Sekolah di Papua Mesti Kembali ke Tungku Api
Poin Penting
|
Oleh I Musa ")
JAKARTA, Investortrust.id - SEKOLAH mesti pulang ke tungku api, bukan untuk menggantikan sekolah dengan tungku api, melainkan untuk mengembalikan pendidikan kepada kehidupan. Anak Papua tidak datang ke sekolah sebagai kertas kosong. Ia datang membawa berbagai pengetahuan. Pengetahuan yang mereka bawa adalah berupa bahasa ibu, cerita, pengalaman, nilai, relasi, tanah, budaya, dan pengetahuan yang telah dipelajari dari tungku api kehidupannya.
Sebelum mengenal papan tulis, anak Papua telah mengenal halaman rumah, kebun, sungai, hutan, keluarga, tetangga, bahasa ibu, cerita orang tua, serta tata cara hidup bersama. Tungku api menjadi ruang awal tempat anak melihat bagaimana orang berbicara, mendengar, berbagi makanan, menyelesaikan persoalan, menghormati yang lebih tua, dan memahami tanggung jawab terhadap sesama. Pendidikan formal mesti membaca kenyataan ini sebagai kekayaan. Bukan sebagai sesuatu yang harus ditinggalkan, ketika anak memasuki sekolah.
Sekolah yang pulang ke tungku api bukan sekolah yang menolak buku, kurikulum, teknologi, atau pengetahuan modern. Sekolah justru menjadi lebih kuat ketika pengetahuan formal bertemu dengan pengetahuan yang hidup dalam masyarakat. Pendidikan menjadi berarti dan bermakna. Ketika pelajaran tidak berhenti pada hafalan.Tetapi, membantu anak memahami kehidupan yang setiap hari mereka jalani.
Seperti yang Paulo Freire mengingatkan bahwa membaca dunia mendahului membaca kata. Artinya bahwa sebelum seseorang belajar membaca teks atau tulisan (huruf, kata, kalimat). Ia sebenarnya sudah belajar membaca lingkungan, situasi sosial, dan pengalaman hidupnya terlebih dahulu.
Baca Juga
Pernyataan dari Freirre di atas ini penting bagi pendidikan Papua. Anak mesti belajar membaca buku, tetapi sebelum itu sekolah mesti membantu mereka membaca dunianya sendiri. Tungku api dapat menjadi pintu masuk untuk menghadirkan pendidikan yang kontekstual, dialogis, dan berakar pada pengalaman sosial dalam kehidupan masyarakat.
Sekolah yang Terlalu Jauh dari Kehidupan
Sekolah dapat kehilangan makna. Ketika dunia pendidikan berjalan terpisah dari kehidupan peserta didik atau siswa di sekolah. Anak datang dari kampung, keluarga, kebun, sungai, gunung, dan lingkungan sosial tertentu. Tak hanya itu, mereka selalu berhadapan dengan pelajaran yang kadang tidak memiliki hubungan langsung dengan pengalaman hidupnya. Pengetahuan hadir dalam bentuk definisi, rumus, hafalan, dan ujian. Anak dituntut mengetahui banyak hal. Tetapi, tidak selalu diajak memahami hubungan pengetahuan itu dengan kehidupannya.
Dalam konteks ini, sekolah bukan sekadar tempat memindahkan pengetahuan dari guru kepada murid. Sekolah merupakan lembaga sosial yang membentuk cara berpikir, cara berhubungan, dan cara melihat dunia serta cara bertindak. Sekolah di Papua mesti memahami struktur sosial tempat anak tumbuh. Bahasa, budaya, relasi keluarga, kehidupan komunal, dan pengalaman masyarakat merupakan bagian dari realitas pendidikan di Papua.
Tungku Api memperlihatkan bahwa pendidikan sesungguhnya sudah berlangsung sebelum sekolah berdiri. Di sana anak belajar melalui pengamatan dan keterlibatan dalam kehidupan keluarga, lingkungan sosial, dan masyarakat. Anak tidak selalu duduk mendengar guru. Ia belajar dengan melihat orang tua bekerja, mendengar cerita, mengikuti percakapan, membantu keluarga, dan mengalami kehidupan bersama. Model belajar seperti ini memperlihatkan bahwa pengetahuan tidak hanya berada di dalam buku. Pengetahuan juga hidup dalam praktik sosial, dalam kehidupan sehari-hari.
Tungku Api sebagai Sekolah Kehidupan
Tungku api dapat dibaca sebagai sekolah kehidupan. Ia merupakan ruang sosial tempat berbagai generasi bertemu. Orang tua, anak, keluarga, dan anggota komunitas saling berbagi pengalaman. Dalam ruang semacam ini, nilai tidak diajarkan melalui definisi panjang, tetapi melalui kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang di lingkungan sekitar mereka.
Anak belajar bahwa makanan tidak hanya persoalan mengisi perut, tetapi juga berkaitan dengan berbagi. Anak belajar bahwa percakapan bukan hanya pertukaran kata atau mengecah huruf, tetapi cara menjaga hubungan. Anak belajar mendengar sebelum berbicara, menghormati orang yang lebih tua, membantu anggota keluarga, dan memahami bahwa kehidupan pribadi selalu mempunyai hubungan dengan kehidupan bersama.
Di sinilah tungku api memiliki nilai pedagogis. Pendidikan berlangsung melalui relasi atau hubungan. Pengetahuan diwariskan melalui cerita, pengalaman, simbol, bahasa, dan praktik kehidupan. Tungku api menjadi ruang reproduksi kebudayaan sekaligus ruang pembentukan identitas sosial anak.
Sekolah mesti melihat kekayaan tersebut. Anak yang datang ke ruang kelas telah memiliki pengalaman sosial. Guru tidak mulai dari titik nol. Guru justru mesti menemukan pengetahuan yang sudah hidup dalam diri anak, kemudian mengembangkannya melalui pengetahuan akademik dari sekolah.
Pandangan bahwa anak adalah kertas kosong berbahaya bagi pendidikan kontekstual. Anak bukan wadah yang menunggu diisi. Anak sudah membawa pengalaman sebelum memasuki ruang kelas. Ia membawa bahasa yang digunakan di rumah, cara menyapa orang lain, pengetahuan tentang lingkungan, cerita keluarga, pengalaman bekerja, serta nilai yang dipelajari melalui kehidupan sosial.
Sekolah yang mengabaikan semua itu dapat membuat anak merasa bahwa pengetahuan yang dibawa dari rumah tidak memiliki arti, makna dan nilai. Anak akan menganggap itu primitif atau kolot. Pada titik tertentu, anak belajar memisahkan kehidupan rumah dengan kehidupan sekolah. Apa yang dipelajari di sekolah dianggap sebagai pengetahuan yang baik dan benar. Sedangkan, pengetahuan masyarakat dipandang sebagai pengetahuan lama.
Padahal, pendidikan mesti membangun jembatan antara keduanya. Guru dapat menggunakan lingkungan sekitar sebagai bahan pembelajaran. Kebun dapat menjadi ruang belajar biologi dan ekonomi. Sungai dapat menjadi ruang belajar ekologi dan geografi. Cerita leluhur dapat menjadi bahan pembelajaran sejarah dan bahasa.
Pola pembagian makanan dapat menjadi bahan pembelajaran tentang solidaritas sosial. Tungku api dapat menjadi ruang pembelajaran tentang komunikasi, keluarga, konflik, kekerasan, dan kohesi sosial. Dengan demikian, sekolah tidak kehilangan esensinya fungsi akademiknya. Sekolah justru memperluas makna akademik melalui pengalaman nyata anak itu sendiri.
Guru Mesti Kembali ke Dunia Anak Papua
Sekolah tidak mungkin menjadi kontekstual tanpa guru yang mau mengenal dunia anak. Guru mesti hadir bukan hanya sebagai pengajar materi, tetapi sebagai pembaca realitas sosial lingkungan sekitar anak. Guru perlu mengetahui dari mana anak datang? Bagaimana keluarganya hidup? Bahasa apa yang digunakan? Nilai apa yang mereka pegang? Dan persoalan sosial apa yang mereka hadapi?
Guru yang memahami dunia anak dapat mengubah cara mengajar. Materi yang sama dapat disampaikan melalui contoh yang dekat dengan kehidupan. Pembelajaran menjadi dialog antara pengetahuan sekolah dan pengalaman masyarakat.
Gagasan ini sejalan dengan pemikiran Paulo Freire bahwa pendidikan mesti menjadi proses dialogis. Pendidikan tidak boleh menjadikan peserta didik sebagai objek yang hanya menerima pengetahuan. Anak harus dijadikan sebagai subjek sejarah. Anak juga mesti diberi ruang untuk berbicara, bertanya, mengalami, dan menghubungkan pelajaran dengan dunianya.
Tungku api mengajarkan satu hal sederhana, “manusia belajar melalui hubungan”. Guru mesti membangun hubungan sebelum menuntut hasil belajar. Anak yang merasa dihargai akan lebih mudah membuka diri. Sekolah yang menghargai pengalaman anak akan menciptakan ruang belajar yang lebih manusiawi supaya anak memperoleh haknya, yaitu: tahu, mau dan mampu.
Baca Juga
Sekolah di Papua mesti kembali ke tungku api berarti sekolah mesti kembali kepada kehidupan. Kembali bukan berarti mundur. Kembali berarti menemukan kembali akar pengetahuan dan pendidikan. Sekolah tetap membawa ilmu pengetahuan modern, teknologi, literasi, matematika, sains, dan berbagai pengetahuan baru. Namun, semua itu mesti ditempatkan dalam hubungan dengan realitas masyarakat di Papua agar kena konteks, bukan kena kosong.
Pendidikan Papua membutuhkan sekolah yang tidak tercerabut dari masyarakatnya. Sekolah mesti menjadi jembatan antara pengetahuan lokal dan pengetahuan global. Anak mesti mampu berdiri di dua dunia tanpa kehilangan akar kehidupannya. Agar anak bisa berpikir lokal, bertindak global.
Tungku api memberikan gambaran bahwa pendidikan tidak pernah benar-benar terpisah dari kehidupan sosial. Di sana manusia belajar menjadi manusia melalui relasi, pengalaman, percakapan, dan kebersamaan. Sekolah mesti mengambil semangat tersebut.
Sekolah yang baik bukan sekolah yang membuat anak lupa dari mana ia berasal. Sekolah yang baik ialah sekolah yang membuat anak semakin mengenal dirinya sendiri, supaya anak memahami masyarakatnya, menguasai pengetahuan, dan mampu berjalan menuju masa depan tanpa kehilangan akar.
Sekolah di Papua harus kembali ke tungku api. Bukan untuk menggantikan sekolah, melainkan untuk mengingatkan sekolah bahwa pendidikan pertama-tama adalah tentang manusia dan kehidupan ada dunia sekitarnya.
") Guru SMA Negeri 1 Dogiyai, Provinsi Papua Tengah.
