Rupiah Makin Melemah Terhadap Dolar AS, Posisinya di Rp 16.832 per US$
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah makin melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (9/1/2026). Rupiah terdesak dolar AS dan melemah 0,2% di posisi Rp 16.832 per US$.
Indeks dolar AS atau DXY bergerak 98,95. Akibat pergerakan ini sejumlah mata uang dunia, termasuk mata uang negara mitra dagang Indonesia, mengalami tekanan. Dolar AS menguat 0,1% terhadap dolar Singapura, menguat 0,07% terhadap ringgit Malaysia, dan 0,16% terhadap rupee India, serta 0,18% terhadap yen Jepang.
Penguatan dolar AS juga terpantau terhadap euro Uni Eropa dan poundsterling Britania Raya. Terhadap kedua mata uang ini, dolar AS menguat 0,08%.
Baca Juga
Rupiah Tergelincir Dalam, Menggantung di Posisi Rp 16.801 per US$
Sementara itu, di papan data Bloomberg, dolar AS terpantau melemah terhadap yen China sebesar 0,05%, peso Filipina sebesar 0,1%, dan baht Thailand sebesar 0,1%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, mengatakan DXY yang naik ke level 98,9 merupakan yang tertinggi sejak 9 Desember 2025. Kondisi ini muncul karena investor mencermati data ekonomi AS yang beragam dan menilai kembali arah kebijakan The Fed.
Andry melihat klaim pengangguran awal meningkat moderat menjadi 208.000 pekan lalu, sementara jumlah pemutusan hubungan kerja turun ke 35.533 pada Desember 2025, terendah sejak Juli 2024. Ini menandakan pasar tenaga kerja masih tangguh dan meredakan kekhawatiran perlambatan ekonomi dalam waktu dekat.
Baca Juga
Rupiah Kembali Tertekan Terhadap Dolar AS, Tergeletak di Rp 16.792 per US$
“Defisit perdagangan AS menyempit tajam menjadi US$ 29,4 miliar pada Oktober 2025, terendah sejak Juni 2009, dan jauh di bawah perkiraan pasar yang sebesar US$ 58,1 miliar. Ekspor mencetak rekor tertinggi di tengah volatilitas akibat kebijakan tarif,” kata Andry.
Saat ini, pasar juga mencermati potensi putusan Mahkamah Agung AS mengenai legalitas tarif yang diberlakukan Presiden AS, Donald Trump. Selain itu, pasar juga mencermati ketidakpastian inflasi yang meningkat di seluruh horizon waktu, yang mencerminkan semakin lebarnya perbedaan pandangan mengenai prospek harga di masa depan.

