Meraih Kesuksesan Itu seperti Mengetuk Pintu
Poin Penting
|
INVESTORTRUST.ID – Penolakan, bagi banyak orang, adalah titik akhir. Ditolak berarti diragukan, diabaikan, diremehkan, bahkan dipermalukan. Tapi bagi Charles Richard Oentomo, penolakan adalah petunjuk arah. Titik belok, bukan jalan buntu.
Saat ditolak atau gagal, Charles yakin bahwa ia sesungguhnya sedang diarahkan untuk mendapatkan peluang yang lebih baik.
Penolakan selalu membuka kemungkinan baru. Ketika satu pintu tertutup, Charles akan terdorong untuk mencari pintu lain yang mungkin menghasilkan sesuatu yang jauh lebih besar.
Charles Oentomo juga menjadikan penolakan sebagai proses pembelajaran. Dari penolakan, ia dapat mengevaluasi diri, memperbaiki strategi, dan tumbuh lebih kuat.
Maka, ia percaya:
Semakin banyak pintu yang ia ketuk, semakin besar pula peluangnya untuk meraih keberhasilan.
Semakin banyak pintu yang ia datangi, semakin besar kesempatan untuk menjadi sosok yang lebih tangguh dan lebih adaptif.
Ada satu kalimat yang selalu ia pegang setiap kali sebuah kesempatan tak berpihak padanya: rejection is just a redirection.
Penolakan hanyalah sebuah pengalihan arah.
Founder dan Chief Executive Officer (CEO) PT Centrepark Citra Corpora (Centre Park) ini memang akrab dengan penolakan.
Charles pernah ditolak saat melamar pekerjaan sebagai programmer.
Diremehkan bawahan yang usianya dua kali lipat lebih tua.
Diteror klien.
Kehilangan hampir seluruh pendapatan perusahaan dalam hitungan minggu saat pandemi Covid melanda.
Ia meyakini semua itu adalah pintu yang harus diketuk, satu per satu. Setiap kali satu pintu tertutup, Charles beranjak untuk mengetuk pintu berikutnya.
“Kalau dari 10 peluang hanya satu yang berhasil, berarti saya tinggal memperbanyak pintu yang saya ketuk,” ujar pria kelahiran Manado, 9 Juni 1982, itu kepada jurnalis investortrust.id, Rizki Putra Satria, Mohammad Defrizal, dan Abdul Aziz di kantornya, belum lama ini.
Charles Oentomo, pada suatu ketika, bahkan harus mengambil keputusan paling berat dalam hidupnya: merumahkan sekitar 5.000 karyawan!
“Banyak keluar air mata. Kami sama-sama menangis,” tuturnya, lirih.
Begitu kondisi membaik, Charles melakukan sesuatu yang jarang dilakukan orang-orang. Ia memanggil kembali ribuan mantan karyawan yang sebelumnya terpaksa dirumahkan.
Setelah Centre Parkir sehat, Charles Oentomo malah memutuskan untuk mulai membagikan saham perusahaan kepada puluhan karyawan melalui program kepemilikan saham perusahaan oleh karyawan (employee stock option plan/ESOP).
“Kalau tidak ikut skin in the game, mereka tidak akan punya rasa memiliki.”
Charles menerapkan filosofi bisnis yang sederhana. Ia menyebutnya 3C, yaitu Cincai, Cengli, Cuan. Fleksibel mencari solusi. Jujur kepada pelanggan. Baru setelah itu: mengejar keuntungan.
“Kalau saya bilang ini barang bekas, memang barang bekas. Saya tidak mau menipu klien,” tegas Charles yang pada 2025 mewakili Indonesia dalam ajang EY World Entrepreneur of the Year di Monaco untuk berdiskusi dengan para pengusaha dari 45 negara.
Charles Oentomo menjalani hidup yang penuh warna. Bercita-cita menjadi programmer, lulusan Teknik Informatika Bina Nusantara (Binus) University ini malah “tersesat” menjadi pengelola parkir.
Insting bisnis Charles terasah sambil jalan. Ia awalnya bahkan tidak bisa membaca laporan keuangan. Toh ia tidak malu untuk belajar kepada siapa pun, termasuk kepada bawahannya.
Di luar itu, Charles adalah pemimpin yang mau mendengar. Ia sadar bahwa jabatan tidak otomatis melahirkan rasa hormat. Respek harus dibangun lewat kemampuan mendengar, memahami, dan menunjukkan bahwa dirinya memang layak dipercaya.
Charles Oentomo mendefinisikan kesuksesan bukan sekadar soal besarnya perusahaan atau banyaknya aset.
“Sukses itu ketika kita berhasil dalam pekerjaan, rumah tangga, hubungan dengan Tuhan, lalu bisa menjadi berkat bagi orang lain,” papar dia.
Ia juga tidak percaya pada mitos keberuntungan.
“Keberuntungan itu bisa kita ciptakan kalau kita bekerja keras.”
Namun kerja keras saja tetap tidak cukup.
“Kerja keras belum cukup kalau tidak kerja pintar. Cerdik bukan berarti menjilat. Cerdik itu melihat peluang,” ujar Charles.
Charles punya analogi sederhana tentang peluang atau kesempatan.
Peluang, katanya, seperti bus.
Bus akan selalu datang. Semua bisa memilih, mau langsung naik atau menunggu bus berikutnya.
“Tetapi jangan terlalu sering berganti bus. Kalau terus berpindah-pindah, kita tidak akan pernah sampai,” tandas pria yang hobi golf ini.
Berikut kutipan lengkap wawancara tersebut:
Bagaimana cerita perjalanan karier Anda hingga akhirnya mendirikan Centre Park?
Saya lahir dan besar di Manado. Setelah lulus Jurusan Teknik Informatika Bina Nusantara (Binus) University, saya hanya bekerja di dua perusahaan sebelum akhirnya memulai usaha sendiri.
Saya sendiri tidak pernah menyangka lulusan Teknik Informatika akhirnya bekerja di industri parkir. Padahal, awalnya saya ikut tren saja. Waktu itu Teknik Informatika sedang populer. Saya bahkan sempat diterima di STT Telkom Bandung dengan beasiswa penuh. Tetapi akhirnya memilih Binus.
Lulus kuliah, saya bingung.
Saya mencoba melamar menjadi programmer.
Begitu datang ke perusahaan, saya melihat antreannya hampir seratus orang. Saya bertanya soal gaji, ternyata tidak sebesar yang saya bayangkan. Akhirnya saya kehilangan minat. Lagi pula, saya memang tidak diterima, ha, ha, ha….
Suatu hari saya mendapat telepon.
"Charles, ada pekerjaan di building management."
Saya pikir, "Apa lagi itu? Bangun gedung?"
Saya benar-benar tidak tahu.
Ternyata posisi yang ditawarkan adalah management trainee.
Saya datang interview.
Gajinya ternyata lebih besar daripada programmer.
Saya pikir pekerjaannya lebih mudah.
Ternyata saya salah. Justru jauh lebih sulit.
Saya bergabung pada awal 2004, tetapi belum sampai setahun sudah diajak bergabung dengan perusahaan parkir nasional, Sun Parking.
Waktu itu Sun Parking hanya mengelola sekitar 18 proyek. Namun saya melihat para founder-nya punya visi yang sangat besar dan ambisi yang luar biasa. Itu yang membuat saya tertarik bergabung.
Di perusahaan itu saya mendapat banyak challenge. Kurang lebih dalam satu setengah tahun, saya dipromosikan dari business manager menjadi Deputy Director Business Development. Waktu itu usia masih sangat muda.
Tanggung jawabnya cukup berat karena seluruh pengembangan bisnis perusahaan berada di bawah saya, dan saya melapor langsung kepada Presiden Direktur.
Apa tantangan terberatnya saat itu?
Saya baru berusia sekitar 21 tahun. Tetapi saya harus memimpin orang-orang yang usianya 40 sampai 50 tahun.
Bayangkan.
Baru lulus kuliah, tiba-tiba dipanggil "Pak".
Tidak semua orang bisa menerima saya.
Ada juga yang berkata, "Kamu anak kecil, jangan atur-atur saya. Sebelum kamu lahir, saya sudah bekerja di sini."
Saya diteror hampir setiap hari.
Tetapi justru dari situlah saya menemukan sesuatu yang sangat berharga.
Saya menemukan kekuatan saya.
Kekuatan seperti apa yang Anda temukan?
Atasan saya yang pertama kali menyadarinya.
Beliau mengatakan bahwa kekuatan terbesar saya adalah interpersonal skill.
Saya bersyukur sekali karena sampai hari ini kemampuan itulah yang paling banyak membantu saya.
Saya mudah diterima lawan bicara.
Mudah diterima klien.
Mudah diterima rekan kerja.
Bahkan ketika sedang marah, saya belajar mengendalikan emosi.
Saya selalu berusaha berbicara dengan tenang.
Seberapa besar kemampuan interpersonal skill memengaruhi perjalanan karier Anda?
Sangat besar.
Bahkan saya merasa keberhasilan saya hari ini banyak ditentukan oleh kemampuan berkomunikasi dengan orang lain.
Waktu di Sun Parking, misalnya, hampir setiap hari saya menghadapi klien yang sedang marah. Saya datang ke kantor mereka. Baru duduk saja, mereka sudah memasang wajah seperti mau berkelahi.
Ada yang langsung berkata, "Sampaikan ke bos kamu, jangan datang lagi ke sini. Saya sudah mau pecat kalian."
Kalau menghadapi situasi seperti itu, saya tidak pernah langsung membela diri.
Saya biarkan mereka bicara dulu.
Saya dengarkan.
Saya catat semua keluhannya.
Setelah mereka selesai meluapkan emosi, saya baru bicara. Biasanya mereka langsung berhenti marah. Suasananya mencair karena mereka merasa didengar.
Lucunya, setelah suasana mencair, mereka malah mengajak makan siang.
Sudah tidak membahas pekerjaan lagi. Mereka mulai bertanya soal umur saya. Bercerita tentang anak-anak mereka. Bahkan ada yang bilang, "Anak saya seusia kamu, tapi masih sering minta uang."
Hubungannya berubah. Bukan lagi sekadar vendor dan klien. Sudah seperti keluarga.
Rahasinya sederhana.
Hormati orang.
Dengarkan mereka.
Jangan merasa paling benar dan paling pintar.
Kalau orang merasa dihargai, mereka juga akan menghargai kita.
Hubungan bisnis akhirnya menjadi hubungan jangka panjang.
Bagaimana peta persaingan manajemen parkir saat itu?
Saat itu persaingan di Jakarta sangat ketat karena pemain nomor satu masih dikuasai perusahaan asal Australia, Secure Parking. Akhirnya strategi kami adalah berekspansi ke luar kota.
Saya hampir setiap minggu bepergian. Dalam seminggu bisa empat sampai lima kali naik pesawat. Pagi berangkat jam enam, malam baru mendarat sekitar jam 10. Besok paginya jam 5 sudah harus kembali ke bandara untuk terbang lagi.
Pola hidup seperti itu saya jalani hampir lima tahun.
Saya berpindah-pindah kota, mulai dari Makassar, Medan, Surabaya, Bali, hingga Balikpapan. Tugas saya bukan sekadar hard selling. Tim memang melakukan follow up, tetapi untuk tahap akhir atau final touch, sering kali saya yang harus turun langsung.
Tapi perkembangannya luar biasa.
Ketika saya bergabung, Sun Parking hanya memiliki sekitar 18 proyek. Dalam kurun waktu sekitar empat setengah tahun, jumlah proyek berkembang menjadi hampir 240.
Pertumbuhan itu akhirnya menarik perhatian investor asing, yaitu ISS. Mereka kemudian mengakuisisi Sun Parking sepenuhnya.
Di situlah perjalanan saya sebagai pengusaha dimulai.
Berarti Anda langsung keluar dan mendirikan Centre Park?
Setelah Sun Parking diakuisisi, saya sempat bergabung dengan ISS. Namun tidak lama.
Terus terang, saya sangat mencintai perusahaan lama saya. Di ISS semuanya profesional dan baik, tetapi saya merasa budaya kerjanya kurang sesuai dengan apa yang saya bayangkan.
Akhirnya pada akhir 2009 saya mendirikan Centre Park bersama beberapa rekan pendiri, di antaranya Pak Akyong dan Pak Charles Jefferson. Modal kami benar-benar dimulai dari nol. Kami hanya mengumpulkan tabungan sebagai mantan karyawan dan profesional.
Mengapa diberi nama Centre Park?
Banyak yang mengira namanya terinspirasi oleh Central Park. Padahal tidak. Huruf "C" itu berasal dari nama saya, Charles. Waktu mendirikan perusahaan, saya memang sengaja memilih nama Centre Park karena sejak awal saya tidak ingin bisnis ini hanya dikenal sebagai perusahaan parkir.
Saya membayangkan suatu hari Centre Park akan menjadi sebuah holding company. Kalau nanti berkembang ke sektor lain, namanya tetap relevan. Bisa saja suatu saat berdiri Centre Park Tower atau bisnis-bisnis lain di bawah nama Centre Park.
Jadi, sejak awal visi saya memang lebih besar daripada sekadar mengelola parkir.
Kalau harus menjelaskan Centre Park dalam satu kalimat, bagaimana Anda mendeskripsikannya?
Saya selalu mengatakan: "Kami adalah perusahaan mobilitas pintar berbasis teknologi yang membantu klien dan pelanggan menghadirkan layanan terbaik serta pengalaman perjalanan yang lebih baik."
Tantangan terberat ketika membangun Centre Park dari nol?
Bisnis parkir membutuhkan modal yang sangat besar.
Untuk satu proyek saja, investasi paling kecil waktu itu sudah mencapai ratusan juta rupiah. Kalau proyek besar, nilainya bisa miliaran rupiah.
Modal pribadi tentu tidak akan cukup. Karena itu, kami mengajukan pembiayaan ke perbankan. Puji Tuhan, kami memperoleh fasilitas dari Bank Mandiri. Dari sanalah perusahaan mulai bertumbuh hingga menjadi jauh lebih besar.
Semua berjalan lancar?
Pada 2019, kami melakukan pendekatan untuk mengakuisisi kembali perusahaan yang dulu membeli Sun Parking, yaitu ISS. Proses due diligence berlangsung hampir satu tahun. Akuisisi dilakukan pada 27 Februari 2020.
Masalah datang. Hanya sekitar dua minggu kemudian pemerintah mengumumkan lockdown akibat pandemi Covid-19.
Timing-nya benar-benar tidak ideal.
Kalau saat itu transaksi dibatalkan, konsekuensinya ada penalti yang sangat besar.
Respons Anda menghadapi situasi tersebut?
Situasinya memang sangat berat.
Tetapi saya selalu percaya, burung di udara saja dipelihara Tuhan. Jadi, saya yakin selalu ada jalan.
Kami memang harus merumahkan hampir 5.000 karyawan dari total sekitar 7.500 orang. Itu keputusan yang sangat menyakitkan, tetapi harus dilakukan agar perusahaan bisa bertahan.
Di sisi lain, kami mempercepat implementasi teknologi agar operasional menjadi lebih efisien, lebih cashless, dan lebih sedikit bergantung pada tenaga manusia.
Seberapa besar dampak pandemi terhadap bisnis Centre Park?
Pendapatan kami sempat anjlok sekitar 87%.
Hampir seluruh lokasi parkir tutup.
Mal tutup.
Bandara tutup.
Universitas tutup.
Rumah sakit pun sepi karena orang sehat takut datang untuk check up. Yang datang kebanyakan pasien Covid-19.
Yang masih berjalan hanya ruko dan apartemen karena memang orang tetap tinggal di sana. Selebihnya benar-benar mati.
Kondisi finansial pribadi Anda saat itu?
Ya, tentu ada tabungan. Tapi kan waktu itu istilahnya "Mantab", makan tabungan. Di sisi lain, saya juga punya KPR dan berbagai kewajiban pribadi, sehingga mau tidak mau harus melakukan restrukturisasi.
Namun, saya selalu memisahkan persoalan pribadi dengan persoalan perusahaan. Karena itu, saya juga sering berpesan kepada anak-anak muda, milikilah tabungan. Kita tidak pernah tahu kapan krisis datang. Jangan semua penghasilan dihabiskan untuk lifestyle.
Ketika perusahaan berada di titik terendah, apa yang pertama kali terlintas di benak Anda?
Terus terang, saya sudah cukup terbiasa menghadapi penolakan.
Dalam bisnis, terutama saat pitching proyek, ditolak itu sudah makanan sehari-hari. Kami presentasi belum tentu langsung deal. Sering kali justru kompetitor yang menang.
Kalau dari 10 proyek yang kami tawarkan, yang berhasil didapat hanya satu atau dua, itu sebenarnya sudah normal.
Artinya apa? Kami harus rajin.
Kalau hanya follow up dua proyek lalu dua-duanya ditolak, ya hasilnya nol. Tapi kalau kita follow up 10 proyek dan satu atau dua berhasil, berarti peluang kita sekitar 20%.
Karena sudah berkali-kali mengalami penolakan, mental saya akhirnya terbentuk. Saat pandemi datang, saya tidak menganggap itu kiamat. Saya menganggap itu ujian.
Yang membuat Anda tetap tenang menghadapi situasi itu?
Saya hanya berpikir begini. Kalau memang suatu hari perusahaan harus bangkrut, ya paling buruk saya kembali menjadi karyawan. Tetapi sebelum itu terjadi, semua kewajiban kepada karyawan harus diselesaikan dengan baik.
Puji Tuhan, kami mampu berhemat, menjaga cash flow, dan mengambil keputusan-keputusan yang memang tidak mudah. Salah satunya adalah merumahkan sebagian karyawan.
Keputusan itu sangat menyakitkan. Kami sama-sama menangis. Melihat orang-orang yang sudah bekerja bersama bertahun-tahun tiba-tiba harus kehilangan pekerjaan, tentu sedih.
Namun justru dari pengorbanan itulah perusahaan bisa bertahan dan akhirnya bangkit kembali.
Hari ini, Centre Park malah menjadi jauh lebih besar.
Saya selalu percaya, if the things that cannot kill you, it will make you stronger. Kalimat itu benar-benar menjadi pegangan saya dalam menjalankan bisnis.
Kondisi perusahaan setelah pandemi mereda?
Ketika memasuki era new normal, perusahaan mulai pulih.
Tapi kami kemudian menghadapi dilema.
Secara teknologi, sebenarnya kami bisa menjalankan bisnis dengan jumlah karyawan yang jauh lebih sedikit.
Namun saya merasa ada tanggung jawab moral.
Indonesia memiliki begitu banyak anak muda. Kalau kondisi perusahaan sudah membaik, mengapa tidak memberi mereka kesempatan kedua?
Makanya kami membuka program re-employ. Banyak mantan karyawan yang kembali bergabung. Memang ada juga yang sudah nyaman bekerja di perusahaan logistik, menjadi kurir, atau beralih profesi sebagai pengemudi online.
Kami tetap bersyukur melihat mereka semua bisa bertahan.
Perkembangan Centre Park saat ini?
Puji Tuhan, saat ini Centre Park mengelola hampir 800 proyek yang tersebar di lebih dari 60 kota di Indonesia. Jumlah karyawan kami juga sudah kembali mendekati 7.000 orang.
Bukankah teknologi membuat operasional lebih efisien, terutama dari sisi jumlah karyawan?
Teknologi memang bisa mengurangi kebutuhan tenaga kerja.
Tetapi kalau perusahaan hanya mengejar efisiensi tanpa memikirkan masa depan anak-anak Indonesia, menurut saya, ada sesuatu yang hilang. Bagi saya, perusahaan harus tetap bertumbuh sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan.
Karena itu, kami putuskan untuk mulai membagikan kepemilikan saham perusahaan kepada puluhan karyawan melalui program ESOP (employee stock option plan) walau kami bukan listed company.
Karena saya percaya satu hal.
Orang yang membangun perusahaan harus ikut memiliki perusahaan. Kalau tidak ikut skin in the game, mereka tidak akan punya rasa memiliki.
Sekarang sekitar 37 karyawan sudah memperoleh kepemilikan saham melalui ESOP. Kurang lebih sekitar 2,8% hingga 3% saham perusahaan kami alokasikan untuk program ESOP.
Mereka bukan sekadar karyawan.
Mereka juga pemilik Centre Park.
Kalau dia merasa ikut memiliki perusahaan, cara berpikirnya akan berbeda.
Dia tidak hanya bekerja untuk menerima gaji.
Dia ikut membangun masa depan perusahaan.
Jadi, ada idealisme di balik bisnis yang Anda bangun?
Harus.
Kami memang terus mengembangkan teknologi, tetapi bukan berarti menghilangkan peran manusia.
Karena itu, Centre Park tidak hanya bertumbuh secara vertikal. Kami juga mulai mengembangkan bisnis turunan, seperti facility management, cleaning service, dan security service.
Semua itu tetap membutuhkan banyak tenaga kerja.
Teknologi kami gunakan untuk meningkatkan kualitas pekerjaan mereka, bukan sekadar menggantikan manusia.
Menurut saya, pengusaha Indonesia juga perlu memiliki kemauan untuk terus menciptakan lapangan pekerjaan.
Kalau perusahaan sudah sehat dan masih mampu memberi kesempatan kepada orang lain untuk bekerja, mengembangkan keterampilan mereka, lalu bersama-sama membangun perusahaan, mengapa tidak?
Itulah yang ingin terus kami lakukan.
Sebetulnya, apa titik balik yang membuat Centre Park kembali bangkit setelah pandemi?
Jawabannya satu, teknologi.
Saat pandemi, banyak proyek yang tidak bisa bertahan. Ada juga proyek yang memang trafiknya tidak pernah kembali seperti sebelum era Covid-19.
Waktu itu kami memiliki sekitar 320 hingga 340 proyek.
Kami membongkar peralatan dari proyek-proyek yang tidak lagi berjalan, lalu kami refurbish dan memasangnya kembali di lokasi-lokasi yang prospektif.
Semua pekerjaan rumah sebenarnya sudah kami selesaikan.
Teknologi sudah siap.
Redeal dengan klien sudah selesai.
Restrukturisasi pinjaman juga sudah selesai.
Jadi, ketika kesempatan datang, kami tinggal bergerak.
Mengapa Anda memilih ekspansi ketika banyak perusahaan memilih bertahan?
Karena saat semua orang takut, saya melihat peluang.
Saya datang ke Bank Mandiri dan mengatakan, "Saya tahu sekarang bank sebenarnya tidak kekurangan likuiditas."
Masalahnya bukan uangnya tidak ada. Masalahnya, sedikit sekali perusahaan yang berani berkembang pada saat itu.
Saya mengatakan kepada pihak bank, semua PR kami sudah selesai. Diibaratkan mahasiswa, saya sudah mengerjakan semua homework.
Sekarang tinggal menyerang.
Kalau mau menyerang, berarti saya butuh peluru.
Bukankah saat itu perusahaan-perusahaan masih dalam masa restrukturisasi pinjaman?
Betul, termasuk kami. Bahkan pihak bank sempat mengatakan, "Kamu gila ya?"
Kebanyakan perusahaan justru memanfaatkan restrukturisasi agar cicilan lebih ringan. Sebaliknya, saya malah ingin menghentikan restrukturisasi dan kembali membayar cicilan secara normal.
Pihak bank sampai menantang saya.
Mereka berkata, "Kalau memang serius, minggu depan buktikan. Bayar dua bulan cicilan penuh beserta bunganya."
Saya jawab, "Jangan minggu depan, besok saya bayar."
Saya langsung membuat surat malam itu juga. Besok paginya kami membayar seluruh kewajiban. Dua minggu kemudian, bank menyetujui pembiayaan baru. Kami mengajukan Rp200 miliar dan akhirnya memperoleh sekitar Rp150 miliar.
Dana itulah yang kami gunakan untuk mengembangkan proyek-proyek yang benar-benar potensial.
Centre Park tahun ini genap berusia 17 tahun, apa target Anda berikutnya?
Kami ingin terus bertumbuh menjadi perusahaan yang sehat. Perusahaan yang taat membayar pajak. Perusahaan yang disukai karyawan dan para stakeholders lainnya. Kami juga berharap ada beberapa deal besar yang segera terealisasi. Selebihnya, tunggu saja tanggal mainnya.
Centre Park juga mulai ekspansi ke luar negeri?
Ya, kami sedang menyiapkan ekspansi. Kalau ingin menjadi perusahaan besar, kami tidak boleh menjadi jagoan kandang. Kami harus belajar dari negara lain.
Pilihan pertama kami adalah Malaysia.
Budayanya dekat.
Bahasanya mirip.
Makanannya mudah.
Bagi teman-teman muslim juga nyaman karena mudah mencari makanan halal dan tempat salat. Menurut saya, Malaysia adalah pintu masuk yang baik sebelum berkembang ke negara-negara ASEAN lainnya.
Mengapa ekspansi ke luar negeri, bukankah pasar domestik masih sangat besar?
Karena kami ingin belajar.
Misalnya di Australia. Tarif parkir di sana benar-benar mengikuti market demand. Dua gedung yang jaraknya hanya puluhan meter bisa memiliki tarif yang berbeda.
Di Indonesia belum seperti itu. Menurut saya, sistem seperti itu justru lebih sehat. Kalau tarif terlalu kaku, akhirnya pemilik gedung enggan membangun lahan parkir yang memadai. Dampaknya kembali kepada masyarakat karena kendaraan akhirnya parkir di pinggir jalan dan menambah kemacetan.
Ada rencana go public?
Tentu. IPO (initial public offering) tetap menjadi tujuan kami. Perusahaan sudah berjalan semakin transparan. Tata kelolanya juga terus kami benahi.
Namun kami juga harus melihat momentum pasar. Kalau waktunya belum tepat, kami tidak akan memaksakan. Yang lebih penting adalah memastikan growth story perusahaan terus berlanjut.
Filosofi bisnis yang Anda pegang?
Saya punya filosofi sederhana, yaitu 3C: Cincai, Cengli, Cuan.
Cincai artinya fleksibel.
Cengli artinya jujur dan adil.
Kalau saya bilang kepada klien bahwa barang yang kami pasang adalah barang bekas yang sudah diperbarui, ya memang begitu adanya.
Saya tidak ingin menipu.
Kalau memang bukan barang baru, saya akan mengatakan itu sejak awal.
Dengan begitu klien percaya kepada kami.
Lalu yang terakhir tentu cuan.
Perusahaan tetap harus untung.
Karena bagaimanapun juga kami bukan organisasi nirlaba.
Dari mana Anda memperoleh insting bisnis?
Saya lulusan information technology (IT). Dulu saya bahkan tidak bisa membaca laporan keuangan. Saya belajar dari tim keuangan saya sendiri. Saya bilang kepada mereka, "Tolong ajari saya membaca laporan keuangan."
Saya belajar sedikit demi sedikit sampai akhirnya bisa memahami balance sheet, laporan laba rugi, dan berbagai indikator keuangan.
Kita tidak boleh malu belajar dari siapa pun.
Kadang justru anak buah kita memiliki pengetahuan yang belum kita kuasai. Kalau mau membuka diri, kita akan menjadi jauh lebih cerdas dalam mengambil keputusan.
Gaya kepemimpinan Anda?
Saya bukan tipe pemimpin yang mudah marah.
Kalau anggota tim sudah mencoba, lalu gagal, saya tidak akan marah.
Karena mereka sudah berusaha.
Yang membuat saya marah adalah ketika seseorang tidak mencoba sama sekali, tetapi berbohong. Misalnya bilang sudah follow up proyek, ternyata tidak melakukan apa-apa. Kalau orang sudah berusaha, kita masih bisa mengevaluasi hasilnya. Tetapi kalau tidak melakukan apa pun, apa yang mau dievaluasi?
Nilai utama yang Anda pegang sebagai pemimpin perusahaan?
Kejujuran.
Lebih baik mengatakan kondisi apa adanya.
Kalau perusahaan sedang menghadapi kendala, katakan.
Kalau ada masalah, sampaikan.
Prinsip itu saya terapkan bukan hanya kepada karyawan, tetapi juga kepada klien dan mitra bisnis.
Kepercayaan itu kan dibangun dari kejujuran.
Anak-anak muda sekarang umumnya ingin bekerja sesuai passion, menurut Anda?
Masuk aja dulu.
Jalani dulu.
Passion nanti mengikuti.
Saya percaya bahwa passion sering kali ditemukan di perjalanan. Kalau dulu saya memaksa menjadi programmer, mungkin Centre Park tidak pernah ada. Tuhan bekerja dengan cara yang unik.
Karena itu, saya selalu mengatakan kepada anak-anak muda, jangan terlalu banyak berpikir.
Nyemplung dulu.
Kerjakan dulu.
Kalau terlalu banyak berpikir, tahu-tahu umur sudah bertambah, tetapi tidak pernah bergerak.
Pesan Anda kepada generasi muda?
Jangan terlalu lama menganggur.
Kalau saya mewawancarai kandidat dan melihat dia vakum terlalu lama tanpa alasan yang jelas, saya biasanya bertanya-tanya.
Sebaliknya, saya juga kurang suka kalau seseorang terlalu sering pindah kerja. Kalau berpindah karena ada perkembangan karier, tidak masalah. Tetapi kalau setiap beberapa bulan pindah, itu juga menjadi tanda tanya.
Menurut saya, yang penting adalah bertumbuh. Selama pekerjaannya halal, kerjakan dengan sepenuh hati. Karena justru dari pekerjaan pertama itulah sering kali peluang besar muncul.
Definisi sukses menurut Bapak?
Wah, ini pertanyaan paling susah.
Kalau menurut saya, sukses itu bukan hanya soal pekerjaan. Seseorang bisa dikatakan sukses ketika berhasil dalam pekerjaannya, berhasil menjaga rumah tangganya, dan memiliki hubungan pribadi yang baik dengan Tuhan.
Itu yang pertama.
Yang kedua, kita harus bisa menjadi ladang berkat bagi orang lain. Banyak orang punya definisi sukses masing-masing. Kalau saya justru senang membangun bisnis yang bisa mempekerjakan banyak orang.
Karena itu, saya selalu berharap Centre Park terus berkembang dan mampu mengaryakan ribuan orang. Makanya bisnis-bisnis yang saya bangun hampir semuanya berbasis people. Masih membutuhkan manusia, masih memberi ruang untuk memberdayakan orang.
Itulah definisi sukses saya.
Anda sudah merasa sukses?
Menurut saya, sukses itu ada fasenya.
Fase pertama adalah creating.
Artinya, menciptakan sesuatu yang sebelumnya tidak ada menjadi ada. Dalam hidup saya, itu adalah Centre Park.
Fase kedua yaitu sustain.
Bagaimana mempertahankan bisnis, menjaga perusahaan tetap sehat, membuat para shareholder dan stakeholder tetap percaya. Nah, saya merasa saat ini masih berada di fase kedua.
Fase ketiga adalah inspiring.
Saya berharap dalam lima tahun ke depan bisa lebih banyak menjadi mentor bagi pengusaha-pengusaha muda.
Mungkin nanti saya tidak lagi menjadi full-time CEO. Bisa saja saya menjadi komisaris, lalu lebih banyak mendampingi generasi berikutnya.
Buat saya, sukses yang sesungguhnya adalah ketika kita bisa meninggalkan inspirasi dan legacy.
Pandangan Anda tentang keseimbangan hidup?
Terus terang saya masih belajar. Saya suka bermain golf. Menurut saya, work-life balance itu terjadi ketika waktu untuk bekerja, beristirahat, dan berolahraga sama-sama terpenuhi.
Masalahnya, badan saya memang sering tidak berada di kantor, tetapi otak saya tetap bekerja. Kadang saya sampai bermimpi soal proyek.
Jadi, saya sendiri merasa masih perlu belajar soal work-life balance. Mungkin harus ikut yoga atau meditasi. Karena yang istirahat cuma badan. Otaknya belum.
Tapi Anda masih punya waktu untuk keluarga kan?
Puji Tuhan, Sabtu dan Minggu saya usahakan tidak menyentuh pekerjaan. Kalau sedang liburan memang kadang masih ada telepon, tetapi kami berusaha minimal dua kali setahun bepergian bersama anak-anak.
Saya punya empat putri.
Jadi, waktu bersama keluarga tetap saya usahakan.
Jika dirangkum, apa benang merah perjalanan hidup Anda?
Saya tidak terlalu percaya pada kata "keberuntungan". Menurut saya, keberuntungan itu bisa diciptakan. Caranya adalah bekerja keras dan berani mengambil peluang.
Saya pernah membaca sebuah filosofi yang sangat saya sukai. Peluang itu seperti bus yang datang setiap hari. Kita tinggal memilih bus mana yang akan membawa kita menuju tujuan.
Tetapi jangan terlalu sering berganti bus. Kalau terus berpindah-pindah, kita tidak akan pernah sampai.
Selain kerja keras, tentu harus ada doa.
Doa dari diri sendiri.
Doa dari keluarga.
Doa dari istri, anak-anak, dan orang-orang yang mengasihi kita.
Bagi saya, itu modal yang sangat besar.
Kerja keras juga harus diimbangi dengan kerja pintar.
Banyak orang berkata, "Kok saya sudah berangkat paling pagi, pulang paling malam, tetapi hasilnya masih begitu-begitu saja?"
Menurut saya, kerja pintar bukan berarti licik.
Kerja pintar adalah kemampuan melihat peluang.
Sebagai pengusaha, saya harus selalu membuka telinga dan membuka pikiran. Saya tidak boleh hanya bergaul dengan orang-orang di industri properti. Saya juga harus belajar dari bidang lain. ***
Biodata
Nama: Charles Richard Oentomo.
Tempat/tanggal lahir: Manado, 9 Juni 1982.
Pendidikan:
S-1 Teknologi Informasi - Universitas Bina Nusantara (Binus), Jakarta.
Karier:
* Februari 2004 – April 2004: Management Trainee Coldwell Banker.
* Mei 2004 – Juli 2004: Facility Manager Coldwell Banker.
* Agustus 2004 – November 2004: Building Manager Coldwell Banker.
* Akhir November 2004 – 2006: Business Manager/Owner Representative
PT Surya Utama Nusaparka (Sunparking).
* Akhir November 2006 – 2008: Deputy Director Business Development
PT Surya Utama Nusaparka (Sunparking).
* 2009: Vice President Business Development PT ISS Parking Indonesia.
* 2009 – sekarang: CEO PT Centrepark Citra Corpora.
* 2020 – sekarang: CEO PT Inovasi Anak Indonesia (Parkee).
Sertifikasi:
* Database Programming with Visual Basic 6.0 - Binus Center.
* Management Skill & Attitude Training - Dale Carnegie Training Center (2005).
* Executive Program in International Management - Stanford Graduate School of Business dan NUS Business School (2017).
Penghargaan:
* Pemenang Entrepreneur of the Year (EOY) Indonesia 2025.

