Terlalu Banyak Pemain, Persaingan MI di Indonesia Tidak Sehat
JAKARTA, Investortrust.id - Jumlah perusahaan MI (Manajer Investasi) di Indonesia dinilai terlalu banyak, sehingga memicu persaingan yang tidak sehat.
Selain itu, dengan jumlah pemain yang banyak, sulit mengharapkan tumbuhnya perusahaan dengan skala bisnis besar.
Di Indonesia saat ini terdapat 95 MI aktif yang mengelola hampir 4.000 produk reksa dana, dari mulai reksa dana saham, reksa dana pendapatan tetap, exchanged trade fund (ETF), reksa dana campuran, reksa dana pasar uang, global fund, reksa dana terproteksi, reksa dana indeks, hingga reksa dana berbasis sukuk.
Baca Juga
Bila di Indonesia jumlah MI mencapai 95 perusahaan, berbeda dengan di India. Di negara asal Bollywood ini hanya ada 30 MI, padahal jumlah penduduknya mencapai 1,43 miliar jiwa. Sedangkan, jumlah penduduk Indonesia sekitar 278 juta jiwa.
“Akibatnya, jumlah MI banyak, tapi skala bisnisnya tidak besar,” kata Presiden Direktur PT Principal Asset Management Naresh Krishnan dalam Diskusi Panel dengan tema “Tantangan Investasi Reksa Dana di Tahun Politik,” yang digelar Investortrust, Senin (18/9/2023).
Menurut Naresh, dengan terlalu banyak pemain, industri tidak punya daya tawar yang kuat. Ia membandingkan dengan Malaysia dan Thailand, yang mempunyai kekuatan tawar. Begitu juga dengan India. “Di India, peduduk lima kali lebih besar, hanya punya 30 perusahaan dalam konsolidasi. Tapi, bisnisnya berskala besar,” ujarnya. .
Jumlah MI yang banyak akan mengakibatkan terjadi perebutan pasar. Terutama, di pasar discretionary fund atau kontrak pengelolaan dana (KPD). Karena pasarnya terbatas, bisa saja terjadi jor-joran penawaran fee, yang ujung-ujungnya merusak industri secara keseluruhan.
Baca Juga
Ini Dia 20 MI Terbesar di Kancah Global, Blackrock Paling Jumbo!
Di samping itu, untuk mengembangkan MI, kata Naresh, perlu membangun skala bisnis agar bisa menawarkan produk yang tepat dan tidak ada yang salah. Perlu membawa praktik terbaik untuk melihat bagaimana menyediakan produk yang berbeda. “Kalau produknya itu saja, dan tidak menarik, nasabah bosan,” kata Naresh.
Literasi dan Sosialisasi
Untuk menghindari masyarakat masuk ke investasi bodong atau spekulasi, MI memandang perlu digencarkannya sosialisasi dan literasi investasi kepada masyarakat, termasuk generasi milenial dan zilenial.
Mereka perlu mengenal produk yang akan dimasuki dan mengetahui risikonya, tidak hanya mendengarkan iming-iming keuntungan.
Baca Juga
Di Luar Negeri, Generasi Zillennial Sudah Diajarkan Berinvestasi
Perdagangan kripto yang melesat dua tahun terakhir merupakan fenomena menarik yang terjadi pada populasi milenial. Berkembangnya spekulasi perdagangan.
Menurut Naresh, sangat penting untuk mengedukasi masyarakat. Ia mengajak MI memberi lebih banyak waktu untuk kembali ke banyak populasi. Menghadirkan generasi milenial baru sebagai produk utama.
Apa yang harus dilakukan MI dalam mengajak zilenial untuk berinvestasi?
Naresh memberi gambaran, salah satu masa depan industri asuransi jiwa adalah fokus mereka pada solusi. Bagaimana mencapai tujuan hidup. “Salah satu hal utama yang ingin kita fokuskan adalah.. bagaimana bisa membantu semua generasi milenial. Bagaimana mereka bisa menabung secara rutin,” ujarnya.
Jadi, kata dia, salah satu hal penting di seluruh pasar adalah program tabungan rutin. Bisa menyimpan untuk jangka panjang. Bahkan jika memiliki keuntungan 2%, lebih baik dalam 30-40 tahun.
Perlu membantu masyarakat belajar dan menemukan solusi untuk kehidupan mereka dan itu akan menjadi transisi yang sangat penting dalam industri ini.
Hal menarik berikutnya, kata Naresh, adalah infrastruktur distribusi. Perlu membangun infrastruktur distribusi, sehingga dapat menjangkau 200 juta orang dalam 5-10 tahun ke depan.
Rekomendasi Investasi
Untuk rekomendasi investasi, menurut Naresh, perlu dilihat profil risiko dari nasabah. Profil risiko yang rendah, sebaiknya di pasar uang, reksa dana pendapatan tetap atau obligasi karena itu yang aman dan kondusif.
Ada juga obligasi korporasi atau saham. “Tapi, nasabah butuh profil risiko yang tinggi. Pertumbuhannya sedang sulit, jadi kita perlu memberikan insentif,” tuturnya.
Baca Juga
Ini Penyebab Kinerja Reksa Dana Saham Relatif Stagnan 7 Tahun Terakhir
Di Indonesia, reksa dana pendapatan tetap termasuk produk reksa dana yang cukup banyak diminati. Dari Rp 512,70 triliun AUM industri reksa dana per 31 Januari 2023, menurut data OJK (Otoritas Jasa Keuangan), reksa dana pendapatan tetap menempati porsi terbesar (27,96%), diikuti reksa dana saham (21,58%), reksa dana terproteksi (19,54%), pasar uang (17,29%), reksa dana campuran (4,52%), ETF (2,80%), global fund (2,71%), reksa dana indeks (2,61%), dan reksa dana berbasis sukuk (1%).
Selain itu, untuk keamanan dana nasabah, perlu regulasi yang mendukung, Menurut Naresh, sebagian besar peraturan saat ini adalah tentang menjaga nasabah, melindungi nasabah. Objek utama regulator adalah melindungi, sehingga berjalan dengan baik. “Jadi ini bagus untuk lebih memudahkan agar kita semua bisa fokus menumbuhkan industri. Tahun lalu kita fokus pada regulasi. Kita perlu mengembangkan bisnis,” paparnya. (CR-5)
