ICDX Proyeksikan Harga Emas Bergerak di Kisaran US$ 5.000-6.300 Tahun Ini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) atau Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI) memproyeksi, harga emas dan minyak mentah akan bergerak dinamis tahun ini.
Berdasarkan target harga emas Goldman Sach dan JP Morgan, ICDX menyimpulkan bahwa harga emas tahun ini akan bervariasi antara US$ 5.000 sampai US$ 6.300 per troy ounce.
Prediksi tersebut dipengaruhi faktor ekonomi global dan ketersediaan, serta gejolak politik dunia khususnya ketegangan militer dan politik di kawasan Timur Tengah.
“Khusus untuk kontrak minyak mentah dan emas, kita tahu perkembangan geopolitik global khususnya di Timur Tengah, tentu sedikit banyak akan memberikan pengaruh terhadap harga komoditas tersebut,” ungkap Direktur ICDX Nursalam dalam ICDX Commodity Outlook bertema ‘GOLD & CRUDE OIL: Availability, Geopolitics and Global Market’ di Mercure Sabang, Jakarta, Rabu (11/3/2026).
Baca Juga
Kian Diminati, Transaksi Emas Digital di ICDX Tembus Rp 115,6 Triliun Pada 2025
Untuk perdagangan multilateral, ICDX menyediakan kontrak-kontrak berjangka perdagangan atas minyak mentah dan emas, yang dapat dimanfaatkan sebagai lindung nilai.
Menurut Nursalam, mekanisme lindung nilai sangat diperlukan untuk jangka panjang, apalagi dalam kondisi harga komoditas yang sangat fluktuatif karena berbagai faktor.
ICDX menyediakan wadah perdagangan kontrak berjangka komoditas minyak mentah dan emas dengan produk-produk multilateral yaitu GOFX. GOFX merupakan instrumen derivatif komoditas yang terdiri dari kontrak spot dan berjangka emas, kontrak berjangka minyak mentah, serta kontrak spot forex berukuran mini yakni 1/10 dari kontrak standar.
Sepanjang 2025, ICDX mencatat transaksi multilateral atas kontrak komoditas berbasis minyak mentah sebanyak 61.260 lot. Sedangkan transaksi multilateral atas kontrak komoditas berbasis emas mencapai 1.627.698 lot.
Adapun untuk kontrak berjangka komoditas minyak mentah, didominasi oleh kontrak COFRMic dengan transaksi sebanyak 51.548 lot. Kontrak COFRMic merupakan kontrak berjangka minyak mentah berukuran mikro dengan acuan harga West Texas Intermediate (WTI) sebagai underlying.
“Kontrak ini memiliki ukuran sebesar 10 barel per lot, sehingga memberikan akses yang lebih fleksibel bagi pelaku pasar untuk melakukan transaksi maupun lindung nilai terhadap pergerakan harga minyak mentah,” sambung Nursalam.
Sedangkan untuk kontrak berjangka komoditas emas didominasi oleh kontrak GOLDUDMic dengan transaksi sebanyak 682.310 lot. GOLDUDMic merupakan versi mikro dari kontrak GOLDUD dengan ukuran 1/100 dari kontrak standar. Minimum transaksi adalah 1 lot mikro atau setara 0,01 kontrak GOLDUD.
“Ukuran kontrak yang lebih kecil membuat transaksi emas berbasis USD lebih terjangkau, namun tetap memberikan eksposur terhadap pergerakan harga emas global yang mengacu pada pasar Loco London,” ucap Nursalam.
GOLDUD merupakan kontrak gulir harian emas dalam denominasi USD yang diperdagangkan di bursa dengan ukuran kontrak sebesar 10 troy ounce per lot. Kontrak ini mengacu pada harga emas di pasar internasional Loco London dengan tingkat kemurnian 99,99%, sehingga mencerminkan pergerakan harga emas global.
“Kami berharap, informasi yang kami sampaikan dalam Commodity Outlook 2026 bisa menjadi referensi pelaku usaha dalam mengambil dan menentukan kebijakan strategisnya tahun ini,” pungkasnya.
Di tempat yang sama, Analis Research and Development ICDX Tiffani Safinia menjelaskan bahwa dalam jangka pendek, pergerakan emas masih dipengaruhi dinamika dolar AS, imbal hasil obligasi, dan perkembangan konflik global.
Berdasarkan poll Reuters terhadap 30 analis dan trader internasional, median proyeksi harga emas tahun ini berada di US$ 4.746,50 per troy ons. Nilai ini tetap melonjak signifikan dibanding estimasi US$ 4.275 yang dirilis pada Oktober 2025.
Baca Juga
Secara rinci, di tingkat institusional, Goldman Sachs Group Inc. merevisi naik target harga emas akhir 2026 menjadi US$ 5.400 per troy ons, dari sebelumnya US$ 4.900. Mereka menyoroti meningkatnya permintaan dari investor swasta dan bank sentral sebagai katalis utama.
J.P. Morgan juga berada di kubu optimistis dengan proyeksi harga emas mencapai US$ 6.300 per troy ons pada kuartal IV 2026. Sementara itu, Morgan Stanley mematok proyeksi rata-rata US$ 4.600, dengan skenario bullish mencapai US$ 5.700 pada paruh kedua tahun ini.
Sementara tahun lalu, terjadi periode terbaik bagi emas dalam beberapa dekade, yang memperkuat perannya sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian global.
Tiffani mencatat bahwa secara garis besar, terdapat beberapa poin penting untuk komoditas emas tahun lalu. Pertama, harga emas naik signifikan sebesar 64% dengan 53 all time highs sepanjang 2025.
Kedua, all time high tercatat US$ 4,550 per oz pada 26 Desember 2025. Ketiga, rata-rata harga emas ada di kisaran US$ 3,431 per oz. Keempat, pembelian emas oleh bank sentral mencapai sekitar 863 ton.
“Beberapa sentimen yang menjadi pendorong kenaikan emas pada 2025 yaitu tiga kali pemangkasan suku bunga dengan total 75 bps melalui keputusan FOMC, konflik Timur Tengah yakni Israel-Iran, Perang AS–Ukraina, serta ketegangan tarif dagang AS–China,” sambung Tiffani.
Selain itu total pembelian emas oleh Bank Sentral AS hanya mencapai sekitar 863 ton, lebih rendah dibandingkan periode 2022–2024. Sementara pergerakan dolar AS yang cenderung volatil akibat ketidakpastian arah kebijakan moneter dan ekspektasi suku bunga, turut meningkatkan alokasi ke emas.
“Hal itu memberikan gambaran bahwa kombinasi faktor makro dan geopolitik mendorong reli emas sepanjang 2025,” pungkasnya.

