningkat. Tantangan terbesar justru ada di situ.
Lanskap industri fintech lending ke depan?
Kami tetap menyasar kelompok unbankable, yaitu masyarakat yang sulit mendapatkan akses kredit dari perbankan. Kami banyak bergerak di segmen middle to low (menengah ke bawah), yaitu masyarakat yang memiliki keterbatasan akses terhadap layanan perbankan. Di situlah kami mencoba mengakomodasi dan menjembatani mereka agar bisa memperoleh akses pembiayaan.
Sebagian masyarakat masih punya persepsi kurang baik terhadap fintech lending akibat maraknya pinjol ilegal. Pendapat Anda?
Kami terus melakukan sosialisasi. Bahkan, OJK mewajibkan penyelenggara untuk melakukan sosialisasi dan edukasi secara berkala. Kami datang ke berbagai daerah. Kami juga melakukan publikasi melalui situs web dan berbagai kanal komunikasi. Kebetulan saya juga aktif di AFPI sebagai Ketua Bidang Perlindungan Konsumen.
Mimpi Anda untuk UKU?
Mimpi saya untuk UKU sebenarnya sederhana: tetap sustain. Saya bukan orang yang mengejar perusahaan harus menjadi besar. Tidak. Kalau kemudian bisa sustain, tetap eksis, dan akhirnya menjadi besar, itu adalah bonus.
Bagi saya, yang paling penting adalah sustainability. Saya lebih memilih memupuknya perlahan tetapi pasti daripada tumbuh sangat cepat, kemudian menghadapi masalah. Lebih baik pelan, moderat, tetapi terus naik. Perlahan, tetapi ada pertumbuhan. Kalau kemudian suatu saat UKU menjadi besar, itu bonus. ***
BIODATA
Nama: Tony Jackson.
Tempat/tanggal lahir: Bagansiapiapi, Riau, 17 Januari 1995.
Pendidikan:
* 2025 – sekarang: University of Hertfordshire — Master of Business Administration.
* 2012–2016: Universitas Tarumanegara — Ilmu Hukum.
Karier:
* 27 November 2025 – sekarang: CEO PT Teknologi Merlin Sejahtera (UKU Indonesia).
* 27 November 2017 – 26 November 2025: Direktur PT Teknologi Merlin Sejahtera (UKU Indonesia).
* 2 Januari 2017 – 27 November 2017: Senior Associate Jusuf Indradewa & Partners.
* 27 Juni 2016 – 30 Desember 2016: Junior Associate Jusuf Indradewa & Partners.
